
-Author POV-
Roy, Galih dan Juna beserta anggota RJP sampai di Hampton dimana disana merupakan titik rencana pertemuan antara Alice dan Belinda. Namun setelah satu jam mereka menyusuri seluruh kawasan kota yang sudah terbengkalai itu, mereka tidak menemukan apapun disana.
"Bos sepertinya mereka memang tidak pernah kemari." Ucap salah satu anak buah RJP melaporkan kepada Juna.
"Sialan! Kemana lagi kita harus mencari Alice? Bahkan tidak ada satupun GPS yang terpasang pada tubuh gadis itu. Arghh sial!" Ujar Juna emosi sambil menendang udara dengan kesal.
"Tunggu! Aku memiliki email tanpa nama. Dia hanya memberikan sebuah nama tempat, dan saat aku selidiki dari satelit, aku menemukan tempat itu merupakan gudang tekstil kosong yang sudah lama tidak beroprasi. Mungkinkah ini adalah titik lokasi Alice? Dan titik ini berada berlawanan dari titik kita saat ini." Tanya Galih yang bingung saat mendapat email dari ponsel pintarnya.
"Siapa pengirimnya?" Tanya Roy antusias.
"Aku tidak tahu, tidak bisa di lacak. Namun email ini juga yang dahulu pernah memberitahuku mengenai musuh kita saat di kapal pesiar." Ucap Galih memastikannya lagi.
"Baiklah lebih baik kita kesana dan melihatnya langsung daripada harus menyusuri seluruh kota di negara X ini." Ucap Roy mengambil keputusan.
"Nyawa Alice lebih berharga. Ayo bergerak!" Ucap Roy dan segera pergi menuju mobil mereka. Begitu juga dengan anggota yang lain yang siap mengikuti perintah dari atasan mereka.
****
Seorang wanita masuk kedalam ruangan kumuh dengan sepatu high heelsnya. Wanita itu melihat seorang gadis yang meringkuk dengan tubuh yang masih terikat tergeletak di lantai. Seorang pria mengikuti wanita itu berjalan dari belakangnya, pria itu bertubuh tinggi besar dengan tato sebuah taring yang berada di lehernya.
"Wah wah wah.. Sepertinya kau sudah sangat terbiasa ya tidur di lantai dengan posisi seperti itu." Ejek Belinda dengan tatapan meremehkan.
"Terima kasih semua berkat kebaikan anda tante Belinda." Jawab Alice dengan nada tidak kalah sinis.
Yaa.. Wanita itu adalah Belinda Starry.
"Lepaskan ikatan dia." Perintah Belinda kepada pria yang berada di belakang mengikutinya.
Pria itu perlahan berjalan mendekati kursi Alice dan melepaskan ikatan yang mengikat Alice dengan kursi kayu itu.
Alice meringkuk dan mencoba membenarkan posisinya dengan perlahan. Merasa lega bisa sedikit terbebas dari ikatan kursi itu. Gadis itu sedikit meringis saat menggerakkan kaki dan tangannya.
Sepertinya gadis itu memiliki lebam-lebam di sekujur tubuhnya, terlihat dari beberapa bagian biru dan unggu pada bagian yang tidak tertutupi pakaian. Rasa ngilu dan nyeri mendominasi seluruh tubuhnya, namun Alice tidak menghiraukan.
Alice diam-diam meraba bagian bawah perutnya dan melihat tidak ada tanda apapun dari bagian bawah perutnya dan dari celana yang dia kenakan tidak ada tanda perdarahan atau apapun.
'Syukurlah sepertinya kandungan ku lebih kuat.' Batin Alice dan perlahan mencoba duduk bersimpuh di depan Belinda.
"Apa yang kau inginkan sekarang tante Belinda?" Tanya Alice dengan mendonggakkan kepalanya melihat Belinda yang masih Berdiri tegak dan angkuh di depan wajah Alice
"Gadis pintar! Aku ingin kau menandatangani surat peralihan kekuasaan mu atas nama ku." Ucap Belinda santai dan memberikan kertas pernyataan itu.
"Tante Belinda.. Bukankah jika terjadi sesuatu pada ku akan otomatis membuat kepemilikan atas nama ku menjadi milik paman Fiktor? Dengan kata lain, itu juga menjadi milik mu. Lalu mengapa kau membuat diri mu kerepotan hanya untuk penyekap ku dan meminta tanda tangan ku untuk penyerahan kepemilikan itu?" Tanya Alice heran, meski gadis itu sedikit banyak sudah dapat membayangkan apa keinginan wanita itu dari berkas sebelum misi mereka dilakukan.
