JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Bau Harum


__ADS_3

Di negera A di kota A.


Juna masih berkutat dengan beberapa berkas di tangannya. Ini sudah pagi tapi dia masih belum memejamkan matanya sejak semalam.


Malah pria itu sedikit sibuk modar mandir antara negera X dengan kota A. Meski perjalanan hanya membutuhkan 3jam perjalanan tapi itu sedikit menyita waktu.


Tiba-tiba pintu di ketuk dari arah luar ruang kerjanya.


Tok tok.


"Masuk." Menjawab ketukan itu namun wajahnya masih berkutat dengan berkas di tangannya.


"Kau sudah bangun?" Tanya Galih yang tiba-tiba masuk dan mendekati meja kerja Juna.


"Aku belum sempat memejamkan mata malah." Ucap Juna dan mendongakkan kepalanya melihat Juna yang sudah rapih dan dengan wajah fresh di depannya.


"Ada masalah?" Tanya Galih heran melihat Juna masih suntuk dengan berkas-berkas itu.


"Ya.. Kemarin Belinda menyangkal semua tuduhan dan itu membuat kepalaku sedikit pusing, penyidik di kota X juga sedang mencoba menggali kembali semua barang bukti." Jawab Juna dengan sedikit memijat pangkal hidungnya.


"Ada yang bisa aku bantu?" Tanya Galih sambil mengambil berkas-berkas itu.


Juna memandang ke arah Galih heran,"Bukankah kau ingin mengambil cuti?".


Belum sempat Galih menjawab pertanyaan Juna, pintu ruangan Juna di ketuk dan seseorang masuk kedalam ruangan itu.


"Ohh hai kalian sedang berkumpul di sini?" Tanya pria itu yang tidak lain adalah Roy.


Roy masuk kedalam ruangan itu dan mendekati meja sofa dan duduk di sana.


"Aku hanya datang berkunjung." Ucap Galih dan ikut duduk disofa di sebrang Roy.


"Kalian mau minum apa?" Tanya Juna dan hendak mengambil intercom di mejanya.


"Kopi saja." Ucap Galih dan Roy kompak.


Juna mengambil intercomnya dan meminta tiga kopi expreso dan kue untuk di bawa ke ruangannya.


Juna duduk di sofa di samping Roy, setelah selesai dengan panggilannya itu.


"Kau tampak kusut." Ucap Roy saat melihat Juna kacau dengan rambutnya yang berantakan dan wajah mengantuknya.


"Aku tidak tidur semalaman mengecek berkas untuk mengajukan tuntutan lain pada Belinda." Ucap Juna kusut.


"Untuk itulah aku kemari.. Ini.." Ucap Roy dan menyodorkan flashdisk berwarna hitam di atas meja itu.


"Apa ini?" Tanya Juna bingung.


"Semua bukti yang di perlukan untuk menuntut Belinda agar wanita itu tidak bisa berkutik." Jawab Roy santai dan menyandarkan punggungnya di sandaran sofa.


"Kau serius?" Tanya Juna memastikannya.


"Tentu.. Untuk apa aku menggunakan penerbangan awal jika aku hanya mengada-ngada." Ucap Roy kesal.


"Bagaimana bisa kau mendapatkan ini?" Tanya Juna heran.


"Siang kemarin Alice datang membawa itu ke RJP cabang di pusat kota X setelah datang mengunjungi Fiktor." Ucap Roy santai dan menjelaskan semuanya.


"Jadi kita meninggalkan dia sendirian di negara itu?" Tanya Galih yang mengambil kesimpulan.


"Dia tidak sendirian, dia bersama tunangannya. Kau juga pasti sudah tahukan tunangan Alice pasti bukan orang biasa. Dia selalu ada di saat berbahaya bahkan dia selalu mengetahui dimana Alice berada." Selidik Roy.

__ADS_1


"Ya.. Aku curiga dia memang bukan warga sipil biasa. Mungkinkah dia dibtangan orang yang berbahaya?" Ucap Juna sedikit khawatir.


