JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
kehangatan para sahabat


__ADS_3

Galih menggerakkan pelan kaki pria itu yang merupakan bos sekaligus sahabatnya itu.


“Bangun.. kau bisa pergi. Biar aku yang menemaninya.” Ucap Galih membangunkan Roy yang terlelap dengan Alice yang masih bersandar pada bahunya.


“Hemm .. oke.. thanks broo.. klw tidak kau bangunkan aku akan terlambat nanti..” Ucap Roy, sambil melihat jam di dinding dan sedikit mengucek matanya.


Roy sedikit bergerak dan membenarkan posisi tidur Alice dan menaruhnya di sofa dengan ganjalan bantal sofa sebagai alas di kepala gadis itu.


“Hemm tak masalah.. tapi sepertinya kau harus ganti baju dahulu broo..” Ucap Galih sedikit terkekeh pelan melihat pulau yang telah mengering namun tetap bekas linangan air mata dan cairan dari hidung masih terlihat jelas terpampang seperti sebuah peta pulau di kemeja Roy.


“Ahh ya aku hampir lupa.. aku akan ke kamar mandi mengganti baju dan mencuci muka.” Ucap Roy dan beranjak dari ruangan itu menuju pintu sebuah ruang kamar dengan tempat tidur dan perlengkapan lainnya serta memiliki kamar mandi dalam di dalam ruangan itu yang berada di sudut ruang kerjanya itu.


Galih hanya memperhatikan Alice yang masih tertidur nyanyak di sana dengan mata yang sedikit bengkak dan hidung yang memerah. Entah apa yang sedang di alami gadis periang itu. Biasanya gadis itu tidak akan pernah memperlihatkan sisinya yang manja dan periang kepada semua orang kecuali kepada Roy yang sudah dianggapnya sebagai kakaknya itu, atau di hadapan Juna dan Galih jika Roy ada bersama mereka.


Namun gadis itu tidak pernah memperlihatkan kelemahannya bahkan kesedihan maupun kesepiannya kepada siapapun. Gadis itu terlalu sering menampakkan wajah dinggin bagaikan gunung es jika di sudah menginjakan kaki di gedung kantornya. Selain untuk mendapatkan pengakuan atas keja kerasnya yang meski masih dalam usia muda, gadis itu juga bisa memposisikan dirinya sendiri jika sudah berkumpul dengan bawahan ataupun atasannya jika di waktu meeting ataupun di waktu senggang.


Roy muncul keruang kerjanya lagi sudah mengganti kemejanya dengan menggunakan kemeja berwarna biru tua dan kemudian mengenakan jasnya kembali.


“Untunglah tadi aku sudah melepas jas, jika tidak aku tidak memiliki jas yang lainnya. stok jas ku kotor aku lupa menaruhnya di laundry.” Ucap Roy sambil terkekeh sendiri.


“Dasar pak tua, hal penting seperti itu saja kau bisa lupa.. aku heran kau bisa menjalankan RJP dengan sangat baik.” Sindir Galih sambil tersenyum.


“Haha tentu saja karena aku jenius.. apalagi.. sudah aku jalan ya.. titip adikku.. awas kalau dia sampai nangis lagi.” Ucap Roy dan pergi meninggalkan ruang kerjanya dengan membuka dan menutup pintu ruang kerjanya dengan perlahan-lahan agar tidak membangunkan Alice yang sedang tidur.


Galih menyandarkan punggungnya di sofa yang berada di sebrang gadis itu. Pria itu masih tidak bisa memalingkan wajahnya dari wajah gadis yang di cintainya itu. Pria itu kemudian menghembuskan nafasnya kasar dan kemudian merebahkan tubuhnya seperti tubuh Alice dan mulai memejamkan matanya saat lama kelamaan memandang wajah gadis itu.

__ADS_1


Suasana yang nyaman dan tenang membuatnya mengantuk, apalagi ada di hadapan wanita yang sedang dia sukai membuatnya benar-benar merasa releks dan tertidur pulas begitu saja.


Beberapa saat kemudian..


“Gal.. kok kamu ada di sini.. kak Roy mana?” Tanya Alice sambil menggoyangkan siku lengan pria itu yang di gunakannya untuk menutupi matanya sendiri.


