
"Kau tidak apa?" Tanya Juna kepada Maya.
"Ha? Memangnya menurutmu aku akan kenapa?" Tanya Maya berbalik bertanya.
"Ehem.. Aku hanya ingin memastikannya langsung dari ucapan mu. Apa susahnya hanya tinggal menjawab saja." Ucap Juna sedikit kesal karena balasan ucapan Maya.
"Masalahnya pertanyaan apa yang di tanyakan. Sudah tau bisa melihatnya sendiri lalu untuk apa di tanyakan lagi." Ucap Maya ketus dan segera pergi dari sana melewati Juna.
"Hei kau mau kemana?" Tanya Juna lagi dan mencekal pergelangan tangan Maya agar wanita itu tidak meninggalkannya begitu saja.
"Hadeh.. Pertanyaan aneh lainnya." Gerutu Maya dan menghembuskan nafasnya kasar.
"Hei tuan tampan. Menurutmu aku akan kemana lagi di jam segini? Tentu saja aku akan balik ke kamar ku dan akan tidur. Bukankah nanti malam masih ada misi? Lalu kenapa kau bodoh menanyakan itu. Aihh.." Keluh Maya dan melepaskan tangan Juna.
"Baiklah aku akan mengantar sampai kamar mu." Ucap Juna lagi dan menahan agar tidak terpancing emosi oleh kelakuan wanita di sampingnya ini.
"Terserah kau itu badan dan kaki mu. Kau bisa melakuakan apapun yang kau mau." Ucap Maya cuek dan berjalan di lorong menuju kamarnya.
"Apa kau tidak ingin menanyakan sesuatu kepada ku?" Tanya Juna saat mereka berjalan berdampingan dan ingin memecahkan keheningan ini.
"Ha?" Tanya Maya bingung.
"Misalnya mengapa aku tidak kembali ke dermaga bersama mereka dan malah berada di sini." Ucap Juna lagi.
"Hadeh.. Bukankah sudah aku bilang tadi, itu tubuh mu dan kaki mu. Mau kemanapun kau ya terserah mu, itu bukan urusan ku. Aku bukan ibu mu ataupun ayah mu. Aku tidak punya hak untuk mengetahui dan mengatur mu bukan." Ucap Maya lagi sambil memutar bola matanya.
"Bagaimana jika jadi kekasih ku? Bukankah kau jadi berhak tahu dan mengatur ku?" Ucap Juna dan membuat Maya berhenti berjalan agar dia mau menatap ke dalam mata pria itu.
"Apa kau sedang mabuk laut? Sepertinya kau sedang melantur. Aku mau tidur selamat pagi." Ucap Maya dan membalikkan badannya yang ternyata mereka tepat berhenti di depan unit kamarnya.
Maya segera membuka kunci pintu itu dan segera masuk ke dalam kamarnya.
"Astaga.. Sepertinya perjalanan cintaku masih membutuhkan waktu yang panjang." Ucap Juna dan menghembuskan nafasnya kasar.
Maya masuk ke dalam kamar dan memilih untuk membersihkan dirinya dahulu. Dia sudah melihat Alice berbaring di kasur dengan menggunakan piyama tidurnya. Sepertinya gadis itu juga baru saja mandi dan baru terlelap.
Maya membersihkan dirinya dan kemudian mengenakan pakaian tidurnya dan beranjak tidur di sebelah Alice. Kasur dengan ukuran super king size itu mampu menampung tubuh mereka meski mereka tidur dengan lasak (Tidak bisa diam).
__ADS_1
Maya merebahkan tubuhnya dan mulai memejamkan matanya menyambut mimpinya. Rasa lelah yang di terima tubuhnya membuatnya terlelap seketika.
***
Sedangkan di sisi lain..
📞" Jun.. Apa yang kau lakukan? Kau tidak ikut turun di dermaga?" Tanya Roy di ujung telepon.
📞"Aku akan menjaga kedua wanita itu dari dekat saja. Entah mengapa aku sedikit khawatir dengan mereka." Ucap Juna lagi.
📞"Jun.. Itu bukan alasan mu untuk berlibur kan? Kau kan sudah berlibur sebelumnya." Ucap Roy lagi menolak keinginan sahabatnya sekaligus rekannya jika dia ingin libur lagi.
📞"Sudahlah.. Biarkan dia Roy.. Kau memang sangat tidak peka." Ucap Suara Galih dari ujung telepon itu.
