
"Terima kasih untuk semuanya Bagas.. Aku akan pergi ke luar kota untuk check up kondisi ku setelah oprasi. Ku mohon bantu aku menjaga Anton." Ucap Lidia dan Bagas menyanggupinya.
"Baiklah aku akan pergi sekarang." Ucap Lidia dan meningalkan rumah sakit Healty Centre itu.
"Ayo kita ke kota X." Ucap Lidia kepada supir itu.
"Baik Nyonya." Pak Joko mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang menuju ibu kota X itu. Beberapa kali pulang pergi dari pinggiran kota S ke kota X membuatnya tahu jalur mana yang membuatnya lebih cepat sampai. Bahkan tidak terasa 3 jam saja mereka melewati perjalanannya.
"Pak Joko silahkan istirahat di rumah.. jika saya membutuhkan bantuan bapak saya akan menghubungi bapak seperti biasa." Ucap Lidia dan di angguki pak Joko.
Pak Joko merupakan supir yang di pekerjakan Lidia yang tinggal di kota X untuk keperluannya berpergian kesana kemari saat berada di kota itu. Untuk perawatan kesehatannya selama dia sakit hingga dia melakukan oprasi pengangkatan rahim. Namun siapa sangka keputusannya memilih supir pribadi di negara itu malah sangat membantunya hingga sampai mau mengantarnya ke pinggiran kota S.
Seperti biasa rumah sakit itu masih di penuhi oleh orang-orang berbaju hitam yang bertubuh tegap dengan otot lengan dan dada yang besar. Lidia seperti biasa masuk ke ruang informasi menyatakan bahwa dia memiliki janji dengan dokter Markus. Namun kenyataannya dia malah masuk ke ruang rawat Adeliana.
"Sore cantik.. merindukan tante?" Tanya Lidia menghampiri ranjang Adel dan mengusap lembut rambut gadis itu.
"Maaf tante meninggalkan mu beberapa hari.. tante harus mengurus beberapa hal dahulu.. Bagaimana keadaan mu sekarang?" Tanya Lidia lagi.
Meski tahu tidak akan ada jawaban, namun Lidia selalu berharap gadis itu mau menjawab pertanyaannya atau bahkan hanya untuk menggerakkan jari jemari kecilnya.
"Apakah kau bermimpi sangat indah sampai kau tidak mau berkenalan dengan tante?" Tanya Lidia lagi berusaha mengajak berbicara Adeliana. Namun tetap hanya suara dari mesin monitor dan ventilator serta tetesan dari tabung infus.
Lidia tetap mengajak berbicara banyak hal kepada Adel, bahkan hanya untuk membicarakan mengenai hal konyol sekalipun. Hingga satu jam dia berada di ruang rawat itu dan setelah itu berpamitan pergi untuk pulang ke apartemennya di kota itu.
Tidak terasa satu bulan telah berlalu dari saat kejadian kecelakaan itu. Lida sering mondar mandir negara A dengan negara X. Bahkan selalu lama berada di kota X hanya untuk menjenguk dan menemani gadis kecil itu. Hingga pada suatu malam saat dia hendak pulang setelah berbicara dengan Adel tiba-tiba seseorang masuk ke dalam kamar itu.
"Kau masih selalu setia menemani nona kecil hampir setiap hari. Aku kagum akan kegigihan mu." Ucap seorang pria mengenakan snelinya.
"Aku hanya berharap dia bisa membuka matanya suatu hari nanti." Ucap Lidia santai.
"Aku membutuhkan bantuan mu." Ucap dokter pria itu.
"Bantuan ku? apa?" Tanya Lidia penasaran.
__ADS_1
"Bawa gadia ini pergi dari sini malam ini juga." Ucap dokter itu gila.
"Ha? apa maksud mu? Bagaimana mungkin aku memindahkannya jika dia saja tidak sadar. Dia bisa mati di jalan." Ucap Lidia sedikit emosi.
"Jika dia masih di sini, malah dia akan mati." Ucap dokter itu dengan tatapan mengintimidasi.
"Aku akan membantu mempersiapkan alat yang bisa di bawa. Siapkan mobil mu dan buka kursi bagian belakang dan tengah. Aku akan memasukkan beberapa alat yang di butuhkan sehingga meminimalisir resiko bahaya untuknya." Ucap dokter itu.
"Tapi..." Ucap Lidia khawatir ini akan membahayakan anak kecil itu.
"Aku tidak punya pilihan selain ini. Aku tidak bisa melindunginya, maka aku harus menjauhkannya dari negara ini. Aku membutuhkan bantuan mu. Dan aku percaya kau akan melakukan yang terbaik." Ucap dokter itu.
"Ba.. Baiklah.." Ucap Lidia dan menyanggupi keinginan dokter gila itu.
