
“Kau tidak menanyakan mengapa mereka melakukan itu?” Tanya Namira kepada Alice saat mereka berjalan menyusuri lorong sekolah menuju UKS.
“Aku tidak akan bertanya jika kamu tidak ingin menjelaskannya. Apapun alasan mereka, lima lawan satu itu tidak pernah terdengar baik.” Ucap Alice.
“Mereka melakukan itu karena mereka mengira aku telah menggoda salah seorang pria dari gadis itu. Jeni namanya, dia gadis yang kau rusakkan ponselnya. Dia menyukai salah seorang senior di toserba tempat ku bekerja. Pria itu bernama Juan, dia kuliah di salah satu Universitas, dia juga merupakan alumni sekolah ini. Dia satu tingkat lebih tua dari pada kita. Dan Jeni sudah menyukai pria ini sejak dia mengginjak kelas satu SMA hingga saat ini.” Jelas Namira. Alice hanya memandang Namira tanpa memberikan komentar apapun.
“kau bingung aku mengetahui semua itu.” Ucap Namira kemudian gadis itu melanjutkan, “Aku mengetahuinya karena aku adalah sahabat dekat Jeni bahkan satu bangku dengannya saat pertama kali masuk sekolah ini.”
“Dia memiliki banyak kesalah pahaman kepada ku, karena dia beranggapan aku bekerja di toserba adalah untuk mendekati Juan, padahal aku memang sudah bekerja di sana sebelumnya. Kak Juan baru bekerja di sana satu tahun setelah aku bekerja di Toserba itu. Aku sudah menjelaskannya tentu saja, namun tetap saja. Karena saat di tingkat dua kita tidak satu kelas, banyak sekali kesalah pahaman terjadi, belum lagi aku yang kesulitan untuk mengatur waktu dengan pekerjaan-pekerjaan sampingan ku dan tanpa sengaja malah jadi mengabaikan perasaan Jeni dan lama-kelamaan kesalah pahaman itu menjadi besar seperti efek bola salju yang terus menggulung dari atas sampai bawah dan akan terus menciptakan gulungan bola yang makin membesar.” Jelas Namira dengan sedih.
“Kita sudah sampai.” Ucap Namira kemudian, saat gadis itu berhenti di depan ruangan yang bertuliskan UKS.
Tok tok
“Masuk.” Ucap suara dari dalam dengan tubuh yang membelakangi pintu sedang merapihkan peralatannya.
Alice melihat kelima gadis yang baru saja di obati langsung segera keluar dari sana dengan sedikit merapat mendekati dinding mereka perlahan keluar satu persatu.
“Wah sepertinya ada pasien lainnya.” Ucap wanita yang mengenakan dress berwarna peach dan di balut jas sneli di tubuhnya.
“Dok, saya hanya sedikit terluka.” Ucap Namira.
“Baiklah akan saya periksa.” Ucap dokter itu dan memulai memeriksa luka pada tubuh Namira, yang merupakan luka gores dari kuku para gadis itu, dan sedikit lebam pada tubuhnya dan pada cekalan tangan gadis-gadis itu sebelmnya.
“Dokter baru ya? saya baru melihat anda.” Tanya Namira penasaran.
“Iya.. Saya baru bekerja hari ini, nama saya Danita Freya.” Ucap Maya.
“Kamu mengenali semua yang bertugas di UKS? Apakah kamu sering kemari?” Tanya Maya penasaran.
“Emhh ti,,ti,,tidak.” Ucap Namira terbata-bata.
‘Pasti gadis ini sering datang kemari.’ Batin Alice dan Maya bersamaan.
__ADS_1
“Baiklah semunya sudah saya obati, ada yang kalian perlukan lagi?” Tanya Maya.
“Dok Danita, bisakah kami mendpatkan seragam kemeja dan jaketnya jika ada.” Ucap Alice kepada Maya.
“Oh tentu, tunggu sebentar.” Jawab Maya kemudian pergi meninggalkan ruangan itu sebentar. Dan tidak lama wanita itu kembali lagi dengan memeluk sebuah plastic bening yang berisikan kemerja dan jaket sekolah.
“Ini, sepertinya sesuai ukuran tubuh mu.” Ucap Maya dan menyerahkan bungkusan plastic itu kepada Namira.
“Terima kasih Dok Danita.” Ucap Namira dan menerima bungkusan tersebut.
“Sana ganti, itu toiletnya.” Ucap dokter Danita menunjuk sebuah pintu di sudut ruangan itu.
