
"Nona.. Maaf dokter Anton harus istirahat, dan anda juga memerlukan istirahat.. Saya akan menyiapkan kamar yang tidak jauh dari ruangan ini.." Ucap perawat itu menyarankan dan mengingatkan Alice.
Alice sudah berjongkok dan bersandar di kasur Anton selama satu jam. Gadis itu enggan meninggalkan dan melepaskan genggamannya di tangan pria itu.
"Tapi sus.." Ucap Alice sedikit enggan.
"Anda juga harus memeriksakan kondisi anda nona.." Ucap perawat itu mengingatkan lagi.
"Baiklah.. Berikan saya sedikit waktu.. Saya akan keluar sebentar lagi." Pinta Alice kepada perawat itu. Perawat mengangguk dan pergi meninggalkan Alice dan Anton sendirian.
"Aku akan keluar dahulu.. Nanti aku akan kesini lagi." Ucap Alice dan mengeratkan genggaman tangannya di tangan Anton dan kemudian mencium tangan pria itu lembut.
Alice dengan perlahan berdiri, dia sedikit oleng karena terlalu lama berjongkok. Gadis itu perlahan-lahan menggerakkan tubuh dan kakinya agar tidak kaku dan kemudian berjalan perlahan keluar kamar perawatan ICU.
"Nona.. Saya akan mengantar ke ruang kamar anda.." Ucap Paul yang berada di luar pintu kamar itu.
"Hemm.." Ucap Alice tidak bersemangat namun gadis itu tetap mengikuti langkah pria di depannya.
Saat mereka menyusuri lorong-lorong rumah sakit Alice berhenti tepat di depan ruang kamar yang di tunjukkan oleh Paul.
"Paul.. Dimana kamar Maya?" Tanyanya.
"Di kamar sebelah nona.." Ucap Paul dan menunjuk pintu kamar yang berada di sebelah kamarnya.
"Kita ke tempat Maya dahulu." Ucap Alice dan Paul dengan mengerti mengikuti gadis itu.
Serttt.. Pintu geser ruang perawatan itu terbuka Alice melihat Maya sudah sadar dan di samping bednya sudah ada Juna yang duduk di kursi penunggu. Galih juga masih di sana duduk di sofa di depan televisi.
"Kau sudah sadar Maya.." Ucap Alice berlari menghampiri Maya dan tersenyum bahagia.
"Hemm.. Hanya luka kecil." Ucap wanita itu dengan senyumnya.
__ADS_1
"Jangan pernah lakukan itu lagi kedepannya." Ucap Alice memperingati wanita itu.
"Aku melakukannya untuk diri ku sendiri.. Bukan untuk mu Alice." Ucap wanita itu santai.
"Tetap saja.. Kau membahayakan diri mu sendiri karena aku!" Ucap Alice yang kemudian meledak karena gadis itu tidak kuasa menahan sakit dan sesak di dadanya melihat orang-orang terdekatnya tersakiti karenanya.
"Alice.. Ini bukan salah mu.. Ini karena memang resiko pekerjaan kita! Jangan menyalahkan diri mu sendiri seperti itu!" Ucap Maya tidak kalah emosi saat melihat Alice menyalahkan dirinya sendiri.
"Sudah-sudah kalian berdua masih membutuhkan istirahat. Maya tenangkan diri mu.. Kau baru saja sadar.. Alice kau istirahatlah.. Kau belum sarapan bukan? Sarapan dahulu ya?" Ucap Juna menengahi kedua wanita itu.
"Huft.. Hentikan rasa bersalah mu.. Tidak ada yang perlu kau sesali.. Kita melakukan pekerjaan kita masing-masing dan resiko akan selalu ada.. Makan dan istirahatlah kau juga terluka." Ucap Maya akhirnya. Wanita itu mencoba menenangkan Alice.
Alice kembali menghambur kepelukan Maya dan menangis di bahu wanita itu. Bagaimanapun wanita itulah yang selalu menemaninya selama ini. Ikatan di antara keduanyapun semakin terikat erat meski di luar pekerjaan.
"Sana kembali ke ruangan mu." Ucap Maya mengusir Alice agar gadis itu mau beristirahat.
Alice mengangguk dan melangkahkan kakinya untuk keluar dari ruang kamar perawatan Maya.
