JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Ungkapan perasaan


__ADS_3

Setelah memastikan pintu kamar hotel tertutup, Maya mengambil bantal dari ruang kamar tidur dan menaruhnya di atas sofa. Kemudian wanita itu sedikit membungkukkan badannya dan membantu Juna membuka jas berwarna hitam yang di kenakan pria itu, kemudian menaruhnya di sandaran sofa.


"Ishh perasaan jas yang selalu dia pakai pasti warna hitam, udah kayak mafia aja.. anggota mafia aja gak selalu pake hitam." Gerutu Maya lagi mengomeli stelan yang di pakai pria itu.


Maya membantu melonggarkan dua kancing teratas kemeja Juna dan kemudian merebahkan kepala Juna yang berpura-pura mabuk itu ke atas bantal.


"Huft.. bisanya merepotkan orang saja.. kalau bukan bos udah ku tendang nih.." Gerutu Maya sambil meluruskan kaki Juna di atas sofa dan melepaskan sepatu beserta kaus kakinya.


Setelah merasa pria itu akan baik-baik saja, maya pergi ke pantry bar dan mencari sesuatu di sana. Semuanya sangat lengkap gadis itu mengambil teko listrik kecil mengisinya dengan air dan mulai merebus airnya dengan mencolokkannya ke listrik.


"Ahh.. ketemu.." Ucap wanita itu mengambil madu yang ada di dalam salah satu wadah yang sepertinya masih di segel. Wanita itu mengeluarkan beberapa sendok madu dan menaruhnya di gelas kemudian menuangnya ke gelas itu saat memastikan air sudah hangat dan mengaduknya perlahan.


Maya kembali menghampiri Juna yang sedang berbaring dengan lengannya yang menjadi penutup wajahnya.


"Haihh.. siang bolong begini malah mabuk.. benar-benar tidak ada kerjaan." Gerutu Maya mengomel.


"Minumlah ini.." Ucap Maya dan menyerahkan air madu hangat di tangan Juna, saat wanita itu sudah duduk di sofa di samping Juna.


"Mmmmm.." Hanya gumaman pria itu terdengar namun tidak ada respon yang lain.


"Aihh... benar-benar merepotkan.." Keluh Maya lagi dan menaruh gelas itu di atas meja kemudian wanita itu membantu Juna setengah duduk agar mudah untuk minum.


"Cepat minum.. ini bisa membantu mu menghilangkan efek mabuknya." Ucap wanita itu lagi sambil merangkul tubuh Juna dan mendekatkan gelas yang berisi air madu hangat.


"Sruputttt..." Juna meminum air madu itu dengan badan yang di rangkul Maya dan tubuh yang melekat dengan wanita itu.


"Minumlah yang banyak.." Ucap wanita itu lagi saat Juna akan menyudahi minumannya, sehingga pria itu kembali meminum air madu itu lagi.


Setelah gelasnya kosong Maya meletakan gelas kembali ke atas meja dan mulai merapihkan pria itu kembali ke atas bantal. Saat Maya akan meninggalkan Juna untuk membersihkan gelas di pantry, tangannya tiba-tiba di cekal oleh pria itu.

__ADS_1


"Anda sudah sadar pak?" Tanya Maya yang kembali terduduk di sofa di samping tubuh Juna.


"Hemm.." Ucap Juna singkat. Padahal selama ini dia tidak mabuk, dia mengetahui semua gerutuan wanita di depannya itu.


"Kalau begitu saya pamit dahulu pak.. bapakkan sudah sadar." Ucap Maya lagi dan hendak berdiri meninggalkan Juna, namun tangan pria itu masih saja mencekal tangan Maya.


"Jangan panggil bapak.. aku belum bapak-bapak.. dan aku juga bukan bapak kamu." Ucap Juna kesal.


"Haishh.. baiklah.. Juna bisa lepaskan tangan saya, saya mau pulang." Ucap wanita itu akhirnya.


"Tunggu temani saya sebentar." Ucap pria itu lagi.


"Ha? anda sepertinya memang tidak sehat ya? untuk apa saya menemani anda." Kesal Maya dan menarik tangannya keras, namun tangan Juna tidak bergeming dan tangannya masih dalam cekalan Juna.


"Maya.. bisakah kita berdamai?" Ucap pria itu lagi.


