JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Sakit kepala yang membahagiakan


__ADS_3

Alice terbangun saat matahari sore masuk melalui celah gorden di kamarnya.


"Emhh..." Gumam gadis itu sambil bergerak merengganggkan tubuhnya dan kemudian mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan cahaya yang ada di dalam ruangan itu. Matanya kini fokus pada sebuah jam dinding yang memunjukkan 05.10PM.


"Astaga!" Pekiknya saat tersadar kini dia telah melewatkan makan siang dengan keluarga kekasihnya.


"Kau sudah bangun?" Tanya sebuah suara yang ternyata adalah Anton. Pria itu duduk di sebuah sofa dengan ponsel di tangannya.


"Anton.. kau tidak membangunkan ku? ini sudah jam5. Aku melewatkan makan siang dengan keluarga mu." Ucap Alice kesal saat tahu tidurnya ternyata sudah sangat lama.


"Tidak masalah semua orang tahu kau masih kelelahan dan membiarkan kau tidur sayang. Nanti kita makan malam bersama saja." Ucap Anton menenagkan gadisnya saat dia sudah berada di samping tubuh kekasihnya yang sedang duduk di tepi kasur.


"Tapi jadi tidak enak kepada ayah, ibu dan kakak mu." Ucap Alice sedikit khawatir.


"Tidak sayang. Mereka malah memahami mu. Dan minumlah ini dahulu." Ucap Anton.


Pria itu mengambil sebuah botol termos dan menuangkan isinya ke dalam sebuah gelas.


"Apa ini?" Tanya Alice yang merasa baunya bukan air putih.


"Ini minuman gingseng. Ibu menyuruh seseorang membuatkannya tadi siang untuk mu. Karena kau tidur jadi mereka menaruhnya di sini agar tetap hangat. Minumlah." Ucap Anton menjelaskan dan menyodorkan gelas bening itu.


"Terima kasih." Ucap Alice dan menambil gelas di tangam Amton dan segera meminumnya perlahan.


"Rasanya tidak enak." Ucap Alice dan menyodorkan gelas kosong kepada Anton.


"Meski tidak enak tapi itu bagus untuk tubuh mu." Ucap Anton sambil meletakkan gelas itu kembali di atas nakas di samping tempat tidur Alice.


"Aku akan membersihkan diri dahulu dan kemudian bertemu dengan orang tuamu." Ucap Alice dan di angguki oleh Anton.

__ADS_1


Alice ke kamar mandi membersihkan dirinya dan Anton juga keluar dari kamar Alice untuk mandi sore juga.


Beberapa saat kemudian setelah mereka selesai, mereka keluar dari kamar mereka masing-masing untuk menemui kekasih hati. Namun tanpa mereka sadari, ternyata mereka berpapasan tepat di depan pintu mereka. Dan itu membuat keduanya tersenyum bersamaan.


"Sepertinya kita memang jodoh." Goda Anton dan segera mendekati tubuh kekasihnya dan merangkulnya erat.


"Kambuh deh.. gombalnya." Ucap Alice namun dengan pipi yang bersemu merah.


"Aku bicara apa adanya loh.. malah di bilang gembel.. ehh gombal.. ya sudah yuk turun ke bawah." Ucap Anton dan mengajak Alice turun menemui keluarganya yang masib betah ngobrol di samping kolam renang.


"Ahh calon menantu ku.. apakah kamu lapar nak?" Tanya Lidia langsung saat melihat sosok Alice muncul di samping teras.


"Belum lapar Bu.. tadi baru minum-minuman gingseng yang di berikan Anton, jadi masih kenyang. Terima kasih Buu untuk minumannya." Ucap Alice menolak untuk makan.


"Sama-sama sayang. Ini pasti ulah bocah nakal ini membuat mu lelah. Tadi wajah mu sedikit pucat, dan sekarang kau sudah berseri lagi. syukurlah kau sudah bersemangat lagi." Ucap Lidia dan mengusap lembut rambut Alice.


"Huhh kau. mencoba melindunginya ya.. manis sekali menantu Ibu." Ucap Lidia sambil mencuil hidung Alice dan itu sontak membuat gadis itu tersipu malu.


