JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Menemui seseorang


__ADS_3

"Hah apa? Mengapa masalah datang bertubi-tubi dan datang silih berganti.." Gumam Roy dengan nada sedikit frustasi.


"Hemm aku juga tidak mengerti kak.. Yang buruk adalah tidak ada rekaman CCTV, namun untunglah kedua petugas keamanan melihat wajah orang itu dan saat ini mereka berdua sedang memeberikan keterangan untuk di buatkan sketsa wajah untuk pelakunya.


"Aku berencana untuk mendatangi sel Bilky dan menanyakannya mengenai informasi orang itu.. Namun sepertinya aku butuh izin mu kak untuk membawa Marina bersama ku.. Anton bilang jika tanpanya sepertinya negosiasi akan berjalan alot." Ucap Alice lagi.


"Baiklah lakukan apapun yang menurut mu benar.. Aku memeberikan izin, aku akan memberikan hak penuh untuk mu untuk mengatur semuanya di sana.." Ucap Roy dan memberikan dukungan kepada Alice.


"Baik Kak.." Ucap Alice cepat.


"Tapi ingat Alice, keamanan diri nomor satu. Dan jangan lupakan laporan tertulis mu." Roy kembali mengingatkan gadis muda itu.


"Baik kak.. Siap laksanakan.." Ucap Alice cepat dan kemudian mematikan ponselnya.


"Huft.. Akhirnya selesai juga.. Aku paling malas jika harus berhubungan dengan lembaran lembaran kertas laporan.. Haishh.. Kak Juna.. Kau membuat tangan ku menderita.." Gumam Alice cepat sambil sedikit mengacak rambutnya frustasi.


Alice segera keluar dari bilik toilet itu dan melihat penampilannya dari pantulan cermin di wastafel itu.


"Haishh.. Aku benar-benar kusut.." Gumamnya saat melihat tampilannya yang seperti bangun tidur dan mata panda di mana-mana.


Alice membuka tas kecilnya dan mengambil bedak dan consiler miliknya untuk menutupi mata pandanya dan setelah itu mengaplikasikan sedikit lipstik dan memberikan sedikit lipstik juga pada tulang pipinya dan meratakannya perlahan agar tampak seperti blush on.


"Nah.. Begini lebih manusiawi.." Gumam Alice saat melihat pantulan di depan cermin yang jauh tampak lebih hidup dan segar.


Setelah merapihkan riasan simplenya, Alice keluar dari toilet dan bergegas menghampiri suaminya yang masih setia duduk di kursinya.


"Maaf lama sayang.." Ucap Alice meminta maaf kepada Anton karena wanita itu membutuhkan waktu lebih lama untuk menghubungi Roy dan juga sedikit berdandan.


"Tidak masalah sayang.." Ucap Anton lagi.


"Ayoo.. Ini sudah jam 07.00 AM sepertinya aku bisa berkunjung sekarang.. Kau ikut saja.. Kau lebih mengetahui keadaan ini dari pada aku.." Ujar Alice mengajak Anton untuk mengunjungi Marina istri Jhon.


"Baiklah.." Ucap Anton dan berjalan berdampingan dengan Alice menuju lantai atas dimana Marina berada.


Saat Alice akan memasuki ruangan perawatan Marina, terlihat empat orang yang sedang berjaga di depan pintu itu.


Alice datang menghampiri mereka dan memperlihatkan identitasnya yang ada di ponselnya, "Aku inginmenemuinya untuk menanyakan sesuatu.." Ucap Alice sambil memperlihatkan ponselnya yang terdapat nama dan juga tingkatannya disana.


"Silahkan Bu.." Ucap mereka sopan dan menggeser tubuhnya untuk memberikan Alice akses untuk masuk.


"Dia bersama ku.." Ucap Alice lagi sebelum benar-benar masuk kedalam ruangan itu.


Keempat penjaga yang sebelumnya akan menghalangi Anton, dengan sigap mereka memberi jalan untuk Anton dan membiarkan kedua orang itu masuk kedalam ruangan perawatan itu.


"Selamat Pagi Nyonya Marina.." Sapa Alice sopan dan ramah saat melihat seorang wanita tua yang sedang terbaring dengan posisi setengah duduk dengan tempat tidur otomatis.


