
"Kak dimana kak Juna, aku belum melihatnya." Tanya Alice mencari keberadaan Juna dengan menjulurkan lehernya mencari keberadaan pria itu.
"Juna memang belum tiba.. Juna mungkin masih di jalan." Ujar Roy menjelaskan.
"Ohh begitu.. Pantas saja aku belum melihatnya.. Baiklah kalau begitu aku berkeliling dulu ya kak.. Nanti aku akan kesini lagi." Ucap Alice dan pergi meninggalkan meja Roy dan Galih.
"Kami berkeliling dulu." Pamit Anton kepada Galih dan Roy.
"Ya tentu.." Ucap Roy dan Juna bersamaan.
Alice dan Anton kembali berkeliling mendekati para tamu undangan untuk menyapa sekalian untuk mendengarkan berkat dan doa yang di berikan oleh para tamu undangan.
Sedangkan di sisi lain..
Juna dan Naira masih berdebat akan sesuatu.
"Ini semua kan karena abang.. Tadi Nay bilang lebih baik pakai mobil abang aja.. Mobil Nai dari beberapa hari yang lalu memang lagi tidak enak di pakai. Dan benarkan mobil Nay mogok di tengah jalan." Keluh Naira saat mereka masih di pinggir jalan tol berdiri dengan bingung.
"Baiklah.. Maafkan abang, abis abang kira biar nanti kamu bisa bawa pulang sendiri mobil kamu kalau abang langsung pergi ke kantor." Jelas Juna dan sedikit menyesal akan tindakannya.
"Hish.. Ya sudahlah mau bagaimana lagi.. Panggil service mobil sekalian derek.. Kita naik taksi online saja dari pada nanti kita terlambat." Saran Naira saat melihat jam di pergelangan tangannya.
"Astaga! Kita memang terlambat." Keluh Juna saat pria itu juga melihat jam di pergelangan tangannya.
"Baiklah abang akan pesankan taksi online untuk kita sekalian menghubungi mekanik ku dan memghubungi Yoga untuk mengambilnya." Ucap Juna dan segera mengekuarkan ponselnya yang berada di saku jasnya.
Naira yang mendengarnya hanya menggangguk dan duduk di dalam jok mobil dengan pintu mobil yang terbuka lebar.
"Mobil taksi kita akan datang sebentar lagi.. Petugas mekanik sudah di kasih tau bahwa kunci di dalam dashbor.. Nah itu mobil kita.. Ayo kita pergi." Ucap Juna dan segera mendekati taksi online pesanannya.
Juna dan Naira masuk kedalam taksi online menuju hotel tempat pesta pernikahan Anton dan Alice. Beberapa waktu kemudian mereka sudah sampai di depan lobby hotel dan masuk menuju ballroom acara pesta pernikahan Alice dan Anton diadakan.
Baru sampai di dalam pintu masuk ruangan pesta, Naira tiba-tiba berhenti berjalan menuju meja perjamuan itu saat matanya dari kejauhan melihat sosok pria yang dikenali olehnya.
"Kenapa Nay?" Tanya Juna heran saat Naira menghentikan langkahnya membuat Juna juga terdiam ditempatnya.
"Aku ingin ke toilet Bang." Ucap Naira seperti sedang menahan sesuatu dan itu terpancar jelas dari wajahnya.
"Ahh ya sudah kau ke toilet saja.. Sepertinya di luar tadi toiletnya. Kau bisa sendiri kan?" Tanya Juna santai sambil menggoda Naira.
"Ya tentu saja Bang.. Nanti aku akan mencari Abang." Ucap Naira dan Juna pergi meninggalkan Naira sendirian di depan pintu masuk itu menuju mejanya yang sudah terisi Roy dan juga Galih.
Naira yang melihat itu langsung membalikkan tubuhnya dan berjalan ke lyar dari ruangan perjamuan dan segera berlari memasuki toilet wanita.
__ADS_1
"Astaga! Bagaimana ini.. Aku tadi melihat pria yang waktu itu.. Sepertinya mereka dalam lingkaran yang sama dan bahkan lebih gawatnya sepertinya dia satu meja dengan Abang Juna.. Aduhh bagaimana ini.." Gumam Naira dan mondar mandir di dalam toilet sambil m€r€mas r€mas kedua tangannya gugup.
"Astaga! Apa yang harus aku lakukan?"
"Haruskah aku bilang aku diare dan pulang saja?"
"Tapi jika begitu bukankah Bang Juna akan khawatir dan bahkan mengantar ku pulang, tapi kasihan baru juga dia sampai. Bahkan tadi tidak sempat bertemu teman pengantinnya itu.. Astaga bagaimana ini."
