
Alice dan Anton tiba di kediaman utama Hadi Jaya. Anton membantu membukakan pintu mobil untuk Alice. Pria tampan itu mengulurkan tangannya untuk membantu Alice bangkit keluar dari dalam mobil. Alice bangkit dan keluar dari dalam mobil dengan menyambut uluran dari tangan Anton.
“Terima kasih.” Ucap Alice dan menggenggam tangan Anton dan berdiri di sampingnya.
“Apakah kau baik-baik saja? Tagan mu agak dingin.” Ucap Anton saat merasakan genggaman tangan kekasihnya itu.
“Aku baik-baik saja. Hanya sedikit gugup.” Ucap Alice menangkan Anton.
“Hemm baiklah kalau begitu, lebih baik kita langsung ke dalam saja agar kau tidak tambah gugup.” Ucap Anton dan menuntun Alice ke dalam rumah utama.
“Tuan dan Nyonya sudah di ruang makan Den..” Ucap salah satu pelayan yang menyambut kedatangan mereka di depan pintu.
“Baiklah.” Ucap Anton dan tetap menggandeng Alice di sampingnya menuju ruang makan keluarga.
“Ayahh.. Ibuu..” Ucap Anton saat melihat Bram dan Lidia sudah duduk di ruang makan. Bram dn Lidia bangkit dari duduknya dan mendekati Anton dan Alice.
“Senang bisa melihat mu lagi di sini Nak.” Ucap Bram kepada Alice, dan mencoba merangkul gadis itu.
“Terima kasih Paman.” Ucap Alice dan menyambut rangkulan hangat itu. Bram sedikit bingung dengan panggilan ‘Paman’ itu, namun mengabaikannya mungkin Alice dan Anton belum menyelesaikan masalah mereka.
“Senang bertemu lagi dengan mu Alice.” Ucap Lidia hangat dan berganti merangkul Alice, Alice menyambut rangkulan itu.
“Terima kasih sudah mengundang ku Bibi.” Ucap Alice hangat dan melepaskan rangkulannya. Anton yang mendengar itu masih mengernyitkan dahinya. Bukankah masalah mereka sudah selesai? Namun mengapa Alice masih menyebut kedua orang tuanya paman dan bibi.
“Baiklah kita mulai makan saja, makan malam sudah di hidangkan.” Ucap Bram dan mengajak semua duduk di kursinya masing-masing.
__ADS_1
Bram duduk di ujung kursi, Lidia duduk di sebelah kanan Bram, sedangkan Anton duduk di sebelah kiri Bram. Alice duduk di sebelah Anton.
“Semoga makanannya sesuai selera mu Alice.” Ucap Lidia hangat.
“Terima kasih Bibi. Makanannya tampak enak” Ucap Alice menghormati ucapan Lidia.
“Ayo mari makan.” Ucap Bram dan mereka semua makan dengan tenang.
Anton yang tidak mengerti dengan sikap Alice malam ini yang terlalu menjaga jarak, tidak terlalu mempermasalahkan hal itu. Yang terpenting baginya saat ini adalah dia dan Alice sudah bisa bersama. Untuk hal yang lainnya dia dan Alice pasti akan bisa melewatinya bersama.
Setelah selesai makan malam, mereka pindah di ruang keluarga untuk berbicara di sana. Beberapa hal remeh di tanyakan untuk menghilangkan rasa canggung. Hingga saatnya Bram mulai berbicara serius.
“Nak Alice.. Maafkan waktu itu, saya dan istri saya meminta maaf atas perbuatan kami yang mungkin menyakiti mu dengan sengaja atau tidak sengaja dalam pembicaraan kami.” Ucap Bram memulai percakapan itu.
“Tidak masalah Paman, Anton sudah menjelaskan semuanya.” Ucap Alice tenang.
“Tidak masalah Bibi. Semuanya sudah di selesaikan oleh kami, Paman dan Bibi tidak perlu meminta maaf kepada saya.” Ucap Alice hangat.