"Selamat pagi.." Jawab wanita tua itu dengan tatapan sayu dan tidak bersemangat. Namun masih tampak raut keheranan pada wajah wanita tua itu.


"Saya Alice Anatasya atau kalian mengenal saya dengan Adeliana Fransisca Baskoro.." Ujar Alice mengenalkan dirinya.


Marina yang mendengar itu membelalakan matanya bulat dan memandang nanar kepada Alice.


"Kau! Semua ini karena kau! Anak dan suami ku hancur karena mu!" Tuduh wanita tua itu sambil menunjuk kearah wajah Alice.


"Nyonya.. Sepertinya anda sedikit lupa.. Saya di sini adalah korban dari obsesi anak anda dan suami anda yang menginginkan harta dan kehormatan. Seharusnya anda menyadari itu bukan? Semua yang terjadi dengan mereka adalah hal yang seharusnya mereka dapatkan karena telah melakukan hal-hal yang buruk.." Ucap Alice tegas.


"Kau!" Wanita tua itu masih menunjuk Alice dengan emosi.. Namun di dalam hatinya dia memang merasakan keadaan ini memanglah salah, namun karena keegoisannya dia mengabaikan semuanya.


"Aku tidak ingin berdebat dengan mu.. Aku hanya ingin menunjukkan keadilan yang selama ini tertutup dengan uang yang kalian berikan.. Dan kini sudah saatnya untuk menebus semuanya bukan." Ucap Alice lagi santai.


Wanita tua itu hanya diam dan mengepalkan kedua tangannya kesal karena tidak bisa berbuat apa-apa.

__ADS_1


"Aku datang kesini untuk meminta mu ikut dengan ku untuk menemui seseorang.. Saya akan memberikan waktu 10 menit untuk bersiap." Ucap Alice cepat dan segera meninggalkan ruangan itu bersama dengan Anton.


"Kau tidak apa-apa?" Tanya Anton saat keduanya sudah keluar dari ruang perawatan itu.


"Kalian bersiaplah kita akan pergi ke suatu tempat.." Ucap Alice menyuruh ke empat penjaga itu.


Keempat pria penjaga itu saling melirik dan kemudian menganggukkan kepalanya mengerti, "Baik Bu.." Jawab semuanya kompak.


Setelah dua orang penjaga itu pergi untuk melakukan sesuatu, dua penjaga lainnya masih bersiaga di depan pintu itu.


"Aku tidak apa-apa, aku hanya sedikit kesal tapi tidak apa.." Ucap Alice akhirnya.


"Hemm.. Abaikan saja nenek tua itu jika dia sangat menyebalkan.." Ucap Anton singkat dan sukses membuat Alice tertawa.


"Hemm.. Aku akan mengabaikannya jika dia membuat ku kesal." Ujar Alice dan kembali tersenyum cerah.


Alice menghubungi seseorang di ponselnya dan kemudian menyuruh orang itu untuk datang ke tempat dimana dia berada. Tidak lama pria itu muncul di hadapan Alice.


"Bu.. Ini sketsa wajah wanita yang di lihat oleh kedua petugas keamanan itu.." Ucap pria itu hormat sambil memberikan hasil sketsa wajah wanita yang dicari itu.


"Baik.. Terima kasih.. Aku akan pergi ke penjara untuk mencari tahu siapa pemilik wajah ini, selain itu kalian juga cari melalui digital.." Ucap Alice memberikan arahan.


"Baik Bu.." Jawab pria itu cepat.


"Baiklah kau bisa kembali menyelesaikan pekerjaan mu." Ucap Alice dan mempersilahkan pria itu pergi.


"Saya permisi Bu.." Pamit pria itu dan segera pergi meninggalkan lorong rumah sakit itu.


"Baguslah.. Kita segera mendapatkan seketsa wajahnya tepat waktu.." Ujar Alice sambil memandang gambar seorang wanita disana.


"Ya.. Kita jadi bisa menyelesaikan masalah ini dengan cepat." Ucap Anton setuju.


"Baiklah ini sudah sepuluh menit.. Ayo kedalam.." Ucap Alice lagi dan kembali membuka pintu ruang perawatan Marina.


