JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Misi penyelamatan


__ADS_3

“Baiklah, kalian berdua saja yang ikut membantu ku melepaskan gadis itu. kalian berdua adalah sniper andalan ku. Bantu aku melindungi gadis itu” Ucap Anton Akhirnya dan menyuruh kedua orang kepercayaannya itu membawa peralatan bertempurnya.


Axel membawa mobil dan Paul duduk di sebelahnya sedangkan Anton duduk di kursi belakang. Saat mobil mereka melewati sebuah toko cosplay, Anton menyuruh Axel memberhentikan mobilnya. Pria itu masuk ke dalam toko, dan beberapa waktu kemudian keluar dengan membawa sebuah plastic belanjaan.


“Kalian menggunakan ini.” Ucap Anton menyerahkan kepada keduanya sebuah topeng badut berwarna putih dengan hidung merah berbentuk bulat, dengan senyum wajah yang lebar dan dua gigi putih di atasnya.


“Emhh ini untuk apa bos?” Tanya Axel bingung.


“Itu untuk menyamarkan wajah kalian. Jika kalian terlihat dari suatu tempat, mereka bisa memastikan kalian berdua adalah anggota dari Black Phanter. Namun dengan menggunakan topeng itu, mereka tidak dapat mengetahui identitas kalian. Dan Alice akan aman tidak menjadi incaran para musuh ku. Jika mereka mengetahui aku sangat melindungi Alice, ada kemungkinan Mereka akan mengincar Alice untuk mendapatkan ku.” Ucap Anton.


“Baik Tuan..” Ucap Paul dan Axel bersamaan dan langsung mengenakan topeng itu.


“Turunkan Aku disini. Kalian cari tempat yang strategis untuk memantau keadaan di dalam.” Perintah Anton, kemudian mobil mereka pergi dari sana.


Anton berlari menuju tempat di mana lokasi Alice berada, sedangkan Paul dan Axel memarkirkan mobil mereka di tempat yang tersembunyi kemudian bergegas memilih tempat yang lebih tinggi dari pondok itu.


Paul memilih menaiki pohon tinggi yang berada di sana. Sedangkan Axel memilih menaiki tebing bukit yang tak jauh dari pondok itu dan dapat melihat jalan raya dari atas sana.


“Aku menemukan target seorang pria sedang berjaga di dalam pondok.” Ucap Paul kepada earpiece yang dia gunakan.


“Aku menemukan seorang pria yang sedang berjaga dan seorang wanita di dalam kamar pondok itu, nona Alice dan seorang gadis lain sedang di sekap di dalam kamar itu.” Ucap Axel.


“Pantau mereka. Jangan sampai siapapun menyakiti Alice.” Perintah Anton.


“Baik Tuan.” Jawab mereka dari earpiece yang mereka gunakan.


Paul menembaki pria yang berada di dalam pondok itu saat akan menghalangi jalan Anton saat pria itu akan mencondongkan pistolnya kearah Anton. Sedangkan Axel menembak lengan seorang wanita yang mencoba menyakiti wajah Alice yang berada di dalam kamar pondok itu.

__ADS_1


“Maaf Tuan saya lengah.” Ucap Axel saat melihat Anton tertembak oleh wanita itu.


“Segera pergi dari sana, mereka akan segera tiba.” Ucap Paul saat mendapatkan informasi dari mata-matanya mereka akan sampai ke posisi Alice berada.


Paul dan Axel segera turun dari tempat persembunyian mereka dan kemudian membereskan peralatannya dan kembali memasuki mobil mereka pergi dari tempat itu, sebelum anggota RJP mengetahui keberadaannya.


Saat mereka sudah menjalankan mobil mereka, mereka berpapasan dengan sebuah motor yang  melewati mereka dengan kecepatan tinggi.


“Siapa dia? Dari RJP? Tapi mata-mata kita tidak memberitahukan bahwa ada salah satu dari mereka yang menggunkan motor. Untunglah kita sudah pergi dari sana, aku harap mereka tidak mencurigai kita.” Ucap Axel dan Paul hanya mengganggukkan kepalanya saja.


 “Lalu apa yang harus kita lakukan? Maaf kan aku, aku tidak waspada dan membuat Tuan terluka.” Ucap Axel.


“Kita tunggu pemberitahuan dari Tuan saja. Kita jangan terlalu dekat memantau tuan, aku khawatir jika RJP akan memantau tuan sementara waktu.” Ucap Paul.


“Oke.” Ucap Axel kepada Paul.


