
Marina masuk kedalam ruangan interogasi itu dan tertegun saat melihat Billy ada di sana.
Marina duduk di kursi yang tepat berada di seberang Billy.
"Aku pikir kau melarikan diri.." Ucap Marina mencoba membuka percakapan.
"Tidak bukan, Aku tertangkap saat menjalankan tugas dari Jhon.." Ucap Billy langsung menatap kedalam mata Marina.
"Maaf atas ketidak mampuan ku menjaga kalian.." Ucapnya lagi sambil memandang kedalam mata Marina.
Entah mengapa Marina merasa sesuatu telah di ketahui oleh Billy.
"Apa maksud ucapan mu itu? Kalian? Maksudmu apa Billy?" Tanya Marina yang kini sudah tampak gugup dan juga takut.
"Aku tahu semuanya Marina.. Aku tahu mengenai Belinda.." Ucap Billy lagi dengan menatap mata Marina tanpa berpaling kemanapun.
"Belinda? Kenapa Belinda? Belinda anak ku dan Jhon." Ucap Marina cepat dan wanita itu ingin beranjak dari tempat duduknya saat ini.
"Aku tahu semuanya Marina! Aku tahu Belinda adalah putri kita bersama bukan." Ucap pria tua itu lagi sambil menitikkan air matanya.
"Tidak! Jangan mengarang! Ucapan mu melantur setelah beberapa waktu di penjarakah? Jika kau membahas hal gila ini lebih baik aku pergi dari sini." Ucap Marina dengan penuh emosi dan hendak pergi bangkit dari kursinya.
Namun dengan cepat Billy menangkap tangan wanita itu agar wanita itu tidak bisa keluar kemanapun.
"Tidak perlu membohongi diri mu sendiri Marina.. Kita pernah melakukan kesalahan dan kau membesarkannya dan menjaganya untuk ku.. Terima kasih untuk itu.. Dan Maaf aku tidak menjaga kalian dengan baik dari Jhon. Jika saja aku lebih awal mengetahuinya, aku tidak akan pernah mengizinkannya menghancurkan seluruh kehidupan anak ku.. Maaf atas kebodohan dan kesalahan ku selama ini." Ucap Billy menggenggam erat kedua tangan Marina.
Marina dengan tegas menepis kedua tangan Billy dan mendorong tangan pria itu, "Jangan berkhayal Billy, Belinda adalah putri Jhon Markus Stary. Dia putri satu satunya dalam keluarga Stary! Dan kau siapa?" Ucap Marina dengan penuh emosi dengan berdiri sambil menunjuk dada Billy kesal.
"Maafkan aku.. Maafkan aku tidak bisa menjaga kalian." Ucap Billy lagi tanpa memperdulikan ucapan Marina.
"Kau dangat keras kepala Billy! Dia bukan milik mu!" Bentak Marina kesal dan membalikkan tubuhnya mencoba keluar dari ruangan itu menjauh dari pria itu.
Namun baru beberapa langkah dia berjalan, Billy mengucapkan sesuatu.
"Jhon Markus sudah mengetahui semuanya sejak kau bilang kau sedang hamil anaknya. Padahal sebelumnya dia sudah memeriksakan diri kerumah sakit dan dokter mengatakan bahwa dia tidak akan pernah bisa memiliki anak. Dia madul yang di sebabkan oleh penyakit bawaan." Jelas Jhon yang membuat tubuh Marina membeku seketika dan terdiam berdiri disana.
"Untuk itulah selama puluhan tahun dia tidak pernah bersungguh-sungguh menyayangi Belinda.. Dia mau membesarkan dan merawat belinda tanoa membongkar semua itu agar Belinda mau melakukan semua hal yang di perintahnya untuk keuntungannya sendiri. Dia ingin agar Belinda besar nanti dia bisa membantu keuangan Stary Grup dan menghasilkan banyak keuntungan lain untuknya. Apalagi saat dia tahu keluarga Baskoro memiliki dua orang putra. Dia semakin menggila ingin mendekatkannya kepada dua bocah itu. Seharusnya kau sudah sedikit mencurigainya bukan? Karena sebelumnya sikap Jhon kepada Belinda sangat dingin dan acuh." Ucap Billy lagi.
