
Langit mulai menjingga.. Angin berhembus pelan menyelimuti tubuh yang lelah.. Rambut menari-nari mengikuti irama agin.. Gelitikan pasir yang lembut sekaligus kasar membuat nyaman, kadang kala air laut datang mendekat dan membersihkan pasir yang menempel di kaki yang bertelanjang tanpa alas.. Jejak jejak kaki yang terbentang dari tepi laut sepanjang jalan itu kadang tersapu air laut seperti tidak ada yang pernah tercetak apapun diatas sana.
Namun.. Di hati dan pikiran ini.. Mengapa semuanya tidak bisa tersapu bersih seperti tidak pernah ada apapun yang telah terjadi..
Kakinya mulai mendekati rumah sederhana yang tidak jauh dari tepi pantai. Rindang dan hijau dengan beberpa pohon kelapa dan tanaman rumput lainnya.
Wanita itu masih menatap langit yang kini sudah sepenuhnya menghitam dan ombak di tepi pantai yang masih setia menari-nari dengan suara deburan yang menenangkan indra pendengaran.
Wanita itu membalikkan badannya dan masuk ke dalam rumah dengan nuansa kayu itu.
"Seperti biasa.. Hari akan terlewati lagi meski aku tidak melakukan apapun." Gumamnya dan memilih membersihkan diri dengan air mengalir dan mengganti pakaian piama santai dan duduk di tepi jendela menatap kearah laut yang luas.
"Aku harus melakukan sesuatu.. Tidak melakukan apapun disini hanya makan tidur dan jalan-jalan lama-lama membuat jenuh juga." Gumamnya sambil menghembuskan nafas kasarnya.
"Mungkin besok aku coba mencari pekerjaan sampingan saja untuk menghabiskan waktu ku di sini." Gumamnya lagi dan kemudian menutup jendela dan beranjak menuju kamar tidurnya.
Suara deburan ombak masih setia mengiringi malamnya sampai wanita itu kehilangan keaadarannya dan terlelap menjemput mimpinya.
Sedangkan di sisi lain..
Brak!
Pintu ruangan kerja Galih di buka dengan keras membuat orang yang berada di dalam ruangan itu terlonjak karena kaget.
"Astaga!" Seru Galih sambil mengusap dadanya pelan.
"Galih bantu aku.." Ucap Juna yang tiba-tiba muncul di balik pintu dan masuk menghampiri Galih yang sedang duduk di kursi kebesarannya.
__ADS_1
"Tidak bisakah mengetuk pintu dahulu dan masuk secara manusiawi. Apa salah pintu itu pada mu." Kata Galih yang masih kesal karena di kagetkan oleh kedatangan Juna yang sedikit heboh itu.
"Tidak ada waktu!" Ucap pria itu tampak serius.
"Apa yang terjadi? Bukankah kau akan pergi mencari Maya. Lalu mengapa kau ada di sini?" Tanya Galih heran, " Ahh apa wanita itu sudah di temukan." Ucap Galih lagi.
"Tidak.. Itulah masalahnya mengapa aku terburu-buru mendatangi mu." Jawab Juna dan duduk di kursi di sebrang kursi kerja Juna.
"Ada apa? Katakan segera aku sedang pusing dan jangan berbelit-belit." Ucap Galih sambil memijit pangkal hidungnya.
"Aku sudah bertemu dengan Maya yang ada di biodata saat lamaran wanita itu, tapi ternyata dia adalah orang yang berbeda." Jelas Juna dengan frustasi.
"Ha? Apa maksud mu? Aku tidak mengerti tolonh jelaskan dengan baik." Galih menegakkan duduknya dan mulai serius mendengarkan Juna yang akan menjelaskan.
"Aku sudah pergi menemui Maya Ayundiya yang ada sesuai biodata ini. Namun yang aku dapatkan adalah aku bertemu dengan Maya yang lain, orang yang berbeda dengan yang selama ini bekerja sama dengan kita. Bahkan wanita itu mengaku jika identitas yang ada di dalam berkas ini adalah miliknya. Lalu siapa wanita yang selama ini bersama kita? Galih bantu aku cari tahu siapa dia." Ucap Juna dengan wajah memelasnya.
"Juna kumohon cari dan temukan dia." Pinta Juna dengan wajah memelasnya.
