JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Penyelamatan


__ADS_3

"Amelia Putri.." Ucap Bahar sambil tubuhnya ambuk ke lantai namun wajahnya tetap menghadap ke atas memandangi wajah Alice.


Alice yang mendengar pria itu menyebutkan suatu nama, entah mengapa dia malah tertegun dan tiba-tiba hatinya terasa sakit. Gadis itu memundurkan langkahnya ketika saat akan melayangkan pukulan kedua kepada pria itu lagi.


Brakk brukk..


Pintu depan gudang di tendang hingga ambruk. Bahar yang mendengar itu menyadari bahwa dirinya pasti sudah di ketahui keberadaannya oleh musuhnya. Pria itu segera bangkit berdiri meski tubuhnya sedikit nyeri akibat bertarung dengan Alice.


"Cari Alice sampai ketemu dan bawa orang yang menculiknya itu ke hadapan ku." Ucap Anton memerintahkan anak buahnya.


"Baik Tuan." Ucap mereka dan mulai menyusuri mencari keberadaan Alice dan Bahar di dalam gudang itu.


"Temui aku di Pure Bar 201." Ucap Bahar dan kemudian berlari keluar melalui pintu belakang dan meloloskan diri dari kejaran orang-orang yang ingin membebaskan Alice.


Entah mengapa Alice masih bingung dengan kondisinya sendiri bahkan dia tidak mengerti mengapa dia sampai membiarkan Bahar lolos begitu saja melewatinya menuju pintu belakang.


"Alice.. kau tidak apa-apa?" Tanya Anton panik. Pria itu sampai di depan Alice kekasih hatinya itu dan mengusap lembut luka goresan di wajah Alice akibat pukulan yang mengenai topengnya tadi.


"Aku tidak apa-apa." Ucap Alice singkat namun gadis itu langsung memeluk tubuh Anton dengan erat.


"Ada apa? apakah kau takut? jangan khawatir, aku tidak akan membiarkan hal seperti ini terjadi lagi. Aku pasti akan melindungi mu." Ucap Anton dan membalas pelukan erat Alice dan mengusap lembut rambut gadis itu.


Alice masih tidak bergeming gadis itu hanya ingin menenangkan hatinya yang tidak tahu karena apa merasa sangat sakit dan lelah, dia hanya membutuhkan pelukan dan belaian dari pria yang di cintainya itu.


"Sebaiknya kita pergi dari tempat ini." Ucap Anton saat Alice mulai tenang dan melepaskan pelukan mereka.


"Hemm.." Ucap Alice bergumam dan mengikuti Anton dari belakang. Mereka menyusuri jalan menuju jalan utama gudang itu. Dua anak buahnya tiba di depan Anton.


"Tuan maaf kami tidak bisa menemukan pria itu. Dia sudah melarikan diri." Ucap Alex dan di angguki oleh Paul.


"Sialan!! Baiklah.. kita ke tempat ku sekarang. Tetap cari dan selidiki orang itu." Ucap Anton memerintahkan kepada Alex dan Paul.


"Baik Tuan." Ucap Alex dan Paul bersamaan.

__ADS_1


"Ayo sayang." Anton memengang tangan Alice dan membawanya masuk ke dalam mobil menuju rumah pak Aldo tempatnya tinggal.


Sepanjang perjalanan Alice hanya diam. Gadis itu bingung dengan dirinya sendiri, mengapa dia membebaskan Bahar begitu saja. Dan mengapa pria itu menyebutkan nama seseorang yang entah mengapa membuat hatinya terenyuh sakit. Apa hubungan dirinya dengan nama itu. Apa pria itu tau jati dirinya? bahkan dia masih belum tahu siapa bos besar itu, apapun itu, gadis itu harus menemui Bahar lagi untuk memastikan semuanya.


"Alice.. kau tidak apa-apa? sepanjang perjalanan kau hanya terdiam." Ucap Anton saat mereka sudah sampai di ruang tamu rumah pak Aldo tempat pria itu tinggal sementara di kota X.


"Aku tidak apa-apa." Ucap Alice sambil tersenyum manis dan mulai mendudukkan bokongnya di sofa itu.


"Emhh ini rumah siapa? kau tinggal di sini?" Tanya Alice mengalihkan pertanyaan pria itu.


"Iya.. ini rumah Pak Aldo, salah satu orang kepercayaan paman ku. Kami tinggal sementara di sini." Ucap Anton jujur.


"Lalu kemana pria itu?" Tanya Alice lagi bingung. Mengedarkan pandangannya melihat sekeliling rumah itu, di sini tidak ada siapapun.