Marina membalikkan tubuhnya dan menatap nanar pria di depannya itu, "Kau pasti berbohong bukan? Kau pasti mengarang semuanya bukan? Bagaimana mungkin Jhon melakukan hal kejam itu?" Bentak Marina sambil menunjuk kearah Billy.
__ADS_1
"Kau yang paling tahu dan bisa merasakan semuanya bukan.. Mungkin kau bisa mencari berkas di dalam bagasi besi yang ada di dalam kantornya. Aku tidak pernah bisa membukanya dan aku tidak tahu apa passwordnya." Ucap Billy lagi.
"Jika kau bahkan tidak tahu ada apa di dalam sana karena tidak bisa membuka brangkas itu, bagaimana mungkin kau bisa berbicara seperti itu? Ternyata kau hanya mengarang semuanya! Kau benar-benar membuat ku kecewa! Aku pergi!" Ucap Marina kesal dan penuh kebencian di dadanya dan membanting pintu ruang interogasi itu.
Billy mencoba berdiri dan ingin mengejar Marina, namun pria itu mengurungkan niatnya, "Aku tidak tahu ada apa di dalamnya, aku mengetahuinya dari orang lain yang memeberikan semua bukti-buktinya kepada ku.. Tapi aku tidak bisa memberitahu itu kepada mu.. Aku hanya berharap saat kau mengetahui kebenarannya, kau masih mau memaafkan ku dan setidaknya masih mau menemui ku." Ucapnya monoton kepada dirinya sendiri.
Pasalnya Marina sudah tidak ada di dalam ruangan itu dan Billy tidak bisa mengatakan hal itu kepada wanita itu.
"Haishh.. Semuanya sudah terlambat untuk ku.. Tidak ada lagi yang bisa aku lakukan.." Ucapnya lagi dan duduk kembali di kursi ruang interogasi itu.
Alice yang baru saja mendengar semua pembicaraan kedua orang itu membulatkan matanya, tidak percaya dengan apa yang baru saja sudah didengarnya itu.
"Kan sudah aku bilang kau pasti akan tahu hubungan mereka.. Dan dengan baiknya mereka menjelaskan semuanya bukan." Ucap Anton sambil tersenyum geli saat melihat ekspresi Alice yang membulatkan matanya tampak lucu menurut Anton.
"Dasar kau ini, kenapa tidak memberitahukan ku sebelumnya?" Ucap Alice kesal.
"Mungkin waktu itu sangat mepet sayang dan aku lupa untuk memberitahunya kepada mu." Ucap Anton mencoba mencari alasan.
"Tunggu jangan bilang Billy mengetahui semua hal itu dari informasi kamu ya?" Alice mencoba menebak sesuatu yang terjadi.
"Iya.. Kebetulan Paul menemukan semua informasi itu dan mencoba menyatukan semuanya dan ternyata informasi itu berhasil untuk membuat Billy mau bekerja sama dengan kita untuk menangkap Jhon Markus." Jawab Anton memberitahukan semuanya kepada Alice.
"Baiklah.. Sekarang kita kembali kerumah sakit, setelah itu aku harus mengecek kembali kondisi Jhon, setelah itu aku harus kembali ke kantor dan menuliskan laporan." Jelas Alice dengan jadwalnya yang padat hari ini.
Alice dan Anton keluar dari ruangan kendali dan menemui Marina yang tampak memerah pada hidung dan matanya, sepertinya wanita itu habis menangis.
'Haish.. Ya sudahlah ini bukan urusan ku..' Batin Alice dan hanya diam saja tidak merespon atau menanyakan apapun.
"Baiklah kita akan kembali kerumah sakit." Ucap Alice dan di angguki oleh keempat petugas itu.
Seperti biasa Alice dan Anton di mobil milik Alice, sedangkan Marina di mobil Van dengan keempat petugas itu.
Beberapa waktu di perjalanan saat berjalan di lorong rumah sakit menuju ruang kamar Marina, wanita tua itu masih diam saja tidak banyak berbicara, malah wanita tua itu seperti melamun dan sedang memikirkan sesuatu hal yang lain.
Alice mengantarkan Marina kembali kamarnya dan saat Alice akan keluar dari ruang kamar itu, Marina tiba-tiba membuka suaranya.
