JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Meletakkan musuh di hadapan mu


__ADS_3

Alice menginjakkan kakinya untuk kedua kali di perusahaan BBC sejak dia mulai mengingat kembali masa lalunya. Gadis itu berjalan dengan penuh percaya diri di dampingi oleh Roy, Galih, Juna beserta dokter Imanuel.


Alice segera berjalan di lorong menuju ruang kerjanya yang merupakan ruang kerja milik Fiktor sebelumnya. Di sana dia melihat seorang wanita mengenakan pakaian serba minim berwarna merah, berdiri tepat di depan pintu ruangan kerja Alice.


Alice menghentikan jalannya dan berdiri tepat di depan wanita itu.


"Selamat pagi Bu.. Saya Monic sekretaris Direktur Utama sebelumnya." Ucap Monic hormat dengan sedikit membungkuk.


Bagaimanapun Monic belum mendapatkan pemberitahuan bahwa dirinya akan di pecat, oleh karena itu dia masih berani datang ke kantor untuk hari ini.


"Masuk.." Ucap Alice menanggapi ucapan Monic.


Dengan lihai Monic membukakan pintu ruang kerja Alice dan kemudian menutupnya saat para pria pengikut Alice sudah masuk kedalam ruangan itu.


Ruangan itu sudah nampak jauh berbeda dengan ruangan yang kemarin tampak berantakan dengan berbagai barang moderen. Sekarang meski beberapa barang nampak kosong dari tempatnya, dan beberapa barang klasik maupun modern yang sudah di tata sedemikian rupa menambah kesan hangat dan nyaman. Bahkan meja dan kursi kerja maupun sofa berbeda dari terakhir kali dia masuk kedalam ruangan ini. Namun kini yang menjadi fokus Alice adalah di salah satu dinding itu ada sebuah lukisan Ayah, Ibu dan dirinya saat masih kecil yang terpasang besar di ruangan itu.


Alice berjalan menuju kursi kerjanya sambil memengang sudut mejanya, "Kau yang merenovasi semuanya?" Tanya Alice ambigu namun Monic tahu bahwa gadis itu berbicara kepadanya.


Monic yang berdiri tepat di sebrang meja dengan cepat menjawab, "Benar Bu.. Saya mengganti seluruh furniture dan merenovasi sedikit banyak seperti saat 10 tahun silam, meski saya harus menemui seorang senior yang bekerja di sini sebelumnya untuk membantu saya mendekorasinya. Beberapa saya ganti untuk menyesuaikan mode saat ini. Namun tidak semuanya mungkin bisa cocok dengan selera Ibu, bahkan jika ibu tidak suka, saya bisa menggantinya lagi." Tampak raut bangga di wajah wanita itu. Dia bangga akan kecepatannya dalam menentukan pilihan untuk menyenangkan orang yang mungkin akan menjadi bos barunya itu.


Alice dengan santainya duduk di kursi putar berkulit hitam itu, Alice mengangkat sudut bibirnya, wanita di depannya itu sungguh luar biasa, dia bisa dengan cepatnya merubah keseluruhan tempat itu dan memiliki ide untuk membuatnya sedikit mirip dengan ruang kerja milik ayahnya dulu.


"Aku suka cara kerja mu. Jika kau bisa melakukan pekerjaan dengan baik sesuai intruksi ku, aku tidak akan menggantikan mu. Namun, sedikit saja kau membuat ku kecewa, jangan salahkan aku jika aku tidak hanya akan memecat mu dari sini, namun aku juga akan langsung mengirimkan mu ke akhirat. Kau mengerti maksudku bukan?" Ucap Alice sedikit mengintimidasi yang langsung menatap ke dalam manik mata Monic yang berdiri di sebrang kursinya.


"Saya mengerti. Saya tidak akan mengecewakan anda. Saya tidak akan mengkhianati anda." Jawab Monic cepat dan tegas. Dan Alice dapat melihat keseriusan ucapan wanita itu di dalam matanya.

__ADS_1


"Bagus.. Panggil seluruh kepala divisi untuk rapat sekarang dan siapkan ruang rapat. Jika ada yang tidak mau atau membangkang, langsung berikan surat pemecatan dan pesangon mereka." Ucap Alice tegas.