“Saya datang kesini juga memiliki sesuatu yang ingin saya ucapkan kepada kalian.” Ucap Alice tenang. Anton yang mendengar itu sedikit tegang, takut dan sedikit khawatir mengenai apa yang akan di ucapkan oleh Alice.
“Terima Kasih telah mengundang saya malam ini, saya belum sempat mengucapkan terima kasih banyak atas semua yang anda lakukan untuk saya selama ini tanpa sepengetahuan saya. Anda telah membantu memantau dan memberikan saya dukungan selama ini. Karena anda sudah mengetahui mengenai siapa saya, wajar bagi anda jika anda mungkin berfikir saya memang kurang pantas untuk Anton, dan saya memahami itu.” Ucap Alice dan menjeda ucapannya.
Anton yang mendengar itu khawatir akan ucapan Alice selanjutnya,dia khawatir Alice akan menyerah terhadapnya demi kedua orang tuanya. Pria itu menggenggam tangan Alice dan memandangi wajah kekasihnya itu, namun Alice hanya memberikannya senyuman manisnya untuk menenangkan kekasihnya itu.
“Namun maafkan saya, saya tidak bisa meninggalkan anak paman dan bibi. Mungkin saya terdengar terlalu egois dan arogan, namun saya serius dengan hubungan kami. Maka dari itu, saya kesini selain ingin berterima kasih, saya juga memohon restu dari kalian secara langsung. Saya tidak ingin mengalami kejadian seperti yang sebelumnya.” Ucap Alice tenang kepada Bram dan Lidia. Anton yang mendengar itu membelalakan matanya.
__ADS_1
“Hahaha.. Astaga.. aku kira ada apa.. aku suka gaya mu Nak.. kamu wanita yang berani dan keren.” Puji Bram kepada Alice.
“Paman mendukung mu Nak.. paman akan senang jika kamu mau menjadi menantu perempuan ku.” Ucap bram kepada Alice.
“Huhh.. aku berpikir ada apa.. Alice..” Ucap Lidia dan mendekatkan diri duduk di sofa di samping Alice dan menggenggam tangan gadis itu.
“Maafkan keputusan tante sebelumnya. Tante terlalu meremehkan kekuatan perasaan kalian. Tante selalu berpikir itu untuk kebahagiaan kalian, tanpa tahu bagaimana perasaan dan pemikiran kalian. Maaf untuk semuanya ya Nak. Bibi menyetujui hubungan kalian tentu saja.” Ucap Lidia dan merangkul Alice. Alice yang mendengar itu terharu dan membalas rangkulan Lidia erat.
“Tunggu,, kok aku rasanya sedang di lamar ya? bukannya seharusnya aku yang melamar mu?” Ucap Anton entah mengapa dia merasa bahagia namun di sisi lain dia merasa konyol.
“Haha.. kau di lamar Anton, kau kalah cepat dengan lamaran yang di ajukan Alice.” Goda Bram kepada anak bungsunya.
“Nak Alice, bisakah kita bicara berdua saja.” Ucap Lidia serius.
“Buu..” Ucap Anton menolak keinginan ibunya. Dia khawatir ibunya akan membicarakan sesuatu hal yang buruk. Entah mengapa dia tidak ingin moment indah ini hancur begitu saja.
“Tentu tante.” Ucap Alice menyanggupi. Anton yang mendengar itu menghembuskan nafasnya kasar. Lidia menuntun Alice keluar dari ruang keluarga itu.
“Tenanglah.. tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi.” Ucap Bram menenagkan Anak bungsungya.
“EntahlahYah, aku merasa sangat khawatir dan tidak ingin kebahagiaan ini hilang bagaikan asap tak berbekas. Jika tidak ada apa-apa mengapa tidak berbicara di sini saja.” Ucap Anton sedikit khawatir.
“Percayalah kepada ibumu. Dia hanya terlalu menyayangi kalian. Dia tidak menginginkan kalian terluka. Bukan berarti dia tidak berbahagia untuk kebahagiaan kalian berdua.” Ucap Bram menenangkan kembali Anton.
“Huftt.. baiklah Yah..” Ucap Anton akhirnya mencoba untuk tenang dan percaya kepada ibunya.
__ADS_1
Bersambung....