"Maaf kalau boleh tahu kapan saya bisa keluar dari sini dan pulang kembali kerumah saya?" Tanya wanita itu sopan.
Entah apa yang sedang wanita itu pikirkan, tapi dia sangat berbeda dengan wanita yang sebelumnya masih angkuh dan egois saat Alice pertama kali bertemu dengannya tadi.
__ADS_1
"Mungkin besok sudah bisa keluar dari rumah sakit dan akan di bawa ke kantor polisi untuk memberikan pernyataan dan memberikan keterangan. Jika tidak ada kendala bisa pulang kerumah sendiri lusa." Ucap Alice yang mencoba menjawab dengan tenang.
"Baik terima kasih.. Dan maaf atas ucapan saya sebelumnya." Ucap Marina dan kemudian kembali terdiam dan menunduk memandangi ujung kakinya saat wanita tua itu duduk di tepi ranjangnya.
Alice tidak menjawab ucapan Marina dan hanya berjalan keluar dari ruangan perawatan wanita itu. Mengapa orang-orang itu satu persatu meminta maag kepadanya sakit dan luka di hatinya kembali menganga dan berdarah. Permintaan maaf itu benar-benar membuatnya semakin terluka.
Sungguh Alice tidak mengerti ada apa dengan pikiran dan hatinya yang tidak selaras itu.. Apakah mungkin sebenarnya dia masih belum merelakan semuanya?
"Ada apa?" Tanya Anton yang melihat istrinya kembali terdiam dan merenung.
"Marina meminta maaf kepada ku, namun hati ku malah terluka.. Aku tidak mengerti ada apa dengan diri ku sendiri.." Ucap Alice sambil menatap manik mata suaminya itu.
"Berikanlah waktu kepada hati mu.. Setelah ini kau pasti bisa mengambil keputusan dan menjalaninya dengan baik." Ujar Anton menenangkan istrinya dan memberikannya kesempatan untuk mengerti perasaannya sendiri.
"Ya sayang.." Ucap Alice dan merangkul lengan suaminya itu.
"Aku akan melihat kondisi Jhon dahulu sayang.." Ucap Alice lagi dan berjalan menuju ruang perawatan Jhon.
"Bagaimana sus.. Apa ada perubahan?" Tanya Alice kepada suster yang baru saja mengecek kondisi Jhon dari dalam ruangan itu.
"Masih belum ada perubahan Non.." Jawab perawat itu.
"Baiklah.. Terima kasih informasinya." Ucap Alice dan kembali melihat tubuh tidak berdaya Jhon beberapa saat. Kemudian dia melihat kearah suaminya Anton.
"Ayoo.. Kita pergi ke kantor pusat." Ucap Alice dan meninggalkan lorong ruangan rumah sakit itu.
"Kita makan siang dulu ya sayang.." Ucap Anton mengingatkan istrinya untuk makan dahulu ketimbang terburu-buru bekerja dan melupakan kesehatannya.
"Ahh aku hampir lupa kita belum makan siang. Baiklah kalau gitu, kita makan dahulu.." Ucap Alice dengan riang.
"Aku lebih suka melihat wajah mu yang riang gembira dari pada melihat wajah mu yang menekuk itu sayang." Ucap Anton sambil menculi hidung istrinya.
"Hemm ya.. Maaf aku mengabaikan mu seharian ini, aku terlalu fokus kepada pikiran ku sendiri.. Maaf ya.." Ucap Alice dan memandang wajah Anton.
"Tidak masalah sayang.. Aku tahu kau memiliki banyak pikiran di kepala kecil mu ini." Ucap Anton sambil mengusap lembut kepala Alice pelan dan kemudian mengecup pelipis gadis kecilnya itu yang kini menjadi istrinya.
"Mau makan apa kita siang ini?" Tanya Alice yang kembali bersemangat.
"Mau makan korea atau chines? Semua terserah kamu saja, yang penting kamu makan yang banyak." Ucap Anton manis.
__ADS_1
"Aku tahu kau memang yang paling mengerti aku suami ku.." Ucap Alice yang kembali mengetatkan pelukan di tangan suaminya itu.
Bersambung....