"Aku akan menemaninya." Ucap Galih dan mengikuti Alice yang berjalan di depannya. Galih juga melihat seorang pria berjalan mengikuti Alice tepat di belakang gadis itu. Galih mengerutkan keningnya saat pria itu juga menemani Alice masuk kedalam ruangan gadis itu.
Galih langsung masuk menerobos ke dalam kamar dan melihat Alice duduk di tepi ranjang pasien, sedangkan pria itu berdiri tepat di depan Alice.
Pria itu maupun Alice menoleh ke arah pintu yang terbuka. Di sana terlihat Galih berdiri dengan sedikit kikuk mendapatkan pandangan yang bertanya dari kedua orang itu.
"Aku hanya ingin menumpang istirahat di sini.. Aku tidak ingin mengganggu ke dua orang itu." Ucap Galih asal dan duduk di sofa di sebrang Alice dengan santai.
"Saparan untuk nona sudah saya siapkan.. Ini ponsel tuan.. Jika nona membutuhkan saya anda bisa menghubungi saya menggunakan ponsel itu." Ucap Paul dan menyerahkan sebuah ponsel berwarna hitam.
"Terima kasih.. Apakah keluarga Anton sudah di hubungi?" Tanya Alice penasaran.
"Saya belum melakukan itu.. Itu terserah nona akan memberitahukannya sendiri atau mungkin nanti pihak rumah sakit yang akan menghubunginya." Ucap Paul tenang.
__ADS_1
"Biar saya saja yang akan menghubungi mereka.." Ucap Alice paham dan kemudian Paul pamit untuk pergi mengurus sesuatu hal yang lain.
Alice melihat ponsel itu, kunci layar maupun walpaper ponsel itu masih tidak berubah. Pria itu menggunakan foto dirinya yang tersenyum gembira saat misi menggunakan seragam murid SMA.
Alice membuka kontak ponsel itu dan mencoba mwnghubungi sebuah nomer dengan kontak nama Ayah. Alice menggeser layar itu dan menghubunginya.
Deringan ke dua panggilan terlepon itu tersambung.
"Halo nak.. Semalam kau tidak pulang kerumah.. Ibu mu sedikit khawatir." Ucap Bram saat panggilan itu terhubung.
"A.. Ayah.." Suara Alice bergetar dan terbata-bata. Bayangan kejadian serupa di kota S terasa dan teringat kembali di dalam memorinya. Kini kejadian itu terulang kembali saat ini.
"Alice.. Nak.. Ada apa dengan suara mu? Apakah Anton bersama mu?" Tanya Bram lagi.
"Anton di dia.. Dia di rawat di rumah sakit Kasih Ibu.." Ucap Alice terbata-mata dengan air mata yang mengalir kembali.
"Apa? Bagaimana keadaannya nak? Bagaimana keadaan mu? Apa yang terjadi?" Tanya Bram yang sedikit terdengar khawatir.
"Aku tidak apa-apa yah.. Dia terluka karena melindungi ku.." Ucap Alice dan kemudian menangis lagi.
"Tunggu kami.. Kami akan segera kesana." Ucap Bram mencoba untuk menenangkan Alice. Setelah itu Alice mematikan panggilan teleponnya dan menggengagam ponsel itu erat.
"Aku selalu saja membuat kedua orang mu khawatir bukan.. Aku yang selalu saja membuat mu dalam bahaya.." Ucap Alice monoton menyalahkan dirinya sambil menatap lantai ruang perawatannya.
"Hentikan omongan mu itu! Itu bukan salah mu.. Memang kau yang menodongkan pistol kepadanya? Untuk apa kau menyalahkan diri mu sendiri." Ucap Galih yang terdengar kesal dan mendekati wanita itu.
"Dia terluka karena aku!" Ucap Alice emosi.
"Itu pilihan yang di ambil olehnya untuk melindungi mu.. Dia tidak ingin melihat mu terluka apalagi melihat mu menyalahkan diri mu sendiri. Tugas mu saat ini adalah segera pulihkan diri mu sendri dan segera cari alasan pencobaan penculikan dan pembunuhan terhadap mu tadi malam." Ucap Galih menenangkan Alice dan menyadarkan gadis itu.
Alice yang mendengar itu hanya terdiam dan mulai berpikir jernih.
__ADS_1
"Apakah penjahat yang ada di gang subur masih hidup?" Tanya Alice yang mulai serius.
Bersambung....