"Aku curiga dia ada sangkut pautnya dengan Mafia The Black Phanter.." Ujar Galih yang membuat Juna dan Roy menatapnya tidak percaya.


"Maksud mu?" Tanya Roy dan Juna bersamaan.


"Kalian ingat seseorang yang mengirimkan black mail saat Alice misi pertama di kapal pesiar dan di sekap beberapa hari di pulau tak berpenghuni. Maupun kejadian penculikan Alice terakhir kali di rumahnya dan kejadian penculikan di jembatan dan berakhir dengan penyekapan di gudang tekstil. Meskipun aku tidak bisa melacak orang itu namun itu semua memiliki kesamaan. Dia membantu kita dalam misi-misi dan melindungi Alice dalam setiap gerakan mereka. Dan bahkan di setiap kejadian itu tanpa sadar The Black Phanter selalu terlibat dengan kita untuk menangani para mafia-mafia jahat itu." Jelas Galih panjang lebar.


"Aku hanya curiga mungkin dia adalah salah seorang dari The Black Phanter dengan posisi yang cukup tinggi sehingga dia bisa menggerakkan anak buahnya untuk membantu dan melindungi misi-misi kita selama ini." Ucap Galih lagi.


"Benar juga. Awalnya aku menyangka mungkin hanya kebetulan saja, namun jika itu selalu terhubung bukankah itu telalu mencurigakan." Kata Juna yang baru saja menyadarinya.


"Tapi aku pikir kalian tidak perlu khawatir. Alice berada pada orang yang tepat. Tanpa sadar dia selalu membantu penyelidikan dan memberikan keamaan untuk Alice. Selain itu meski dia adalah anggota geng Mafia, mereka tidak benar-benar melakukan kejahatan yang bisa membahayakan dan menghancurkan negara ini. Mereka mafia yang terlalu baik menurutku." Ujar Roy menenangkan kedua sahatnya itu.


"Ya kau benar.." Ucap Galih dan Juna bersamaan.


"Yasudahlah Bagaimanapun sepertinya Alice sudah mengetahuinya namun dia tidak ingin membicarakannya dengan kita. Kita hanya bisa mendukung dan berada di sisinya saja." Ujar Roy lagi.


"Ya.. Lagi pula sekarang masalah kita adalah menangkap Belinda ular licik itu." Ucap Juna yang kembali kesal.


"Haha ya sudah aku serahkan hal itu kepada mu." Ucap Roy kepada Juna.


"Aku akan membantu mu." Ucap Galih kepada kedua sahabatnya itu.


"Kau tidak jadi mengambil cuti?" Tanya Roy dan Juna secara bersamaan.


"Tidak terlalu perlu.. Lebih baik kau hari ini istirahat saja, wajah mu tampak semakin tua saja. Dan kau baru saja sampai bukan, kau juga istirahatlah. Aku sudah istirahat semalaman dan aku tidak ada kerjaan hari ini. Biar semua yang disini aku yang pantau. Kalian pergilah istirahat." Ujar Galih dan mengambil pekerjaan Juna yang memang awalnya adalah pekerjaan miliknya dan membiarkan Roy untuk istirahat sejenak.


"Astaga bocah ini sudah besar ternyata." Ucap Juna asal dan membuat Roy tertawa.


"Astaga dua kakek tua ini.. Sudah kalian istirahatlah.. Aku akan memberikan kalian berita yang bagus.. Aku kerja dulu." Ujar Galih mengambil flasdisk yang ada di atas meja sofa dan berkas-berkas di atas meja kerja Juna dan membawanya pergi keluar dari ruangan kerja Juna.


"Sepertinya dia sudah baik dan memilih kembali berkutat dengan pekerjaan seperti biasa." Jawab Juna.


"Semalam saat aku sampai di kota ini aku pikir ada seseorang yang menerobos di ruang kerja Galih, ternyata pria itu yang memang kembali kesini dan bekerja di depan layar besarnya. Sepertinya dia sudah merelakan semuanya dan kembali ke kota ini untuk kembali bekerja." Ujar Juna lagi.


"Baguslah jika begitu.. Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?" Tanya Roy.


