JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Makam


__ADS_3

Alice sudah siap dengan pakaian casualnya. Gadis itu sudah duduk di meja makan. Beberapa sarapan sudah tersedia di atas meja.


"Pagi Al.." Sapa Roy yang baru saja masuk keruang makan dan langsung menggeser kursinya di samping Alice.


"Pagi Kak Roy." Jawab Alice, "Aku sudah memesankan beberapa sarapan.. Makanlah Kak." Lanjut Alice sambil kembali meminum susunya.


"Thanks Al.. Yang lain kemana?" Tanya Roy dan melihat sekeliling belum terlihat Juna maupun Galih. Pria itu memilih mengambil cream sup yang ada di atas meja. Belum sempat Alice menjawab, Galih dan Juna sudah muncul di ruang makan.


"Pagi.. Mencari ku?" Tanya Juna dan langsung mengambil posisi tempat duduk di samping Alice dan Galih menggeser kursi di samping Juna.


"Aku baru saja selesai mempersiapkan untuk kepergian kita." Lanjut Juna dan kemudian mengambil sepotong sandwich dan memasukkannya ke dalam mulutnya.


"Ohh pantas aku tidak melihat mu." Ucap Roy dan mengangguk mengerti.


"Kita akan langsung ke perusahaan BBC kan Al?" Tanya Juna memastikan kembali jadwal hari ini. Galih hanya mendengarkan percakapan itu sambil meminum kopinya.


"Emhh bolehkah aku pergi sebentar ke makam kedua orang tua ku? Setelah itu baru kita pergi ke BBC?" Pinta Alice dan meletakkan gelas susu yang sudah habis di minumnya.


"Tentu saja." Roy yang menjawab pertanyaan Alice dengan cepat.


Juna sedikit mengerutkan keningnya. Sebelumnya Juna sudah bilang kepada para anak buahnya untuk mengikuti mobil mereka sampai ke BBC baru mengerjakan tugas mereka mencari bukti di perusahaan itu. Namun jika begitu bukankah harus di rubah lagi pengaturannya.


"Biarkan anak buah yang lain langsung saja ke BBC dan mulai pada pekerjaan mereka seperti diawal. Biar kita saja yang menjaga Alice ke pemakaman dan baru ke BBC." Jelas Roy cepat. Secepat kilat wajah Juna yang tadinya bingung seketika kembali seperti semula dan mengangguk tanda mengerti.


"Maaf aku sudah merepotkan kalian." Ujar Alice sedikit segan kepada ketiga pria di depannya itu.


"Kita melakukannya atas kemauan kita sendiri Al.. Lagi pula kita keluarga.. Tidak ada yang merepotkan siapa-siapa." Ucap Galih dan kembali menyeruput kopinya santai.

__ADS_1


"Benar itu/ Setuju." Jawab Juna dan Roy bersamaan.


"Baiklah agar kita tidak terlambat, kita bergegas saja sekarang." Ucap Galih meletakkan gelas kopinya dan mendapatkan persetujuan dari ketiga orang itu.


Alice, Roy, Galih dan Juna yang telah menyelesaikan sarapannya beranjak dari kursi dan bergegas keluar dari penthouse mereka. Saat mereka akan masuk ke dalam mobil, mereka berpapasan dengan dokter Imanuel yang baru keluar dari mobilnya yang hendak pergi menemui Alice.


"Ahh kebetulan sekali, kita akan langsung ke BBC?" Tanya Imanuel dan mendekati mobil yang akan dinaiki keempat orang itu.


"Maaf paman, aku akan pergi ke pemakaman dahulu baru ke kantor." Jawab Alice menjelaskan tujuannya.


"Ahh begitu.. Baiklah aku akan menemani kalian." Ucap Imanuel dan memilih masuk ke dalam mobil bersama Alice dan Roy yang duduk di kursi tengah. Sedangkan Galih yang duduk di belakang kemudi dan Juna yang duduk di sampingnya.


Perjalanan mereka menuju pemakaman 45 menit dari hotel mereka. Sebenarnya letak pemakaman itu terletak tidak jauh dari mansion keluarga besar Baskoro yang berada di belakang mansion. Terdapat sebuah bukit yang asri dan di sana terdapat beberapa pusara makam dengan nisa di atasnya.


"Adel.. Ini adalah makam Kakek Buyut mu Lucifer dan di sebelahnya adalah Grace Nenek Buyut mu." Ucap Imanuel memberitahukan kepada Alice kedua makam yang terlihat sudah tua namun tetap terawat.


