JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Kehangatan Keluarga


__ADS_3

“Apakah kau yakin gadis itu anak yang baik Nak? Benarkah dengan keputusan mu itu?” Tanya ibunya lagi.


“Alice anak yang baik Buu.. bahkan dia anak yang sopan.. Ibu apakah sebelumnya ibu pernah melihatnya atau bertemu dengannya? Mengapa ibu berpikiran demikian? Dan ibu tampak syok saat bertemu dengan Alice tadi. Ada apa Bu?” Tanya Anton mencoba mencaritahu dengan apa yang sedang di pikirkan oleh ibunya itu.


“Tidak Nak, ibu belum pernah melihatnya atau bertemu dengannya.” Ucap Lidia gugup.


“Ibu hanya kelelahan saja. Jadi tidak sengaja menjatuhkan mangkuk itu.” Lanjut Lidia berbohong.


“Ibu, apa yang sebenarnya terjadi. Tidak biasanya ibu seperti ini.” Tanya Anton tetap pada pertanyaannya.


“Tidak ada Nak, ibu hanya memastikannya saja. Baguslah kalau kamu mau menjalankan hubungan dengan serius. Bukan umurmu lagi kalau kamu mau main-main. Sudah yuk kita ke ruang makan, mereka pasti sedang menunggu kita.” Ucap Lidia mengalihkan pembicaraan dan segera beranjak pergi dari sana.


Anton dan Lidia memasuki ruang makan, dan melihat Alice beserta semua orang di dalam ruangan itu sedang berbincang-bincang. Anton segera duduk di samping kekasihnya itu.


“Maaf dengan kejadian tadi Nak Alice, kamu pasti terkejut. Ibu hanya kelelahan. Maaf jadi menunda makan malam kita.” Ucap Lidia saat baru saja duduk di kursi di samping suaminya itu.


“Tidak apa-apa Nyonya.” Ucap Alice cepat.


“Jangan panggil Nyonya, panggil saja Ibu, sama seperti Anton memanggil kami. Benarkan sayang?” Tanya Lidia ke Bram suaminya.


“Iya benar Nak Alice.. mulai saat ini kami adalah keluarga mu. Kamu bisa memanggil kami seperti Anton memanggil kami.” Ucap Bram.


“Baik Ayah Ibu..” Ucap Alice dengan mata yang sedikit mengkabut, gadis itu terharu atas penerimaannya kedalam keluarga itu. Padahal dirinya bukanlah apa-apa ataupun siapa-siapa. Alice sangat bersyukur dengan keadaannya saat ini. Anton yang duduk di sampingnya melihat mata kekasihnya yang mulai mengkabut, menggenggam tangan gadis itu di atas meja.


“Semua baik-baik saja kan sayang. tidak ada yang perlu kamu khawatirkan.” Bisik Anton kepada kekasihnya dan menggenggamnya lengannya dengan erat.


“Emhh.. terima kasih..” Bisik Alice sambil tersenyum bahagia.


“Baiklah mari semuanya kita mulai makan.” Ucap Bram kepada seluruh anggota keluarganya.

__ADS_1


Mereka semua mulai memakan makanan yang di hidangkan di atas meja makan itu. Mereka makan dengan tenang, hingga mereka menyelesaikan makan dan Sambil sesekali berbicara dan bercengkrama mengenai hal remeh.


Alice menghabiskan sisa malamnya berbicara bersama kakak ipar Anton dan ibu Anton. Bahkan berencana membuat cookies bersama di kesempatan berikutnya. Kemudian gadis itu berpamitan untuk pulang karena sudah larut malam dan di antarkan oleh Anton hingga rumahnya.


“Bagaimana? Apakah kau sudah agak tenang setelah bertemu dengan mereka?” Tanya Anton saat sudah tiba di parkiran depan rumah Alice.


“Ya.. aku merasa di terima di sana. Terima kasih karena telah mencintai ku, dan terima kasih karena mengizinkan ku untuk mengenal mereka.” Ucap Alice dengan wajah tersenyum bahagia dengan mata yang sedikit mengembun. Anton yang melihat itu menarik Alice kedalam pelukannya dan mengusap lembut rambut gadis itu.


“Aku bahagia jika kamu bahagia.. teruslah bahagia karena kebahagiaan mu adalah kebahagiaan ku juga.” Ucap Anton masih mengusap rambut gadis itu kemudian mengecup puncak kepala gadis itu.


