JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Mencari bantuan


__ADS_3

Anton berlari memasuki rumah utama dan segera masuk ke ruang keluarga. Di sana ada ibunya yang duduk dengan gelisah di sofa ruang keluarga itu, dia tidak melihat ayahnya di sana.


"Anton! bagaimana dengan Alice? apakah sudah di temukan? bagaimana keadaan gadis itu?" Rentetan pertanyaan keluar dari mulut Lidia saat dia baru saja melihat sosok Anton yang mendekatinya di ruang keluarga itu.


Anton menghembuskan nafasnya dan mulai menjelaskan keadaan Alice.


"Alice sudah di temukan dan dia baik-baik saja." Jelas Anton.


"Syukurlah.. ibu sangat khawatir.. siapa yang berani-beraninya mengusik keluarga Hadi Jaya." Ucap Lidia dengan kesal.


"Irfan kakak Diana yang melakukannya. Ibu tidak perlu khawatir, aku sudah menyelesaikan masalah itu." Ucap Anton menenangkan ibunya.


"Syukurlah kalau begitu. Namun kenapa raut wajah mu tegang begitu? ada hal lain yang terjadi?" Tanya Lidia saat melibat raut wajah anaknya masih gusar dan tidak tenang.


"Ya.. ada sesuatu yang aku ingin tanyakan. Kenapa ibu berbohong bahwa Alice di temukan di rumah sakit pusat di kota X?" Tanya Anton to the point.


"A..emhh.." Ucap Lidia sedikit gugup, namun wanita tua itu dengan cepat bisa mengendalikan situasinya.


"Ibu hanya lupa melihatnya di mana. Lagi pula itu sudah lama, jadi wajar saja kan jika ibu lupa." Ucap Lidia dengan santai.


"Bagaimana mungkin ibu bisa lupa saat ibu menemukan seorang anak dan kemudian membawanya ke negara kita, Ibu jangan berbohong lagi. Katakan apa yang sebenarnya terjadi di tahun itu?" Tanya Anton mulai kehilangan kesabarannya.


"Ibu lupa.. ibu tidak tahu." Ucap Lidia singkat.


"Ibu.. tidak bisakah ibu jujur kepada anak mu sendiri? apa yang ibu takutkan? ibu sudah tahu siapa aku. Cepat atau lambat aku pasti akan mengetahui kebenarannya." Ucap Anton kesal.


"Kenapa kau harus sibuk menggali masalalu Anton! kenapa tidak kau jalani saja hidup mu sekarang dan merencanakan masa depan kalian! kenapa kau malah sibuk dengan masalalu yang tidak akan pernah bisa berubah. Biarakan yang tidak terlihat tetap tidak terlihat! jangan melakukan apapun!" Kesal Lidia dengan nada tinggi.


"Bagaimana mungkin ibu bicara seperti itu! ini mengenai kebenaran kehidupan Alice! bagaimana aku tidak memperdulikannya!" Ucap Anton kesal. Dia tak habis pikir dengan pandangan dari ibunya itu.


"Jika kau menanyakan ibu, ibu akan menjawab hal yang sama. Ibu tidak tahu!!" Ucap Lidia dan bernajak pergi dari sana.


"Arghhh sial!!!!" Umpat Anton kesal. Pria itu kesal dengan sikap ibunya yang tidak memberitahukan apa yang sebenarnya terjadi. Pilihan terakhir adalah menghubungi pamannya.


Anton mengambil ponselnya dan mencoba mencari nomor ponsel pamannya dan menghubungi pria itu.

__ADS_1


📞"Halo paman.. maaf mengganggu waktu istirahat mu." Ucap Anto saat panggilan itu sudah terhubung.


📞"Halo Nak, tumben kau menghubungi paman. Apakah ada masalah di Black Phanter?" Tanya pria di sebrang sana.


📞"Tidak paman semua baik-baik saja. Hanya saja aku membutuhkan sedikit bantuan paman." Ucap Anton to the point.


📞"Ahh.. tentang apa itu Nak?" Tanya suara di sebrang sana.


📞"Aku membutuhkan orang paman yang tahu mengenai seluk beluk kota X di negara X 10 tahun yang lalu." Ucap Anton yakin.


📞"Hemm ada apa?" Tanya pria itu bingung.


📞"Aku sedang mencari sesuatu dan membutuhkan seseorang yang memang tahu apapun itu di kota X. Ku mohon paman, aku sangat membutuhkannya." Ucap Anton sedikit memelas.


