JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Memberikan kesempatan


__ADS_3

"Kau jauh pendiam sekarang.." Keluh Juna saat mereka sudah tiba di sebuah rumah sederhana ditepi pantai.


Sepanjang jalan di dalam mobil Laristha tidak banyak bicara kecuali memberikan arahan kemana tujuan mereka. Saat berjalan kaki menuju rumah tepi pantai itu juga Laristha diam seribu bahasa. Juna hanya mengikuti langkah wanita itu dari samping dan lama kelamaan pria itu geram dengan diamnya wanita yang selalu mengganggu pikirannya itu.


Tidak membalas ucapan Juna, Laristha lebih memilih masuk kedalam rumah kecilnya dan mengambil beberapa barang dan memasukkannya kedalam koper kecilnya.


Setelah semua barang yang di rasa cukup wanita itu menggeser kopernya menuju pintu keluar.


"Laristha.. Ada apa? Mengapa kau mengabaikan ku sepanjang perjalanan.. Tidak bisakah kau berbasa-basi menanyakan bagaimana keadaan ku? Atau hanya sekedar bertanya apakah aku baik-baik saja.." Juna yang tidak tahan dengan diamnya Laristha akhirnya membuka mulutnya dan menghentikan langkah wanita itu yang akan pergi meninggalkan rumah sederhana itu.


"Aku sudah melihat mu, dan kau tampak baik-baik saja. Jadi aku rasa tidak ada yang perlu aku tanyakan lagi." Laristha memandang tubuh Juna dari atas hingga kebawah dan kemudian melepaskan cekatan tangan pria itu di tangannya.


"Kau salah.. Aku tidak baik-baik saja.. Aku sangat kehilangan mu beberapa waktu ini.. Bahkan pekerjaan ku yang menumpuk tidak bisa mengalihkan perhatian ku dari mu.." Juna yang tiba-tiba menghambur memeluk tubuh Laristha dari belakang.


"Kau belum menjelaskan padaku bagaimana kau tahu nama ku.." Laristha tidak menepis atau menghindari pelukan Juna, wanita itu hanya diam berdiri mematung tepat di depan pintu keluar rumahnya.


"Aku tahu identitas mu dari Anton.. Aku sebelumnya pergi ke kota C dan bertemu dengan Maya yang sesungguhnya.. Aku hampir kehilangan arah untuk mencari mu sampai aku bertemu dengan Alice dan meminta bantuannya dan suaminya.. Laristha.. Aku tahu sebelumnya tidaklah mudah bagimu sampai di titik ini.. Tapi bisakah kau memberikan ku satu kali saja kesempatan untuk ku membuktikan ketulusan dan keseriusan ku? Ku mohon berikan juga kesempatan untuk dirimu sendiri untuk bahagia juga.. Hmm.. ya.." Juna mengetatkan pelukannya di tubuh Laristha.


Laristha diam tanpa menjawab dan melonggarkan pelukan Juna di tubuhnya dan berjalan keluar dari rumah sederhananya itu meninggalkan Juna di belakang tubuhnya yang menunduk kecewa.


"Kau tidak ingin segera pergi kebandara? Kalau kau tidak mau mengantar ku, aku akan pergi sendiri." Ucap Maya dari depan teras tepi pantai itu.


Juna yang mendengar itu segera sadar dan berlari keluar dari rumah kayu itu.


"Kau mau ikut ke kota A bersama ku?" Tanya Juna yang tampak bodoh di depan Laristha.


"Jika aku tidak ingin kesana untuk apa aku mengambil barang-barang ku.. Sudah ayo cepat pergi nanti ketinggalan pesawat."


"Okey.."


Laristha menyerahkan kunci rumahnya dan meminta Juna untuk mengunci rumah itu dan meletakkan kuncinya pada sebuah pot kecil tepat di atas meja di depan teras.


Laristha mengulurkan tangannya kepada Juna, pria itu tertegun dan bingung seketika, "Aku akan memberikan diri ku sendiri kesempatan untuk bahagia.."


Juna yang melihat itu tersenyum dan baru mengerti maksud dari wanita itu dan kemudian meraih tangan Laristha yang terulur dan memeluk tubuh itu erat, "Terima kasih.. Aku pasti akan membuat mu bahagia."

__ADS_1


Kecupan demi kecupan di arahkan Juna di pelipis dan puncak kepala wanita itu.


"Sudah.. Ayo berangkat.." Laristha mengingatkan Juna lagi untuk kepergian mereka.


Dengan sigap Juna mengambil koper yang berada di tangan Laristha dan mengangkatnya dan satu tangannya lagi tetap menggenggam tangan wanita itu erat.


Juna membuka pintu mobil di samping pengemudi dan membiarkan Laristha duduk di dalam sana dan kemudian berjalan kearah belakang mobil dan memasukkan koper Laristha kedalam bagasi itu.


Juna dengan cepat berlari kecil ke arah kursi pengemudi dan duduk di belakang kemudi. Pria itu sesekali melirik kearah kursi penumpang di sampingnya dan bahkan menggenggan tangan wanita itu dengan satu tangannya.


