
"Kau ingin beralih profesi menjadi pastry chef?" Tanya Maya bingung.
"Sembarangan kalau ngomong." Ucap Juna kesal.
"Aku membawakan itu dari bagian dapur. Aku meminta mereka menyiapkannya untuk kalian. Aku tahu kalian pasti lelah dan butuh mood boster karena seharian berkutat dengan senyum yang kalian paksakan itu." Ucap Juna dan kemudian dengan santainya duduk di sofa.
"Ha? Baik sekali kau.. Ehh.. Bagaimana kau tahu? Apakah kau melihat kami?" Tanya Maya mulai penasaran.
"Tidak.. Hanya menebak.. Sudah makan itu jangan banyak tanya, jika tidak mau berikan saja semuanya pada Alice." Ucap Juna berbohong dan mengalihkan pembicaraan.
Ya.. Seharian ini pria itu memang memantau situasi di sana. Tapi selain itu dia malah melihat aktifitas Maya dan Alice saat melakukan pemotretan. Juna makin terpukau dengan kemampuan wanita di depannya ini.
Meski kadang terlihat dingin dan sedikit urakan, namun dia benar-benar bisa melakukan semua hal yang berhubungan dengan musi dengan sangat baik. Dia melakukannya dengan totalitas dan mampu mengimbangi kemampuan Alice. Dia semakin terpukau dengan wanitanya ini.
"Apa yang kau lamunkan?" Tanya Maya yang memutuskan lamunan pria di depannya ini.
"Ehem.. Tidak ada.. Mana Alice?" Tanya Juna lagi.
"Berendam.." Ucap wanita itu singkat sambil menyendok dan memasukkan Custard ke dalam mulutnya.
"Oh.." Ucap Juna singkat.
"Kau sudah mengantar ini, lalu apa yang kau lakukan lagi di sini?" Ucap Maya di sela makannya.
"Ha? Kau pikir aku pelayan.. Setelah mengantarkan aku kembali.. Enak saja! Aku ini masih bos mu ya." Ucap Juna kesal merasa seperti di usir oleh wanita ini.
"Ah.. Maaf.. Baiklah lakukan apapun mau mu.. Jangan hiraukan aku.. Anggap saja rumah sendiri." Ucap Maya datar tanpa ekspresi. Yang tampak dari wajahnya sebenarnya wanita itu ingin bilang lakukan sesuka mu lah bos.
Beberapa saat kemudian Alice keluar dengan baju jumper pendeknya yang berwarna biru toska.
"Ah.. Jun.. Kau di sini?" Ucap Alice dan kemudian duduk di sofa di samping pria itu.
"Hmm.. Aku bawakan cemilan untuk mu." Ucap Juna dan menunjuk troli itu dengan matanya.
"Wah.. Terima kasih.. Ini benar-benar merupakan mood boster." Ucap Alice dan menghampiri troli kecil itu. Gadis itu melihat apa saja yang ada di dalam troli itu dan lebih memilih waffle dengan es cream.
Alice membawa piring kecilnya dan membawanya sambil duduk di sofa itu lagi.
"Kau tidak makan?" Tanya Alice yang sudah menyuapkan lotongan waffle di tambah dengan lelehan ice cream vanila.
__ADS_1
"Tidak.. Aku sudah makan tadi." Ucap Juna singkat.
"Ohya aku lupa membuatkan mu minum. Mau kopi atau teh?" Tanya Alice.
"Kopi.." Ucap Juna singkat.
"Baiklah.. Tunggu sebentar." Ucap Alice dan menyimpan piringnya di atas meja. Namun sebelum gadis itu beranjak, Maya menyelanya.
"Biar aku saja yang buatkan. Kau lanjutkan lagi saja makan mu." Ucap Maya dan beranjak pergi ke pantry.
"Ahh.. Okey." Ucap Alice dan kembali mengambil piring di tangannya dan mulai menyuapkan kembali makanan manis itu.
"Kau sedang mengincarnya ya?" Ucap Alice di sela makannya saat melihat Juna tidak mengalihkan pandangannya kepada wanita itu.
"Uhuk.. Uhuk.." Juna berpura-pura batuk karena tidak menyangka akan mendapatkan pertanyaan dari Alice.
"Apakah terlalu jelas?" Ucap Juna.
"Hemm.. Ya sangat jelas menurutku." Ucap Alice lagi di sela makannya.
"Ya.. Aku tertarik kepadanya.. Tapi sepertinya dia terlalu lurus seperti diri mu dahulu sebelum bertemu dengan tunangan mu." Ucap Juna.
