JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Cemburu?


__ADS_3

Keesokan paginya matahari masuk menyinari resort yang mereka tempati. Alice masih bergelung di dalam selimut karena kelelahan. Sedangkan Anton sudah beranjak menuju kamar mandi dan mencuci muka serta menggosok giginya.


Setelah menyelesaikan membersihkan diri, Anton pergi ke dapur dan segera membuatkan sarapan untuk mereka. Pria itu membuatkan sarapan mereka roti bakar dan satu cangkir teh camomile dan secangkir kopi expreso.


Anton menghidangkan semuanya di atas meja makan kemudian pria itu beranjak mendekati kasur di mana Alice masih memejamkan matanya.


"Sayang.. bangunlah dahulu.. sudah pagi.. sarapan dan nanti kau bisa tidur lagi." Ucap Anton membujuk kekasihnya masih dengan menghujaninya dengan kecupan-kecupan di seluruh wajah Alice.


"Emhh..." Ucap Alice dan mulai mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan dengan cahaya matahari pagi yang masuk melalui jendela kamar.


"Sudah pagi ya? yahh aku melewatkan sunrise." Ucap gadis itu sambil duduk berselonjor di kasur dan tampak sedikit sendu.


"Maaf aku tidak membangunkan mu, aku juga ketiduran." Ucap Anton dan merapihkan helaian rambut singa Alice.


"Hemm ya sudah tidak apa." Ucapnya dan beranjak dari kasur menuju kamar mandi.


Alice membersihkan dirinya di kamar mandi dan beberapa saat kemudian gadis itu sudah muncul dengan dress selutut tanpa lengan berwarna kuning.


"Makanlah.. aku menyiapkan roti bakar selai kacang." Ucap Anton dan mendekatkan piring itu dedepan meja tempat duduk Alice.


"Terima kasih. Selama ini kau yang selalu menyiapkan sarapan, aku jadi merasa tidak enak." Ucap gadis itu sedikit tersipu malu.


"Tidak masalah. Aku menyukai aktifitas pagi ku, apalagi saat membangunkan mu." Ucap Anton sambil menaik turunkan alis matanya.


"Ishh kau.. tapi kan tetap saja, aku bahkan tidak melakukan apapun."


"Kau sudah melakukan banyak hal sayang. Terutama membuatku bahagia." Ucap Anton.


"Ishh mulai gombalnya.. masih pagi juga." ketus Alice namun raut wajahnya berubah memerah akibat malu.


"Tidak aku berkata jujur. Lagi pula selama di sini kau kelelahan jadi wajar jika kau bangun siang." Ucap pria itu sambil mengelus lembut rambut Alice saat gadis itu sedang memakan roti bakarnya.


"Aku yang akan mencuci piring dan membereskannya." Ucap Alice saat melihat Anton akan beranjak menuju wastafel cuci piring.


Alice mengambil alih piring beserta gelas kotor milik Anton dan meletakkannya di wastafel setelah gadis itu meletakkan miliknya di dalam wastafel.

__ADS_1


"Tak apa biar aku saja." Ucap Anton dan hendak mengambil alih cucian piring itu.


"Tidak.. aku bersikeras.. kau duduk saja sambil melihat pemandangan di luar." Ucap Alice dan mendorong tubuh bongsor itu keluar dari arah dapur.


"Baik.. baiklah nyonya Anton." Ucap Anton menggoda Alice dan memberikan gadis itu kecupan di pipinya.


Beberapa saat setelah selesai, Alice mendekati Anton yang sedang duduk santai di sofa di teras luar. Pria itu kemudian mengulurkan tangannya mengundang Alice untuk duduk bersamanya saat Alice mulai mendekat kearahnya.


Alice duduk di samping Anton menyandarkan kepalanya di bahu bidang itu. Membiarkan rambutnya tertiup lembut oleh angin laut. Anton melingkarkan tangannya di perut gadis itu, memeluk gadis itu posesif.


"Ini sangat nyaman." Ucap Alice sambil memejamkan matanya. membiarkan cahaya matahari pagi menyinari wajah dan tubuhnya.


"Hemm.. ya ini terasa sangat nyaman saat kau ada di sini juga." Ucap Anton dan mencium pelipis gadis itu. Alice membalikkan wajahnya dan menatap wajah kekasihnya itu. Menatap dengan penuh pemujaan lambat laun Anton mendekatkan bibirnya ke bibir tipis milik gadis itu, kemudian tidak berapa lama Anton dan Alice berciuman panas di teras luar sana.