“Emhh kau sudah bangun?” Galih balik bertanya.


“Iya, sudah.. mana kak Roy?” Tanya Alice lagi karena belum mendapatkan jawaban dari pria itu.


“Dia ada meeting penting.” Jawab Galih simple kemudian beranjak bangun dan duduk di sofa itu.


“Kok kamu ada di sini sih? Bukannya masih menyelesaikan sesuatu di Negara B?” Tanya Alice bingung.


“Ishh kenapa kau nyebelin sih jawabnya.” Ucap Alice juga ikutan kesal.


“Lagian ngapain sih ke sini jauh-jauh cuma buat nangis.. emang gak bisa ya nangis di pundak ku atau di dada ku.” Kesal Galih yang tiba-tiba membahas hal tidak penting itu.


“Ishh apaan sih.. suka-suka aku donk..” Ucap Alice tak kalah ketus.


“Lagian buat apa jauh-jauh kesini pundak dan dada ku kan ada.. kau kan bisa meminjamnya.. ngapain perlu pergi jauh-jauh.. orang sama aja kok.” Ucap Galih masih tak mau mengalah.


“Beda tau..” Jawab Alice kesal.


“Apa bedanya.. orang sama-sama dada dan pundak kok.. dada ku juga bidang, bahu ku juga lebar..lalu bedanya apa?” Ucap Galih tak mau kalah.

__ADS_1


“Dada dan bahu kak Roy jauh lebih lebar dan bidang.. mau apa kau?” Ucap Alice tak mau kalah.


“Baiklah aku akan lebih rajin lagi berlatih agar bahuku dan dada ku bisa lebih lebar dan bidang.” Ucap Galih tak mau kalah.


“Bagaimana lagi kau mau membentuk tubuh mu itu?  Kau mau membuat dada dan bahumu lebih lebar dan bidang, kau ingin kepalamu tenggelam di dalam bahu dan dada mu itu dan hanya terlihat ujung kepalamu saja.” Ucap Alice dan tertawa terbahak-bahak membayangkan kemungkinannya di dalam kepalanya itu.


“Astaga benarkah akan seburuk itu.. hemm tapi sepertinya tidak perlu saja.. karena aku toh tidak membutuhkan dada dan bahu yang lebih lebar untuk mu bersandar, toh hanya karena dengan membuatmu membayangkannya saja bisa membuat mu kembali tersenyum dan tertawa lebar.. itu sudah cukup sebagai kebahagiaan untukku.” Ucap Galih dan ikut tersenyum melihat kebahagiaan di wajah Alice.


“Astaga kau memang sorang pelawak Gal.. sudahlah gara-gara kau ajak aku tertawa aku jadi merasa lapar.” Ucap Alice dan kembali bersemangat kemudian bangkit dari sofa.


“Baiklah kita makan yuk, di mall terdekat daerah sini aja.. kau mau makan apa Al?” Tanya Galih dan beranjak berdiri dari sofa dan berjalan mengikuti Alice.


“Mau kemana kau?” Tanya Alice bingung saat melihat Galih mengikutinya.


“Mengikuti mu lah.. kita kan akan makan bersama.” Ucap Galih dan bingung dengan pertanyaan yang di ajukan Alice.


“Tapi tidakkah kau lihat aku akan masuk kamar mandi? Lalu ngapain kau mengikuti ku?” Ucap Alice kesal.


“Apa maksudmu? Astaga.. maaf Al..” Ucap Galih kemudian tersadar bahwa dia sudah mengikuti Alice masuk menuju kamar mandi di dalam ruangan kerja itu. Dan kemudian pria itu berjalan cepat keluar  dari ruangan itu karena malu dan grogi sampai menubruk beberapa kursi dan meja di dalam ruangan itu.


“Dasar mahluk aneh.. “ Ucap Alice dan tertawa terbahak-bahak dari dalam kamar mandi lagi.


Setelah selesai dengan tertawanya, Alice membersihkan wajahnya dan melihat pantulan wajahnya. Gadis itu melihat matanya membengkak dan kemudian gadis itu sedikit mengkompresnya dengan air hangat itu dengan menggunkan handuk kecil yang ada di dalam kamar mandi.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2