
Keesokan paginya Alice membuka matanya dan hendak pergi ke kamar mandi. Gadis itu teringat dengan suatu kotak persegi panjang yang dia beli di apotik sebelum dia pulang ke rumahnya.
Alice mengambil kotak persegi panjang yang masih berada di dalam tasnya kemudian membawanya masuk ke dalam kamar mandi. Gadis itu membaca cara penggunaannya dan cara membaca hasilnya.
Dengan sedikit was-was gadis itu melakukan semua intruksi yang tertera pada bungkusan itu. Selang beberapa menit hasilnya sudah keluar. Benda persegi panjang berwarna putih itu menghasilkan dua garlis berwarna merah terang.
Alice yang tadinya berdiri jadi duduk di atas closet yang tertutup dengan mata yang berkaca-kaca. Gadis itu menutupi mulutnya dengan tangisan harunya. Tangannya yang lain masih memegang erat plastik berbentuk persegi panjang itu.
"Ternyata dugaan ku benar.. Aku harus menjaga mu.." Gumam Alice dan kemudian menghapus lelehan air mata di kedua pipinya dan segera membersihkan dirinya. Dia harus segera pergi ke suatu tempat untuk memastikannya lagi.
Alice bergegas keluar dari rumahnya dan mengendarai mobilnya menuju rumah sakit Kasih Ibu. Alice segra memarkirkan mobilnya kemudian masuk untuk melakukan pendaftaran di poli kebidanan dan kandungan.
Alice mendapat nomor antrian pertama namun jam kerja dokter kandungan yang paling cepat adalah sekitar dua jam lagi dari sekarang. Gadis itu sedikit cemas duduk di salah satu kursi tunggu di depan ruang poli kebidanan.
"Permisi.. Bukankah anda tunangannya dokter Anton, nona Alice." Seorang wanita cantik mengenakan dress selutut berwarna merah dengan jas sneli putih di tubuhnya menghampiri Alice.
Alice mendonggakkan kepalanya dan melihat wanita cantik di depannya sepertinya pernah melihatnya, "Ya.. Benar, dan anda.." Jawabnya sedikit bingung dan mulai mengingat-ingat wajah wanita di depannya itu sambil berdiri dari posisi duduknya.
"Saya Maria sahabat Anton.. Saya prihatin atas terjadinya kecelakaan yang terjadi kepada dokter Anton." Ucap wanita itu ikut simpati atas musibah yang di alami pria itu.
"Ah.. Ya saya baru ingat.. Terima kasih banyak dokter Maria." Balas Alice sopan.
"Ohya kalau boleh tau apa yang nona Alice lakukan di sini?" Tanya dokter Maria.
"Saya mau memastikan sesuatu." Ucap Alice singkat.
"Emhh di poli kandungan? Dengan dokter siapa?" Tanya Maria lagi.
"Dengan dokter Aramariana Bevana.." Ucap Alice membaca nama salah satu dokter yang akan dia datangi. Wanita di depannya tersenyum dan kemudian merangkul tangan Alice.
"Praktik dokternya masih ada 2jam lagi, dan itu sangat melelahkan menunggu di sini. Bagaimana jika saya lakukan saja sekarang khusus untuk anda." Ucap wanita itu sambil menyeret Alice menuju ke suatu tempat.
__ADS_1
"Ah.. Emhh maksudnya?" Tanya Alice bingung mengapa dokter ini tahu jadwal dokter yang akan di kunjunginya.
"Saya dokter Aramariana, tapi beberapa orang terdekat memanggil saya dokter Maria." Ucap wanita itu sambil tersenyum ramah.
"Ahh.. Begitu.." Alice hanya mengangguk mengerti dan mengikuti wanita itu.
Mereka tiba di depan poli kandungan dan wanita itu membuka pintu poli itu. Di sana sudah ada seorang perawat yang sedang mempersiapkan ruangan dokter untuk praktik.
"Ahh dokter Maria, ada perlu apa? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya suster itu heran melihat dokter ini sudah muncul sebelum jadwalnya. Selain itu dokter Maria juga membawa seseorang dengannya ke dalam ruangan.
"Turunkan statusnya.. Kita langsung periksa saja nona Alice." Ucap dokter memberikan intruksi kepada perawat itu. Perawat mengangguk mengerti dan dengan cepat pergi ke bagian pendaftaran untuk mengambil status pasien atas nama Alice.
