JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Ratu semalam


__ADS_3

Keesokan harinya Amanda pergi ke Roy Jaya Putra Company dengan di antar oleh Anton. Kemudian pria itu pergi menuju rumah sakit untuk membereskan beberapa hal penting di sana.


"Pagi semua." Ucap Alice saat memasuki ruangan Galih dan di sana sudah ada Roy dan juga Juna.


"Wahh yang habis liburan.. tampak sangat cerah ya.." Goda Juna saat melihat raut wajah gadis itu secerah matahari pagi.


"Hemm.. inj aku membawakan sedikit sarapan pagi buat kalian.. Aku yakin kalian belum sarapan." Ucap Alice dan menyodorkan sebuah paperbag berisi beberpaa sandwich dan kopi.


"Terima kasih." Ucap mereka kompak.


"Al apakah kau sudah siap jika harus langsung mengerjakan misi?" Tanya Roy sedikit khawatir dengan keputusan yang dia ambil.


"Tentu aku tidak masalah.. hanya saja berikan aku waktu untuk hari ini ya.. Besok aku sudah bisa melakukan misi." Ucap Alice meyakinkan.


"Baiklah jika begitu. Galih pesankan penerbangan untuk besok pagi menuju negara X." Perintah Roy.


"Okey.." Ucap Galih tidak banyak bicara.


"Misi kali ini akan sangat berbahaya seperti misi sebelumnya. Namun bedanya misi kali ini kau akan bekerja sebagai salah seorang model di perusahaan agensi Little Star di pinggiran kota Z di negara X." Ucap Roy menjeda ucapannya.


"Kau tahu, tugas mu adalah memancing dalang yang berada di belakang ini semua, dan kau juga pasti tahu resiko ink jauh lebih berbahaya karena kita bisa jadi berada di dalam daerah kekuasaan musuh." Jelas Roy lagi.


"Aku tahu itu.. Tenang saja aku bisa menyelesaikan itu semua." Ucap Alice yakin.


"Baiklah kalau begitu.. misi mu tidak sendiri, kau juga akan pergi bersama Maya." Ucap Roy dan Alice menganggukkan kepalanya paham.


"Aku sudah membooking tiket untuk besok pagi dan tempat tinggal untuk kalian selama di kota X." Ucap Galih singkat.


"Oke terima kasih Galih." Ucap Alice tulus. Pria itu hanya menganggukkan kepalanya.


"Baiklah untuk hal lainnya.. kita mencurigai pria ini adalah Bahar Angkasa, dia adalah anggota CIA sebelumnya namum dia di pecat secara tidak hormat dan menjadi salah satu beckingan seorang pengusaha. Kita mencurigai pengusaha itu adalah dalang di balik semua ini. Namun bukti pastinya kita masih harus menyelidikinya." Ucap Galih menyerahkan sebuah foto seorang pria saat dia menggunakan pakaian seragamnya dahulu dan satu foto lagi yang sepertinya adalah foto terbarunya.


"Bagaimana kalian tahu itu jika kalian tidak punya bukti pasti?" Tanya Alice bingung.


"Ada seseorang yang meretas server ku, dan tiba-tiba masuk beberpa data kemungkinan itu. Seorang pria yang sering keluar masuk Pure Bar dan postur tubuh yang memang mirip saat pria itu turun dari motor san masuk ke markas Black Mouse. Dan pemantik besi dari bar di kota X itu." Jabwab Galih.


"Siapa yang memberikan informasi itu?" Tanya Alice lagi.


"Yang bisa mengganggu server ku kemungkinannya hanya anggota The Black Phanter." Ucap Galih santai.


"Tapi bukankah aneh, mengapa Black Phanter memberikan informasi ini untuk kita?" Tanya Juna yang mulai bingung.

__ADS_1


"Entahlah.. namun dengan kita mendapatkan info itu, kita bisa lebih berhati-hati dan lebih mencari tahu bukti sangkht pautnya di antara bos besar dan Bahar Angkasa ini." Ucap Galih berpikiran positif.


"Baiklah aku akan menyelidikinya dan lebih berhati-hati dengannya." Ucap Alice cepat.


"Baiklah jika begitu, rapat hari ini selesai." Ucap Roy dan pria itu mulai bangkit dari duduknya.


"Ahh tunggu kak.." Ucap Alice menghentikan langkah Roy yang akan meninggalkan ruangan Galih.


"Hmm?? ada yang tertinggalkah?" Tanya Roy bingung.


"Tidak kak.. emhh.. aku hanya ingin memberitahu kalian bulan ini aku akan menikah.. semuanya sedang di siapkan, namun untuk undangannya mungkin akan siap besok." Ucap Alice dengan wajah memerah.


Roy, dan Juna yang mendengar itu hanya membelalakan matanya dan berkata, "Woah..." Secara bersamaan. Hanya Galih yang tanpa sengaja menjatuhkan beberap berkas yang memang sedang dia pegang dan akan msmberikannya kepada Alice.


"Selamat untuk mu.. tapi apakah ridak masalah misi kita masih berjalan bulan ini." Ucap Roy dan di anggukki Juna.


"Hemm.. semuanya sudah di persiapkan oleh keluarga Anton.. aku hanya perlu tiba di hari H saja. tidak ada yang perlu di khawatirkan." Ucap Alice santai.


