
Maya dan Widi pergi mendekati meja Alice dan Anton. Mereka tidak menyadari kehadiran Juna yang berjalan mengikuti mereka.
“Bu Alice Pak Anton saya sepertinya undur diri terlebih dahulu, ada sesuatu yang harus saya kerjakan.” Ucap Maya pamit lebih dahulu di acara itu.
“Ahh begitu, baiklah kalau begitu. Lalu kau akan pulang dengan siapa?” Ucap Alice sedikit khawatir.
“Aku akan mengantarkannya pulang.” Ucap Widi tenang. Semua yangnada di meja melihat ke arah pria itu, bukankah mereka baru saja kenal, dan Widi sudah berinisiatif mengantarkan Maya.
“Tidak perlu, Aku yang akan ,mengantarnya pulang. Lagi pula aku ada keperluan searah dengan jalan menuju ke rumahnya.” Ucap Juna yang tiba-tiba menyahut saat Widi baru saja selesai berbicara. Widi dan Maya meloleh ke belakang punggung mereka yang ternyata Juna benar-benar berdiri tepat di belakang mereka.
“Ahh, Pak Juna tidak perlu.. Saya akan di antar oleh Widi.” Ucap Maya tanpa panggilan embel-embel apapun. Hal itu membuat Juna sedikit kesal karena jika kepadanya dia selalu saja masih menyebutnya ‘Pak’ sedangkan dengan orang yang baru di kenal dia langsung menyebut namanya saja.
“Aku memaksa.” Ucap Juna sedikit ketus. Semua yang ada di meja itu menatap ke arah Juna yang sepertinya dalam mood yang tidak baik. Widi bersitatap dengan Juna, namun pandangan mata Juna tidak bersahabat kepadanya. Entah mengapa Widi sepertinya dia tahu maksud dari pria itu.
“Ah baiklah kalau begitu. Maaf merepotkan.” Ucap Maya sedikit canggung. Gadis itu tidak mengerti ada apa dengan pria itu.
“Baiklah jika begitu. Aku akan melanjutkan mengobrol dengan kalian.” Ucap Widi dan mulai duduk di meja bundar itu.
“Aku duluan Al, Anton, Roy, Galih.” Ucap Juna dan dia mengabaikan Widindengan begitu saja berjalan memegang bahu Maya menuntunnya meninggalkan mereka. Sedangkan Maya hanya menganggukkan kepalanya tanda memberi hormat kepada orang-orang di meja itu sebelum benar-benar pergi menjauh.
“Ada apa dengan mu hari ini.” Kesal Maya dan menggoyangkan kedua bahunya untuk melepaskan pengangan Juna pada bahunya. Namun Juna jadi beralih merangkul bahu Maya dengan satu tangannya.
“Apa yang kau lakukan?” Tanya Maya semakin jengkel.
“Jangan banyak bicara. Aku ada keperluan di daerah sana. Biar sekalian saja, lagi pula aku malas mengemudi sendiri.” Ucap Juna dan mendekati pintu lift dan menekan tombol B untuk parkir basement hotel itu.
“Masuklah.” Ucap Juna lagi mendorong tubuh Maya untuk memasuki lift. Maya menurut masuk ke dalam lift dan berdiri agak jauh dari pria itu. Seorang pria yang baru saja masuk dalam lift, sepertinya pria itu sedikit mabuk. Pria itu berdiri di samping Maya yang berdiri di tengah kedua pria itu. Juna dengan protektifnya menarik Maya untuk berada di sisi lainnya sehingga Juna berada di tengah keduanya.
Sepanjang turun menuju lantai basement mereka hanya berdiam diri saja. Pria yang sebelumnya turun bersama mereka sudah keluar saat di lantai 1.Tadinya Maya akan keluar mengikuti pria asing itu turun di lantai 1, namun tangannya di tarik oleh Juna sehingga gadis itu tetap bersamanya di dalam lift hingga menuju lantai basement.
“Ada apa dengan mu. Kau menyebalkan sekali malam ini Juna.” Kesal Maya. Namun entah mengapa itu malah terdengar baik di telinga Juna, karena gadis itu menyebutkan namanya tanpa ada embel-embel apapun dan pria itu pun tersenyum singkat.
“Apa kau sedang sakit? Mengapa senyum-senyum sendiri.” Ucap Maya mulai jengah dengan kelakuan Juna.
“Masuklah.” Ucap Juna saat mendekati mobilnya dan membukakan pintu penumpang di samping pengemudi. Maya hanya mendengus kesal dan masuk ke dalam mobil itu.
Juna mengemudikan mobilnya perlahan keluar basement hotel itu dan kemudian membelah jalanan raya malam itu yang lenggang.
***
Sedangkan di dalam ballroom.
“Al, Anton sepertinya kami juga pamit.” Ucap Roy dan di angguki Galih setelah beberapa waktu yang lalu mereka banyak berbincang-bincang.
__ADS_1
“Aku juga.. aku akan balik ke kamar ku.” Ucap Widi. Setelah itu mereka bertiga meninggalkan ballroom itu. Memang hampir semua tamu undangan sudah pamit pulang kepada mereka tadi.
“Al, kita juga balik ke kamar yuk. Aku juga sudah lelah.” Ucap Anton sedikit senyum jahil kepada Alice.
“Apakah tidak apa meninggalkan mereka?” Tanya Alice menunjuk dengan dagunya ke arah meja Bram dan Lidia yang masih ada beberapa tamu undangan di sana.
“Tidak apa. Itu beberapa teman ayah dan om ku saja.” Ucap Anton dan mereka hendak pergi meninggalkan meja itu. Belum sempat mereka akan pergi meninggalkan meja itu, Lidia menghampiri meja Alice dan Anton.