📞"Ha? Memang apa maksudnya?" Tanya Roy lagi bingung.
📞"Dia sedang melindungi gadisnya." Ucap Galih singkat.
📞"Untuk apa? Malahan Alice lebih jago berkelahi di bandingan dia." Ucap Roy yang langsung menohok ulu hati Juna.
📞"Bisakah kalian membicarakan itu di dalam hati kalian saja. Lagipula aku juga sudah jauh meningkat dari pelatihan ku." Ucap Juna tidak enak, merasa egonya terpancing.
📞"Apa? Benarkah itu? Siapa?" Tanya Roy yang baru mulai mengerti.
📞"Siapa lagi kalau bukan rekan Alice wanita misterius itu." Ucap Galih lagi.
📞"Uhuk.. Bisakah kalian bergosip di belakang ku saja. Aku akan berkeliling saja daripada mendengarkan ocehan kalian." Ucap Juna dan mematikan ponselnya.
Juna keluar dari kamarnya dan memutuskan berjalan berkeliling kapal pesiar itu. Pria itu tanpa sengaja sepertinya melihat sosok pria yang sangat tidak asing.
"Bukankah itu..." Ucapnya menggantung sambil mengerutkan dahinya hingga sebuah tangan menepuk bahunya. Dengan refleks Juna memelintir tangan itu namun dengan cepat tangan yang lainnya menepuk bahu Juna lagi.
"Hai bos ini aku!! Astaga sakit!" Ucap pria itu yang tangannya masih dipelintir oleh Juna.
"Ahh sorry.. Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Juan bingung.
"Astaga.. Aku hanya ingin mengagetkan mu dan malah membuat diri ku sendiri kaget.." Ucap pria itu sambil masih merasakan nyeri di pergelangan tangannya.
__ADS_1
"Sorry.. Salahmu sendiri mencari penyakit." Ucap Juna dan hanya tersenyum mengejek.
"Apa yang kau lakukan di sini bos?" Tanya pria itu.
"Hanya berkeliling. Aku bosan berada di kantor saja, sekali-sekali langsung terjun tak masalah bukan." Ucap Juna santai.
"Ya.. lakukan apapun mau mu bos." Ucap pria itu lagi.
"Ohya di mana yang lainnya?" Tanya Juna.
"Masih dalam cover." Ucap pria itu santai.
"Ahh begitu.. lalu apa yang kau lakukan tidak bekerja?" Tanya Juna menyelidik.
"Siang bos.. Bagaimana jika kita ke restoran saja sekalian lihat situasi." Ajak pria itu dan diangguki oleh Juna.
"Baiklah Boy." Ucap Juna.
Bagaimanapun juga Juna harus melihat berkeliling bukan. Sekalian saja untuk sarapan dan memantau. Bukankah satu dayung dua pulau terlampaui.
Juna dan Boy berjalan menyusuri kapal hingga mereka sampai di dalam restoran kapal. Mereka lebih memilih restoran yang menyediakan makanan prasmanan agar dapat melihat berkeliling sekalian memantau semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
Ruangan besar yang dapat menampung banyak orang. Juna juga dapat melihat beberapa stafnya yang berbaur di antara para pengunjung atau para pelayan kapal.
"Adakah ruangan yang mencurigakan?" Tanya Juna.
"Kami sudah mendapatkan bayangan dimana ruangan yang menjadi tempat penyekapan. Namun di sana banyak penjaga dan bahkan lorongnya pun di penuhi penjaga.
"Apakah jumlah kita sedikit?" Tanya Juna memastikan.
"Masih belum di ketahui, namun jika kita ingin berhati-hati lebih baik meminta bantuan dari tim pesta semalam." Ucap Boy.
"Baiklah.. Aku akan menyuruh mereka bergerak lagi kemari agar nanti malam mereka semua siap." Ucap Juna tenang sambil menyesap kopi hitamnya.
Pria itu memilih sarapan roti dan scrambled egg. Sedangkan Boy memilih sarapan nasi dan lauk pauk yang berada di sana.
"Jika kalian membutuhkan sesuatu segera hubungi aku. Aku akan berada di sini membantu kalian." Ucap Juna lagi dan menyelesaikan sarapannya.
__ADS_1
"Tentu bos." Ucap Boy hormat.
Bersambung....