JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Tertembak


__ADS_3

Dor! Dor! Dor!


"Tidak! Maya!" Teriak Alice.


Ketiga tembakan bersarang di tangan dan kedua kaki Maya. Maya langsung roboh tidak sadarkan diri di jalanan aspal yang dingin wanita itu banyak mengeluarkan darah dari tubuhnya.


"Aihh.. Berisik sekali! Ayo cepat ikut aku!" Ucap pria itu santai setelah membuat Maya tidak berdaya dan menyeret Alice tanpa memperdulikan perasaan gadis itu.


"Kau benar-benar membuat ku kesal." Ucap Alice.


Alice yang marah langsung memberikan serangan dengan sikunya kearah rusuk pria itu bersamaan dengan tendangan di antara kedua kaki pria itu. Dengan cepat wanita itu juga melonggarkan kuncian pada tangannya.


Brug!


"Argh.. Wanita sial!" Gerutu pria itu marah sambil membungkukkan tubuhnya karena sakit pada rusuknya dan juga barang pusakanya.


Dengan cepat Alice melepaskan cekalan tangan pria itu dan memanfaatkan celah itu untuk menyerang bagian tangan yang memegang pistol dan kemudian Alice mematahkan tangan itu dengan lututnya agar pistol terlepas dari tangannya.


Pluk!


Krek!


"Argh!! Sial!" Teriak pria itu merasakan nyeri yang sepertinya patah pada tangannya.


Pistol yang jatuh ke aspal dengan cepat Alice menendang pistol itu agar benda itu jauh dari dirinya ataupun dari pria brengsek ini.


Dengan gerakan cepat Alice kembali menyerang bagian wajah pria itu dengan sikunya hingga hidung pria itu mengeluarkan banyak darah. Tidak hanya itu, Alice juga memberikan beberapa pukulan telak di bagian uluhati dan tendangan memutar di bagian telinga dan leher yang membuatnya langsung terkapar di atas aspal tanpa melakukan banyak perlawanan.


"Argh!!" Suara pria itu masih terdengar merintih.


Alice perlahan menjauh dan kemudian mengambil pistol yang sebelumnya dia tendang. Alice membuka dan melihat isi pelurunya masih ada dua butir.


"Heh! Kita lihat apakah kau bisa menahan ini!" Ucap Alice kesal.


Gadis itu mengangkat pistolnya dan kemudian mengarahkan dan memuntahkan timah panas itu tepat di kedua kaki pria itu dan kemudian melemparkan senjata kosong itu pada tubuh ambuk pria tersebut.


Alice kemudian berlari mendekati tubuh Maya. Gadis itu memeriksan nadi wanita itu di lehernya dan melihat wanita itu masih bernafas.

__ADS_1


"Syukurlah.. Kau masih hidup.. Bertahanlah sebentar lagi." Alice dengan cepat membebat tangan dan kaki Maya menggunakan kain dari piyama lengan panjangnya yang dia sobek.


Setelah itu Alice dengan cepat mengambil pistol milik Maya dan mendekati ke arah Riki yang masih baku tembak dengan para penjahat itu.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Alice saat melihat tangan kiri pria itu mengalirkan darah.


"Nona masih di sini? Kenapa tidak segera pergi?" Tanya Riki khawatir.


"Berapa yang belum di bereskan?" Tanya Alice tanpa memperdulikan pertanyaan pria itu.


"Dua orang lagi nona." Jawab Riki.


Alice dengan cepat merobek lengan baju panjang pria itu dan membantu membebat tangan kiri Riki untuk menghentikan perdarahannya.


"Aku akan membantu mu." Ucap Alice santai dan kemudian lari dan bersembunyi di balik tembok.


"Tapi nona.." Ucapan Riki kalah cepat dengan gerakan Alice yang sudah mulai menyusup di balik tembok.


Dengan gerakan cepat Alice menyusup dan kemudian menembakkan timah itu kepada salah satu penjahat.


Dor!


Dor!


"Nona!" Teriak Riki yang khawatir melihat Alice terkena timah panas itu dan hendak mendekati gadis itu.


"Fokus!" Teriak Alice tegas.