Naira masih bergumam dengan berbagai kemungkinan dan berbagai pertanyaan yang mungkin akan terjadi.
Drrt drrtt drrt
Ponsel Naira bergetar di dalam cluthnya, Naira mengeluarkan ponselnya dan melihat ID penelpon itu tertulis Abang Juna..
"Astaga.. Tuhkan udah di cariin.. Gimana ini.." Gumamnya pusing apakah harus mengangkatnya atau tidak.
"Kalau tidak di angkat pasti nanti malah semakin repot. Ahh yasudah angkat sajalah."
Naira menggeser layar telepon berwarna hijau.
"Ya Bang.." Jawab Naira cepat saat panggilan itu telah tersambung.
"Dimana? Kok belum muncul." Tanya Juna di sebrang sana.
"Haish.. Mudah-mudahan pria itu tidak mengenali ku." Gumamnya sambil menatap kearah cermin memastikan tidaka ada yang aneh pada wajahnya.
"Masalah harus di hadapi.. Bukan di hindari." Gumamnya menyemangati dirinya sendiri sambil berlalu meninggalkan toilet wanita.
Namun saat gadis itu hendak keluar, fia tidak sengaja menabrak seorang pria muda yang ternyata juga baru saja keluar dari toilet.
"Arg.." Pekik Naira saat tubuhnya hendak terpelanting kebelakang namun dengan ceoat tangan seorang pria itu memegang punggungnya agar tidak terjatuh.
"Anda tidak apa-apa?" Tanya suara pria di depannya.
"Maaf saya sedang melamun dan tidak memperhatikan jalan." Ucap pria itu lagi meminta maaf dengan sopan.
"Ahh tidak apa-apa. Saya juga yang salah.. Saya juga tidak melihat jalan dengan benar." Ucap Naira dan meminta maaf juga.
"Emhh sudah bisa berdiri?" Tanya pria itu memastikan lagi.
Pasalnya saat ini tubuh Naira berada di dalam dekapannya dengan posisi sedikit canggung dan tidak enak.
"Ahh.. Maaf.." Ucap Naira canggung dan segera menegakkan punggungnya dan kemudian mundur dari hadapan pria itu.
__ADS_1
"Tidak apa-apa.. Sekali lagi saya minta maaf." Ucap pria itu sopan.
"Iya sama-sama.." Jawab Naira dan tersenyum hangat.
"Kalau begitu saya akan masuk.. Mau masuk ke ruang pesta juga?" Tanya pria itu sopan.
"Iya.." Ucap Naira sopan.
"Kalau begitu kita bisa masuk ke dalam bersama.. Aku Viki." Ucap pria itu sopan dan mengulurkan tangannya. Ya ernyata lria itu adalah Viki adik Sinta.
"Aku Naira." Jawab gadis itu sopan sambil membalas uluran tangan Viki.
"Ayo kalau begitu kita masuk." Ajak Viki dan di angguki Naira.
Saat Naira dan Viki berada di depan pintu masuk ruangan pesta, kakinya hendak mundur dan tubuhnya hendak berbalik.
Viki yang melihat itu sedikit heran, "Kenapa? Ada sesuatu?"
"Emhh Ahh.. Tidak.. Ayo masuk.." Akhirnya gadis itu berani untuk melangkah masuk kedalam ruangan perjamuan.
"Aku di meja sini.." Ujar pria itu dan menunjuk sebuah meja yang sudah di tempati oleh pasangan suami istri.
"Ahh okey.. Kalau begitu aku akan ke meja sana." Ucap Naira saat melihat meja abangnya berada.
"Ya.. Kalau begitu kita berpisah di sini." Ucap Viki sopan.
"Hemm.. Kalau begitu aku pergi sekarang." Ucap Naira dan menghampiri meja abangnya bersama beberapa pria di sana.
"Kok lama Nai.. BAB y?" Celetuk abangnya saat Naira berdiri di belakang tubuh abangnya.
'Aihh tidak ada manis-manisnya nih Bang Juna.. Masa anak cewek di tanyain gitu di hadapan beberapa cowo lain, yang gak di kenal pula.' Batin Naira kesal.
"Hemm.. Sampahnya banyak Bang.." Ujar Naira asal saking kesalnya.
"Jun siapa?" Tanya Roy heran melihat seorang gadis kecil berdiri di belakang Juna.
"Apa? Ohh dia.. Dia Naira adik ku.." Juna mengenalkan gadis di belakangnya bahwa gadis itu adalah adiknya.
"Halo.. Saya Naira.." Ucap Naira sopan kepada Roy.
Galih yang mendengarkan percakapan itu menoleh dan membelalakan matanya.
Bersambung....
__ADS_1