JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Rencana bulan madu


__ADS_3

Tok tok tok pintu kamar Anton di ketuk dari luar kamar.


"Masuk.." Ucap Anton memberi jawaban.


"Den.. Nyonya bilang turun, makan siang sudah siap." Ucap seorang pelayaan saat dia membuka pintu kamar Anton.


"Ahh.. ya.. aku sudah siap.. sebentar lagi turun." Ucap Anton.


"Baik kalau begitu saya permisi den." Ucap pelayan itu, namun belum sempat pelayan itu akan beranjak pergi. Anton menanyakan sesuatu.


"Tunggu.. Alice sudah turun belum?" Tanya Anton lagi.


"Nona Alice belum turun den.. ini saya akan mengetuk kamar Nona." Ucap pelayan itu lagi.


"Tidak perlu.. biar saya saja yang memberitahunya." Ucap Anton menolak.


"Baik den.. kalau begitu saya langsung kebawah.. permisi den." Ucapnya dan kemudian meninggalkan kamar Anton yang tertutup.


Anton bangkit dari sofa yang ada di ruang kamarnya. Pria itu baru saja selesai mandi kemudian mengecek beberapa pekerjaan di laptopnya yang sudah beberapa hari ini dia tinggalkan. Untunglah dia memiliki Paul yang membantunya menangani semuanya.


Anton beranjak dari kamarnya menuju kamar Alice. Pria itu rtidak mengetuk dahulu kamar Alice namun langsung masuk ke dalam kamar gadia itu. Dia melihat bahwa Alice masih tertidur dengan wajah yang damai. Beberapa helayan rambut menutupi wajahnya. Anton menyingkirkannya ke samping dengan lembut.


"Kau benar-benar kelelahan ya.. Ya sudah kau tidur saja." Ucap pria itu berbisik pelan dan merapihkan selimut yang Alice gunakan.


Anton keluar dari kamar Alice dan pergi menunu ruang makan.


"Mana Alice?" Tanya Lidia saat baru saja melihat Antom muncul di ruang makan seorang diri.


"Dia tidur.. sepertinya dia kelelahan. Aku tidak tega membangunkannya." Ucap Anton.


"Dasar! itu pasti perbuatan mu kan? tadi aku menyuruh Jahra membuatkan minuman gingseng, tapi sepertinya Alice sudah tertidur. Nanti setelah dia bangun kau suruh Alice minum. Aku tidak ingin dia sakit dengan jadwal yang akan padat kedepannya." Omel Lidia.


"Iya Ibuu.." Ucap Anton menuruti ibunya dan merasa sedikit bersalah terhadap Alice.


Memang ini semua kesalahan Anton yang tidak membiarkan Alice bebas dari kungkungannya selama hari terakhir di Maldive. Bahkan sebelum berangkat menuju pesawat, mereka masih sempat memadu kasihnya.


"Kau benar-benar ya.. ohya lalu apa rencana bulan madu untuk kalian?" Tanya Sisilia penasaran.


"Emhh sepertinya Alice masih menginginkan perdi ke Maldive." Ucap Anton.

__ADS_1


"Bukankah itu akan membosankan? kaliankan baru saja pulang masa bulan depan kesana lagi atau kau cari tempat indah seperti Maldiv." Saran Sisilia.


"Emhh masih belum tahu kak, tapi yang pasti dia mau ke Maldiv, dia sangat menyukai pulau-pulau cantik itu. Nanti aku juga akan mencari destinasi yang lainnya." Jawab Anton.


"Hemm bagus itu.. berkeliling Asia saja." Saran Amanda.


"Wahh ide bagus tuh.." Ucap Sisilia menimpali.


"Kau coba tanyakan lagi kepada Alice bagaimana dia mau atau tidak. Ingat prioritas mu adalah kebahagiaan pengantin mu. Dan jangan lupakan jangan biarkan dia kelelahan seperti ini." Ucap Lidia.


"Iya Bu.. aku paham." Ucap Anton meringis mengingat kesalahannya itu.


Makan siang di keluarga Hadi Jaya tampak hangat dengan beberpa celotehan dan perbincangan kecil meski sedikit kekurangan tanpa adanya Alice di atas meja makan itu.


***


Sedangkan di sisilain di Roy Jaya Putra Company.


Juna berpapasan dengan Maya yang akan masuk ke dalam lift.


"Sudah mau istirahat?" Tanya Juna saat dia menghampiri Maya.


"Mau makan siang dahulu atau mau langsung melihat apartemen?" Tawar Juna.


