JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Mencoba Bertahan5


__ADS_3

“Kami masih menyelidikinya namun Alex berkata dia sepertinya mencurigai seseorang sebagai pria itu.” Ucap Juna dari ujung suara telepon disana.


“Jelaskan.” Ucap Anton tegas.


“Pria itu kemungkinan adalah CXXI (Di baca 121), dia adalah mantan rekan Alex di CIA dahulu. Dia di keluarkan secara tidak hormat dari CIA karena sebuah kasus 10 tahun yang lalu. Dia juga merupakan sniper terbaik. Postur tubuh dan cara dia menyelesaikan para genk mafia menggunakan belati sama seperti Alex. Tentu saja kita masih memeriksakan keterkaitan antara CXXI dengan pria di dalam cctv itu.” Jelas Juna.


“Lalu bagaimana dengan informasi mengenai pria yang di curigai itu.” Tanya Anton.


“Jika benar adalah CXXI, dia adalah Bahar Angkasa 40 tahun. Informasinya sekarang dia tinggal di negara X, dia selalu keluar masuk Bar Pure, sama seperti nama di dalam korek api besi itu. Ada informasi yang beredar bahwa setelah dia di keluarkan secara tidak hormat, dia tidak bekerja namun dia bisa memiliki kehidupan yang cukup mewah. Rumor mengatakan dia sepertinya bekerja pada seorang bos untuk menangani sesuatu jika sulit untuk dikendalikan, atau istilahnya adalah pembersih. Namun siapa bosnya, kami masih menyelidikinya. Selain itu tim RJP mencurigai penembakan Bintang dan kasus kali ini di lakukan oleh orang yang sama. Dan lagi sepertinya ‘Bos besar’ sedang mengincar nyawa Alice.” Jelas Juna lagi.


“Apa? Baiklah kalau begitu selidiki informasinya lebih lanjut, aku ingin bukti nyata bukan hanya sekedar rumor. Serta informasi mengapa dia membersihkan semua pekerjaan ‘Bos Besar’, dan cari tahu hubungannya dengan bos besar dan Alice, mengapa pria itu mengincar Alice. Jangan sampai tertinggal satu informasipun.” Perintah Anton.


“Baik Tuan.” Ucap Paul. Anton kemudian mematikan ponselnya.


Anton kemudian terdiam memandang layar ponsel yang masih menyala. Pria itu memandang wajah gadis itu di dalam ponselnya. Gadis itu bahkan belum menghubunginya atau sekedar menanyakan kabarnya. Sungguh gadis yang kejam. Anton menghembuskan nafasnya kasar kemudian melanjutkan pekerjaannya di laptonya untuk mengalihkan perhatiannya.


***


Beberapa hari kemudian….


“Hufftt…”


Lidia menghembuskan nafasnya kasar. Wanita tua itu melihat bagaimana kehidupan anak bungsunya itu selama beberapa hari ini. Pria itu tidak pergi ke rumah sakit untuk bekerja, namun dia di rumah untuk mengerjakan tugas-tugasnya. Anton tampak suram dia hanya fokus mengerjakan pekerjaannya dan bahkan membantu pekerjaan kantor Bram yang menumpuk untuk mengalihkan perhatiannya. Bahkan untuk merawat luka di tubuhnya atau bahkan untuk makan pun pria itu sungguh sangat sulit untuk di bujuk. Sepertinya entah mengapa Anton benar-benar telah berusaha keras untuk mengalihkan pikirannya kepada Alice melalui pekerjaan-pekerjaannya.


“Anton hentikan ini.. Ibu tidak bisa melihatmu seperti ini terus nak.. istirahatlah, kau perlu istirahat Nak.” Ucap Lidia di pagi hari itu di dalam kamar Anton.


“Aku akan istirahat setelah ini selesai Bu..” Ucapnya namun mata dan tangannya masih sibuk mengerjakan sesuatu di laptopnya. Anton duduk di sofa di kamarnya tanpa memandang Lidia.


“Kau bisa pingsan jika kau tidak tidur selama beberapa hari ini. Ibu mohon jika kau menghormati dan menyayangi ibu hentikan ini dan segera istirahatlah, biarkan para bawahan yang menyelesaikannya.” Pinta Lidia memelas kepada anak bungsunya itu dan duduk di samping anaknya.


“Aku tidak apa Bu. Aku akan istirahat setelah ini selesai.” Ucap Anton menolak dan masih terus fokus kepada pekerjaannya.

__ADS_1


“Anton!! Kau sudah seperti zombie saja tidak mau makan atau bergerak kemanapun kecuali diam di sofa kamar mu dan hanya melakukan tugas-tugas mu itu. Hentikan ini sekarang juga!! Kau perlu tidur dan makan, setelah itu baru kau lanjutkan kembali pekerjaan mu.” Perintah Lidia dan kemudian wanita tua itu bangkit dari duduknya.


“Nanti saja Bu.. Aku..” Belum selesai pria itu menyelesaikan kalimatnya, Anton melihat notifikasi di ponselnya bahwa ada pesan dari Alice. Pria itu segera mengambil ponselnya dan membaca pesan dari gadis itu.


