
Pria itu kemudian mengambil tas yang sedaritadi di gendongnya dan mengeluarkan senjata laras panjang dari dalam tas itu. Pria itu memastikan semuanya sudah siap seperti bidik teleskop, bipod, peredam suara, penyembunyi kilatan dan lain-lain kemudian dia mulai mencondongkan senapan runduk dan mengunci targetnya.
Pria itu menargetkan kepala Bintang dan kepala gadis itu sudah berada di dalam bidikkannya di dalam teleskop.
Ploppp
Dengan sekali tembakan, Bintang jatuh terkulai ke belakang yang segera di tahan oleh para petugas yang kaget akan terkulainya tubuh Bintang yang mengeluarkan darah pada pelipisnya dan dengan sigap para penjaga mengedarkan pandangannya untuk mencari siapa si penembak itu.
“Penyusup. Sisir semua lokasi sepertinya dia dari gedung di sana.” Tunjuk salah seorang petugas dari RJP.
Sniper itu segera memasukkan senapan laras panjangnya ke dalam tasnya kembali dan menyalakan motornya dan segera pergi dari sana dengan kecepatan tinggi.
Brummmmmm
Suara motor sport berwarna hitam tanpa plat motor keluar dari gudang di ujung sana dengan kecepatan tinggi, helm yang di gunakan full face dan kecepatan mengemudinya membuat mereka tidak bisa melihat pelaku ataupun melacak kemana pria itu pergi. Apalagi untuk memberikan tembakan peringatan atau tembakan untuk menghentikan kendaraan itu, mereka kehilangan penembak itu begitu saja.
“Gadis ini masih bernafas Pak.” Ucap salah seorang petugas sesaat setelah penembakkan itu terjadi.
“Sial, cepat bawa gadis itu ke rumah sakit segera.” Ucap kapten tim regu penyergapan itu dan Bintang segera di bawa ke dalam mobil ambulance yang tidak jauh dari sana dan dia di larikan ke rumah sakit untuk segera melakuakan pertolongan.
“Dia sudah melarikan diri Pak kami kehilangan jejaknya.” Lapor salah seorang petugas yang memeriksa keadaan di gedung sebelah itu.
“Amankan para tawanan dan segera sisir semua dan cari barang bukti.” Perintahnya kepada anak buahnya.
“Baik Pak.” Ucap mereka dan melakukan tugasnya.
***
Di lain gedung pencakar langit di Negara X
“Sial.. dasar wanita ******* tak tahu diri. Beraninya dia menipuku. Kau pantas mendapatkannya.” Kesal seorang pria berusia 50an, namun wajah dan postur tubuhnya tampak jauh lebih muda dan bugar. Dia baru saja menutup telponnya dan menghempaskan berkas dan barang-barang yang ada di atas mejanya, bahkan memecahkan gelas yang berada di atas meja kerjanya itu membuat berantakan ruangannya.
__ADS_1
“Wah wah apa yang membuat mu kesal sayang.” Ucap seorang wanita berumur 50an juga namun masih tampak sehat dan bugar. Wanita itu mengenakan dress merah selutut pas badan dan tubuh yang masih proposional dengan makeup yang membuatnya tampak jauh lebih muda.
“Mereka sedang melakukan penyergapan di gudang tua itu dan para anak buah bodoh ku itu tertangkap begitu saja.” Kesal pria itu.
“Hanya masalah kecil seperti itu membuatmu sekesal itu sayang? Bukankah meski mereka tertangkap, mereka juga tidak bisa mengungkapkan dalang di balik semua ini.” Tanya wanita itu.
“Aku tidak mengkhawatirkan itu sayang.” Ucap pria itu.
“Lalu apa sayang?”
“Wanita ******* tak tahu di untung itu tidak menuruti perintahku untuk menyingkirkan seorang gadis.” Jelas pria tua itu.
“Apa maksudmu?” Tanya wanita itu bingung.
“Kau lihatlah.” Ucap pria itu sambil menunjuk sebuah foto di atas meja dengan menggunakan dagunya. Lalu pria itu berbalik menuju jendela yang memperlihatkan pemandangan gedung-gedung tinggi dan jalanan yang ramai meski sudah malam hari.
