JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Luka


__ADS_3

Alice mengarahkan pisau itu tepat di bagian titik lemah namun tidak mematikan yang membahayakan nyawa mereka. Bahkan gadis itu menyuntikkan Hanan Gun yang berisi suntikan bius untuk melumpuhkan mereka.


Gadis itu sudah melumpuhkan tiga pria bertubuh kekar dan bertampang bengis itu, saat ini tinggal tersisa dua orang pria lagi. Namun sialnya isi dari obat biusnya sudah habis terpakai.


"Sial!" Rutuknya dan membuang hanan gun ke lantai kesembarang arah.


"Kenapa cantik sudah mulai lelah dan ingin menyerah?" Tanya salah satu dari kedua pria itu.


Bagaimanapun Alice adalah seorang gadis, tenaganya sudah terkuras habis untuk melumpuhkan ketiga pria bertubuh besar itu. Namun bukan Alice namanya jika dia menyerah begitu saja.


"Dalam mimpi Bung!" Ucap Alice ketus dan itu sontak membuat kedua pria itu kesal dan langsung menyerang Alice secara bersamaan.


Sungguh pemandangan yang mendebarkan saat salah satu pisau yang di pegang pria jahat itu mengenai lengan Alice dengan sabetan yang lumayan dalam. Gadis itu sedikit meringis dan kemudian memberikan tendangan tepat di bagian uluhati pria itu untuk memberikannya jarak di antara mereka berdua.


"Sial!" Keluh Alice lagi dan melihat lengan baju yang di pakainya sobek dan terdapat luka sabetan di tangannya yang mengeluarkan darah.


"Aku harus segera menyelesaikan ini sebelum aku benar-benar kelelahan." Ucap Alice dan kemudian menerjang kedua pria itu lagi.


Gerakan menyerang dan gerakan menangkis terus di lakukan oleh mereka. Gerakan demi gerakan di lakukan dengan cepat oleh Alice untuk mempersingkat pertarungan mereka.


Alice bisa melumpuhkan satu penyerang lagi dengan memukul tepat di tengkuknya dan kemudian dia langsung berbalik menyerang dan memukul tepat diuluhati pria satunya lagi yang membuat pria itu tersungkur.


"Ish..." Ucap Alice merasa perih yang tidak sadar ternyata dia memiliki luka lain yang ada dibagian perutnya.


"Ahh.. Aku kurang berhati-hati." Ucap Alice sedikit meringis dan hendak meninggalkan tempat itu karena dia ingin segera membantu menyelamatkan Maya.


Namun naas, sepertinya salah satu pria yang baru saja di serang itu belum pingsan, dia hanya berpura-pura pingsan dan hendak menyerang Alice dengan cara melayangkan pisaunya tepat di tubuh Alice si saat gadis itu sedang lengah.


Alice yang tidak siap dengan serangan pisau itu tidak sempat untuk menghindar, namun dengan cepat pisau yang lainnya terbang dari arah yang berbeda menabrak pisau itu dan menjatuhkannya langsung tepat ke samping Alice dan tidak mengenai gadis itu.

__ADS_1


"Kau tidak apa-apa?" Tanya suara baritone itu khawatir dan dengan segera menyerang pria yang melempar pisau tadi dan membuatnya pingsan seketika.


"Untuk apa kau kesini!!" Ucap Alice dengan nada ketus.


Suara itu terdengar kejam dan ketus namun suara itu jugalah yang selalu dirindu-rindukan selama ini, dan sekarang pemilik suara itu sudah ada di depannya.


"Kau tidak apa-apa? Kau terluka.. Biar aku lihat luka mu." Ucap pria itu yang tidak lain adalah Anton.


Pria itu hendak mendekati Alice namun Alice dengan sigapnya menyerang Anton dengan tendangannya tepat di ulu hati pria itu.


"Uhuk.." Anton terbatuk dan langsung membungkuk akibat pukulan yang diterimanya dari gadis itu.


"Jangan pernah mencoba mendekati ku!!" Ucap gadis itu masih dengan ketus.