📞"Kau sampai meminta bantuan ku, pasti itu hal yang sangat penting. Baiklah, aku akan menghubungi Aldo, dia sahabat sekaligus kaki tangan terpercaya ku, dia tinggal di kota X. Meski dia sudah pensiun, tapi aku yakin dia masih mengingat beberapa hal dan dapat membantu mu." Ucap Pria di sebrang sana.


📞"Baik terima kasih banyak paman." Ucap Anton dan tidak lama memutuskan panggilannya itu.


Anton sedikit frustasi dan pria itu tidak kembali ke apartemen miliknya. Pria itu malah memilih pergi ke kantornya dan menyelesaikan masalah pekerjaannya. Dia harus mengalihkan semua kekesalannya ini, selain itu dia tidak bisa menghadapi Alice langsung setelah mendapatkan jawaban dari ibunya yang tidak bisa membawa hasil apapun.


***


Alice bangun dan duduk di kasur dan kemudian menyandarkan pungungnya di kepala ranjang.


"Masuk." Ucap gadis itu, dan tidak berapa lama seseorang masuk ke dalam kamarnya.


"Sarapan sudah jadi Nona, anda mau makan di sini atau di ruang makan?" Tanya Bu Maya kepala pelayan apartemen Anton.


"Di meja makan saja Bu.." Ucap Alice dan mendapat anggukkan dari Bu Maya.


"Baik Nona saya permisi." Belum sempat Bu Maya akan membalikan badannya, Alice menanyakan sesuatu kepada wanita tua itu.


"Bu.. di mana Anton?" Tanya Alice bingung.


"Den Anton tidak pulang Nona, dia bilang masib banyak yang harus dia urus." Ucap Bu Maya singkat.

__ADS_1


"Baiklah.. terima kasih Bu Maya." Ucap Alice dan melihat secarik kertas di samping nakas tempat ridurnya.


Gadis itu membacanya bahwa Anton akan menemui ibunya. Baiklah mungkin masib banyak beberapa perencanaan pernihakan dan lekerjaan yang harus pria itu urus. Alice tidak mengambil pusing hal itu dan segera beranjak dari kasurnya menuju kamar mandi.


Gadis itu membersihkan dirinya dan kemudian mengenakan pakaiannya yang ternyata sudah di siapkan di walk in closet di kamar itu. Alice menggenakan baju atasan kaus yang longgar dengan celana jeans biru dongker. Alice mengambil ponselnya dan segera turun ke bawah.


Alice pergi menuju meja makan dan melihat makanan sudah di tata rapih di atas meja makan. Alice duduk dan makan dengan diam. Sepertinya hari-hari pria itu di rumah ini sangat kesepian. Semua pelayan langsung menghilang setelah mereka menyelesaikan pekerjaannya.


Setelah menyelesaikan sarapannya Alice langsung beranjak pergi menuju RJP, gadis itu harus menyiapkan beberapa barang yang oerku dia bawa.


***


Sesampainya di RJP Alice masuk ke dalam ruangannya dan menyiapkan koper kecilnya yang berisi baju serta beberapa tas dan sepatu. Bagaimanapun dia akan memerankan sebagai seorang model, jadi dia mengambil beberapa baju dan tas serta aksesoris brended dan memasukkannya ke dalam koper. Saat gadis itu mengepak barangnya tiba-tiba sebuah notifikasi pesan muncul di ponselnya.


💌 "Maaf aku tidak bisa mengantar mu. aku benar-benar banyak kerjaan. Aku aka menyusul mu di kota X." Isi pesan itu adalah dari kekasihnya Anton.


💌 "Tidak apa.. aku sebentar lagi berangkat. Kau jaga kesehatan jangan lupakan sarapan mu." Balasan pesan dari Alice.


💌 "Aku lupa memberitahu mu. Bawa serta barang di dalam laci di kamar mu. Jangan pernah kehilangan benda itu. Selalu bawa benda itu kemanapun kah pergi." Isi pesan Anton


💌 "Baiklah.. nanti aku akan mampir kesana dahulu." Balasan pesan Alice.


Alice mulai membereskan kembali barang-barangnya dan segera turun menuju lobby. Disana dia sudah melihat Galih, Juna dan Maya beserta tas dan kopernya.


"Ya sudah yuk berangkat." Ucap Galih.


"Emhh tunggu, aku harus pergi ke suatu tempat dahulu." Ucap Alice.


"Tapi kita bisa terlambat." Ucap Galih sambil memperhatikan jam tangannya.


"Begini saja, kau antar Alice, Aku akan pergi ke bandada bersama Maya." Ucap Juna memberikan solusi.


"Baiklah kalau begitu." Ucap Galih setuju dan membawa Alice dan kopernya ke dalam bagasi mobilnya. Sedangkan Maya dan kopernya masuk ke dalam mobil Juna.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2