Belinda adalah wanita angkuh, arogan dan gila, wanita yang tidak akan pernah puas dan bahkan tidak ingin di kendalikan bahkan oleh keluarganya. Wanita ini bisa menggila dan bahkan bisa menjadi bom waktu penghancur bagi siapapun yang berada di dekatnya.
Namun Alice sengaja memancing Belinda berbicara agar paman Fiktornya yang sedang bersembunyi di suatu tempat bisa mendengar percakapan mereka dengan telinganya sendiri.
"Pria bodoh itu sudah berani membawa masuk wanita j@l@ng keatas kasur ku. Cepat atau lambat aku pasti akan di tendang olehnya. Sebelum itu terjadi bukankah lebih baik aku merebut semuanya dari tangannya dan baru menendang pria dan wanita J@l@ng itu." Jawab Belinda penuh dengan emosi.
"Kau sangat tidak berperasaan tante Belinda. Bukankah selama ini kau selalu mendukungnya."
"Ini salahnya karena sudah berani-berani menghentikan apapun keinginan ku dan mempertanyakan apa yang aku miliki. Aku paling tidak suka di usik apalagi oleh pria miskin yang entah dari keluarga mana yang mencoba mengatur ku. Dia hanya seorang anak angkat tapi berani mengatur ku! Ini semua adalah hasil kerja kerasku sendiri bisa sampai seperti ini." Kata Belinda membeberkan semuanya.
"Kau tenang saja setelah kau mati, aku juga akan mengirim paman mu agar kalian bisa berkumpul di neraka sana." Ucap belinda lagi dengan nada sinis.
"Sudahkah kau dengar itu paman ku tersayang! Inikah yang kau tunggu? Mati di tangan wanita yang kau lindungi dan berani menghancurkan cinta dan kasih sayang keluarga yang merawat mu dari kecil. Dan saat waktunya tiba nanti, kaupun akan di lenyapkan olehnya." Ucap Alice keras sambil tersenyum mengejek.
__ADS_1
"Apa maksud ucapan mu itu? Paman? Paman yang mana?" Ucap Belinda panik sambil menyisir pandangannya kekanan dan kekiri melihat apakah ada orang lain di ruangan itu.
Tiba-tiba muncul sosok keluar dari balik jendela. Pria itu tersenyum sinis ke arah Belinda.
"Itukah yang sudah kau pikirkan selama ini Belinda? Melenyapkan ku juga?" Ucap Fiktor dingin.
"Heh.. Kau tahu juga memangnya apa yang perlu aku jelaskan lagi. Baguslah jika kau sudah tiba juga disini, dengan begitu aku tidak perlu repot merencanakan kematian untuk mu." Ucap Belinda sinis.
"Lenyapkan dia juga! Aku akan memberikan uangnya dua kali lipat." Kata Belinda memerintah pria di belakangnya.
Pria di belakang Belinda tersenyum sinis, "Geng Gigi Naga! Lenyapkan mereka!" Perintahnya tegas.
Dalam sekejap mata muncul banyak pria dari balik pintu dan menggunakan pakaian serba hitam dengan tato Gigi taring di lehernya yang sama persis dengan pria yang memerintahkan mereka.
"Sialan! Ini tidak baik." Ucap Alice menggerutu saat melihat jumlah pria yang mengelilinginya sangat banyak.
Mungkin tidak masalah jika dia tetap melawan namun dengan bergerak mengarah keluar dari gudang ini. Dan jika ada kesempatan lari dan bersembunyi sampai pertolongan tiba. Namun jika dia harus terus disini sampai menyelesaikan mereka semua, Alice yakin dirinya sendiri yang akan selesai dari dunia ini.
Alice bangkit dari duduknya dan bersiap dengan kuda-kudanya. Sedangkan Fiktor masih berdiri tegak santai dan tersenyum dingin.
"Apa kau pikir aku keluar menampakkan diri tanpa persiapan Belinda Starry?" Ujar Fiktor tidak kalah dingin dan sinis menghadap Belinda.