"Aku hanya ingin mengobati luka mu. Itu tampak dalam." Ucap Anton mencoba untuk berdiri tegak meski perutnya masih terasa sedikit sakit .


"Anggap saja aku sebagai dokter." Ucap pria itu lagi dan hendak mendekati Alice.


"Jangan bergerak!! Meskipun aku akan mati dan di dunia ini hanya kau satu-satunya dokter, Aku lebih memilih mati dari pada harus di obati oleh mu!" Ucapnya sinis dan menohok hati Anton.


Alice masih memegangi perut dan tangannya yang terluka dan menekan luka itu agar tidak banyak mengeluarkan darah.


"Alice jangan keras kepala. Biar aku melihat luka mu dan mengobati mu setelah itu aku akan pergi." Ucap Anton lagi dan hendak berjalan melangkah.


Baru satu langkah pria itu berjalan, tiba tiba Alice mengambil pisau lipat yang berada di sakunya dan melemparkannya tepat di papan panahan yang tepat berada di belakang kepala Anton.


Pisau itu menancap dengan pasti tepat di tengah-tengah lingkaran yang merupakan pusat dari papan panahan itu. Lalu seketika goresan lurus di pipi Anton muncul saat darah merembes keluar dari luka itu.


"Lain waktu.. Jika kau berani lagi muncul di depan ku, aku tidak akan segan-segan mengambil nyawa mu." Ucap Alice sinis sambil berjalan ke arah Anton.

__ADS_1


Gadis itu menatap penuh kebencian kepada Anton dan kemudian melewati tubuh pria itu untuk mencabut pisau yang menancap di papan panahan itu.


"Jika kau memang menginginkan nyawaku, dengan senang hati aku akan menyerahkannya padamu." Ucap pria itu yang akhirnya sadar dari lamunan.


Alice yang mendengar itu terpaku seketika dan kemudian mencabut pisau itu kasar.


"Hentikan ucapan sok puitis itu. Apakah menurut mu aku akan segan untuk melenyapkan mu? Kau terlalu tinggi menganggap dirimu sendiri." Ucap Alice sinis dan kemudian melanjutkan ucapannya lagi.


"Aku hanya ingin menyakiti mu sedikit demi sedikit untuk merasakan bagaimana aku akan membalaskan dendam untuk ke dua orang tua ku." Ucapnya kemudian.


"Nikmati hari mu Bung!" Ucap Alice dan beranjak pergi untuk meninggalkan Anton.


"Aku merindukan mu.. Sungguh aku benar-benar merindukan mu. Ini benar-benar menyiksa ku." Ucap Anton membalas ucapan Alice yang hendak pergi.


Pria itu memegang pipinya yang terasa perih dan melihat cairan kental merah yang berada di tangannya.


"Sungguh rasa sakit di pipi ku tidak ada apa-apanya dengan rasa sakit yang berada di hati ku." Ucapnya lagi dengan memandangi darah di tangannya itu.


Alice tiba-tiba mematung di tempatnya dan tanpa sengaja dia menggenggam erat pisau lipat di tangannya itu untuk menyalurkan emosi dan luapan kesakitan yang ada di dalam hatinya.


"Jika kau tidak mau aku mengobati mu, aku akan memanggilkan dokter lain. Kau tidak perlu pergi dari sini.. Biarkan aku yang pergi." Ucap pria itu dan pergi dari tempat itu berlawanan arah dari tempat tujuan Alice.


"Ahh.." Keluh gadis itu saat sadar Anton sudah tidak ada di sana.


Alice baru menyadarinya bahwa tangannya menggenggam pisau itu erat yang menancap di telapak tangannya. Alice membuka telapak tangannya dan melihat pisau itu beserta luka yang mengeluarkan cairan merah kemudian menariknya keluar dan menggenggam luka itu dengan luka yang ada di perutnya.


"Mengapa rasa sakitnya tidak berpusat di tangan ku, atau bahkan di seluruh luka yang ada di tubuh ku. Kenapa rasa sakit ini malah berpusat di jantung ku." Ucap gadis itu sambil mengerutkan alis matanya dalam.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2