JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Keberangkatan


__ADS_3

"Kita pergi sekarang Kak Jun, kalau tidak kita akan ketinggalan pesawat." Perintah Alice dan menarik Juna untuk meninggalkan ruang perawatan Anton.


"Alice.. Tunggu, kau belum menjawabnya." Ujar Anton yang tampak khawatir.


"Tidak ada yang perlu aku jelaskan, ini rahasia misi.. Kami permisi." Ucap Alice datar dan menutup pintu kamar Anton rapat.


Anton yang ingin turun dari ranjang dan mencoba menghalangi Alice pergi atau setidaknya mendapatkan informasi gadis itu akan pergi misi kemana, tidak bisa berbuat apapun karena gadis itu sudah pergi keluar dari ruangannya. Sedangkan Anton jangankan untuk mencegahnya pergi, bahkan kini anggota gerak tubuhnya saat ini saja masih terbatas.


"Argh.. Sial!" Umpat Anton kesal.


Anton dengan memaksakan menggeser bokongnya hingga kepinggir kasur dengan bantuan tangannya. Kemudian pria itu mengangkat dan menggeser kakinya dengan tangannya untuk menggantung di tepi kasur hingga melayang di atas lantai.


Pria itu perlahan-lahan mencoba menggerak-gerakkan tungkai kakinya. Sepertinya akibat koma dan tidak bergerak selama satu minggu ini membuat ototnya lemah dan kaku.


Anton menggeser bokongnya dan kakinya menapak kelantai. Namun saat itu juga, seketika Anton langsung jatuh tersungkur karena kakinya yang tidak bisa menopang beban tubuhnya.


Brugh!


"Argh.. Sial!" Rutuk Anton kesal.


Bersamaan dengan Anton yang terjatuh, Paul masuk ke dalam ruang perawatan pria itu.


"Tuan.. Anda tidak apa-apa?" Paul dengan segera berlari mendekati tubuh Anton dan membantu Anton berdiri dengan merangkul bahu pria itu kemudian mendudukannya di tepi ranjang.


"Aku tidak apa-apa. Paul cari informasi Alice sekarang! Gadis itu akan pergi kemana, untuk misi kali ini!" Perintah Anton tegas dan terburu-buru. Enatah mengapa pikiran dan hatinya tidak tenang.


"Baik tuan." Ucap Paul, namun pria itu hanya diam berdiri mematung didepan Anton.


"Tuan tubuh anda masih lemah, anda lebih baik fokus pada pemulihan tubuh Anda. Siang ini saya sudah jadwalkan untuk melakukan fisioterapi agar anda cepat pulih. Mengenai masalah nona Alice, anda tidak perlu khawatir, saya akan mencari informasinya dengan segera. Saat ini anda lebih baik fokus untuk pemulihan." Ucap Paul akhirnya mengungkapkan isi pikirannya.


"Ya aku tahu." Ucap Anton singkat dan mulai sedikit tenang.


****


"Alice ada apa? Apa kalian bertengkar?" Tanya Juna, saat mobil mereka kini sudah berjalan menuju bandara.


"Tidak ada Kak.." Jawab Alice singkat.

__ADS_1


Juna tidak menanyakan lagi mengenai masalah pagi tadi, Juna tahu bagaimana sifat Alice. Jika gadis itu tidak ingin menceritakannya, gadis itu pasti akan diam seribu bahasa meski sudah di tanya ratusan kali. Lebih baik dia menemani dan menunggu agar Alice sendiri yang menceritakannya, jika gadis itu menginginkannya.


Setengah jam kemudian mereka tiba di depan pintu masuk bandara internasional. Disana sudah terlihat ada Galih dan juga Roy sedang menunggu mereka bersama empat koper kecil di depan mereka.


Alice berjalan mendekati Roy dan Galih, "Maaf kami terlambat."


"Tidak apa.. Kau sudah sarapan?" Tanya Roy perhatian.


"Belum Kak.." Jawab Alice cepat. Gadis itu hendak mendorong koper miliknya. Namun dengan sigap Galih mengambil koper itu.


"Biar aku saja yang bawakan." Ucap Galih santai sambil mendorong koper milik Alice. Galih mendorong dua koper di kedua tangannya, satu milik Alice dan satu miliknya sendiri. Juna mengambil koper miliknya dan mendorongnya, begitu juga dengan Roy.


"Ya sudah kita makan di dalam saja.. Kau mau makan apa?" Tanya Roy menghadap kearah Alice.


"Sup.." Jawab Alice singkat.


"Oke.. Kita cari.." Ujar Roy dan merangkul tangan kiri gadis kecil di sampingnya. Sedangkan Juna yang tidak mau kalah meletakkan sikunya di bahu kiri Roy.