Juna meluruskan dirinya untuk duduk tegak agar bisa berhadapan langsung dengan Maya. Maya sedikit menggeser tubuhnya, entah mengapa dia memiliki firasat tidak enak.


"Bisakah beri aku kesempatan untuk mendekati mu dengan wajar, aku tahu mungkin selama ini aku menyebalkan bagi mu.. tapi bisa tidak beri aku kesempatan buat lebih bisa mengenal mu." Ucap Juna lagi.


"Juna.. sepertinya kau terbentur ya? apa kau sakit? astaga apa yang harus aku lakukan.. tunggu haruskah aku menelpon dokter hotel." Ucap Maya yang mengoceh tidak karuan dan mulai panik.


"Juna ini berapa?" Tanya Maya sambil mengangkat jari telunjuk dan jari tengahnya. Juna menepis lengan gadis itu yang bebas.


"Aku tidak buta dan aku tidak sakit. Aku serius bicara kepada mu Maya. Aku tertarik kepada mu sejak saat kita di kota S." Ucap Juna jujur.


"Aihh kau sepertinya benar-benar sakit." Ucap Maya lagi tidak percaya.


"Maya.. aku serius.. awalnya aku mengira mungkin karena hanya kau wanita yang berada di sekeliling ku, dan aku jadi fokus terhadap mu. Namun akhir-akhir ini aku sudah mencoba dekat dengan beberapa wanita lain, dan itu semuanya tidak bisa. Hanya bayangan wajah mu dan omelan mu yang selalu membayangi ku." Ucap Juna jujur.

__ADS_1


"Kau mabuk Juna.. aku akan pergi." Ucap Maya dan mencoba melepaskan cekalan tangan pria itu sekuat tenaganya. Akhirnya cekalan tangan itu lepas namun di gantikan dengan pelukan erat dari Juna.


"Arghh.. lepaskan aku Juna!! Astaga!! apakah kau gila?" Ucap Maya dan memberontak dari pelukan Juna.


"Ya.. aku gila akhir-akhir ini gara-gara kamu!! setiap saat hanya wajah mu yang selalu membayang-bayangi ku.." Ucap pria itu lagi sambil terus memeluk erat Maya.


"Ishh itu urusan mu bukan urusan ku. Sudah lepaskan aku mau pulang.. nanti malam ada misi yang harus aku selesaikan!! tidak ada waktu untuk mendengar ocehan orang mabuk!!" Ucap Maya dan terus bergerak memberontak di dalan dekapan Juna.


"Aku tidak mabuk Maya.. aku 100% sadar sengan semua yang ku lakukan dan semua hal yang aku ucapkan." Ucap Juna lagi.


"Sudahlah.. lepaskan aku!! pengap tau!!" Kesal wanita itu dan masih saja begerak di dalam tubuh pria itu dan tanpa sengaja menyenggol benda keramat Juna.


"Maya!! hentikan gerakkan mu.. Jika tidak kita bisa berakhir di atas ranjang ku!!" Ucapan Juna langsung mampu membuat tubuh Maya diam seketika tidak bergerak dan tidak berbicara bagaikan sebuah patung.


"Harusnya dari tadi saja aku mengancam mu, jika saja aku tahu efeknya akan secepat ini." Ucap Juna menjahili wanita itu.


"Aihh.. cepat lepaskan tubuh mu.." Ucap wanita itu dengan suara pelan, dia takut jika banyak bergerak atau bersuara akan mempengaruhi jaguar di sana.


"Emhh.. nyamannya.." Ucap pria itu yang malah merebahkan tubuhnya di atas sofa dan membawa tubuh Maya masih di dalam dekapannya. Sehingga tubuh wanita itu berada tepat di atas tubuhnya.


"Apa yang kau lakukan!" Ucap Maya bingung dan takut akan bergerak.


"Stttt diam.. jangan bersuara dan jangan bergerak.. nanti dia bisa bangun dan aku tidak akan bertanggung jawab jika dia sudah mengamuk." Ucap Juna kembali mengusili Maya.


Maya hanya bisa terdiam berada di dalam dekapan pria itu dengan tubuhnya yang berada tepat di atas tubuh Juna.


Juna memejamkan matanya dan mulai terlelap dengan tubuh Maya yang berada di dalam pelukannya.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2