"Bapak sibuk tidak? atau bapak ingin makan siang dahulu?" Ucap Maya berbalik bertanya kepada Juna.


"Kita lihat apartemennya saja bagaimana? aku belum lapar." Ucap Juna.


"Tentu Pak." Ucap Maya hormat.


"Di sini tidak ada orang lain, kau bisa memanggil ku Juna. Kau jadi tambah kaku saja. Tidak ada orang lain lepaskan saja topeng mu itu." Ucap Juna menyindir Maya.


Maya menghembuskan nafasnya kasar, " Baiklah jika itu mau mu." Ucap gadis itu ketus.


"Ayo cepat kita melihat apartemen teman mu.. makin lama bersama mu nanti yang ada membuat ku kesal." Ucap Maya ketus.


"Nahkan keluar sifat aslinya. Aku lebih suka kau yang seperti ini ketimbang menggunakan topeng lugu dan penurut." Ucap Juna sambil terkekeh.


"Hentikan tawaan mu.. kau semakin menyebalkan." Ucap Maya.

__ADS_1


Ting pintu lift terbuka di lantai dasar.


"Mari Pak pintu liftnya sudah terbuka." Ucap Maya sopan dengan menjulurkan tangannya saat pintu lift terbuka dan beberapa karyawan lain berdiri berjajar untuk bergantian menaiki lift menuju lantai atas.


"Sungguh sangat cepat perubahannya." Ucap Juna berbisik pelan yang dia yakini Maya pasti dapat mendengarkannya.


"Mari Pak." Ucap Maya menekankan kalimatnya. Juna tahu bahwa Maya saat ini sedang kesal kepadanya. Namun pria itu malah tersenyum dan berjalan keluar lift dengan tenang di ikuti oleh Maya di belakangnya.


"Kau memang mahluk menyebalkan." Gerutu Maya setelah melewati gerombolan karyawan yang hendak menggunakan lift itu.


"Terima kasih.. bukan kau saja yang mengucapkan kalimat itu." Ucap Juna bangga kepada dirinya sendiri.


"Di ejak bangga.. kau benar-benar manusia aneh." Ketus Maya saat mereka sudah keluar dari gedung kantor mereka.


"Bukankah kau memuji ku? berarti aku harus berterima kasih dong atas pujiannya." Ucap Juna lagi membuat Maya semakin jengkel.


"Sudahlah cepat.. tunjukkan jalannya." Kesal Maya karena semakin lama Juna semakin membuatnya kesal.


"Lewat sini." Ucap Juna menunjukkan jalan masuk ke sebuah gang antara gedung perkantoran mereka dengan gedung lain. Mereka menyusuri gang itu kemudian tak berapa lama tampak sebuah gedung Apartemen tepat berada di belakang gedung lain itu yang merupakan bangunan belakang gedung aparteman.


"Woah.. ternya benar tidak begitu jauh jika melewati jalan belakang. Tapi bagaimana kau tahu bahwa ada jalan belakang langsung kesini?" Tanya Maya bingung.


Pasalnya gang ini, gang sempit dan gang buntu yang langsung menuju belakang apartemen yang hanya memiliki sebuah pintu, tidak ada jalan lainnya.


Juna mengambil card acses dan menempelkannya di pintu dan kemudian membuka hendle pintu itu.


"Jangan banyak tanya. Kau tahu, kebanyakan orang mati sia-sia hanya karena rasa penasaran mereka." Ucap Juna menakut-nakuti Maya.


"Dan kau tahu.. berapa banyak nyawa melayang karena mereka tidak memberitahukan apa yang aku tanyakan kepada mereka." Balas Maya tak kalah gentar dengan ucapan Juna.


"Ahhh ya aku melupakan itu." Ucap Juna dan terkekeh. Maya hanya diam dan masih mengikuti pria di depannya itu. Mereka menyusuri beberapa ruangan yang tampak sangat sepi seperti tidak berpenghuni dan kemudian mereka tiba di ruang lobby utama. Mereka masuk menaiki lift dan kemudian menekan tombol 8 pada dinding besi itu. Pintu menutup dan naik menuju lantai 8.


"Di mana teman mu itu?" Tanya Maya yang tidak melihat seseorang menyambut mereka di lobby utama.


"Ada di unit yang akan kita datangi." Ucap Juna singkat.


Maya kemudian diam lagi dan hanya memperhatikan pantulan dari dirinya dan juga Juna dari kotak besi itu.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2