Setelah merasa ini akan berlanjut, Anton segera mengangkat tubuh gadis itu dan beralih ke dalam kamar mereka dan melakukan aktifitas pagi yang membara.


***


Sedangkan di sisi lain..


"Baiklah saat ini sudah sampai di sini saja. Aku banyak berharap kepada mu Maya." Ucap Roy kepada wanita itu.


"Baik Pak." Ucap Maya hormat.


"Baiklah kalian bisa bubar." Ucap Roy mengahiri sesi rapat mereka.


Maya hendak keluar dari ruangan itu dan ternyata Juna juga akan beranjak pergi dari sana.


"Kau mau kemana Broo?" Tanya Roy bingung. Biasanya mereka akan menghabiskan waktu di ruangan itu membahas hal yang lainnya atau bahkan sekedar bercanda bersama.


"Makan siang." Ucap Juna asal, pasalnya memang ini sudah melewati jam makan siang, namun karena rapat belum selesai, mereka menunda makan siangnya.


"Loh.. bukannya biasanya makan di sini bersama kita?" Sekarang giliran Galih yang bingung dengan tingkah pria itu.


"Bosan.. aku ada urusan juga.. aku pamit ya.. bye." Ucap pria itu membalikkan tubuhnya dan melambaikan tangannya ke atas.

__ADS_1


Pria itu segera melihat kesekitar melihat kemana Maya pergi. Saat melihat wanita itu akan berjalan tak jauh menuju lift, Juna segera lari mengejar wanita itu.


"Kau mau kemana?" Tanya Juna saat bisa mensejajari langkah wanita itu. Maya melirik kesamping dan melihat ternyata Juna yang bertanya, namun belum sempat wanita itu menjawab pertanyaan dari Juna, suara deringan ponselnya berbunyi. Ada sebuah notifikasi pesan masuk ke dalam ponsel.


💌 Aku butuh bantuan mu.


Isi pesan itu dari nomer Widi pria yang membantunya waktu itu. Maya pernah berjanji akan melakukan apapun untuk membantu pria itu. Sepertinya sekaranglah pria itu membutuhkan bantuannya. Maya dan Juna memasuki lift.


"Hei.. aku bertanya padamu. Kau mau kemana? mau makan siang bersama?" Tanya Juna lagi. Melihat Maya hanya diam memandangi ponselnya.


Belum sempat Maya akan menjawab pertanyaan Juna, deringan ponselnya kini berbunyi kembali. Namun saat ini bukan pesan notifikasi tapi sebuah panggilan telepon dengan ID Widi.


📲 Maya melihat notifikasi itu dan kemudian menggeser tobol hijau dan kemudian menjawab panggilan itu.


📞 "Ya Wid.." Ucap Maya saat telepon itu tersambung. Juna yang masih berada di samping wanita itu mengerutkan keningnya dan mulai mengepalakan tangannya saat tahu siapa yang sedang menelepon Maya itu.


📞 "Aku sudah baca pesan mu.. Lalu?" Ucap Maya lagi.


'Ha? Apa? pria itu mengirimi Maya pesan? pesan apa? apakah mereka sedekat itu saling mengirimi pesan dan bahkan sekarang bertelepon ria?' Tanya Juna di dalam hatinya.


📞 "Ahh baiklah kalau begitu.. di mana alamatnya.. share lokasinya." Ucap Maya lagi dan kemudian mematikan ponselnya.


Juna yang melihat itu makin mengeratkan kepalan tangannya. Jangan bilang mereka akan makan siang bersama, isi batin Juna.


"Ahh maaf tadi apa yang kau bilang?" Tanya Maya saat wanita itu sudah menyimpan ponselnya di sakunya.


"Kau mau kemana? bagaimana jika kita makan siang bersama?" Tanya Juna dengan penuh harap. Dia benar-benar berharap Maya mau menemaninya makan siang bersama dan membatalkan ajakan makan siang bersama pria yang baru di kenal wanita itu.


"Ahh maaf lain kali saja mungkin.. aku sudah ada janji. Aku duluan ya." Ucap wanita itu dan beranjak keluar dari lift lantai dasar dan menuju lobby.


Juna tidak membiarkan wanita itu pergi sendiri, pria itu memutuskan mengikuti wanita itu hingga lobby.


Saat wanita itu tampak akan memasuki sebuah taksi online, Juna juga memutuskan menuju mobilnya yang tidak jauh di parkir di depan lobby.


"Aku tidak akan membiarkan mu berduaan saja dengan pria itu." Ucap Juna sambil mencengkram erat kemudi mobil kesayangannya itu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2