JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Perencanaan yang matang


__ADS_3

"Paul bagaimanapun caranya kita akan menghadiri acara pesta itu?" Ucap Anton.


"Baik Tuan.. tapi bukankah kita harus mencari tahu mengenai Nona Alice?" Tanya Paul sedikit bingung. Pasalnya sejak awal menginjakkan kakinya di negara X, mereka hanya fokus mencari kebenaran mengenai Alice, namun kenapa sekarang Tuannya malah ingin mengikuti pesta.


"Aku sudah tahu siapa Alice sebenarnya. Dia adalah putri dari Frans Baskoro, orang terpandang di negara ini. Aku curiga kecelakaan itu di rencakan oleh seseorang. Dan pesta yang akan di datangi oleh Alice kebetulan adalah dari Fiktor Baskoro, aku khawatir dia memang merencanakan jebakan untuk Alice. Oleh karena itu kita harus masuk ke pesta itu bagaimanapun caranya." Jelas Anton.


"Baik Tuan.. Coba saya akan mengecek dahulu.." Ucap Paul dan kembali menekuni laptop yang berada di pangkuannya dan jari jemarinya mulai berselancar di atas keypad.


"Tuan.. kebetulan Widi menjadi salah satu tamu di sana. Karena itu adalah hotel miliknya bersama temannya." Ucap Paul menjelaskan.


"Baiklah aku akan menghubungi Widi." Ucap Anton dan beranjak mengambil kunci mobil di atas meja ruang tamu dan beranjak menuju pintu. Namun sebelum itu Anton berhenti dan membalik badannya.


"Siapkan semuanya.. entah mengapa aku yakin akan terjadi hal yang besar nanti malam.. Kalian juga bersiap menyelusup di antara mereka." Ucap Anton lagi.


"Baik Tuan." Ucap Paul dan kemudian kembali fokus ke depan laptopnya dan menjelajahi kode kode di layar laptopnya itu.


****


Anton mengambil ponselnya yang berada di atas dashbord mobilnya dan menghubungi sebuah nomor di ponselnya.


📞"Haloo.. kau di mana?" Tanya Anton langsung tanpa basa-basi saat panggilannya di terima oleh orang di sebrang sana.


📞"Ya di mana lagi menurut mu.. aku bukan pengangguran.. tentu saja aku ada di rumah sakit di ruangan ku." Cerocos Widi seperti rel kereta api.


Tut tut tut tut


"Wahh.. apa-apaan itu.. dia yang menghubungi dan langsung memutuskan telepon begitu saja.. dasar orang aneh.. mengganggu saja." Gerutu Widi panjang lebar dan kembali menekuni berkas laporan pasien yang berada di atas mejanya.


Kemudian tidak berapa lama.


Tok tok tok.. suara pintu ruang kejanya di ketuk dari arah luar.

__ADS_1


"Masuk.." Ucapnya santai dan masih menekuni berkas di tangannya tanpa perlu mengangkat kepalanya.


"Ahh kau benaran sibuk rupanya." Ucap Anton dan melenggang masuk ke dalam ruangan Widi.


"Woah!! kau siapa? jangan-jangan kau imposter ya? tiba-tiba muncul di sini? Bukankah baru saja kau menelepon?." Ucap Widi melemparkan berkasnya karena kaget dan berucap asal di depan Anton.


Anton menggeplak kepala temannya dan kemudian duduk di tepi meja pria itu, "Kau bodoh!! masih seperti bocah saja main game tapi tidak bisa membedakan realita dan game!" Kesal Anton.


"Auhh.. sakit.. aku hanya bercanda.. tapi bagaimana kau bisa muncul di sini? baru saja kau menelepon bukan." Ucap Widi lagi sambil mengusap kepalanya pelan.


"Aku menelepon mu di parkiran mobil di bawah." Ucap Anton singkat.


"Ahh.. begitu.. ada apa? kau jadi sering mengunjungi ku akhir-akhir ini. Apa kau sangat merindukan aku?" Ucap Widi dengan wajah senyum ceria dan meletakkan kedua telapak tangannya menyanggah wajahnya.


"Menjijikan.." Ucap Anton merinding dan segera menjauh dari Widi.


"Aku hanya bercanda.. ada apa kau kemari.. tidak seperti biasanya.." Ucap Widi mulai serius.


"Apa?" Tanya Widi mulai penasaran.