"Ayo.. Kita harus segera pergi sekarang.." Ucap Alice dan berjalan di depan bersama dengan Anton.


"Bolehkah saya tahu kita akan bertemu dengan siapa?" Tanya Marina yang masih penasaran di benaknya dan ingin bertanya-tanya lagi.


"Nanti kau pasti akan mengetahuinya sendiri.. Ayo.." Ucap Alice singkat dan keluar dari kamar itu.


Kedua petugas keamanan itu dengan sigap memegang pergelangan siku Marina dan menuntun wanita tua itu berjalan di belakang Alice.


Alice dan Anton masuk kedalam mobil mereka, sedangkan Marina dan dua orang penjaga masuk ke dalam mobil Van yang sudah terisi dua orang penjaga di dalamnya yang di parkir tepat di belakang mobil Alice.


Mobil Alice yang dikemudikan oleh Anton melaju di depan membiarkan mobil yang berisi Marina mengikutinya dari arah belakang.


"Jika situasinya sulit, biarkan aku saja yang berbicara nantinya.." Ucap Anton masih fokus kepada jalanan di depannya.


"Ya.. Sayang.. Tapi sebenarnya apa yang terjadi kepada mereka? Maksud ku kenapa Billy ingin menemui Marina? Bukankah dia tangan kanan kepercayaan Jhon lalu mengapa berhubungan dengan istrinya?" Tanya Alice mulai penasaran.


"Apakah aku belum memberitahukannya kepada mu? Ya sudahlah lagi pula nanti kau pasti akan tahu sendiri.." Ucap Anton datar yang mana malah membuat Alice semakin penasaran dengan apa yang sudah terjadi.


"Ya sudah ayo keluar, kita sudah sampai.." Ucap Anton saat mobilnya di parkir di depan lapas dimana Billy di tahan.


"Haihh.. Kau malah membuat ku semakin penasaran dengan menggantungkan jawabannya." Ucap Alice sedikit kesal karena pemasarannya tidak segera terjawab.


Anton yang melihat itu hanya tersenyum geli melihat tingkah istri kecilnya itu.


Saat Anton dan Alice keluar dari mobil, Mobil yang membawa Marina juga sudah tiba dan keempat penjaganya juga keluar mengawal Marina mengikuti Alice masuk kedalam lapas sel itu.


"Kenapa kita kesini? Siapa yang akan kita temui?" Tanya Marina masih dengan wajah takut dan sekaligus penasaran.

__ADS_1


"Sabar sebentar kita akan sampai.." Ucap Alice datar.


"Kalian tunggu sebentar di sini.." Ucap Alice santai dan kemudian berjalan mendekati petugas yang bekerja di lapas dan berbicara sesuatu dan mengucapkan beberapa kata dan bukti untuk memberikannya waktu mengunjungi salah satu nara pidana di sana.


"Baiklah Bu.. Sialahkan masuk.." Ucap perugas itu membukakan pintu untuk semuanya.


Alice dan Anton masuk ke dalam sebuah ruangan interogasi lebih tepatnya yang berada di salah satu ruangan itu, dan di sana tampak Billy sudah duduk santai di sana meski wajahnya tampak datar tanpa ekspresi apapun.


"Kami membutuhkan bantuan mu.. Bisakah kau mengingat wanita ini siapa?" Tanya Alice langsung kepada intinya tanpa berbasa basi.


Alice menyodorkan sebuah sketsa wajah di atas meja interogasi itu. Billy hanya melirik kertas itu dengan matanya namun wajah maupun tubuhnya tidak bergerak.


"Aku tahu mungkin kau kecewa kau sudah membantu tapi masih tidak bisa menemui seseorang yang kau ingin temui.. Kami sudah membawanya kemari.. Tapi sebelum itu bisakah kau beri tahu siapa wanita ini?" Tanya Alice lagi yang sukses membuat Billy menegakkan tubuhnya dan merubah posisi duduk pria itu.


"Apakah kau berbicara dengan jujur?" Tanya Billy lagi untuk memastikan.


"Itu tergantung dengan jawaban mu bukan.. Aku bisa mengizinkannya menemui mu jika kau kembali membantu kami dalam kasus ini." Ucap Alice cepat.


"Kalian.." Belum Billy menyelesaikan kalimatnya Alice segera memotong ucapan pria itu.