Mobilnya sudah di modifikasi sehingga bagian tengah dan belakangnya luas. Dokter itu juga memasukkan monitor kesehatan, ventilator portable, tabung oksigen dan peralatan penunjang lainnya yang di butuhkan oleh gadis kecil itu.
"Semuanya sudah di siapkan.. ayo bawa gadis kecil ini. Ucap dokter itu dan membawa brankar menuju mobil Lidia di parkir. Namun anehnya tidak ada seorangpun penjaga atau perawat yang melewati jalannya saat ini. Bahkan penjaga berbaju hitam pun tidak terlihat saat mereka sudah berada di luar untuk memasukkan Adel ke dalam mobil itu.
"Semuanya berfungsi dengan baik. Jangan terlalu banyak guncangan. Hati-hati di jalan. Aku titip anak ini." Ucap dokter itu sedikit sendu.
"Tapi bukankah kau akan kesulitan jika dia hilang?" Tanya Lidia.
"Tidak akan. Aku sudah merencanakan semuanya. Ini berkas anak itu. Berikan kepada dokter yang akan menanganinya nanti." Ucap dokter itu sambil memberikan sebuah berkas kepada Lidia.
"Siapa nama anak ini?" Tanya Lidia bingung. Pasalnya di bednya pun tidak di cantumkan nama anak kecil itu. Bahkan Lidia tidak tahu dari keluarga mana gadis kecil itu berasal.
"Kau tidak perlu tahu." Ucap dokter itu dan pergi meninggalkan mereka.
Sepertinya pengaruh keluarga anak kecil ini begitu menyeramkan. Lebih baik mereka segera meninggalkan tempat ini.
Lidia menyuruh pak Joko segera masuk dan mengendarai mobil mereka meninggalkan rumah sakit di pusat kota X ini. Lidia berinisiatif duduk di belakang bersama gadis itu untuk menemaninya dan memantau perkembangan gadis kecil itu.
"Kita akan pergi ke pinggiran kota S.. Apakah kau pernah pergi ke sana? kau pasti akan menyukainya. Di sana udaranya tidak kalah bersih dan sejuk. Kita akan pergi mengunjungi teman tante. Dia dokter yang sangat hebat. Kau pasti akan segera sembuh." Ucap Lidia dan terus berbicara sepanjang perjalanan menemani Adel yang masih tertidur nyenyak.
__ADS_1
"Nyonya kita sudah sampai." Ucap pak Joko.
"Baik.. tunggu sebentar." Ucap Lidia dan menelpon sahabat suaminya dokter Bagas.
"Keluar sekarang aku butuh bantuan mu." Ucap Lidia saat panggilan itu sudah tersambung.
"Astaga Lidia ini hampir jam3 pagi. Apa yang kau lakukan di sini?" Tabya Bagas tidak habis pikir.
"Aku butuh bantuan mu. Pasangkan alat-apat itu." Ucap Lidia menunjuk kedalam mobil.
"Ha?" Ucap Bagas bingung dan mencoba mengintip ke dalam bagian belakang mobil.
"Apa? Lidia? kau benar-benar gila. Kau bawa pasien koma? siapa pasien ini?" Tanya Bagas bingung.
"Aku akan jelaskan nanti. Pindahkan saja dia dahulu." Ucap Lidia satai.
"Astaga.. kau benar-benar." Ucap Bagas namun pria itu dengan cepat menyuruh perawat untuk membawa brankar dan peralatan yang di bawanya untuk di pindahkan ke brankar itu.
Semua sudah di siapkan dan mereka membawa masuk Adel ke dalam ruangan perawatan VIP yang sudah di lengkapi dengan seluruh kebutuhan gadia itu.
"Kau benar-benar seenaknya saja. Bagaimana jika gadis ini dalam bahaya saat di jalan tadi. Astaga kau benar-benar nekat." Ucap Bagas lagi.
"Jangan salahkan aku.. salahkan dokter gila itu." Ucap Lidia keceplosan. "Ehem.. Maksud ku, aku hanya tidak ingin bocah ini kenapa-kenapa mangkanya ingin segera kau yang mengurusnya." Ucap Lidia lagi.
"Jangan pernah lakukan ini lagi Lidia, atau aku akan memblokir nomor mu agar tidak bisa memberikan tugas gila-gila mu lagi." Keluh Bagas.
"Ya ya ya.. tidak akan lagi." Ucap Lidia santai dan membiarkan dokter itu kesal dengan tingkah nekat Lidia ini.
Flashback Off..
Bersambung....
NB. Ini hanya fiktif ya guys.. ga bisa memimdahkan seorang pasien yang dalam keadaan koma begitu saja.😅
__ADS_1