"Emhh kau tidak butuh cuti?" Tawar Roy lagi.


"Tidak perlu kak.. semua baik-baik saja kok.. jika aku membutuhkannya aku pasti aka memberitahukannya kepada kalian." Ucap Alice santai.


"Baiklah kalau begitu.. selamat untuk mu." Ucap Roy dan kemudian pergi dari ruangan itu.


"Tidak perlu kak Juna.. tidak harus sampai mengorbankan pekerjaan ku. Bagaimanapun itukan tugas ku, dan bahkan aku yang mengajukannya. Untuk hal di luar itu semua sudah di selesaikan oleh keluarga besar Anton. Tidak ada yang perlu di khawatirkan. Aku baik-baik saja dengan semua ini." Ucap Alice lagi.


"Haishh baiklah kalau begitu.. Berarti kau harus lebih berhati-hati, tidak lucu nanti saat tanggal pernikaham wajah mu malah lecet." Gurau Juna.


"Iya kak tenang saja kak Juna." Ucap Alice mengiyakan. Galih masih memunguti beberapa berkas di lantai dengan enggan.


"Baillah aku keluar dahulu.. ada beberapa hal yang harus aku urus. Bye Al, Galih." Ucap Juna dan meninggalkan tempat itu. Alice menganggukkan kepanya sedangkan Galih hanya diam saja.


"Aku juga mau pergi dahulu Gal.. Bye.." Ucap Alice dan segera pergi dari tempat itu. Saat tersadar Galih melihat ke sekeliling ruangannya sudah tidak ada siapapun di ruangan itu.


"Haruskah aku memberikan berkas-berkas ini di saat seperti ini.. Jika aku memberikannya aku pasti akan menghancurkan kebahagiaannya, tapi jika aku tidak memberikannya bukankah itu juga akan menghancurkan mimpinya. Ya tuhan.. apa yang harus aku lakukan." Gumam Galih dan meremas rambutnya frustasi.


***


Alice pergi ke butik tempat janjiannya dengan ibu mertuanya, LUXE (Elizabeth LUX) Butik yang berada di pusat kota. Alice memasuki ruangan itu, hawa pendingin ruangan menyambut kedatangannya dengan mendinginkan hawa panas pada tubuhnya saat melewati parkiran mobil tadi.


"Wahh indahnya." Ucapnya saat melihat sekeliling tempat ini di penuhi oleh banyak sekali gaun berwarna putih, bahkan ada beberapa dengan warna yamg berbeda. Gaun dengan ekor panjang, gaun dengan belahan dada dan punggung bahkan ada juga gaun dengan mahkota di atas kepala manekin itu. Sungguh pemandangan yang menyejukkan mata.

__ADS_1


"Nak.. di sini." Ucap Lidia saat dia melihat sosok Alice yang mulai memasuki ke dalam ruangan.


"Ini calon menantu saya, namanya Alice jeng Elizabeth." Ucap Lidia memperkenalkan Alice kepada seseorang di sana.


"Wahh cantiknya.. Bisa saja ya memilih menantu-menantu yang cantik-cantik seperti ini." Ucap Elizabeth memuji.


"Alice kenalkan ini Bu Elizabeth, dia designer baju pernikahan kalian nanti." Ucap Lidia memperkenalkan temannya itu.


"Senang bertemu dengan Anda Bu Elizabeth." Ucap Alice sopan.


"Aih.. sudah cantik sopan pula." Ucap Elizabeth dan mengusap-usap punggung tangan Alice.


"Baiklah yuk saya perlihatkan beberapa pakaian." Ucapnya dan segera masuk ke dalam ruangan yang telah di siapkan.


Alice mencoba sebuah gaun panjang dengan detail cantik di dada depan dan di belakangnya.




"Wahh cantik sekali.." Puji Lidia saat Alice mengenakan gaun putih itu. Kemudian Lidia memfoto beberapa pose Alice dan segera mengirimkannya kepada kedua menantunya untuk menanyakan pendapat mereka.


"Ganti yang satu lagi Al." Ucap Lidia dan Alice menganggukkan kepalanya dan segera memasuki ruang ganti lagi di bantu oleh dua orang petugas butik.



Sebuah Gaun cantik dengan banyak permata.. Indah yang bertaburan di seluruh bagian dress.



Lidia terpaku saat melihat Alice menggunakan gaun keduanya. Wanita itu hampir saja lupa untuk memotret Alice dan mengirimkannya kepada kedua menantunya. Untunglah Elizabeth mengingatkannya sehingga Lidia bisa mendapatkan beberapa foto Alice.


"Alice, menurut ibu dan kedua kakak ipar mu, ini lebih cocok dan cantik di tubuh mu." Ucap Lidia mengutadakan pendapatnya.


"Baik Bu.. Alice ambil yang ini saja." Ucap Alice. Alice juga menyukai pola detail pada gaun itu.


"Ini ada tiara dan juga veil." Ucap Elizabeth dan membantu memasangkannya di kepala Alice.



"Kau sangat cantik Alice. Kau bagaikan Ratu satu malam." Ucap Lidia sambil mengusap air matanya yang merembes di pelupuk matanya. Wanita tua itu sangat bahagia melihat Alice tersenyum bahagia menggunakan gaun pengantin ini.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2