"Jika kau tidak ingin membantu kami tidak masalah.. Tapi bisa jadi orang yang ingin kau temui itu juga bisa jadi mengalami bahaya nantinya." Ucap Alice lagi yang sukses membuat Billy membulatkan matanya.


"Apa maksud kalian?" Tanya Billy lagi.


"Kau tahu aturannya, lebih baik tidak terlalu banyak tahu bukan.. Lebih baik kau jawab saja pertanyaan kami dan kami akan membuat semuanya baik." Ucap Alice lagi dengan sedikit nada mengancam.


"Baiklah.. Aku akan memberitahukannya kepada kalian.. Aku pernah menemui wanita itu, sepertinya dia salah satu wanita Jhon Markus yang di masukan olehnya ke rumah sakit jiwa di kota V." Jawab Billy mencoba mengingat-ingat masa lalu.


"Baiklah.. Berikan kami namanya." Ucap Alice lagi.


"Namanya adalah Jeniver Zack 2 tahun yang lalu wanita ini di masukkan oleh Jhon ke rumah sakit jiwa karena wanita itu mencoba mengungkapkan hubungannya dengan Jhon ke media massa." Ucap Billy lagi.


"Baiklah selebihnya kami akan mencari tahu mengenai identitas wanita itu sendiri.. Kami akan memberikan waktu 30 menit untuk kalian berbicara." Ucap Alice cepat dan meninggalkan ruangan itu.


"Terima kasih.. Dan.. Maaf.." Ucap Billy sebelum Alice benar-benar keluar dari ruangan itu, gadis itu masih sempat mendengar ucapan Billy padanya.


Alice sedikit tertegun sebentar, dia tidak menyangka Billy akan mengucapkan kata-kata itu padanya. Lalu dengan cepat dia kembali melangkah dan berjalan mendekati Marina dan juga ke empat penjaga itu.


"Bawa masuk wanita ini kedalam ruangan.. Kalian berempat berjaga saja di depan pintu.." Ucap Alice memberikan instruksinya.


"Baik Bu.." Jawab keempat pria itu dan berjalan mengantar Marina untuk masuk ke dalam ruangan interogasi itu.


"Huft..." Alice menghembuskan nafasnya panjang. Dia sudah merelakan semuanya dan melepaskan dendamnya. Namun saat pria itu mengucapkan kata maaf entah kenapa dia kembali menjadi sedih dan terluka.


Kata maaf saja tidak bisa mengembalikan semuanya bukan.. Semua sakitnya selama ini, semua derita dan perjuangannya selama ini.. Apakah dengan mengucapkan perkataan maaf semua bisa hilang begitu saja? Tidak.. Lalu bagaimana dengan nyawa kedua orang tuanya dan kedua kakeknya.


"Haish.. Aku benar-benar dalam suasana buruk.." Gumam Alice pelan.


Anton yang mengerti situasi itu merangkul tubuh istrinya kedalam dekapannya.


"Lebih baik kita masuk ke dalam untuk melihat mereka." Ucap Anton memberikan saran.


"Hemm ya.. Kau benar." Ucap Alice dan masuk kedalam ruang kontrol yang berada di sebelah ruang interogasi itu.


Mereka bukan maksud menguping atau sesuatu, tapi mereka harus memastikan keduanya tidak sedang membicarakan hal yang akan berhubungan dengan hukum lagi atau bahkan rencana kejahatan yang akan di rencanakan mereka lagi.


Alice berdiri di depan kaca yang memperlihatkan Marina dan juga Billy yang ada di dalam ruangan itu.


"Lama tidak bertemu Nyonya.." Ucap Billy dari gerak gerik bibir pria itu.


"Billy.. Kau di penjara di sini? Aku kira kau melarikan diri entah kemana saat Jhon di curigai sebagai tersangka percobaan pembunuhan dan penggelapan dana.." Ucap Marina tidak menyangka bahwa pria yang selama ini dikenalnya selama hidupnya malah terpenjara di dalam ruang tahanan.

__ADS_1


"Aku tertangkap saat menjalankan tugas dari Jhon.." Ucap Billy langsung menatap kedalam mata Marina.


Bersambung....


__ADS_2