Namira mengangguk dan pergi menuju toilet itu membawa bungkusannya masuk ke dalam kamarmandi itu.
“Entah mengapa aku yakin kelima gadis tadi adalah perbuatanmu.” Ucap Maya sambil sedikit tersenyum.
“Ya, kau benar. Aku sedikit memberi mereka pelajaran agar tidak pernah berani melakukannya lagi. Atau aku akan benar-benar membuat mereka benar-benar kapok.” Ucap Alice.
“Mereka yang mengganggu Namira?” Tanya Maya.
“Aku juga meyakini hal itu. Tapi baru masuk kau sudah buat masalah, tidak takut mereka akan melaporkan mu?” Tanya Maya yang sekarang mulai khawatir.
“Tidak perlu khawatir, mereka sepertinya tidak benar-benar ber*andalan, mereka hanya sombong dan angkuh dan terlalu di butakan oleh cinta. Hadehh baru masuk udah di pusingin sama kisah cinta remaja.” Keluh Alice. Maya yang mendengar keluhan itu terkekeh pelan.
Ceklek.. pintu toilet terbuka di sana tampak Namira sudah mengganti baju kemejanya dan jaketnya, gadis itu menenteng baju kemeja yang sudah koyak itu.
“Emhh iniii..” Ucap Namira Ragu.
“Buang saja, di sana tong sampahnya.” Ucap Maya.
“Ahh baik, untuk biaya seragamnya..” Ucap Namira, namun belum sempat gadis itu menyelesaikan kalimatnya, Maya memotong perkataannya.
“Tidak masalah bawa saja.” Ucap Maya.
__ADS_1
“Terima kasih Dok Danita. Laila ini jaket mu, terima kasih.” Ucap Namira, menyerahkan jaket milik Alice. Alice mengambil jaket itu dan langsung mengenakannya.
“Iya sama-sama. Aku sudah membuatkan surat izin untuk tidak mengikuti kelas selanjutnya untuk kalian berdua saat mengabil seragam tadi. Kalian bisa istirahat di sini jika kalian mau.” Ucap Maya.
“Bolehkah kami pulang dok?” Tanya Alice.
“Tentu saja, kenapa kau tidak enak badan juga Laila?” Tanya Maya.
“Tidak dok, saya mau pindahan ke rumah Namira.” Ucap Alice.
“Namira bolehkan kalau aku tinggal sekarang? Soalnya jika aku menginap di hotel, kalau menunggu beberapa waktu lagi, biaya hotel pasti akan sangat mahal.” Ucap Alice pura-pura sendu.
“Emhh tentu saja Laila.” Ucap Namira menyetujuinya.
“Ahh baiklah kalau begitu, aku akan mengantarkan kalian. Ayoo..” Ucap Maya kepada kedua gadis itu.
Maya mengantarkan Alice ke hotel tempat mereka menginap menggunakan mobilnya. Dan berhenti tepat di depan lobby depan hotel itu.
“Dok, Namira.. Kalian tunggu saja sebentar disini, aku akan segera kembali.” Ucap Alice dan segera beranjak pergi keluar dari kursi duduk tengah penumpang.
“Kau tidak membutuhkan bantuan?” Tanya Namira yang duduk di kursi depan penumpang, namun gadis itu telah pergi menjauhi mobil dan dengan tergesa-gesa masuk ke dalam hotel.
Alice memasukkan alat makeup dan beberapa barang yang dia keluarkan sebelumnya, untunglah semua barangnya tidak dia keluarkan. Sehingga gadis itu dengan cepat sudah merapihkan koper kecilnya.
“Woah Al mau kemana kau?” Tanya Galih berdiri pinggir pintu kamar Alice, memandangi gadis itu yang sedang sibuk mengepak barangnya.
“Aku akan tinggal dengan Namira.” Jawab Alice cepat sambil merapihkan barangnya.
“Secepat ini? woah kau memang selalu bisa di andalkan. Aku pikir setidaknya butuh dua atau tiga hari untuk mu pindah, namun kerjamu benar-benar luar biasa.” Ucap Galih memuji kemajuan dalam misi Alice.
“Hanya kebetulan.. Aku pergi.. Bye..” Ucap Alice dan dengan cepat menarik kopernya keluar kamarnya meninggalkan Galih yang mengekorinya hingga pintu keluar.
“Bye.. waspada selalu.” Ucap Galih mengingatkan saat Alice akan keluar kamar hotel.
__ADS_1
“Tentu.” Ucap Alice sebelum pintu kamar hotel benar-benar tertutup.
Bersambung....