"Ajak aku ke pesta nanti malam." Ucap Anton serius.


"What?? Kau mau jadi pendamping ku? tidak mau.. lebih baik aku mencari wanita cantik dari pada bersama mu.. aku tidak mau jeruk makan jeruk." Ucap Widi kembali asal sambil melekatkan kedua tangannya di depan dadanya.


"Dasar dungu!!!" Kesal Anton dan kembali menggeplak kepala sahabatnya itu, "Ajak aku ke pesta itu, ada sesuatu yang perlu aku urus." Ucap Anton serius.


"Kau serius tidak bercanda kan? biasanya kau paling malas beurusan dengan acara seperti ini." Ucap Widi dan mulai serius lagi, saat meliha respon Anton yang tampaknga sangat serius.


"Ya aku serius.. kau boleh bawa pendamping wanita mu.. tapi aku akan tetap ikut." Ucap Anton lagi.


"Tidak tidak.. aku akan pergi bersama mu saja. Dia sedang jadwal jaga, jika aku meminta teman wanita lain yang ada aku akan mendapatkan lemparan scapel (Pisau bedah) lagi.. aku tidak mau.. aku cari aman bersama mu saja." Ucap Widi bergidik ngeri membayangkan yang mungkin saja akan terjadi jika dia benar-benar mencoba bermain-main lagi.

__ADS_1


"Ha? apa maksud mu dengan scapel?" Ucap Anton yang bingung dengan jawaban pria itu.


"Hahaha Tidak ada.. Kita bahas acara pesta itu pesta topeng dan pesta kostum, kau sudah mempersiapkannya?" Tanya Widi lagi.


"Sudah.. semuanya sudah siap." Ucap Anton santai.


"Aihh bebasnya ya.. Baiklah ada yang kau butuhkan lagi? jika tidak aku harus menyelesaikan beberapa status pasien yang harus segera aku selesaikan dan segera visit ke ruangan-ruangan pasien ku." Ucap Widi sedikit mengusir Anton.


"Tidak ada lagi.. baiklah aku balik dahulu.. nanti malam kita bertemu langsung di depan Queen Hotel saja.. ada beberapa yang harus aku kerjakan juga." Ucap Anton dan di angguki oleh Widi.


Anton segera pergi meninggalkan ruangan Widi pria itu kembali ke hotel dan merencanakan sesuatu untuk acara nanti malam. Dia tidak mau sampai terjadi sesuatu yang buruk terjadi kepada kekasihnya.


***


Sedangkan di sisi lain di Bar Pure..


"Tuan.. Anda di panggil Bos Besar ke ruangan atas 201." Ucap salah satu pelayan mendekati seorang pria bertubuh tegap meski tidak muda lagi namun sisa-sisa ke gagahannya saat masih muda masih tampak di wajah pria itu.


"Ohh.." Ucap pria itu dan bergegas naik ke atas ruang 201 dan mengetuk pelan pintu itu sebelum masuk.


"Haloo kawan lama ku Bahar angkasa.. bagaimana kabar mu.. untuk bantuan mu beberapa waktu terakhir membersihkan sampah-sampah yang membangkang aku sungguh mengucapkan terima kasih kepada mu." Ucap pria tua itu lagi.


"Jangan banyak tanya lagi Fiktor.. atau aku harus memanggil mu Bos Besar." Ucap Bahar dengan nada dinginnya.


"Aihh sepertinya kau masih kesal karena aku menyuruh mu membereskan sampah-sampah tidak berguna itu." Ucap Fiktor mencoba mencairkan susana.


"Sudahlah.. apa mau mu jangan berbasa basi." Ucap Bahar dan duduk di sofa itu.


"Aku meminta bantuan mu lagi untuk menyelesaikan sampah lain lagi yang memang pantas untuk di buang. Nanti malam kau datang ke sini.. aku akan memberi tahu siapa yang perlu kau bereskan." Ucap Fiktor dan Bahar hanya diam saja memperhatikan undangan di atas meja kaca itu.


"Baiklah.. aku tidak ingin mengganggu mu lagi.. semua minuman di ruangan ini jadi milik mu. Aku sudah membayar di muka untuk 12jam kedepan sewa ruangan ini bahkan jika kau mau, nanti ada hadiah untuk mu." Ucap Fiktor dan meninggalkan Bahar sendirian di ruangan itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2