
Setelah membawa koper dan belanjaan masuk ke dalam rumah, Alice, Maya dan Namira mengobrol sebentar di ruang keluarga kemudian Maya berpamitan untuk pulang karena dia harus kembali ke sekolah karena suatu hal.
Setelah kepergian Maya, Alice membawa koper kecilnya ke dalam kamar dan menyusunnya di sana, Alice memutuskan untuk mandi kemudian keluar kamar untuk menonton televisi di ruang keluarga. Alice melihat Namira sedang menonton sebuah acara gossip dan menghampiri Namira.
“Kau suka acara gossip juga?” Tanya Alice.
“Emhh sebenarnya tidak suka, namun tidak ada acara yang menarik siang hari seperti ini.” Ucap Namira.
“Ohya kau memiliki kontak gadis yang kerusakan ponsel itu kah? Siapa namanya aku lupa.” Tanya Alice sambil beranjak duduk di sofa di samping Namira.
“Jeni maksud mu. Bukankah ada di grup chat kelas 3.1, tentu saja aku memilikinya.” Ucap Namira cepat, kemudian gadis itu baru menyadari sesuatu, “Ohya aku lupa, kau kan murid baru, tentu saja kau tidak memilikinya. Sini sekalian aku masukkan nomer mu di grup kelas.” Ucap gadis itu menyadari kesalahannya.
“Berikan aku nomer Jeni saja dahulu, aku ingin membatalkan janji membelikannya ponsel hari ini. Aku lelah aku ingin istirahat saja, entah mengapa suasana hati ku sedang tidak enak.” Ucap Alice sambil menyandarkan tubuhnya di sofa itu.
“Kau tidak apa-apakan? Baiklah, ini nomer nya …“
“Tidak.. aku baik-baik saja, hanya sedang tidak moods saja.” Ucap Alice kemudian mengetikkan nomer Jeni di ponselnya dan mengirimkan chat kepada gadis itu mengenai pembatalan janji hari ini.
“Sekalian nomer kontakmu saja.” Ucap Alice yang melihat Namira masih memegang ponselnya.
“Ahh baiklah.” Namira memperlihatkan barcode di ponselnya untuk di scan oleh Alice.
“Laila, bolehkah aku bertanya sesuatu?” Tanya Namira.
“Tentu.” Ucap Alice.
“Bagaimana kau bisa menangani kelima gadis yang menyerang sekaligus?” Tanya Namira penasaran.
“Aku mengikuti latihan beladiri saat di sekolahku sebelumnya, kebetulan aku memiliki sabuk hitam. Jadi tidak terlalu sulit menangani mereka.” Ucap gadis itu, tentu saja tidak semuanya dia berbohong. Kemampuannya sebagian karena mengikuti pelatihan extra kulikuler di sekolah sebagian lagi adalah pelatihan khusus dari Juna.
“Ahh pantas saja, kau bisa menangani mereka dengan cepat.”
“Hemm begitulah..”
__ADS_1
***
Disisi lain
Anton meletakkan ponselnya di atas meja kerjanya kemudian menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi kerjanya di rumah sakit. Pria itu baru saja melakukan visitnya kepada pasien-pasiennya, saat ini pandangan matanya sedang menerawang entah kemana. Pria itu sedang memikirkan kekasihnya itu meski baru sehari saja tidak bertemu, Anton sungguh sudah sangat merindukan Alicenya itu.
Anton kemudian mengambil sebuah kunci dari dalam saku jas snelinya dan membuka laci meja kerjanya. Pria itu mengambil sebuah ponsel berwarna hitam yang terlihat mati, kemudian dia mengaktifkannya. Terdapat beberapa email masuk ke dalam ponselnya itu. Dia membuka salah satu email dengan ID Spy dan membuka isinya.
Anton terperanjat melihat apa yang terdapat di dalam pesan itu, ada sebuah alamat rumah susun, sekolah dan beberapa gambar Alice berpose mengenakan baju seragam sekolah dengan rambut yang di kuncir tinggi dengan senyum yang sangat menawan. Dengan cepat pria itu mensave gambar itu dan bahkan mengirimnya ke ponsel yang berada di atas meja, kemudian mengatur ponsel itu untuk menjadikannya sebagai wallpeper dan lock screen di ponselnya. Pria itu tersenyum sangat lembut melihat ponselnya itu, kemudian kembali ke ponsel hitamnya dan mengecek beberapa email terkait pekerjaannya sebagai K.
Anton memutuskan menghubungi Paul dari ponselnya itu.
“Bagimana perkembangan penyelidikannya?” Tanya Anton langsung saat ponsel itu tersambung.
“Maaf Tuan K, semuanya masih sedang di selidiki. Namun data yang baru kami terima, Lidia Handoko memang memiliki hubungan dengan Alice. Dia bahkan pernah berhubunga secara tidak langsung dengan gadis itu. Untuk berapa lama dan apa yang membuatnya terhubung kami masih memerlukan waktu untuk menyelidikinya.” Jawab Paul.
“Baiklah, lanjutkan penyelidikannya sampai ke akarnya. Aku tidak mau penyelidikan yang setengah-setengah.” Ucap Anton.