"Aku meminta bantuannya untuk mencari tahu mengenai dirimu." Ucap Anton.


"Ha? jadi yang kau bilang kau tahu sesuatu mengenai keluarga ku saat di acara pesta itu benar?" Tanya Alice yang mulai antusias.


"Iya.. itu benar aku menemukan informasi baru meski informasi itu belum lengkap. Aku meminta tolong pak Aldo untuk lebih mencari tahu kebenarannya." Jelas Anton.


"Mandilah dan bersihkanlah diri mu. Setelah itu aku akan memberi tahu mu." Ucap Anton saat melihat baju yang di kenakan oleh Alice tertutupi oleh debu dan gadis itu terlihat sedikit kacau akibat berkelahi dengan Bahar.


"Ahh oh.. Baiklah." Ucap Alice dan menurut. Gadis itu pergi masuk ke kamar yang di tunjuk Anton untuk membersihkan dirinya.


"Tuan.." Ucap Alex yang masuk dan menghampiri Anton yang sedang duduk di sofa di ruang tamu itu.


"Ini pakaian yang anda minta." Ucap Alex lagi dan menyerahkan sebuah paperbag kepada Anton.


"Saya akan menyiapkan makanannya di meja makan." Ucap Alex lagi dan menenteng satu bungkusan di tas plastik itu.


"Terima kasih Alex." Ucap Anton dan di angguki oleh pria itu.


Anton beranjak dari duduknya di sofa dan berjalan menuju kamar yang tadi Alice masuki. Pria itu membuka pintu kamar dan kemudian menutup kembali pintu itu dari dalam.

__ADS_1


Anton meletakkan pakaian ganti untuk Alice yang masih terbungkus rapih itu di atas kasur untuk di pakai nanti oleh kekasihnya.


Anton kemudian keluar dari kamar itu dan menghampiri Alex yang sedang menghidangkan makanan untuk mereka.


"Semua sudah selesai Tuan, saya pamit dahulu." Ucap Alex dan Anton menggangguk mengerti, Alex pergi meninggalkan Anton sendirian di ruangan itu.


Tidak berapa lama Alice keluar dari kamar yang di tempati Anton dengan dress selutut dan lengan pendek berwarna hijau muda. Gadisbitu tampak jauh lebih segar.


"Duduklah.. kita makan dahulu." Ucap Anton dan menyuruh kekasihnya itu duduk juga. Alice menuruti kekasihnya itu dan mulai makan.


"Anton bagaimana kau bisa menemukan ku?" Tanya Alice penasaran di sela-sela makan mereka.


"Aku mendapatkan panggilan dari nomor tidak di kenal, dan entah mengapa aku merasa itu pasti ada hububgannya dengan mu. Lalu aku menyuruh Paul untuk mencari tahu di mana lokasi si penelpon ini, dan ternyata lokasinya adalah di sebuah gudang tua. Aku jadi yakin kau pasti di tangkap dan di sekap di sana." Ucap Anton lagi.


"Kau sudah di sekap dari malam sampai siang ini, kau pasti lapar. Makanlah yang banyak." Ucap Anton dan menyodorkan sebuah makanan di hadapan Alice.


"Pantas saja aku merasakan lapar." Ucap Alice dan mulai melahap lagi makanannya.


"Apakah kau melihat wajah penculik mu?" Tanya Anton di sela-sela makannya.


Alice bingung, haruskah dia memberitahukan pria itu atau haruskah dia hanya diam saja. Setelah beberapa detik berpikir, Alice memutuskan untuk memberitahukan Anton.


"Ya.. aku tahu.. dia adalah Bahar Angkasa, kaki tangan dari Bos besar." Ucap Alice datar.


"Ahh sudah ku duga." Ucap Anton sedikit kesal.


"Kau mengetahui sesuatu? kau bukan yang memberitahukan informasi kepada RJP mengenai pria itu." Tanya Alice penasaran.


"Ya.. untuk mereka berjaga-jaga. Tapi tetap saja kebobolan menculik mu bahkan di depan mataku sendiri." Ucap Anton kesal.


"Bukan salah mereka dan bukan salah mu juga. Dia hanya terlalu tahu gedung itu sehingga bisa lolos dari pantauan kalian." Ucap Alice.


"Aku tetep tidak menerima itu, bagaimana jika kau dalam bahaya dan tidak segera di temukan. Aku tidak akan tinggal diam, aku akan menaruh pengawal dekat dengan mu agar tidak kecolongan lagi." Ucap Anton tegas.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2