JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Terbelenggu


__ADS_3

"Ada apa Al?" Tanya Anton penasaran.


"Kak Juna bilang Kak Maya sudah pulang sejak siang tadi dan Kak Juna akan ke apartemennya dan ingin meminjam mobil ku yang kebetulan kuncinya tertinggal padanya." Jelas Alice.


"Ohh.. Mengapa dia harus repot-repot kerumah Maya hanya untuk menjenguk rekan kerjanya?" Tanya Anton bingung.


"Kenapa? Kau cemburu?" Ketus Alice.


"Ha? Tidak bukan begitu, aku hanya heran mengapa dia masih harus menyusul Maya ke tempatnya untuk menjenguknya malam-malam begini. Bukankah masih bisa besok siang." Jelas Anton cepat karena tidak ingin Alice salah paham terhadapnya.


"Kak Juna lagi mendekati Kak Maya, bahkan selama Kak Maya di rawat di rumah sakit, Kak Juna yang selalu menjaganya." Jelas Alice.


"Ah.. Begitukah.." Ucap Anton dan kemudian pria itu sedikit tertegun.


"Apa yang kau lamunkan?" Ucap Alice membuyarkan lamunan Anton.


"Tidak ada." Ucap Anton berbohong.


"Ohya ini ponsel mu, sebelumnya Paul menyerahkan ponsel ini pada ku." Alice menyerahkan ponsel hitam kepada Anton, pria itu mengambilnya dan meletakkan di nakas samping tempat tidurnya.


"Terima kasih karena selalu menemani dan merawat ku." Ucap Anton sambil menatap langsung ke arah mata bulat milik Alice.


"Maaf.." Ucap Alice lirih.


"Maaf untuk apa?" Tanya Anton bingung.


"Maaf karena aku, kau jadi terluka.. Maaf juga karena aku telah menyakiti mu dengan semua kata-kata kasar ku, dan bahkan aku sama sekali tidak mau mendengarkan penjelasan apapun dari mu." Alice menundukkan kepalanya. Air matanya mulai memenuhi kelopak matanya.


"Aku mengerti perasaan mu dan bahkan aku memahami keputusan yang kamu ambil. Aku tahu kau sedang terluka saat itu, lagipula tetap saja aku yang mengendarai mobil itu. Kenyataannya tetap seperti itu dan tidak akan berubah." Ucap Anton dengan sedikit senyum terluka di wajahnya.

__ADS_1


"Anton aku.." Alice belum menyelesaikan kalimatnya namun Anton sudah memotong ucapan gadis itu.


"Kau tidak perlu merasa bersalah atas kejadian kemarin, aku melakukannya murni karena keputusan ku sendiri karena rasa kemanusiaan. Tidak ada sangkut pautnya dengan mu. Kau pulanglah dan istirahat ini sudah malam." Ucap Anton datar.


Anton mengatakan hal itu kerena tidak ingin membuat Alice merasa bersalah akibat luka tembak sebelumnya karena dia melindungi gadis itu. Dia tidak ingin melukai gadis itu lagi, jika dekat dengannya pasti gadis itu teringat dengan kedua orang tuanya. Dia lebih tidak ingin gadis itu merasa bersalah terhadapnya dan berada di sisinya karena rasa kasihan. Anton juga belum bisa memaafkan dirinya karena kesalahan kecelakaan masalalu itu. Terbelenggu dosa di hatinya yang belum bisa dia lepaskan.


Alice yang mendengar hal itu tertegun dan air matanya tumpah membasahi kedua pipinya. Alice mengira Anton tidak ingin dia berada disisi pria itu kerena terlalu berbahaya dan akan terluka jika bersama dengannya.


"Aku mengerti.. Namun mobil ku di pakai Kak Juna, besok dia akan menjemput ku. Untuk malam ini biarkan aku menginap di sini." Ucap Alice tegar dan mengusap sendiri air mata yang membasahi kedua pipinya.


"..." Anton tidak menjawab apa-apa dan Alice tidak perduli dengan jawaban pria itu. Gadis itu berdiri dari duduk di kursinya dan beranjak pergi masuk kedalam kamar mandi.