Anton mematikan sambungan telponnya dan menonaktifkan kembali ponselnya itu, kemudian memasukkan ponselnya itu kedalam laci kerjanya dan menguncinya.
Ceklekk pintu tiba-tiba terbuka, muncul seorang wanita di ambang pintu mengenakan dress berwarna merah ketat memperlihatkan bentuk tubuh sang pemiliknya.
“Hai sayang, belum makan siangkan? Kita makan siang yuk.” Ucap wanita itu dengan tidak tahu malunya masuk begitu saja ke ruang kerja Anton.
“Diana.. kenapa kau berada di sini?” Ucap Anton yang terkejut dan langsung berdiri dari kursinya saat melihat kedatangan Diana, dan dengan percaya dirinya Diana menghampiri Anton dan akan memberikannya pelukan serta kecupan di pipi pria itu. Namun sebelum wanita itu berhasil menyentuh tubuhnya, Anton mendorong wanita itu dengan keras sehingga wanita itu jatuh terjerembab tepat di bokongnya.
“Ahhh… Anton, apa yang kau lakukan?” Ucap Diana merasakan sakit di bokongnya karena hentakkan yang kuat dari Anton.
“Harusnya aku yang bertanya, apa yang kau lakukan di sini!” Ucap Anton tanpa nada ramah sedikitpun..
“Sakit,,, bantu aku bangun..” Ucap Diana tanpa rasa malu dan mengulurkan tangannya kepada Anton agar pria itu mau membantunya berdiri, namun pria itu tetap saja cuek dengan permintaan wanita itu dan bahkan mengabaikan ucapan dari wanita itu.
“Apa yang kau lakukan disini!!” Ulang Anton kesekian kalinya. Diana yang di bentak langsung membenarkan dirinya untuk berdiri sendiri dan merapihkan pakaiannya yang sedikit naik akibat terjatuh tadi.
__ADS_1
“Aku hanya mengajak mu untuk makan siang. Lalu apa yang salah.” Ucap wanita itu tenang.
“Aku tidak tertarik makan siang dengan mu, pergilah.” Ucap Anton dan menunjuk pintu keluar kepada Diana.
“Astaga kejamnya, setidaknya beri aku muka kek, karena aku sudah mau datang kemari. Kau tahu ini juga perintah ibumu.” Ucap Diana santai dan dengan tidak tahu malaunya gadis itu bukannya pergi karena di usir Anton, namun gadis itu malah duduk di sebrang kursi kerja Anton.
“Aku tidak mau tahu siapa yang menyuruhmu, yang aku inginkan kau pergi sekarang dari hadapan ku.” Ucap Anton ketus mengusirnya.
“Bahkan hanya makan siang saja kau menolakku, bukankah itu terlalu berlebihan.” Ucap Diana dan dengan santainya malah menyilangkan kakinya di hadapan Anton sehingga mini dressnya naik dan memperlihatkan pahanya yang putih.
“Aku tidak perduli, pergi sekarang juga!” Ucap Anton masih dengan ketus dan penekanan kata yang jelas.
Drrt drrt drrt ponsel Anton menyala, memberitahukan ada notifikasi pesan yang masuk. Yang membuat Diana memperhatikan ponsel milik Anton yang ada di hadapannya.
“Ahh jadi inikah gadis itu?” Tanya Diana saat memperhatikan gambar gadis muda di ponsel Anton.
“Bukan urusan mu!” Ucap Anton semakin ketus karena Diana telah melanggar privasinya dan Anton segera mengambil ponselnya dan memasukkannya ke dalam saku jas snelinya.
“Kau tidak pedo*filkan?” Tanya Diana secara langsung dan itu membuat Anton semakin kesal.
“KU BILANG PERGI!!!!” Kesabaran Anton benar-benar habis di buat oleh wanita itu, Anton benar-benar berwajah tidak bersahabat sekarang.
“Ahh karena kau marah berarti kau tidak seperti itu.” Wanita itu berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri pintu dan membukanya. Wanita itu pun keluar dari ruangan itu, namun sebelum pintu tertutup wanita itu kemudian berbicara, “Baiklah aku
pergi sekarang, namun jangan harap aku akan menyerah.” Ucap wanita itu dan memberikan senyum sinisnya sebelum pintu itu benar-benar tertutup.
“Astaga rasanya ingin ku temb*ak saja kepala wanita menyebalkan itu, jika saja aku tidak ingat bahwa wanita itu adalah anak kenalan ibu.” Kesal Anton dan mulai mengusap wajahnya frustasi saat wanita itu telah benar-benar pergi dari sana.
“Ibu.. mengapa kau bersikeras ingin memisahkan ku dengan Alice, apa yang sebenarnya kau sembunyikan.” Ucap Anton monoton kepada dirinya sendiri.
Nb. Ped*ofilia di definisikan sebagai gangguan kejiwaan pada orang dewasa atau remaja yang telah dewasa(pribadi dengan usia 18 atau lebih tua) biasanya di tandai dengan suatu kepentingan se*ksual primer atau eksklusif pada anak prapuber (umumnya usia 16 tahun atau lebih muda, walaupun pubertas dapat bervariasi. Anak harus minimal 12 tahun lebih muda dalam kasus pedofilia remaja. Menurut Wiki*pedia.
Bersaambung....
__ADS_1