"Aihh aku juga ingin menemukannya, tapi saat ini aku hanya bisa melakukan suatu trick. Aku akan menyebarkan virus yang tidak berbahaya hanya bisa mendeteksi wajah yang sama dengan foto wanita itu, jika ada ciri-ciri yang sama atau hampir mirip, dia akan masuk kedalam sistem ku. Tapi aku tidak yakin terhadap ini.. Emhh maksudku entah sampai kapan itu akan terdeteksi dengan jutaan orang yang mungkin ada beberapa orang yang mirip bukan. Maka dari itu aku bilang padamu kemungkinan ini berhasil sangat kecil." Jelas Galih sambil meringis.
"Tidak masalah.. Aku akan menunggu dan berharap dia bisa di temukan." Ucap Juna optimis meski tangannya terlihat mengepal karena kenyataan kecil yang mustahil itu.
"Ahh.. Bukankah dia selalu melindungi Alice? Bagaimana jika kau tanyakan kepada Alice. Mungkin gadis itu tahu sesuatu." Ucap Galih lagi memberi saran.
"Ya akan aku tanyakan.. Namun sepertinya dia akan sibuk beberapa hari ini, aku akan meminta bantuannya nanti saat setelah pesta pernikahannya." Ujar Juna dan mendapatkan anggukkan kecil dari Galih.
"Sepertinya kau benar-benar serius pada wanita itu." Tanya Galih penasaran.
__ADS_1
Juna tersenyum hangat, "Jika dia mau aku akan langsung mengukuhkannya menjadi milik ku. Tapi dia malah lari dari ku." Gumamnya pelan tanpak raut kesedihan di wajah Juna.
"Ohh ayolah broo.. Aku akan membantu mu mendapatkannya, sudah jangan melow lagi.. Tidak cocok untuk mantan playboy seperti mu." Gurau Galih yang mendapatkan tatapan sinis dari Juna.
"Kau juga mantan playboy yang patah hati jika kau lupa." Ujar Juna tak kalah sinis.
"Hahah apakah kita perlu merayakannya? Maksud ku bagaimana jika kita minum keluar, aku akan menemani mu." Saran Juna sambil memberikan gerakan tangan memegang gelas kecil dan kemudian menengadahkan kepalanya seperti sedang minum.
"Tidak tidak.. Aku masih ingin berpikir sadar.. Aku tidak mau dalam keadaan seperti ini aku malah tidak sadar.. Yang ada aku akan melakukan hal bodoh nantinya.." Tolak Juna cepat.
"Ahh bisanaya kau tidak menolak hal hal bodoh Jun.." Ledek Galih yang kini sambil terkikik di depan Juna.
"Tidak untuk sekarang.. Aku sudah bosan bermain-main, aku ingin menemukan wanita itu dan mengajaknya untuk serius. Aku sudah cukup tua untuk bermain-ain lagi." Ujarnya serius.
"Wahh akhirnya pak tua satu ini sadar diri juga bahwa dia sudah tidak muda lagi.. Tinggal satu teman tua kita yang sepertinya enggan melepaskan masa lajangnya." Ledek Galih saat melihat Roy masuk kedalam ruangan kerjanya.
"Woah.. Sepertinya aku mendengar seseorang memaki ku.. Sepertinya ada yang ingin bekerja membersihkan kandang singa." Roy masuk dan mengambil duduk di sofa.
"Haishh.. Kenapa kalian suka sekali berkumpul di ruangan ku.. Ruangan ku nanti jadi bau bau para jomblo tua nih." Gerutu Galih sambil mencubit pangkal hidungnya.
Ucapan Galih berhasil membuat Roy melemparkan bantal sofa dan Juna melemparkannya dengan sebuah kotak tisu yang berhasil di hindari oleh Galih.
"Para gadis saja tidak pernah memasuki ruangan ku kecuali Alice dan Maya, kalian berdua malah lebih sering datang keruangan ku ketimbang para gadis-gadis itu.. Haish yang ada aku akan ketularan penyakit jomblo kalian.." Lanjut Galih lagi.
"Haishh berisik kau.. Membuat kepala ku semakin pusing saja." Gerutu Roy dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.
"Apa yang terjadi?" Tanya Galih dan Juna bersamaan.
__ADS_1
Bersambung....