Fiktor mengeluarkan sesuatu dari balik jasnya dan itu adalah sebuah senjata Api yang langsung di condongkan kedepan mengarah kepada kepala Belinda.
"Apa!" Pekik Belinda kaget tidak menyangka Fiktor membawa benda itu sampai kesini. Dengan refleks Belinda bersembunyi di balik tubuh para pria geng mafia Gigi Naga itu.
"Lindungi aku! Lindungi aku!" Pekik Belinda khawatir akan keselamatannya dan bersembunyi di balik tubuh seorang pria.
Refleks para mafia Gigi Naga itu mengangkat tangannya keatas. Namun anggota mafia yang memang sering melihat senjata api hanya saling pandang sesama mafia dan memberikan sebuah kode satu sama lain untuk melumpukhan Fiktor.
"Ini buruk!" Gumam Alice dan dengan cepat Alice bersembunyi di balik balok kayu yang berjajar tepat disampingnya.
"Aishh memang tidak ada bagusnya berurusan dengan mafia. Mereka sudah terbisa menggunakan senjata tajam maupun senjata api. Mereka akan pura-pura menyerah padahal mereka mengambil kesempatan untuk mengambil senjata di balik tubuh mereka dan siap melumpuhkan mu." Gumam Alice.
"Dan sialnya aku tidak memiliki salah satu senjata itu bersama ku!" Gerutu Alice lagi.
***
Sedangkan disisi lain, Anton memasuki kawasan pabrik tekstil terbengkalai tempat Alice di sekap. Pria itu sudah menyuruh anak buahnya untuk memantau pergerakan genk mafia Gigi Naga.
"Bagaimana? Kau sudah memberikan titik lokasi kepada anggota RJP?" Tanya Anton memastikan.
"Sudah tuan. Dan sudah di pastikan mereka tidak akan bisa melacak siapa pengirimnya." Jawab Paul yakin.
"Bagus kalau begitu." Ucap Anton memuji kerja Paul.
"Lalu bagaimana sekarang tuan?" Tanya Paul lagi memastikan pergerakan mereka.
"Kita tunggu sampai.." Belum selesai Anton mengucapkan perkataanya, suara tembakan terdengar dari arah dalam bangunan tua itu.
Dor! Dor! Dor!
"Sialan! Kepung dan segera lenyapkan mereka. Cari dan amankan Alice!" Perintah Anton dan segera berlari kearah dalam gedung tua itu.
Pria yang tadinya ingin menyelamatan Alice dahulu tanpa ingin mengambil resiko di ketahui oleh pihak musuh agar tidak mencelakai Alice, kini berubah dan malah berhamburan masuk dan langsung mencari lokasi tepatnya gadis itu di sekap.
Anton khawatir jika sesuatu yang berbahaya terjadi kepada gadis itu. Pria itu melihat sekeliling gedung itu. Gedung itu memiliki beberapa pintu di sana. Anton bingung memilih pintu yang mana yang merupakan tempat Alice di sekap.
Dor! Dor! Suara tembakan kembali terdengar dari sudut ruangan dan dengan cepat Anton mendobrak pintu itu dan melihat di belakang tumpukan balok ada seorang gadis yang bersemunyi di sana.
__ADS_1
Anton dengan cepat berlari dan menghampiri Alice di belakang balok itu dengan latar kericuhan saling pukul antara geng Gigi Naga dengan anak buah yang di bawa Fiktor belum lagi suara latar belakang yang di iringi oleh desingan timah panas yang keluar dari magazennya.
Sebuah tubuh tiba-tiba mendekap Alice dari belakang dengan senjata masih di tangannya dan membuat gadis itu refleks berbalik dan ingin menghajar tangan pria itu agar melepaskan pistolnya. Namun saat mendengar dan melihat wajah pria di hadapannya Alice membelalakan matanya dan menjatuhkan tangannya dan menggantinya dengan membalas memeluk erat tubuh pria dihadapannya itu.
"Alice kau tidak apa-apa?" Tanya suara baritone itu dengan nada khawatir
"Anton.." Ucap Alice kaget masih tidak percaya dengan apa yang di lihatnya, Pria tampan yang sebelumnya terlihat pucat kini sudah tampak sehat dan pria itu kini berada tepat di hadapannya, "Aku tidak apa-apa, bagaimana bisa kau disini?" Lanjut Alice pelan namun tubuhnya masih memeluk erat tubuh Anton dan menyelusupkan kepalanya di dada pria itu.