"Aku tentu saja harus tidur dan mengembalikan stamina kerja ku bukan. Biar aku bisa segera membantu Galih jika aku sudah segar. Bagaimana dengan mu?" Jawab Juna dan kembali memberikan Roy pertanyaan.


"Aku akan pulang kerumah utama meminta kedua orang tua ku agar berhenti menghubungi ku dan menyodorkan ku wanita wanita itu." Jawab Roy geram.


"Hahah sepertinya kedua orang tua mu benar-benar menginginkan seorang cucu dari mu.. Sudahlah kau tinggal menerima salah satu dari mereka dan berbahagia." Ucap Juna sambil tertawa mengejek.


"Sialan kau! Kau saja masih asij sendiri mengapa kau malah mendorong ku untuk segera berkomitmen. Aku masih belum memikirkannya. Aku masih ingin fikus dengan kerjaan ku." Tolak Roy cepat.


"Kau sudah sukses dengan karir mu, kau bahkan bisa membangun perusahaan dan cabang di beberapa negara. Kau kanya perlu merilekskan diri mu dan mencari seseorang untuk menemani mu." Ucap Juna yang tampak serius.


"Aihh.. Kau dulu lah kau kan lebih fua dari ku.. Baru nanti aku akan menyusul mu.. Sudah ahh berbicara dengan mu aku malah semakin kesal." Gerutu Roy dan pergi dari ruangan Juna.


"Haihh.. Jika menunggu ku, aku ingin secepatnya jika wanita itu bisa aku taklukan. Tapi sepertinya akan membutuhkan waktu. Hishh mungkin lebih baik aku menyelidikinya dahulu wanita itu agar aku bisa memahaminya." Ucap Juna monoton.


Juna memilih tidur di apartemen ketimbang tidur di kantornya. Padahal biasanya pria itu lebih memilih tidur di kantor yang memang sudah menyediakan kamar tidur di dalam ruang kerjanya. Namun kini pria itu lebih memilih pulang ke apartemen yang memang berada tidak jauh dari kantor RJP.


Juna mengambil dompet dan ponselnya lalu keluar dari ruang kerjanya. Pria itu berjalan memasuki lift dan turun menuju lobby. Pria itu keluar dari gedung perusahaan dan masuk ke dalam sebuah gang buntu dan sempit kemudian membuka kunci pada pintu besi itu.


Juna masuk melalui jalan belakang apartemen itu dan masuk kedalam lift menuju apartemennya yang ada di lantai 12. Namun saat berada di dalam lift, pria itu memilih menekan tombol 8 untuk pergi ke lantai apartemen milik Maya.


Juna berjalan menuju depan pintu dan menekan bel di pintu apartemen itu. Tidak berapa lama pintu terbuka dan memperlihatkan Maya dari balik pintu itu.


"Ahh.. Kau sudah kembali?" Tanya Maya heran.

__ADS_1


"Ya.. Aku baru tiba semalam dan langsung mengerjakan pekerjaan ku.. Bolehkan aku masuk?" Tanya Juna cepat karena dia masih belum di persilahkan masuk.


"Ahh maaf, masuklah." Ucap Maya sedikit terbata dan membiarkan Juna masuk kedalam unit apartemen rumahnya.


Juna masuk kedalam ruangan dan melihat sekeliling ruangan itu. Pria itu juga melihat Maya yang sudah berjalan tanpa menggunakan kruk pembantu untuknya berjalan.


"Bagaimana keadaan mu?" Tanya Juna lagi.


"Aku baik.." Jawab Maya singkat.


"Dimana ibu Mae? Aku tidak melihatnya." Tanya Juna lagi.


"Sudah beberapa hari yang lalu aku memintanya tidak perlu datang. Aku sudah baik-baik saja, dan bisa melakukan pekerjaan ku sendiri. Aku tidak ingin merepotkannya." Jawab Maya panjang lebar.


"Baiklah kau memang wanita mandiri. Aku sedikit lelah aku numpang mandi dan tidur di sini ya.. Aku sangat lelah." Ucap Juna dan dengan santainya menuju ruang kamar mandi.


