JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Harapan


__ADS_3

Setelah menumpahkan air matanya Alice dan Lidia berniat menjenguk kembali ke ruang perawatan Anton. Pria tampan yang kini tampak lemah dan pucat itu masih tampak tidur dengan tenang dengan beberapa selang dan peralatan di tubuhnya.


Belum ada tanda-tanda bahwa dia akan sadar. Tanpa terasa air mata menetes di pipi Lidia dan wanita itu segera menghapusnya. Dia harus kuat dan menguatkan kedua anaknya itu. Tidak ada waktu baginya untuk lemah.


Lida terus merangkul tubuh Alice dan mengusap-usap bahu gadis itu yang memandangi anak bungsunya di balik jendela besar ini.


"Bu.. Kapan Anton akan bangun.." Ucap gadis itu dengan suara pelan.


"Segera.. Dia pasti akan segera bangun dan kembali ke dalam pelukan kita." Ucap Lidia yakin dan mengeratkan pelukannya kepada Alice.


"Aku akan ke dalam melihatnya." Ucap Alice dan mendapat anggukkan dari Lida.


Alice berjalan ke ruangan untuk mengganti bajunya dan kemudian masuk ke dalam ruang perawatan Anton. Gadis itu mendekati tubuh Anton dan menggenggam lembut tangan pria itu.


"Aku kembali.. Ibu mu di sini.. Dia sudah menjelaskan semuanya bahkan dia juga memberi tahu ku bahwa kau juga sama menderitanya seperti ku. Cepatlah bangun dan berikan aku penjelasan." Ucap Alice namun masih tidak ada respon dari pria itu.


"Kau tahu.. Maya sudah sadar dan dia di temani oleh Juna.. Sepertinya Juna tertarik kepadanya dia tampak kacau saat tahu bahwa Maya terluka." Ucap Alice lagi namun masih tidak ada respon apapun dari pria di depannya ini.


"Emhh penjahat yang mencoba menculik ku sudah sadar dan dia sedang di introgasi oleh tim ku.. Dan anak buah mu tertangkap oleh RJP, namun kau tidak perlu khawatir mereka akan segera membebaskannya karena aku sudah memberi tahu Galih bahwa mereka adalah orang ku. Tapi salah satu di antara mereka meninggal saat melindungi ku." Jelas Alice lagi memberitahukan semuanya apa yang telah terjadi hari ini. Gadis itu sedikit sendu saat mengatakan berita terakhir itu.


Alice terus saja berbicara semua hal kejadian hari itu sambil menggenggam erat tangan Anton.


"Ibu berharap kamu segera sadar nak.. Sampai kapanpun ibu akan tetap menunggu mu sampai kau bangun dari tidur mu." Ucap Lidia yang kini merasa dejavu melihat pemandangan di depannya itu.


Dahulu dia yang berada di posisi Alice menyemangati dan berbagi cerita kepada anak kecil itu dan kini putra bungsunya yang berada di atas ranjang itu.


***


"Bagaimana dengan tersangka kejadian semalam?" Tanya Maya yang duduk bersandar di ranjangnya.


"Sudah di tangani.. Pria itu mengaku di suruh oleh seorang wanita bernama Belinda Stary yang berasal dari kota X. Tapi pria itu mengaku tidak tahu permasalahan diantara kedua wanita itu." Jelas Juna.


"Hmm? Bukankah itu aneh? Alice tidak pernah mencari permasalahan dengan orang lain." Ucap Maya bingung.

__ADS_1


"Tidak perlu cemas, semua tim masih sedang mencari titik temu masalah ini. Untuk sekarang tugas mu hanya satu, istirahat dan segera sembuhkan luka-luka mu itu." Ucap Juna penuh perhatian.


"Bagaimana dengan keadaan tunangan Alice?" Tanya Maya lagi yang mendengar pria itu juga terluka untuk melindungi Alice.


"Belum ada perkembangan.. Hingga malam ini pun dia masih belum sadarkan diri." Ucap Juna lagi.


"Kasihan Alice gadis itu pasti sangat menderita.." Ucap Maya prihatin.


"Kita doakan saja agar pria itu segera sadar.." Ucap Juna dan menenagkan Maya.


"Hmm.."


"Sekarang sudah malam.. Istirahatlah.. Aku akan tidur di sini menemani mu." Ucap Juna.


"Ha? Apa? Tidak perlu.. Kau sudah seharian menemani ku.. Aku bisa sendiri, kau pulang saja." Usir Maya karena wanita iti tidak enak sudah merepotkan Juna seharian ini.


"Aku tidak perlu persetujuan mu untuk tinggal di sini.. Aku hanya memberitahukan mu saja.. Cepatlah tidur.. Aku juga akan tidur.." Ucap Juna dan membenarkan posisi kasur Maya untuk membuat gadis itu dalam posisi tidur dengan menggunakan sebuah remot.