“Kalian mau kemana?” Tanya Lidia bingung.
“Kami sudah lelah Bu, aku akan kembali ke kamar bersama Alice.” Ucap Anton dan akan menuntun Alice untuk pamitan kepada ayahnya, namun di hentikan Lidia.
“Kau temani ayah mu mengobrol bersama sahabat dan om mu. Biar ibu yang menemani Alice ke kamarnya. Ibu juga akan pergi ke kamar.” Ucap Lidia.
“Apa? Buu.. aku sudah lelah..” Ucap Anton memelas, pasalnya pria itu sudah sangat rindu kepada Alice, masa dia harus menemani para pria itu, nanti yang ada tidak bisa berduaan dengan Alicenya.
“Ibu tahu apa yang sedang kamu pikirkan. Sana pergi temani Ayah. Ibu dan Alice akan istirahat.” Ucap Lidia final.
“Huhh baiklah.” Ucap Anton lemas dan bergegas menghampiri para tetua itu, Alice yang melihat itu hanya mengulum senyumnya.
“Ibu mengerti pikiran Anton. Ibu bukan wanita kolot, namun ibu tahu kau pasti kelelahan seharian ini, ibu tidak ingin dia mengganggu istirahat mu.” Ucap Lidia dan merangkul Alice saat berada di dalam lift menuju kamar mereka.
“Ahh ibu,, itu..” Ucap Alice terbata-bata.
“Iya ibu.” Ucap Alice akhirnya.
“Masuklah Nak.” Ucap Lidia saat sudah sampai di depan kamar hotel Alice. Setelah Lidia memastikan Alice sudah masuk ke dalam kamarnya, Lidia pun bergegas pergi ke kamarnya untuk beristirahat.
***
Keesokan paginya…
Tok tok tok suara ketukan terdengar dari luar pintu kamar Alice. Gadis itu baru saja selesai mandi dan berpakaian saat suara ketukan itu terdengar. Alice menghampiri pintu dan melihat siapa yang mengetuk pintu. Dilihatnya Anton sudah berdiri di depan pintu. Gadis itu langsung membukakan pintu untuk kekasihnya itu.
“Pagi cantik.” Sapa Anton saat pintu terbuka.
“Pagi tampan..” Jawab Alice manis.
“Sudah siap? Sarapan bersama yuk, ibu dan ayah sudah ada di restoran hotel.” Ucap Anton.
“Ahh iya aku sudah siap, yuk.”
Mereka berdua pergi menururuni lift dan berjalan menuju restoran hotel.
__ADS_1
"Pagi ibu ayah." Sapa Alice saat bertemu dengan Lidia dan Bram di meja itu.
"Pagi Nak." Jawab Lidia dan Bram bersamaan.
"Pagi kak Alious kak Amanda, kak Axel kak Sisilia." Ucap Alice.
"Pagi Alice Anton.. duduklah." Ucap Amanda dan yang lainnya. Kemudian Alice dan Anton duduk di samping Ayah mereka.
"Ah ya Alice Anton. Untuk pernikahan, apakah kalian tidak keberatan jika acaranya di adakan bulan ini?" Tanya Lidia saat mereka mulai sarapannya.
"Aku tidak masalah Bu, lebih cepat lebih baik." Jawab Anton.
"Bagaimana dengan mu Nak?" Tanya Lidia langsung kepada Alice.
"Aku juga tidak ada masalah Bu. Hanya saja mungkin untuk bulan ini aku akan sibuk untuk mengurus pekerjaan ku dahulu, jadi mungkin..." Ucap Alice, namun belum selesai gadis itu berbicara, Amanda sudah memotong ucapan gadis itu.
"Apakah kau takut tidak bisa mengatur waktu kerja mu dan persiapan pernikahan?" Tebak Amanda.
"Iya kak. karena kemungkinan aku akan berada di luar kota." Ucap Alice sedikit sendu.
"Tidak perlu kau pikirkan kan di sini ada tiga wanita." Ucap Sisilia mengambil inisiatif untuk membantu Alice.
"Tapi itu pasti akan merepotkan kalian." Ucap Alice tidak enak hati.
"Untuk itu tidak masalah. kita bisa komunikasi via video call. kau tenang saja. kita bertiga akan membantu mu." Ucap Amanda.
"Benar itu bukan masalah besar. namun apakah ada tanggal yang kau inginkan atau hal lainnya? biar kami aturkan untuk mu." Tanya Lidia.
"Tidak ada Bu.. aku mengikuti pengaturan kalian saja." Ucap Alice tersenyum.
"Baiklah kita akan mulai mempersiapkannya besok. Kalian bisakan Amanda, Sisilia?" Tanya Lidia kepada kedua menantunya.
"Bisa Bu.." Ucap keduanya.
"Baiklah kalau begitu. Berarti satu sudah selesai di putuskan. Dan hal selanjutnya. Ini.. untuk kalian.." Ucap Lidia menyodorkan dua buah tiket kepada Alice dan Anton di atas meja makan itu.
"Apa ini Bu?" Tanya Anton bingung.
"Aku tahu kalian membutuhkan refresing. Ibu dan yang lainnya setuju untuk memberikan kalian liburan selama 3 hari." Ucap Lidia dan yang lainnya ikut tersenyum bahagia.
"Ha? Maldives? serius?" Ucap Anton tak menyangka hadiah dari keluarganya.
"Ya.. kami tau kau menginginkan itu bukan.. pergilah.." Ucap Bram dan Alious tertawa bersama melihat kekonyolan Anton yang tertawa senyum senyum sambil memegang tiket itu.
__ADS_1
Bersambung....