"Duduk non Alice.." Maria mempersilahkan gadis itu duduk di sebrang kursi kerjanya.
"Terima kasih, panggil Alice saja dok.." Alice duduk di kursi tepat di depan dokter Maya.
"Baiklah Alice, jika begitu panggil saya Maria saja. Saya bantu periksa dahulu ya sambil menunggu perawat mengambilkan status mu." Ucap Maria dan Alice mengangguk setuju.
"Semua normal.." Ucap Maria bersamaan dengan datangnya perawat ke dalam ruangan itu.
"Ini statusnya dok." Ucap perawat dan memberikan buku status berbentuk persegi panjang yang masih kosong itu. Maria dengan cepat menulis dan mengisi hasil pemeriksaannya ke dalam buku itu.
"Ada yang bisa saya bantu Alice? Atau ada keluhan?" Tanya Maria mulai bekerja.
"Tidak ada keluhan.. Emhh sebenarnya ini kak Maria.." Alice membuka tasnya dan menyerahkan benda dari plastik berbentuk persegi panjang dari dalam tasnya itu.
Maria mengambil benda itu dan melihat hasil yang tertera disana. Wanita itu tersenyum kemudian mengangguk mengerti.
"Kapan haid pertama saat menstrulasi terakhir kali?" Tanya dokter Maria mulai menggali informasi.
"Selertinya 10 oktober dok.." Jawab Alice.
__ADS_1
"Apakah haidnya banyak? dan selalu teratur?" Tanya Maria lagi.
"Iya dok seperti biasa haid selama 5hari dan selalu teratur.." Jawab Alice.
"Jika dalam perhitungan ini sudah memasuki lebih dari 6 minggu. Apakah mau coba untuk memeriksanya dengan USG?" Tanya Maria untuk memastikannya kembali hasil dari benda persegi panjang itu.
Alice mengangguk dan Maria memberitahu Alice untuk berbaring di atas kasur pemeriksaan. Alice mengikuti intruksi Maria dan berbaring di atas bed. Seorang perawat mendekati Alice dan membuka kancing celana jeans yang dia kenakan dan kemudian menurunkannya hingga bawah pinggul dan menyelimuti bagian kakinya.
Perawat dengan cepat meletakkan gel di bagian bawah perut Alice dan dengan cekatan Maria menjalankan transducer di atas jel di bagian bawah perut Alice. Beberapa kali Maria menggerakan tongat itu untuk mendapatkan posisi yang jelas pada gambar di monitor.
"Benar.. Ini sudah terbentuk lihatlah.. Saat ini usia kehamilannya akan memasuki 7 minggu. Ini suara detak jantungnya."
Dug dug dug dug.. Suara detak jantung yang cepat memasuki indra pendengaran Alice, gadis itu merasa terharu dan seketika berlinangan air mata.
Perawat dengan sigap memberikan sebuah kotak tisu kepadanya, Alice mengambil beberapa lembar dan menghapus air matanya.
"Kak Maria, bolehkah aku merekam ini?" Tanya Alice meminta persetujuan dokter itu. Maria mengerti Alice pasti ingin menunjukkannya kepada tunangannya itu.
"Tentu.. Sus tolong ambilkan ponsel nona Alice di atas meja." Maria meminta tolong kepada perawatnya. Perawat itu memberikan ponselnya kepada Alice.
Alice dengan sigap membuka kunci ponselnya dan segera merekam video di ponselnya yang menghadap layar monitor. Suara dan gerakan detak jantung kecil itu terasa menggetarkan hatinya.
Setelah selesai merekam, Alice berkali-kali mengucapkan terima kasih kepada dokter itu. Bahkan beberapa wejangan dan hal lainnya di sampaikan oleh Maria saat Alice sudah kembali duduk di sebrang kursi kerja Maria.
"Berikan aku ponsel mu Alice.." Pinta dokter Maria dan Alice tanpa ragu menyerahkan ponselnya kepada wanita itu.
"Ini kontak ku, hubungi aku kapan saja jika ada keluahan ataupun pertanyaan apapun. Ingat pesan ku sebelumnya jangan stres dan makanlah makanan bernutrisi. Saya akan meresepkan beberapa vitamin dan kamu bisa menebusnya di apotik." Ucap Maria.
"Baik kak Maria.." Ucap Alice dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
Bersambung....
__ADS_1