"Tapi bukankah kau perlu pulang untuk mengabari keluarga mu." Ucap Maya lagi mencoba agar pria di depannya ini mau meninggalkannya sendirian di ruangan itu.


"Ahh.. Yasudahlah terserah kau saja." Ucap Maya akhirnya dan mulai memejamkan matanya dan berusaha tidak terganggu dengan kehadiran pria itu di depannya.


"Haih.. Tapi setidaknya bisakah kau memalingkan wajah mu? Mata mu seperti mengeluarkan laser meskipun aku sudah menutup mata ku." Keluh Maya akhirnya tidak tahan mengetahui seseorang memandanginya dengan intens.


"Ohh okey.." Ucap Juna santai dan berpaling melihat ke arah televisi yang volume suaranya terdengar kecil.


'Akhirnya.. Aku jadi bisa istirahat.. Seharian terus-terusan di pantau dan di perhatikan sedikit risih juga.' Batin Maya.


Maya mulai memejamkan matanya dan tidak lama kemudian wanita itu terlelap dengan cepat karena pengaruh obat dan juga tubuhnya yang memerlukan banyak istirahat.


Juna yang mendengar suara nafas Maya yang mulai teratur dan pelan, dia membalikkan tubuhnya lagi dan melihat wajah cantik di depannya itu meski masih sedikit terlihat lelah, namun rona kemerahan sudah terbit di wajah wanita itu.


"Jangan pernah terluka lagi.. Kau tahu bagaimana perasaan ku saat mengetahui kau terluka parah? Sudah dua kali dalam sebulan ini aku melihat mu terluka.. Tidak tahu kah kau jantung ku ini serasa akan melompat dari tempatnya setiap kali mendengar berita tentang dirimu." Bisik Juna sambil menatap wajah Maya yang sudah tidur nyenyak.

__ADS_1


"Kejamnya dirimu.. Bahkan pernyataan cinta ku tidak pernah sekalipun kau anggap serius.." Gumam pria itu lagi dan kemudian beranjak mendekati kepala ranjang Maya.


"Aku sungguh-sungguh sangat mencintai mu Maya.." Ucapnya tulus sambil mengecup lembut pelipis wanita di depannya itu.


"Istirahatlah.. Mimpikan aku." Juna merapihkan helaian rambut wanita itu yang sedikit menutupi wajah lelapnya. kemudian pria itu memastikan cairan infusan milik Maya masih terisi penuh dan beranjak menuju sofa.


Pria itu meletakkan tangannya sebagai bantalan dan mulai memejamkan matanya menyambut mimpinya.


***


Alice bangun dari tidurnya dan segera membersihkan dirinya di kamar mandi. Gadis itu melihat Galiah masih tertidur di atas sofa dengan meringkuk kedinginan.


Alice membawa selimut miliknya dan menyelimuti pria itu perlahan. Setelahnya gadis itu keluar menuju ruang perawatan di mana Anton berada.


"Selamat pagi sus.." Ucap Alie menyapa seorang perawat saat dia akan masuk ke dalam kamar perawatan Anton.


"Pagi nona Alice.." Jawab perawat itu sopan. Setelah itu Alice masuk ke dalam kamar Anton dan mendekati ranjang pria itu.


"Wah nona Alice sudah rapih saja padahal masih pagi.." Ucap perawat itu sopan.


"Iya sus.. Suster mau kemana?" Tanya Alice yang mulai penasaran saat perawat itu membawa sesuatu dengan baskom di tangannya.


"Saya mau membantu memandikan beberapa pasien.. Dokter Anton mau saya bantu atau nona Alice sendiri yang mandikannya?" Tawar perawat itu.


"Emhh biar saya saja sendiri yang bantu membersihkan Anton sus.. Tapi bolehkah di ajari terlebih dahulu?" Tanya Alice meminta tolong kepada perawat itu.


"Tentu mari nona saya akan mengajarinya.. Ini air hangatnya.. Nona bisa menggunakan kain washlap ini untuk membersihkan tubuh dokter Anton." Ucap perawat itu dan mulai menjelaskan cara membersihkannya dengan bersih dan efisien.


"Baik sus.. Saya sudah mengerti.. Terima kasih sus.." Ucap Alice.


Perawat itu mengangguk dan kemudian pamit dari sana untuk mengerjakan tugas lainnya. Setelah kepergian perawat itu, Alice memulai untuk membersihkan tubuh pria yang di cintainya ini di mulai dari bagian mata dan wajah Anton, tidak lupa gadis itu juga selalu mengajak Anton berbicara mengenai hal-hal yang dia alami.


Meski suara Alice terdengar riang dan senang bercerita di depan pria itu, namun tidak jarang air matanya lolos menetes dengan tiba-tiba saat memandang kekasihnya yang lemah. Gadis itu dengan cepat menghapus air matanya dan kembali bercerita banyak hal meski tidak pernah ada respon apapun dari prianya itu. Hanya bunyi suara mesin yang menandakan pria itu masih di sana, masih menemaninya.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2