Pria itu masih menatap punggung Maya dari kejauhan. Juna tidak sadar perubahan raut wajah Alice yang sedikit murung itu dan menghentikan sendokknya di udara. Alice terdiam dan beberapa saat kemudian raut wajah gadis itu tampak seperti biasa lagi bertepatan saat Juna menghadap ke arah wajahnya.
"Hemm.. Ya.." Ucap Alice singkat dan memasukkan wafel dan es cream ke dalam mulutnya.
Makanan manis dan dinginnya entah mengapa saat ini malah terasa hambar. Gadis itu benar-benar merindukan kekasihnya namun dia masih belum bisa memaafkan perbuatannya.
"Aku sudah selesai. Aku akan ke kamar dahulu." Ucap Alice dan beranjak dari sana.
"Ehh.. Makanan mu masih banyak." Ucap Juna yang melihat waffle dan es cream di piring gadis itu masih tersisa banyak.
"Aku kenyang.. Aku lelah.. Aku akan istirahat dahulu." Ucap Alice sebelum pintu ruang kamar itu benar-benar tertutup.
"Apakah aku salah bicara?" Tanya Juna bingung.
"Ini kopinya.. Ada apa? Alice kemana?" Tanya Maya yang menyerahkan kopi di atas meja tepat di depan Juna.
"Ke kamarnya.. Apa aku salah bicara? Sepertinya dia sedang tidak dalam mood yang baik." Ucap Juna.
__ADS_1
"Memang kau bicara apa kepadanya?" Tanya Maya penasaran.
"Tidak.. Tidak bicara apa-apa." Ucap Juna sedikit malu. Mana mungkin Juna jujur dan bilang bahwa mereka sebelumnya sedang membicarakan wanita itu.
"Ah.. Mungkin karena kelelahan.." Ucap Maya agar pria itu tidak terlalu khawatir kepada Alice.
"Ya.. Mungkin saja."
***
Sedangkan di sisi lain..
"Tuan.." Paul tiba tepat di depan Anton yang sedang duduk di sofa.
"Duduklah." Ucap Anton menyuruh Paul untuk duduk di sofa.
"Bagaimana hasil penyelidikannya?" Tanya Anton.
"Masih belum ada pergerakan sekarang tuan. Tampaknya Fiktor tidak melakukan serangannya lagi untuk menangkap nona Alice." Ucap Paul singkat mengenai situasi anak buah Fiktor.
"Bagaimana situasi saham yang di miliki pria itu?" Tanya Anton lagi.
"Sesuai intruksi tuan. Sebelumnya saya sudah memantau saham yang di miliki Fiktor dan istrinya Barbara. Tanpa sepengetahuan Fiktor, Barbara menjual sedikit demi sedikit aset Baskoro grup di bawah namanya. Kita juga sudah membeli aset itu dan aset lainnya yang berada di pemegang saham lain dan sudah menjadi milik kita juga." Jelas Paul.
"Ingat jangan sampai membuat mereka curiga." Ucap Anton mengingatkan.
"Baik tuan. Semua aset itu sudah saya atur dengan nama pemiliknya yang berbeda, sehingga mereka tidak akan curiga." Ucap Paul lagi.
"Lalu bagaimana keterlibatan mereka dalam penyergapan semalam dengan Fiktor. Apakah ada bukti?" Tanya Anton lagi.
"Bukti langsungnya tidak ada tuan, tapi kami hanya mendapatkan bukti tidak langsungnya. Dan itu tidak bisa memberatkan Fiktor untuk di lakukan penangkapan dan penggeledahan barang bukti di rumahnya." Jelas Paul.
"Ahh.. Kalau begitu siapkan seseorang untuk menyusup ke kantornya dan juga ke rumah pribadinya." Ucap Anton lagi.
"Baik tuan."
"Bagus.. Lakukan terus pemantauannya.. Apapun itu jangan terlewatkan." Ucap Anton lagi. Paul mengangguk dan kemudian pergi dari sana, meninggalkan Anton sendirian di dalam kamar.
"Aku akan mengembalikan semua hal yang seharusnya menjadi milik mu. Aku akan berusaha keras membawakan kembali kebahagiaan mu dan juga properti milik keluarga mu." Ucap Anton monoton menatap layar ponsel yang memperlihatkan wajah ceria gadis yang di cintainya itu.
__ADS_1
"Aku merindukan mu.." Ucap Anton yang mengelus layar ponselnya itu.
Bersambung...