
"Al.. Misi clear.. Beberapa petugas akan segera datang ke tempat mu." Ucap suara Galih yang berada di earpiece di ujung telepon itu.
"Okey." Ucapnya menekan dan kemudian mematikan mikropon itu.
Alice mengabaikan luka yang ada di telapak tangannya atau yang berada di perut dan di tangannya. Gadis itu lebih memilih berjalan kembali ke pintu kamar itu dan mengetuk pintu itu.
"Hai ini aku.. Bukalah.. Ini sudah aman." Ucap Alice dan mengetuk-ngetuk pintu kamar itu.
Kedua gadis yang berada di belakang pintu bergantian melihat kearah celah pintu untuk melihat dan memastikan bahwa Alice sendirilah yang datang menjemput mereka.
"Benar itu kakak cantiknya. Di belakangnya juga tidak ada pria jahat. Ayo kita keluar." Ucap salah satu gadis itu dan kemudian membuka kunci pintu itu dari dalam.
Ceklek..
"Kakak.. Kakak tidak apa-apa? Tangan kakak mengeluarkan darah." Ucap gadis itu saat melihat sosok Alice yang sedikit kacau.
"Aku tidak apa-apa, tidak perlu cemas." Ucap Alice menenangkan.
Sekelompok pria tiba-tiba datang, ada yang berpakaian pelayan ada juga yang berpakaian santai. Beberapa orang itu menghampiri Alice dan kedua gadis itu.
"Ahh.. Itu masih ada penjahatnya! Kakak ayo masuk saja ke dalam. Kakak terluka tidak perlu berkelahi lagi." Ucap gadis itu dan hendak menarik Alice masuk ke dalam kamar saat melihat sekelompok pria bertubuh tegap itu berjalan kearah mereka.
Alice melihat kearah yang gadis itu lihat dan kemudian tersenyum.
"Tidak perlu khawatir mereka teman kakak.. Mereka akan membantu kalian." Ucap Alice menenangkan dan tampaknya kedua gadis itu sudah sedikit lebih tenang.
"Bu! Maaf kami terlambat." Ucap salah satu pria itu yang merupakan salah satu kapten itu.
"Tidak apa-apa. Bawa kedua gadis ini untuk istirahat di kapal ferry. Kita akan berangkat sebentar lagi. Ohya di mana Juna?" Tanya Alice bingung tidak melihat pria itu.
__ADS_1
"Bos Juna sudah naik kapal ferry bersama Maya, semua barang dan hal lainnya sudah dibereskan." Jelas pria itu.
"Ahh begitu.. Baiklah kita naik sekarang ke kapal.. Ayo kalau begitu kita pergi." Ucap Alice dan berjalan bersama dengan mereka menuju kapal ferry lain yang menangkap beberapa penjahat itu.
"Bu.. ke sebelah sini." Ucap kapten tim itu dan kemudian menyuruh Alice memasuki sebuah ruangan. Ternyata ruangan itu adalah sebuah ruangan klinik di dalam kapal yang sudah di lengkapi beberapa alat medis untuk melakukan pertolongan pertama.
"Terima kasih." Ucap Alice dan kemudian kapten tim itu mengundurkan diri.
"Mari nona biar saya bantu." Ucap salah satu orang berpakaian jas sneli putih.
"Terima kasih." Ucap Alice. Dan beberapa orang membantu memperbesar robekan kaus yang sudah bolong dan melihat luka di telapak tangan dan di bagian perut serta lengannya.
"Luka di telapak tangan anda cukup dalam beserta luka di lengan anda. Kami akan melakukan pembiusan lokal dan akan melakukan penjahitan." Ucap dokter itu. Alice hanya mengangguk dan berbaring di atas bed itu.
Kedua dokter itu bekerja dengan cepat dan menjahit tangan dan telapak tangan dahulu, kemudian menjahit luka di bagian perut yang tidak terlalu dalam.
"Sudah selesai Anda bisa mengganti pakaian anda dengan ini." Ucap dokter wanita itu dan memberikan Alice sebuah kaus kuning besar.
"Sama-sama." Ucap kedua dokter tersebut.
Alice bangkit dari kasur dan hendak pergi dari sana.
"Nona anda mau kemana? Anda terluka, anda membutuhkan istirahat." Ucap salah satu dokter itu.