"Adel ini adalah makam Kakek dan Nenek mu" Ucap Imanuel dan memberitahukannya kepada Alice dua makam lainnya, kedua makam itu tidak jauh terlihat berbeda seperti kedua makan sebelumnya.


Alice berdiri di depan pusara itu dan memberikan penghormatan dan doa kepada kedua orang yang telah meninggal, begitu juga dengan Imanuel, Galih, Juna dan Roy.


Setelah beberapa saat sedikit mengenang dan berdoa, Alice beranjak pergi ke kedua makam lainnya yang tampak seperti masih baru bagi Alice.


Kedua mata Alice langsung berembun dan mulai menggenangkan air mata di kedua pelupuk matanya saat akan mendekati kedua makam itu.


"Adel.. Ini adalah makam kedua orang tua mu.. Frans dan Amelia." Ucap Imanuel dan berdiri di depan pusara itu.


Alice, Imanuel, Galih, Juna dan Roy memberikan penghormatan dan kemudian berdoa. Setelah selesai, mereka segera pergi perlahan meninggalkan Alice yang masih berdiri mematung dengan menunduk.

__ADS_1


Deraian air mata yang sudah menetes di kedua pipinya menemani kepiluan di dalam hatinya. Perlahan-lahan gadis itu maju mendekati pusara dengan nisan nama yang tertulis di atas keramik berwarna hitam kelam dengan goresan tinta emas di atasnya.


"Maafkan kelalaian Adel Ibu uu, Ayahh.. Hiks." Ucapnya terbata di sertai tangisan memilukan.


"Maaf karena Adel baru berkunjung.. Maafkan Adel juga yang baru memperjuangkan hak kalian.. Maafkan Adel juga tidak bisa membenci orang yang sudah menabrak mobil kita.. Maaf sudah membuat Ayah dan Ibu khawatir selama ini.. Huaaa.." Isakan dan tumpahan keluh kesah serta tumpahan air mata membanjiri di atas nisan hitam kelam itu.


Gadis kecil itu meraung-raung sambil mengepalkan jari jemarinya dan memeluk nisan di atas pusara ibunya itu menahan sesak yang ada di dalam dadanya.


Galih, Juna dan Roy yang berada tidak jauh dari sana menatap punggung Alice yang membungkuk tampak bergetar dengan hebat. Tangisan dan ratapan Alice menyayat hati mereka, mereka bertiga merasakan desakkan air mata yang ingin ikut tumpah menemani Alice. Namun mereka menahannya dan mencoba memalingkan wajahnya dari tubuh Alice dan menghembuskan nafasnya kasar menghempaskan sesak di dada mereka.


Beberapa saat mereka memberikan waktu kepada Alice untuk mencurahkan seluruh hatinya. Saat melihat gadis itu jauh lebih tenang dengan posisi masih memeluk nisan, Roy berinisiatif mendekati Alice perlahan dan mengusap bahu gadis itu.


"Kita bisa berkunjung lain kali, saat ini kau harus kuat dan menyelesaikan apa yang sudah kita mulai." Ucap Roy menenangkan sambil terus mengusap bahu Alice.


Lambat laun Alice melepaskan pelukannya kepada nisan ibunya dan mulai duduk tegak. Gadis itu dengan cepat membersihkan lelehan air mata di kedua pipinya dan mulai tenang.


"Ibuu, Ayah.. Alice akan segera kembali dan membuat dalang di balik semua ini mendapatkan balasannya." Ucap Alice tegar dan dan mulai beranjak berdiri dari duduknya.


Roy yang berada di samping Alice menguatkan gadis itu dengan merengkuh tubuh Alice dan mengusap bahu gadis itu. Galih dan Juna juga menghampiri Alice dan mengusap punggung dan kepala gadis itu.


"Tante dan Paman tidak perlu khawatir, kami akan selalu berada di samping Alice dan melindunginya." Ucap Roy di hadapan kedua pusara orang tua Alice dan di angguki oleh Juna dan Galih bersamaan.


Alice menatap ke kiri dan kanannya, gadis itu terharu terhadap ketiga pria yang selalu melindunginya itu.


"Kami pamit Ayah, Ibu.." Ucap Alice dan kemudian pergi meninggalkan kedua makam itu.


Tanpa mereka ketahui seseorang memeperhatikan interaksi mereka dari balik pohon cemara yang tidak jauh dari pemakaman itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2