Riki yang mendengar itu kembali fokus untuk melihat satu penjahat lagi. Pria itu juga mulai perlahan mendekari drum kosong itu dan kemudian saling berhadapan dengan penjahat itu dengan cepat Alice memanfaatkan saat pria itu kaget dan segera memuntahkan timah panas di pistolnya pada penjahat itu.


Dor! Tubuh penjahat itu tergeletak dan Alice memastikan kedua penjahat itu sudah di lumpuhkan dan tidak akan berkutik lagi.


"Nona tidak apa-apa?" Tanya Riki yang khawatir melihat darah di tangan Alice.


"Aku tidak apa-apa. Bawa segera mobil itu ke arah belakang. Maya terluka. Periksa rekan mu juga, apakah dia masih selamat." Perintah Alice.


"Baik nona." Ucap Riki dan kemudian pria itu bergegas mendekati teman satu timnya. Naas pria itu meninggal di tempat. Riki dengan cepat bergegas menuju mobil putih milik para penjahat.

__ADS_1


Alice berjalan duluan ke arah belakang untuk mendekati tubuh Maya yang terkapar dengan melewati tubuh penjahat yang tergeletak. Saat Alice sudah berada di depan tubuh Maya Alice tertegun saat menangkap sosok pria bertubuh tinggi tegap dari sebrangnya. Namun kini wajah pria itu tampak sangat khawatir.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya pria itu khawatir saat mendekat dan melihat tangan gadis itu mengeluarkan banyak darah.


Alice hanya diam mengerutkan keningnya. Gadis itu bingung harus merespon seperti apa.


Tanpa mereka ketahui pria penjahat yang tergeletak tidak jauh dari mereka masih sadarkan diri. Pria itu mengambil pistol kosong itu dan mengisi sebuah peluru.


Dengan tangan sedikit bergetar pria itu meluruskan tangannya dengan bantuan topangan dari tangan yang tidak terluka. Pria itu membidik jantung Alice dari belakang dan kemudian menekan pelatuk pistol itu sehingga memuntahkan timah panas.


Dor!


Anton yang melihat kejadian cepat itu dengan refleks pria itu membalik tubuh Alice dan menjadikan tubuhnya sebuah tameng untuk melindungi Alice. Sedangkan Alice yang kaget mendengar suara letusan senjata api yang berada di belakang tubuhnya dan tubuh Anton yang tiba-tiba melindungi tubuhnya.


"Tidak!!!" Teriak gadis itu bertepatan dengan tubuh Anton yang roboh tepat di depan mata gadis itu.


Pria penjahat yang telah menembakkan pistol itupun kembali roboh dan tergeletak di aspal. Bagaimanapun pria itu telah mengeluarkan semua tenaganya dan kesadarannya hanya untuk menembakkan timah panas itu kepada Alice. Kini pria penjahat itu telah kehilangan kesadarannya dan kembali mencium aspal.


"Anton!" Teriak Alice saat melihat tubuh itu ambruk di dalam dekapannya.


"Hai sayang.." Ucap pria itu masih bisa tersenyum di pelukan kekasihnya.


"Jangan banyak bicara! Kau akan baik-baik saja." Ucap Alice menenangkan namun dirinya sendiri kalut melihat luka tembakan pada dada pria itu.


"Bagaimana ini.." Ucapnya yang mulai kalut saat mengetahui dimana bersarangnya timah panas itu.


"Jangan khawatirrr a aaku tidak apa-apa.. Uhuk.. Aku bahagia masih bisa tidur di pelukk kan mu." Ucap pria itu dengan terbata-bata.


"Jangan banyak bicara! Aku sedang menghentikan perdarahan mu!" Ucap Alice yang tambah kalut dan tanpa sadar air matanya sudah membanjiri wajahnya.


"Maa' aafkan aku.. Atas semua ya.. yang telah aku lakukan.." Ucapnya masih terbata-bata dengan tangan yang terulur mengusap air mata di pipi gadis kecilnya.


"Hentikan!" Ucap Alice yang terus berlinangan air mata, namun tangannya tetap menekan luka agar darahnya tidak terus menerus merembes keluar.


"A a aku.. See selalu me mencintai mu." Ucap pria itu akhirnya sambil tersenyum cerah.


"Anton!!" Teriak Alice saat pria itu meluruhkan tangannya ke aspal dan bersamaan dengan hilangnya kesadaran pria itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2