Saat melepaskan pelukannya, Anton melihat lelehan air mata membasahi kedua pipi Alice.


“Terima kasih Anton.. sungguh.. aku merasa sangat bahagia malam ini.. limpahan kasih sayang dari keluargamu, setiap perhatian dan kasih sayang mu.. aku benar-benar merasa terberkati dengan keberadaan orang-orang yang menyayangiku di sekeliling ku.” Ucap Alice tersenyum bahagia.


“Astaga… ternyata kekasih ku ini sangat melankolis ya di balik sikapnya yang tangguh selama ini.” Goda Anton untuk menghentikan tanggisan bahagia dari kekasihnya itu.


“Ihh kamu nyebein ahh.. au ahh.. sana pulang.. aku mau masuk.” Kesal gadis itu dan memilih untuk turun dari mobil pria itu.


“Tentu saja aku tidak akan mengizinkan mu menginap. Sana pulang.” Ucap gadis itu pura-pura ketus.


 “Baiklah. Kau masuk sana. Aku akan pergi setelah melihat kepergian mu.” Ucap Anton.


Alice beranjak pergi meninggalkan mobil Anton yang masih terparkir di depan halaman rumahnya itu, kemudian gadis itu menaiki tangga dan membuka pintu rumahnya. Gadis itu sempat melambaikan tangannya kearah Anton sebelum beranjak masuk ke dalam rumahnya.


Anton memilih pulang ke kediaman utamanya, karena besok merupakan hari liburnya. Pria itu merasakan lelah di sekujur tubuhnya dan terlelap setelah mandi, berganti pakaian dan merebahkan tubuhnya di atas kasur yang beberapa minggu ini dia tinggalkan.


***


Keesokan harinya…

__ADS_1


Tok tok tok..


“Nak.. bangun sudah siang..” Ucap Lidia ibu Anton dari balik pintu..


“Hmmm..” Anton bergumam kemudian  beranjak dari tempat tidur dan membukakan pintunya.


“Ada apa Bu?” Tanya anton ketika membuka pintu dan melihat ibunya sudah cantik dengan dress berwarna kuning.


“Ibu ingin menemui teman ibu, bisakah kamu mengantarkan ibu?” Tanya Lidia.


“Bukankah ibu bisa minta tolong supir? Mengapa harus aku?” Tanya Anton bingung.


“Kau kan jarang sekali pulang ke rumah, ibu hanya merindukan mu. Jadi ibu mengajakmu untuk sekalian menemani ibu. Lagipula kau kan tidak ada kegiatan hari ini kan? Jadi apa salahnya menemani ibu?” Pinta Lidia.


“Baiklah, aku akan bersiap-siap dahulu. Ibu tunggu di bawah saja.” Ucap Anton dan segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri dan bersiap-siap.


“Aku sudah siap Bu.. Ibu sudah siap?” Tanya Anton yang baru saja turun dari atas dengan mengenakan T-shirt berwarna abu-abu pas tubuh dan mengenakan celana jeans.


“Wahh tampannya anak ibu. Tapi nak bisakah mengenakan kemeja saja. Kau seperti akan bermain saja.” Ucap ibunya mengeluhkan gaya berpakaian Anton.


“Loh memang kita akan kemana? Lagi pula aku kan hanya menemani ibu menemui teman ibu kan? Untuk apa aku menggunakan kemeja?” Tanya Anton makin bingung.


“Gunakan yang semi casual saja. Kita pergi ke restoran rekan bisnis ibu.” Ucap Lidia cepat.


“Baiklah.” Ucap Anton bingung namun tetap pergi ke atas mengganti pakaiannya dengan kemeja lengan pendek semi casual berwarna hitam.


“Nah begitu baru lebih baik. Yuk langsung berangkat, sudah di tunggu.” Ucap Lidia saat melihat anak bungsunya turun dari lantai atas.


Anton dan Lidia memasuki sebuah restoran mewah bintang 5, semuanya di dekorasi dan tatanan meja sedemikian rupa hingga sangat memanjakan mata yang memandang.

__ADS_1


“Jeng Lidia..” Ucap seorang wanita paruh baya yang seumuran ibunya itu datang menghampiri mereka bersama seorang wanita muda.


Bersambung....


__ADS_2