"Baik Bu.." Ucap Monic dan segera pergi secepat kilat dari ruangan itu.


Galih, Roy dan Juna beserta dokter Imanuel yang tadinya mereka sedang duduk di sofa langsung bangkit dan mendekati meja Alice.


"Kau serius ingin memperkerjakan wanita itu? Bukankah di dalam lampiran dia adalah kekasih Fiktor?" Tanya Roy menanyakan kembali keseriusan Alice menggunakan wanita itu yang mana adalah orang dari musuhnya.


"Kak kau tahu.. Lebih baik menaruh musuh di depan hidung mu bukan, agar kau bisa melihat setiap gerak geriknya. Dari pada menaruh musuh di belakang punggung mu, yang tiba-tiba bisa saja menusuk punggung mu tanpa kau ketahui." Ucap Alice santai.


"Lagi pula aku suka cara kerjanya. Dia teliti dan licik, aku suka itu. Dan lagi untuk saat ini dia tahu siapa yang harus dia ikuti." Lanjut Alice lagi dengan santainya.


"Astaga kau ini.." Roy menggaruk kepalanya yang tidak gatal, namun yang di katakan Alice ada benarnya juga. Jadi mereka semua tidak bisa melakukan apapun untuk keputusan Alice yang satu itu.


"Hem.. Harus secepatnya di bersihkan apalagi denganborang-orang pembangkang dan penjilat bukan. Aku sudah menemukan beberapa nama dan laporan kasarnya, nanti aku akan memibta mereka menjelaskan pekerjaan mereka. Jika masih mencoba membodohi ku, aku akan langsung memberikannya surat pemecatan dan pesangon." Jawab Alice panjang lebar.


"Bagus itu, kalau begitu aku akan segera membantumu mencari informasi." Ucap Galih dan kemudian menyalakan CPU di bawah meja Alice dan mengambil laptopnya di dalam tas gembloknya dan kemudian memasangkan sesuatu di CPU milik Alice dan segera duduk di sofa dan mulai asik dengan pekerjaannya.


"Bukankah mereka juga akan menghapus data di dalam sana?" Tanya Alice memastikan pekerjaan Galih kungkin akan sia-sia saat pria iu mencoba mencari sesuatu di sana.


"Kau tahu perubahan ruangan sebesar ini di tambah dengan waktu yang mereka bereskan untuk membersihkan jejak di CPU tidak mungkin tidak bisa aku lacak. Aku pasti bisa mendapatkan semua itu. Kau tenang saja." Ucap Galih percaya diri dan mulai fokus dengan pekerjaannya lagi.


Satu jam kemudian.


"Selesai." Ucap Galih percaya diri dan dengan bangganya dia memberikan laptopnya kepada Alice.

__ADS_1


"Aku sudah membuat beberapa nama dan data ringkasannya. Kau bisa membaca ini nanti. Aku akan memberikan data untuk rapat nanti." Ucap Galih dan mencetak beberapa berkas dari printer di ruangan Alice.


"Kau sungguh seperri seorang hantu." Ucap Alice bergidik ngeri.


"Terima kasih atas pujuan mu." Ucap Galih.


"Hoamm.. Kau bekerja terlalu lama, membuat ku sedikit mengantuk." Ucap Juna yang sudah bersandar di sofa di samping Roy dan Imanuel yang menanti Galih bekerja.


"Hadehh aku sudah berusaha sangat cepat itu." Keluh Galih dan membereskan perangkat yang sebelumnya menempel di CPU dan mengambil berkas yang di print olehnya.


Tidak lama setelah itu tiba-tiba terdengar ketukan dari luar ruangan Alice.


Tok tok tok.


"Masuk." Ucap Alice.


Monic masuk ke dalam ruangan dan berdiri tepat di sebrang meja kerja Alice.


"Bu.. Semua sudah siap di ruang meeting." Ucap Monic memeberitahu dan mengingatkan.


"Baiklah ayo kita pergi sekarang." Ucap Alice dan segera bangkit dari kursinya. Galih yang memang sedang berdiri di belakang kursi Alice setelah mengambil hasil cetakannya, langsung berdiri mengikuti Alice.


Begitu juga dengan Juna, Roy dan Imanuel, mereka semua berdiri dari sofa dan beranjak mengikuti Alice ke ruang rapat direksi.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2