"Ohya untuk acara besok, bisakah kau luangkan waktu untuk ke butik untuk melihat beberapa gaun yang sudah kami pilihkan dan tinggal kau pilih sesuai keinginan mu, sekalian fitting baju." Tanya Lidia dan memastikan untuk jadwal besok.


"Emhh mungkin aku bisa siang Bu.. Paginya aku harus ke kantor dahulu." Ucap Alice sedikit tidak enak hati.


"Tentu tidak masalah." Ucap Lidia menenangkan Alice.


"Kapan kau bisa kabari ibu, kita ketemuan di sana saja. Biar Ibu juga menemani mu di sana." Ucap Lidia.


"Baik Buu." Ucap Alice menurut.


"Emhh bolehkah aku sedikit mengganggu mu?" Tanya Sisilia dan Amanda yang berada di belakangnya.

__ADS_1


"Emhh iya kak kenapa?" Tanya Alice bingung.


"Sebenarnya Anton melarang kita untuk membahas itu hari ini, Namun kau tahu jika kita menunda-nundanya terus aku khawatir nantinya malah tidak sesuai dengan yang kau harapkan. Jadi bisakah kita berdiskusi di ruang tamh sebentar?" Tanya Sisilia dan di angguki oleh Alice.


"Kak.. kan sudah ku bilang nanti saja." Ucap Anton protes saat mendengar ucapan kakak iparnya itu.


"Tidak apa-apa Anton. Lagi pula aku sudah segar setelah 5jam tertidur." Ucap Alice dan sedikit tersenyum.


"Hemm.. kau akan menyesali keputusan mu sayang. Padahal aku tadinya akan memberikan sedikit istirahat untuk otak mu." Ucap Anton yang membuat Alice bingung dengan ucapan ambigu pria yang di cintainya itu.


"Baiklah.. yuk ke sana.. aku akan memperlihatkan beberapa hal kepada mu." Ucap Sisilia dan Amanda yang menarik Alice agar gadis itu tidak membatalkan ucapannya.


Alice duduk manis di sofa kemudian Sisilia dan Amanda yang sibuk mengambil beberapa album besar dan kemudian meletakkannya di atas meja itu. Seluruh meja tertutupi oleh album-album besar itu.


"Ha? apa ini kak?" Tanya Alice bingung.


"Ini.. lihatlah." Sisilia menyodorkan sebuah album besar dan membuka lembaran yang di berinya pertanda menggunakan stick notes di sampingnya sehingga memudahkannya menemukan hal yang di carinya.


"Ini beberapa album mengenai dekorasi.. aku memilih ini karena......" Dan Sisilia mulai menjelaskan semua notesnya itu dengan jelas bahkan mengenai warna dan hal lainnya. Kemudian selain itu Amanda juga langsung menyodorkan sebuah album lainnya yang memperlihatkan beberapa bentuk dan warna undangan yang sudah dia berikan notes juga.


'Huh.. aku jadi mengerti apa maksud Anton tadi, dan dia sedikit sakit kepala sekarang karena bingung harus memilih yang mana. Semua tampak bagus dan unik dengan kelebihan masing-masing yang berbeda-beda membuatnya bingung untuk menentukannya.


Semalaman itu mereka masih membicarakan mengenai perintilan untuk acara pernikahan nanti. Bahkan saat di meja makan juga mereka masih meminta Alice untuk menentukan mengenai sesuatu hal mengenai souvenir, aksesoris dan lain-lain. Alice benar-benar di buat bingung untuk memilihnya.


Anton yang melihat itu hanya tersenyum menatap kekasihnya yang di buat bingung oleh kedua kakak iparnya. Bayangkan saja acaranya akan di mulai kurang dari 1bulan, dan banyak hal yang harus di pilih. Kakak dan ibunya sudah memilihkan yang terbaik namun tetap saja itu mesti persetujuan Alice. Bagaimanapun kan gadis itu yang akan menikah sekali seumur hidupnya. Mangkanya ibu dan kedua kakaknya membantu Alice memilihkan beberapa dengan berbagai pertombangan menurut pengalaman mereka sendiri.


Malam itu benar-benar di habiskan oleh Alice dan ketiga wanita di keluarga besar Anton membahas dan merencanakan acara pernikahan mereka. Malam yang membuatnya sakit kepala namun sakit kepala yang membahagiakan.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2