
Pertemuan Alice, Galih, Juna dan beberapa tim yang berada di ruangan Roy dilanjutkan dengan mengadakan rapat di ruangan khusus.
Hari berganti senja, matahari yang mulai keperadabannya yang berwarna jingga di seluruh langit digantikan dengan gelapnya langit malam yang di terangi sinar bulan dan bintang.
"Hoam.. Aku sedikit mengantuk.." Ucap Alice merebahkan kepalanya diatas meja saat rapat sudah selesai dan di ruangan rapat itu hanya tersisa Galih, Juna dan Roy.
"Iya.. Itu terlihat dari wajah lelah dan mengantuk mu.. Ya sudah istirahatlah di ruang kerja mu, atau kau ingin pulang? Biar aku yang mengantar mu." Ucap Roy sambil mengusap lembut rambut Alice. Saat gadis itu sedang mengganjal kepanya dengan tangannya di atas meja.
"Tidak usah Kak, aku tahu kau sedang sibuk.. Aku akan kembali ke rumah sakit sendiri saja." Alice menegakkan tubuhnya dan meregangkan tubuhnya.
"Maaf aku tidak bisa mengantar mu, Aku harus menyiapkan semuanya segera untuk keberangkatan besok." Ucap Juna merasa bersalah tidak bisa mengantarkan gadia itu.
"Tidak masalah.. Aku bisa pergi sendiri, kalian tidak perlu merepotkan diri kalian sendiri. Sudah jangan terlalu melow, aku baik-baik saja." Ucap Alice hangat.
Ya.. Rapat hari ini adalah pembahasan mengenai bukti-bukti tindakan ilegal meski secara tidak langsung membawa nama Bahar dan Belinda terhadap pekerjaan kotor yang mereka berdua lakukan selama ini, kemudian di lanjutkan dengan pembahasan mengenai laporan keluarga besar Baskoro dan musibah yang keluarga itu alami. Meski didalam rapat tidak menyebutkan secara gamblang Alice adalah Adeliana, namun Roy, Galih dan Juna yang sudah tahu di awal, mereka merasa sedikit prihatin kepada gadis itu.
"Biar aku yang mengantar Alice, aku juga akan ke rumah sakit. Pekerjaan ku sudah ditangani." Ujar Juna santai.
"Ohh baiklah." Ucap Roy dan Galih mengangguk. Mereka sedikit merasa lega. Tadinya mereka khawartir jika Alice akan ditinggalkan sendirian dan gadis itu akan merasa sedih dan kesepian, bagaimanapun mereka baru saja melaporkan dan mengungkit kembali mengenai keluarga gadis itu.
"Kenapa kalian jadi sendu begini sih.. Sudah aku bilang, aku tidak apa-apa. Aku memiliki kalian yang selalu berada di sisi ku dan selalu mendukung ku. Apa lagi yang perlu aku keluhkan." Ucap Alice mencoba menenangkan ketiga pria di depannya itu.
"Hemm.. Ya.. Kau memiliki kami.. Kami juga keluarga mu." Roy memeluk tubuh kecil itu dan mengusap lembut gadis itu. Juna memeluk Alice juga bersamaan dengan tubuh Roy.
"Hei.. Kalian pikir kalian teletubies saling berpelukan bersama seperti itu. Lepaskan dia!" Ucap Galih kesal namun kedua pria itu tidak melepaskan tubuh Alice yang berada di dalam dekapan mereka.
"Ohh ayolah.. Setidaknya kalau kalian ingin berpelukan ajak aku juga!" Ucapnya sambil menyusup untuk memeluk Alice dan kedua sahabatnya itu. Namun seketika Juna dan Roy melepaskan pelukannya membuat Galih jadi memeluk Alice sendirian saja.
"Hei kalian!" Keluh Galih yang di permainkan oleh Juna dan Roy beserta Alice yang terkikik geli.
"Hahaha baiklah, baiklah." Ucap Juna dan Roy. Kemudian mereka berangkulan berempat menyalurkan semangat dan kehangatan untuk gadis kecil mereka.
"Aku tahu, aku memiliki tiga kesatria hebat yang selalu melindungi ku." Ucap Alice ceria. Namun kemudian alisnya mengerut, "Emhh tapi bisakah kalian lepaskan ini? Ini sedikit sesak." Ucap Alice dan mendorong ketiga tubuh pria besar itu. Mereka semua kemudian terkekeh geli melihat tubuh Alice yang menghilang akibat pelukan ketiga pria yang bertubuh besar.