"Hei kalian meninggalkan ku!" Ucap Galih yang berjalan cepat menyeimbangi ketiganya, kemudian menyatukan kedua handle koper di tangan kanannya dan tangan yang satunya merangkul tangan kanan Alice yang kosong.


Sudah sangat lama mereka tidak berjalan bersama seperti ini. Meskipun mereka selalu dalam misi yang sama, biasanya mereka akan terbang di waktu-waktu yang berbeda atau malah ada yang menetap di kantor pusat dan mengurus segalanya dari sana seperti Roy.


Setelah menyelesaikan sarapan dan kemudian masuk ke dalam badan pesawat dan melakukan penerbangan udara selama dua jam. Dilanjutkan dengan perjalanan darat selama satu jam, rombongan Alice tiba di sebuah Hotel Mitro di pusat kota X.


Mereka akan menempati Penthouse milik Roy yang berada tepat di lantai atas gedung hotel ini.


Ruangan besar dan langit-langit yang tinggi dengan berbagai hiasan mewah bernuansa gold, kaca-kaca yang yang lebar dan tinggi membuat pemandangan langit dan gedung-gedung diluar sana terlihat sangat menakjubkan dari kejauhan.


Alice berjalan mendekati kearah kaca. Gadis itu mematung menatap keindahan senja yang mulai berganti malam di negara X itu.


Setetes air mata jatuh membasahi pipinya. Ini adalah kota kelahirannya, tempatnya tumbuh dan kota cinta bagi ayah dan ibunya. Namun di kota ini juga mereka meninggalkan Alice sendirian.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Galih mendekati Alice yang memandang jauh keluar pemandangan di bawah sana.


"Hemm.." Hanya gumaman yang terdengar dari mulut gadis cantik itu.


Galih mengusap punggung Alice lembut untuk menenangkan gadis itu. Setelah beberapa saat hanya diam dan termenung menatap langit dan sudut kota dari luar kaca itu, Alice memutuskan akan pergi ke super market terdekat.

__ADS_1


"Aku akan menemani mu." Ucap Galih santai dan mengikuti kemanapun gadis itu pergi.


"Kau tidak merapihkan koper mu?" Tanya Alice heran.


"Nanti saja. Aku perlu jalan-jalan untuk cuci mata." Jawab Galih singkat.


"Baiklah terserah kau saja." Ucap Alice tidak perduli dan berjalan bersisian menuruni lift hotel itu.


Sebelum memasuki area hotel tadi, Alice sempat melihat ada sebuah Mall yang tidak jauh dari hotel yang mereka tempat. Mereka keluar dari bangunan hotel dan melihat berkeliling kemudian menemukan Mall yang Alice cari.


Dengan semangat Alice masuk ke dalam Mall dan menuju lantai super market yang ada di dalam Mall itu.


"Aku kira kau ingin belanja baju dan hal lainnya, tapi malah ke toko swalayan." Ucap Galih heran.


"Aku tidak kekurangan baju, aku malah membutuhkan makanan." Ucap Alice cepat.


"Ini masukkan ini... Bukankah ini adalah snack kesukaan mu?" Galih menyodorkan sebuah snack kepada Alice.


"Tidak.. Itu terlalu banyak mengandung MSG, tidak baik untuk tubuh." Ucap Alice santai dan berjalan menyusuri koridor lainnya.


"Ha? Tumben kau memperhatikan masalah itu.. Biasanya sekali makan saja bisa satu atau dua jenis ciki." Ucap Galih heran melihat tingkah Alice.


"Sekarang tidak boleh dan tidak akan dimakan lagi." Ucap Alice cepat dan masih menyusuri koridor itu.


"Nah.. ini baru boleh." Ucapnya saat menemukan makanan yang di carinya berupa biskuit dan memasukkan beberapa biskuit lainnya yang menurutnya lezat.


"Alice aku akan membeli sesuatu.. Kau tidak apa-apa kan sendiri? Aku akan ke koridor lainnya." Ujar Galih dan Alice mengangguk.


Setelah kepergian Galih, Alice kemudian berjalan menyusuri koridor susu dan mengambil sebuah susu untuk ibu hamil.


Mereka bertemu di depan kasir. Juna sudah menunggunya dengan sabar, "Sudah?" Tanya Galih.


"Hemm.." Gumam Alice, "Ah ya.. Aku akan ke toilet dahulu." Ucap Alice dan beranjak pergi dari sana.


Galih menunggui troli dan beberapa saat kemudian gilirannya maju di depan kasir.


Galih menaruh barang belanjaan Alice ke atas meja kasir tanpa memperhatikannya dan kemudian membayar barang belanjaan itu.

__ADS_1


Saat Alice tiba, Galih sudah selesai dengan kantung tas belanjaan di tangannya.


Bersambung....


__ADS_2