“Apa ini sayang…” Ucap wanita itu dan mengambil sebuah foto dari atas meja kerja dan mulai memperhatikan foto itu.
“Ya.. aku menyuruh wanita ******* itu membunuhnya, namun mereka malah melepaskannya. Aku harus menemukan gadis itu lagi dan menyingkirkannya bagai manapun caranya.”
“Kau harus segera menyingkirkannya sayang.. harus..” Ucap wanita tua itu tak kalah keji.
Flashback Off
***
Di Negara A kota A..
“Apa yang terjadi kak?” Tanya Alice penasaran dengan keberadaan Bintang.
“Apakah gadis itu melarikan diri?” Lanjutnya lagi.
__ADS_1
“Jika begitu lebih mudah untuk kita menemukannya Al. Namun kenyataannya gadis itu masuk rumah sakit dan dia dalam keadaan koma.” Jawab Juna.
“Apa? Bagaimana bisa? Apa yang terjadi kak?”
“Seorang sniper menembaknya saat penangkapan terjadi. Jika seperti yang kau katakan, dia bisa membantu kita menemukan dalang yang sebenarnya, maka sang dalang menginginkan kasus ini di tutup hanya dengan Bima yang menjadi orang yang bertanggung jawab dalam kasus ini.” Jelas Juna.
“Astaga.. bagaimana ini, kita sudah melakukannya sejauh ini. Bagaimana bisa dalang yang ada di belakangnya tidak bisa tertangkap juga.” Ucap Alice geram.
“Kita coba bicarakan ini dengan Galih dan Roy lagi. Siapa tahu mereka menemukan perkembangan yang baru untuk kasus ini.” Ucap Juna.
“Baik kak.” Ucap Alice dan mengikuti Juna keluar dari ruangannya menuju ruang kerja Galih.
Mereka menyusuri lorong dan tiba di ruang Galih bersamaan dengan Roy yang akan masuk juga ke ruangan Galih.
“Ahh kalian juga punya info terbaru, masuklah juga.” Ucap Roy dan langsung membuka pintu itu dan kemudian masuk begitu saja ke ruangan Galih.
Galih masih berkutat di depan layar besar miliknya dengan serius, pria itu tidak menyadari kehadiran ketiga rekannya itu.
“Gal kita sudah di sini, sudah pada kumpul nih. Ada info terbaru?” Ucap Roy kepada Galih.
“Ahh, tunggu sebentar ya.” Ucapnya baru sadar ternyata ada seseorang di dalam ruangannya dan dia segera menyelesaikan tugasnya dahulu. Kemudian dia beranjak dari kursinya dan bergabung duduk di sofa bersama dengan Roy, Juna dan Alice.
“Aku baru menyadari ucapan Jessy, bahwa kemungkinan yang mengetahui siapa ‘Bos Besar’ hanyalah Bintang.” Ucap Alice membuka percakapan itu.
“Al benar. Setelah aku menerima telpon dari Iqbal kapten tim keamanan, Bima dan Banyu hanya di perkerjakan olehnya dan hanya menerima semua perintah dari Bintang. Kedua pria itu tidak pernah bertemu, bahkan berhubungan langsung dengan bos besar itu pun tidak pernah sekalipun. Semuanya melalui Bintang.” Jelas Juna.
“Aku juga sudah meretas kedua telpon yang di miliki kedua pria itu, di dalamnya tidak ada informasi pernah terhubung dengan bos besar, mereka berdua hanya berhubungan dengan para pelanggan dan korban saja. Di ponsel Bintang, dia terhubung dengan beberapa Nomer tak bernama, terdapat pesan suara maupun pesan teks yang bisa kita jadikan bukti. Namun semua Nomer itu adalah Nomer tak terdaftar jadi kita mengalami kesulitan.” Ucap Galih.
“Akupun mendapatkan hal yang sama, dari pihak CIA masih belum mengetahui di mana dan siapa saja yang terhubung dengan ‘Bos Besar’ itu, ada kemungkinan kasus ini terselesaikan begitu saja dengan bukti yang memberatkan Bima dan Banyu sebagai dalang dan kaki tangannya.” Ucap Roy juga ikut frustasi.
Bersambung....
__ADS_1