‘Aku ingin bertemu.. Bisakah nanti malam kita makan bersama?’  Isi pesan dari Alice. Pria itu langsung tersenyum cerah dan kemudian berdiri memeluk ibunya erat.


“Ahh.. apa-apaan ini, kau sangat bau,, pergi sana jangan memeluk ibu seerat ini, bau mu menempel pada ibu!” Kesal Lidia yang melihat anaknya sudah seperti bocah yang mendapatkan hadiah.


“Ahh ya aku lupa, aku akan mandi. Ibu tolong siapkan makanan untuk ku. Setelah itu tolong jangan bangunkan aku sampai sore nanti.” Ucap Anton kepada Lidia dan melepaskan pelukannya.


“Hah? Apa?” Tanya Lidia bingung dengan anaknya itu. Namun Anton sudah pergi berlari kecil meninggalkan Lidia sendiri  dan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


“Haishhh apa yang harus aku lakukan kepada kedua orang itu..” Ucap Lidia monoton kepada dirinya sendiri dan memegangi kepalanya pusing. Lidia langsung meninggalkan kamar Anak bungsunya itu dan kemudian menyuruh seorang pelayan menyiapkan makanan untuk Anton dan mengantarkannya ke kamarnya.


“30 menit lagi antarkan makanan ke kamar Anton.” Perintah Lidia saat melihat seorang pelayan di lantai bawah.


“Baik Nyonya.” Ucap Pelayan itu dan kemudian kembali ke dapur untuk menyiapkan makanan untuk tuan muda mereka.


***


Sore harinya pria itu bangun, segera mandi untuk membersihkan dirinya dan kemudian bergegas menggunakan pakaian kemeja lengan pendek semi kasualnya dan turun ke bawah.


“Kau akan pergi?” Tanya Lidia saat melihat Anton akan keluar dari rumah.


“Hemm iya Buu..” jawab Anton sambil tersenyum.


“Apakah kau akan menemui Alice?” Tanya Lidia menyelidik.


“Iya Bu.. aku akan bertemu dengannya.” Ucap Anton.


“Pertemukan ibu dengannya jika dia tidak keberatan.” Ucap Lidia tanpa di duga oleh Anton.

__ADS_1


“Apa ibu akan menentang kami? Buu ku mohon..” Belum selesai Anton menyelesaikan ucapannya, Lidia memotong ucapan Anton.


“Tidak.. ibu hanya ingin bicara sesuatu kepadanya.” Ucap Lidia tenang.


“Baiklah.. aku berangkat sekarang Buu..” Ucap Anton dan merangkul serta mencium pipi Lidia dan beranjak pergi dari ruang keluarga menuju parkiran mobilnya.


Anton mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang. Sore ini jalanan cukup padat. Meski Alice menyuruhnya untuk bertemu saat malam, Anton tidak bisa menunggu waktu hingga malam, sehingga dia memutuskan untuk pergi sore itu menuju rumah Alice. Meski bisa saja keputusan Alice adalah kabar buruk, namun saat ini yang di pikirkan oleh Anton adalah dia bisa melihat wanita yang sangat di rindukannya itu.


Anton sampai di depan halaman rumah Alice, pria itu segera memarkirkan mobilnya dan beranjak pergi menuju ke atas rumah Alice.


Tok tok Anton mengetuk pintu rumah Alice. Tidak berapa lama pintu itu terbuka dan memunculkan wajah gadis yang sangat di rindukannya itu.


“Anton? Bukankah ku bilang nanti malam?” Tanya Alice bingung pasalnya dia memang tidak menduga pria itu akan datang secepat ini.


Anton melihat wajah yang sangat di rindukannya itu. Alice tampak sedikit tirus dan tubuhnya sedikit kurus meski Anton hanya bisa melihat wajah gadis itu yang hanya memunculkan wajahnya dan tubuhnya setengah saja dari balik pintu itu.


“Aku tidak bisa menunggu lagi. Tahu kah kamu betapa aku sangat merindukan mu.” Ucap Anton dengan wajah meringis.


“Bolehkah aku masuk?” Lanjut pria itu lagi yang melihat bahwa Alice masih tidak bergerak.


“Ahh.. ohh.. masuklah.” Ucap Alice, dan gadis itu segera membukakan pintunya lebar dan bergeser agar Anton bisa lewat masuk kedalam rumah.


Anton masuk kedalam rumah dan berdiri di ruang tengah. Alice menutup pintunya dan memandangi Anton yang sedang berdiri disana.


“Duduklah.” Ucap Alice dingin.


“Apakah itu berita buruk..” Gumam Anton pelan yang menyadari kebodohannya. Semakin cepat dia datang, semakin cepat juga dia mendapatkan berita baik atau buruknya.


‘Ahh sial.. aku masih belum siap jika ternyata berita buruk yang aku dengar. Aku tidak memikirkan ini saat menuju ke rumah Alice.’ Batin Anton merasa dirinya sedikit bod*oh dan konyol.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2