Maya yang sudah tahu bahwa pria itu pasti tidak akan bisa di usir memilih mendiamkannya dan malah membawakannya handuk beserta pakaian yang waktu itu tertinggal milik Juna.


Tok tok.. Maya mengetuk pintu kamar mandi Juna.


"Ya.." Ucap Juna dari dalam kamar mandi.


"Aku membawakan handuk dan pakaian ganti untuk mu." Ucap Maya dari luar pintu kamar mandi.


Tidak lama pintu kamar mandi terbuka sedikit dan terlihat sebuah tangan tenjulur keluar meminta sesuatu. Dengan sigap Maya memberikan handuk dan pakaian ganti pria itu.


Setelah memberikan pakaian dan handuk, Maya memilih kedapur untuk kembali membuatkan sarapan untuk mereka berdua. Maya membuat Risotto atau nasi campur yang berasal dari Italia, yaitu beras yang dimasak dengan kaldu sehingga lengket menyerupai krim. Kaldu yang digunakan dapat berasal dari daging, ikan, atau sayuran. Banyak jenis risotto mengandung mentega, keju, anggur, dan bawang. Namun kali ini Maya menggunakan daging dan sayuran.


Maya selesai masak bertepatan denga Juna yang baru saja keluar dari kamar mandi.


"Sarapanlah dahulu, baru nanti tidur." Ucap Maya dan menyodorkan piring dengan penuh berisi nasi campur itu.


Juna duduk di bar pantry, "Terima kasih." Ucap Juna dan menatap semua gerak gerik wanita di depannya itu.


Maya memberikan air putih hangat di atas meja bar itu. Dan kemudian gadis itu juga duduk di meja tinggi pantry bar dan makan disana.


Maya dan Juna makan dalam keheningan. Berbagai pertanyaan ingin di ajukan oleh Juna namun dia terlalu lelah untuk berdebat kali ini, dia benar-benar membutuhkan istirahatnya.


Sedangkan Maya tidak ingin mengganggu pria itu karena tahu Juna membutuhkan istirahatnya. Saat pria itu datang, Maya tidak tega saat melihat wajah Juna yang terlalu kuyu dan bernatakan. Maka dari itu Maya mengizinkan pria itu melakukan apapun maunya.


"Tidurlah di dalam kamar jika kau sudah selsai. Jika tidur di luar kau pasti akan terganggu." Ucap Maya lagi sambil merapihkan piring dan gelasnya dan membawanya untuk mencucinya di wastafel cuci piring disana.


"Terima kasih." Ucap Juna dan mendekati Maya yang sesang cuci piring.


"Aku akan membantu mu." Ucap Juna lagi dan hendak mengambil piring di tangan Maya yang sedang wanita itu sabuni.


"Tidak perlu.. Ini hanya sedikit.. Kau langsung istirahat saja."


"Baiklah.. Aku akan langsung tidur dikamar mu, nanti malam aku yang akan membuatkan mu malam malam okey." Ucap Juna lagi dan membalikkan badannya meninggalkan Maya di depan wastafel.


"Tentu." Jawab Maya singkat.


Juna berjalan menuju kamar Maya dan mulai merebahkan tubuhnya di atas kasur. Bau harum kamar seorang gadis dan letak beberapa barang yang rapih dan tersusun membuat ruangan itu nyaman.


"Haihh bau bantalnya benar-benar ada bau tubuh dari Maya. Apakah keputusan ku numpang tidur di sini benar? Apakah aku bisa tidur dengan nyenyak? Aishh aku khawatir malah harus mandi lagi." Gerutu Juna sambil memandang atap di dalam kamar itu.


"Aihh terserahlah.. Aku coba pejamkan mata ku saja dulu.." Ujar Juna lagi dan mulai memejamkan matanya berbaring miring memeluk salah satu guling yang ada di sampingnya.


Lambat laun dengkuran teratur terdengar dari dalam kamar itu. Maya yang sudah selesai dengan cucian piringnya memilih mengecek keadaan Juna.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2