__ADS_1
"Baiklah aku akan lanjutkan kerjaan ku.. Kau jagalah Alice, besok aku juga akan ikut dengan kalian untuk melindunginya dari dekat." Ucap Roy dan mendapat anggukan dari Juna.
"Aku juga akan kembali mengerjakan tugas ku." Ucap Galih yang kembali serius.
"Yasudah yuk Al.. Sudah semakin malam." Ucap Juna mengingatkan.
"Hemm.." Gumam Alice dan mengangguk.
Alice dan Juna pergi keluar kantor RJP menuju parkiran mobil Alice dan kemudian Juna yang mengambil alih kunci untuk mengemudikan mobil gadis itu.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Juna di sela-sela mengemudinya. Jalanan kini cukup ramai dan di dominasi oleh kendaraan roda empat lainnya.
"Aku tidak apa-apa Kak." Jawab Alice cepat.
'Aku sangat bersyukur memiliki kalian.' Batin gadis itu.
"Syukurlah kalau begitu. Ada yang ingin kau makan atau kau beli?" Tanya Juna sebelum memasuki kawasan rumah sakit.
"Tidak ada, aku masih kenyang." Tolak Alice.
"Aku akam menemani mu dan menjenguk tunangan mu." Ucap Juna dan mendapat anggukkan dari Alice.
Alice dan Juna berjalan bersisian menuju ruang kamar Anton.
Tok tok.. Ketukan dari arah luar pintu kamar Anton.
"Masuk." Jawaban dari dalam.
Alice menggeser pintu itu dan masuk ke dalam ruangan presidential suite diikuti oleh Juna di belakangnya.
"Kau sendirian? Dimana yang lainnya?" Tanyq Alice yang hanya melihat Anton sendirian di ruangan itu. Bahakan ayah dan ibunyapun tidak ada di dalam ruangan besar itu.
"Mereka sudah pulang sejak sore." Jelas Anton dan melirik pria di belakang Alice.
__ADS_1
"Ahh.. Ini Kak Juna, kau pernah bertemu dengannya bukan. Dia kesini untuk menjenguk mu." Ujar Alice dan mempersilahkan Juna di sampingnya memberikan ruang untuk Juna mendekat kearah Anton.
"Ya tentu saja aku masih ingat." Jawab Anton.
"Hai Anton.. Bagaimana keadaan mu?" Tanya Juna singkat.
"Jauh lebih baik. Terima kasih karena selama ini kau telah menjaga dan menemaninya." Ucap Anton kepada pria itu dan melirik kearah Alice.
"Tentu saja.. Dia keluarga ku, dan Aku sangat bersyukur kau telah sadar untuknya." Ucap Juna dan menepuk bahu Anton.
"Ya terima kasih." Ucap Anton dan tersenyum kearah Alice.
"Baiklah kau perlu istirahat dan aku harus pergi ketempat lain. Lekas pulih Bro!" Ucap Juna.
"Tentu." Ucap Anton dan mengangguk.
"Al.. Aku pergi." Pamit Juna dan kemudian pergi meninggalkan ruangan perawatan Anton.
"Kau tidak mengantarnya ke depan?" Tanya Anton.
"Kemana? Dia hanya pergi ke lantai bawah bawah." Ucap Alice santai. Melihat raut wajah bingung Anton, Alice melanjutkan ucapannya.
"Dia hanya pergi menjenguk dan menjaga Kak Maya di lantai bawah." Jelas Alice lagi.
"Ahh ya aku lupa, bagaimana keadaan Maya? Aku melihat wanita itu tergeletak saat menemuinmu." Ucap Anton yang mengingat kejadian yang terakhir kali yang masih bisa dia ingat.
"Kak Maya sudah baikan." Ucap Alice singkat.
Drrt drrt drtt ponsel Alice bergetar, Alice mengambil dan melihat siapa yang menelponnya, di sana tertera Juna sebagai penelponnya.
📞 "Halo Kak.. Ada apa?" Tanya Alice saat panggilan itu sudah tersambung.
📞 "Ohh baiklah.. Oke.. tidak masalah." Ucap Alice dan mematikan ponselnya.
__ADS_1
"Ada apa?" Tanya Anton penasaran.
Bersambung....