Juna tampak bahagia dan tidak tampak raut kelelahan dan kecewa seperti sebelumnya. Senyum merekah selalu terpancar dari wajahnya.


"Sudah.. Kau fokus saja mengemudi.. Berbahaya jika menggunakan satu tangan.." Laristha mencoba menarik tangannya yang di genggam oleh pria itu.


"Tidak mau.."


"Aku tidak kemana-mana.. Sudah kau fokus saja mengemudi jangan melirik-lirik ke arah ku.. Semakin cepat kita sampai bandara, semakin cepat kau bisa melihat ku dengan bebas.." Ucap Laristha asal agar pria itu mau melepaskan genggaman di tangannya. Bagaimanapun mengendarai mobil dengan satu tangan adalah berbahaya, belum lagi tangan wanita itu sudah berkeringat sejak dari tadi dan terasa tidak nyaman namun Juna tidak mau melepaskan tangannya.


"Ahh.. Benar juga.." Juna melepaskan pegangan tangannya pada Laristha dan kemudian fokus mengemudikan mobil itu dan sedikit menambah kecepatannya. Laristha yang melihat keseriusan pria itu tersenyum melihat betapa konyolnya seorang Juna di sampingnya ini.


"Kau tidak perlu melakukan itu, aku bisa membukanya sendiri.." Laristha merasa tidak enak Juna melakukan semuanya dengan sangat perhatian.


"Tapi aku ingin melakukannya.." Ucap Juna sambil mengulurkan tangan membantu gadis itu keluar dari mobil kursi penumpang.


"Kau sangat keras kepala.." Laristha menggerutu namun meraih tangan pria di depannya itu dan beranjak keluar dari mobil.


"Terima kasih sudah memuji ku.." Ujar Juna acuh dan kemudian mendaratkan Kecupan di pelipis wanita itu tepat ketika Laristha berdiri di dekat Juna.


Dengan cepat Juna mengambil koper kecil milik Laristha yang berada di bagasi dan kemudian memasukkan kunci mobil kedalam dashbord sesuai keinginan Arnold.


"Ayo.." Ucap Juna mengerek tas koper kecil itu dan satu tangannya menggenggam erat tangan Laristha.


"Kita sudah chekin online.. Ayo langsung masuk saja ke gate.." Ucap Juna dan diangguki oleh Laristha.


"Apakah kau lapar?" Tanya Juna sambil melirik wanita di sampingnya itu.

__ADS_1


"Tidak.. Bagaimana dengan mu?" Tanya Laristha khawatir.


"Sebenarnya aku melewatkan makan malam.. Dan entah kenapa sekarang aku baru merasakan perut ku lapar.." Ucap Juna dengan wajah polosnya.


"Kita makan saja dulu.." Ucap Laristha dan mencoba mencari beberapa gerai makanan disana.


"Tidak perlu, aku masih bisa menahannya sampai di dalam pesawat nanti.. Sepertinya tidak akan sempat jika makan di luar." Ucap Juna dan kemudian berjalan melewati beberapa petugas keamanan.


"Mengapa kau melewatkan makan malam mu? Kau ceroboh sekali.." Laristha mengomeli Juna.


"Aku mencari keberadaan mu, dan aku takut jika aku menghabiskan banyak waktu untuk makan, aku akan kehilangan jejak mu lagi.." Ucap Juna dengan wajah sendunya.


"Aihh pria bodoh.." Gerutu Laristha kesal.


Dan saat mereka masuk ke ruang tunggu, mereka langsung di arahkan masuk kedalam pesawat. Juna masih setia menarik koper milik Laristha dan sesekali melirik wanita di sampingnya itu.


"Hentikan tatapan mesum mu itu.." Omelan Laristha saat tatapan mata mereka bertemu.


"Aku hanya memandangi kekasih ku.." Ucap Juna cuek dan itu sukses membuat wajah Laristha bersemu merah.


Mereka sudah tiba di dalam pesawat dan Juna memberikan koper kecil itu kepada pramugari yang ada di lorong first clas. Mereka kemudian duduk bersebelahan, Juna memberikan tempat di dekat jendela untuk Laristha.


Pesawat take off kemudian dan tidak lama beberapa pramugari datang mendekati kursi mereka untuk menawarkan makanan dan minuman.


Juna memesan makanan dan Laristha menolak makanan ataupun minuman yang di tawarkan oleh kedua pramugari itu. Entah mengapa wanita itu tampak berbeda dari sebelumnya.


"Kau kenapa?" Tanya Juna heran melihat tingkah Laristha.


"Kau sepertinya akrab dengan kedua pramugari itu.." Ucap Laristha masih dengan wajah kesalnya.


"Ahh.. Tidak kok.. Aku hanya pernah bertemu salah satu dari mereka yang ternyata pramugari saat penerbangan ku kemarin." Jelas Juna yang malah membuat Laristha semakin kesal. Wanita itu memilik membalikkan badannya dan memunggungi Juna dan memejamkan matanya.


"Hei.. Apa salah ku.." Ucap Juna heran dan tidak mengerti namun masih melanjutkan makan malamnya yang terlewat.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2