“Emhh sebenarnya aku ingin mengajak mu makan siang bersama, jadi aku pergi ke sekolah mu. Kebetulan aku melihat mereka membekap kalian dan mencuik kalian, sehingga aku mengikuti kalian dari jauh. Tapi aku sempat kehilangan jejak kalian, untunglah aku menemukan jejakmu lagi dan masih sempat menyelamatkan  mu.” Ucap Anton dan menggenggam erat tanggan kekasihnya itu.


“Ahh begitu kah.. Maafkan aku, aku yang membuat mu menjadi seperti ini. Andai aku lebih waspada aku pasti tidak akan membiarkan mu menerima tembakkan itu.” Ucap Alice menyalahkan dirinya sendiri.


“Dasar gadis bodoh.. mana mungkin aku membiarkan mu mendapatkan timah panas itu. Aku tidak akan menyesali perbuatannku itu, aku akan selalu melindungimu. Kau ingat.” Ucap Anton dan sedikit mengetuk kening Alice dengan punggung buku jari telunjukknya.


“Anton apakah perlu kita memikirkan kembali hubungan kita? Emhh maksudku dengan kau masih selalu ada di samping ku, kamu pasti akan mengalami hal seperti ini, aku tidak ingin hal ini terjadi lagi. Maksudku aku memang tidak berharap hal ini akan terjadi lagi, namun dengan pekerjaan ku yang memang beresiko, sedikit banyak itu akan mempengaruhi mu seperti saat ini.” Ucap Alice sedikit menunduk memainkan jari jemarinya dan tidak berani menatap wajah Anton.


Anton mengangkat wajah Alice dengan tanggannya agar bersitatap dengan matanya.


“Jangan pernah berkata seperti itu lagi. Aku tidak akan pernah meninggalkan mu. Aku akan selalu menjadi pelindungmu. Kita tidak perlu membahas hal ini lagi, kita sudah pernah membahas ini sebelumnya. Kau berjanji jika itu terjadi sebaliknya, kau akan menjadi lebih kuat. Begitu juga denganku, aku akan berusaha menjadi lebih kuat untuk bisa berada di samping mu.” Ucap Anton bersungguh-sungguh.

__ADS_1


“Baiklah.. maafkan aku.. aku tidak akan berbicara seperti itu lagi.” Ucap Alice dan memberikan senyuman indahnya kepada kekasihnya itu.


“Itu yang aku suka..” Ucap Anton saat melihat senyum indah di wajah Alice. Anton mencoba mendekatkan dirinya ke wajah kekasihnya itu. kemudian saat bibir mereka sedikit lagi akan bersentuhan.


Brakkk


“Nakkk kau tidak apa-apa?” Tanya Ibunya muncul bersama Ayahnya dari balik pintu kamar itu. Alice yang melihat itu langsung menegakkan duduknya dan langsung berdiri di samping ranjang Anton.


“Ha? Ibu? Ayah mengapa kalian ada di sini?” Tanya Anton bingung dengan kehadiran keduanya yang tiba-tiba.


“Emhh Anton maafkan aku.. Sebelumnya..tadi aku menggangkat ponselmu. Ibumu menelpon beberapa kali dan aku mengangkatnya dan memberitahukan keadaan mu kepada ibu dan ayah. Mereka berkata mereka akan kesini.” Jelas Alice.


“Ahh begitu.. baiklah tidak masalah sayang. Hanya saja nanti kita jadi tidak bisa pacaran karena pasti di ganggu oleh mereka.” Kesal Anton dengan wajah cemberut.


“Kenapa kau bicara seperti itu? Mereka datang karena khawatir kepada mu.” Ucap Alice.


“Dasar anak kurang ajar.. Ibu mu sudah datang dan kau malah tidak bersukur dengan kedatangan ku. Benar-benar anak tak tahu terima kasih.” Ucap Lidia kesal.


“Ahh bukan begitu bu.. ahh buuu.. sakit.. jangan jewer kuping ku.. aku masih seorang pasien buu..” Ucap Anton dan meringis kupingnya di jewer oleh ibunya. Lidia langsung melepaskan jewerannya dan beranjak menuju sofa di mana suaminya sedang duduk.


“Hemm untung saja kau masih pasien, jika tidak ibu sudah melepaskan telingamu itu.” Kesal Lidia dan duduk di samping suaminya. Suaminya hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya melihat tingkah anak dan istrinya itu.


“Bagaimana keadaan mu Nak?” Tanya Bram ayah Anton.


“Aku baik Yah.. tidak perlu khawatir.” Jawab Anton.


“Kau tahu Alice sangat mengkhawatirkanmu. Gadis itu sampai nangis di telpon. Sebenarnya apa yang terjadi?” Tanya Bram kepada Anton.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2