"Aku disini untuk mu. Semua akan baik-baik saja. Kau aman sekarang." Ucap Anton menenagkan Alice.
Tiba-tiba seorang pria muncul dari balik balok dengan merentangkan sebuah pistol yang mengarahkan kearah punggung Anton. Alice yang melihat itu dengan refleks yang cepat melepaskan pelukannya dari tubuh Anton dan menarik tangan Anton yang memegang senjata dan mengarahkannya kepada pria penjahat dengan tato Gigi Naga dilehernya dan segera menekan pelatuk pistol itu dengan tangan Anton yang masih memegang pistol itu.
Dor!
Bruk!
Seketika tubuh yang mengarahkan pistol kearah Anton tergeletak di lantai dengan bersimbah darah dari keningnya.
"Wow refleks yang bagus." Puji Anton dan mengusap lembut rambut kekasihnya.
"Bisa kita selesaikan ini dahulu? Di sini terlalu banyak orang dan bising." Ucap Alice kesal.
"Ups maaf, aku tidak sadar lokasinya tidak tepat. Baiklah kita keluar dahulu dari sini." Ucap Anton setuju dan menggandeng tangan Alice.
Alice segera menepiskan tangan Anton cepat, "Aku merasa tidak aman jika hanya di gandeng. Bisa berikan aku sebuah pistol juga dan itu jauh membuat ku merasa lebih aman." Ucap Alice diplomatis.
"Kau memang kekasih yang mandiri." Ucap Anton memuji dan menggelengkan kepalanya pelan. Namun pria itu masih memberikan sebuah pistol lain dari balik bajunya.
"Ini magazen nya." Ucap Anton lagi dan menyerahkan isi cadangan peluru itu.
"Bagus.. Dengan begini aku baru merasa aman." Ucap Alice santai.
"Ayo cepat pergi dari sini." Ucap Alice lagi dan berjalan mendahului Anton. Gadis itu dengan santainya memimpin jalan dengan menegakkan pistol didepan tubuhnya memastikan jalannya dia lalui aman.
Saat masuk kedalam sebuah lorong jalan, terdengar beberapa orang berjalan dari arah berlawanan, Alice dengan siaga siap dengan posisi menembaknya.
Saat segerombolan orang berpakaian hitam muncul Alice siap untuk menekan pelaruk pistol itu.
"Tunggu!" Cegah Anton cepat. Namun kalah cepat dengan jari Alice yang berada di atas pelatuk itu yang sudah memuntahkan amunisinya, untunglah Anton sebelumnya mengarahkan tangan Alice kearah atas sehingga peluru itu berdesing menembus atap.
"Ada apa?" Tanya Alice bingung dan kesal tembakannya jadi meleset menembus ke atap.
"Mereka anak buah ku. The Black Phanter." Ucap Anton cepat.
"Upsss maafkan aku." Ucap Alice merasa bersalah kepada anak buah Anton yang berdiri tepat di depan rombongan itu.
"Tidak apa-apa nona." Jawab pria itu sopan.
"Tuan jalan ini sudah kami bersihkan tuan bisa melewatinya dengan aman." Ucap pria itu lagi.
"Baik.. Terima kasih Billy." Ucap Anton dan pergi kejalan yang di lalui oleh rombongan itu sebelumnya.
"Untunglah tuan dengan refleks yang cepat mengarahkan pistol keatap. Jika tidak nyawamu langsung melayang tanpa bisa untuk membalas." Ucap pria yang berdiri tepat di belakang Billy.
Yaa bagaimanapun jika memilih menjadi mafia nyawa mu bukan milik diri mu sendiri, tapi jika mati tanpa bisa memberikan tembakan balasan tentu tidak akan tenangkan. Dan jika dia mati di tangan Alice, sudah pasti dia tidak akan berani melawan dan hanya pasrah saja. Itu adalah nyonya bos mereka.
Yaa.. Sebelum penyerangan, Paul dan Alex sudah memberitahu anggota mereka semua bahwa pria di balik topeng adalah Anton dan wanita yang harus di selamatkan adalah nyonya bos mereka.
"Ehemm.. Sudah sebaiknya kita cepat membersihkan kekacauan di dalam." Ucap Billy dan menyuruh anggotanya kembali bekerja membersihkan kekacauan.
__ADS_1
Bersambung....