"Tidak apa-apa aku sudah lebih baik." Ucap Alice dan beranjak pergi dari tempat itu.
Alice pergi menyusuri lorong itu dan tanpa sengaja menemukan kamar dengan Juna dan Maya yang ada di dalamnya.
"Sepertinya mereka baik-baik saja." Ucap Alice saat mengintip ke dalam ruangan dan memilih meninggalkan ruangan itu dan mencari ruangan kosong lainnya yang bisa dia tempati.
__ADS_1
Alice mendapatkan ruang kamar yang kosong yang berada beberapa kamar tidak jauh dari ruangan milik Juna tadi. Bagaimanapun dia tidak ingin mengganggu kedua orang itu.
Alice memilih merebahkan tubuhnya di atas kasur dan kemudian memejamkan matanya untuk mengistirahatkan tubuhnya sambil menunggu mereka tiba di dermaga terdekat.
"Aku berharap kalian memiliki kisah yang manis, tidak seperti ku." Ucapnya ambigu kemudian mulai terlelap.
***
Sedangkan di sisi lain ruangan kamar itu Juna tampak selesai mengambil keuntungan dari wanita yang sedang pingsan itu dengan mencuri ciuman dari wanita itu.
"Aihh.. Tidak adakah yang membuat mu malu mencuri ciuman saat sang pemiliknya pingsan. Ishh tidak berakhlak kau Juna." Rutuknya kepada dirinya sendiri sambil sedikit memukul bibirnya sendiri.
"Ini bukan salah ku kan.. Kau terlalu manis dan sangat menggoda begitu rupa saat kau tidak banyak bicara dan diam manis tidur seperti bayi. Tapi aku tidak mau kau mengalami hal buruk seperti tadi." Ucap Juna dan mengelus-elus pipi Maya lembut.
"Maafkan aku yang datang sedikit telat dan membuat mu terluka. Namun aku janji, kedepannya kau tidak akan pernah terluka lagi." Ucap Juna dengan yakin dan mencium punggung tangan wanita yang di genggam dengan tangan lainnya.
Ya benar Maya mengalami luka yang cukup dalam namun untunglah tidak fatal. Gadis itu mendapatkan beberapa luka sobek di tangannya dan tusukan di bagian perutnya. Untunglah klinik kapal ini bisa melakukan oprasi darurat dan menolong Maya dengan segera.
Iya.. Pertempuran Maya dengan beberapa penjahat itu cukup sengit, ternyata beberapa orang itu membawa senjata tajam di balik tubuh mereka dan mulai menyerang Maya secara bersamaan.
Beberapa serangan awal dia bisa menangkis dan bahkan melumpuhkan orang-orang itu, namun lambat laun dia kelelahan dan mulai kehilangan konsentrasinya. Untunglah di saat yang tepat Juna segera datang dan menyelamatkan wanita itu.
Namun naasnya pisau itu telah bersarang di dalam perut Maya dan mengeluarkan banyak darah. Juna yang kalut segera menyelesaikan pertarungannya dengan cepat dan mengalahkan lawannya dan segera menghampiri Maya.
Membopong tubuh gadis itu kedalam dadanya dan segera berlari kearah kapal ferry mereka. Untunglah Maya mendapatkan penanganan dengan segera dan saat ini gadis itu sedang beristirahat di kamar Juna dan tertidur akibat sisa obat bius di tubuhnya.
"Kau benar-benar membuat ku takut. Aku takut kau akan meninggalkan ku. Jangan pernah muncul di depan ku dengan berdarah-darah seperti itu. Meski pekerjaan ku selalu beresiko, tapi di saat melihat mu terluka di depan mata ku, ada sebagian dari diri ku juga yang merasa ikut terluka. Dan rasanya entah mengapa lebih sangat menyakitkan di bandingan diri ku sendiri yang terluka." Ucap Juna jujur kepada dirinya sendiri.
Tanpa pria itu sadari Maya telah sadar dan efek obat biusnya sudah hilang saat tubuhnya di pindahkan dari ruang oprasi ke dalam ruangan kamar Juna beberapa saat yang lalu. Maya juga mendengarkan semua pembicaraan Juna, bahkan ketika pria itu mencuri ciumannyapun wanita itu mengetahuinya.
__ADS_1
Bersambung....