Alice menyalakan keran air dengan deras dan menumpahkan air matanya disana.


"Sial!" Rutuk Anton dan mengacak rambutnya sendiri.


Setelah bangun dari komanya, Anton mendapatkan seluruh memorinya yang hilang saat kecelakaan 10 tahun yang lalu. Pria itu mencoba tetap bahagia dan ceria saat bersama dengan keluarganya. Namun saat mereka sudah pergi, Anton merasakan sakit dan terluka bagaikan kejadian itu baru saja dia alami. Rasa bersalah yang menguat di dalam dirinya membuatnya tidak bisa berada di dekat gadis itu.


"Sial! Sial! Apa yang harus aku lakukan.." Ucapnya pelan karena dia sendiri tahu dia baru saja melukai perasaan gadis itu.


Alice yang berada di kamar mandi setelah menumpahkan seluruh air mata yang tersisa gadis itu segera membilasnya dengan air mengalir itu. Setelahnya Alice mengelapnya dengan handuk yang ada di sana dan kemudian memberikan sedikit bedak pada wajahnya untuk menutupi kemerahan pada hidungnya akibat menangis tadi.


"Kau harus kuat Al.. Sekarang kau memilikinya, dia adalah kekuatan terbesar mu. Meskipun kau tidak bisa bersama Anton, tapi kau memiliki little Anton." Ujarnya menyemangati dirinya sendiri sambil mengusap perut bawahnya lembut.


"Maaf mom menangis, kau baik-baik saja kan? Mom janji setelah ini mom tidak akan menangis lagi." Ucapanya pelan berjanji kepada dirinua sendiri.


Alice keluar dari kamar mandi dengan wajah datarnya. Gadis itu meletakkan tas selempangnya di atas meja dan duduk di sofa.


"Aku sedikit lelah.. Aku akan tidur duluan. Jangan hiraukan aku, kau bisa istirahat." Ucap Alice datar.

__ADS_1


"Kau bisa tidur di kasur itu." Ucap Anton pada kasur yang tidak jauh dari sebelah ranjangnya.


"Tidak perlu, sofa ini cukup untuk tubuh ku dan disini empuk.. Aku duluan." Tolak Alice dan merebahkan tubuhnya di sofa sambil membelakangi tubuh Anton.


Lambat laun suara dengkuran halus terdengar di telinga Anton.


"Sepertinya kau benar-benar lelah." Ucapnya dan pria itu sambil memandangi punggung Alice yang sudah tidur nyenyak.


Anton menggerakkan tubuhnya untuk menggeser tubuhnya diatas kasur namun rasanya sedikit kaku dan berat.


"Sial! Sepertinya tubuhku jadi sedikit kaku." Ucapnya dan lebih memilih mengambil ponselnya untuk menghubungi Paul.


Beberapa menit kemudian Paul tiba di ruang kamar Anton.


"Syukurlah tuan anda susah sadar." Ucap Paul dan membungkuk memberi hormat saat pria itu tiba di depan Anton.


"Paul bantu aku menggendongnya dan tidurkan dia di kasur di sana. Dekatkan kasur itu kemari." Perintah Anton saat melihat sebuah bed di samping tempat tidurnya. Bed itu memang di khususkan untuk penjaga pasien.


"Baik tuan.." Ucap Paul dan membereskan dahulu kasur itu untuk di dekatkan dengan kasur milik Anton, lalu Paul berjalan mendekati Alice.


Paul dengan hati-hati merangkul tubuh Alice dan mengangkat tubuh gadis itu. Paul berjalan perlahan menuju kasur di samping Anton dan meletakkan perlahan dan hati-hati tubuh gadis itu di atas kasur.


"Terima kasih Paul." Ucap Anton.


"Sama-sama tuan." Jawab Paul singkat.


"Kau bisa istirahat." Ucap Anton lagi.


"Baik.. Saya permisi tuan.." Ujar Paul dan meninggalkan ruang perawatan Anton dan menutup rapat kamar itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2