
“Selamat untuk mu Al.. aku berharap kau selalu berbahagia, untuk mu juga Broo.” Ucap Roy saat mendekati Alice dan Anton saat kedua orang itu telah berbincang dengan para tamu yang lainnya. Di sana juga ada Galih, Juna dan Maya.
“Kak Roy, terima kasih banyak.” Ucap Alice sambil memeluk tubuh pria tampan itu. Kemudian Roy sedikit menepuk bahu Anton saat dia sudah melepaskan pelukannya dengan Alice.
“Selamat untuk kalian yah, aku tidak tahu bahwa kau ternyata memiliki kekasih meski jadwalmu agak padat ya..” Gurau Juna sambil berjabat tangan dengan Alice dan Anton. Alice yang mendengar itu tersenyum malu.
“Terima kasih sudah menyempatkan hadir Kak Juna.” Ucap gadis itu sambil tersenyum manis.
“Astaga Alice senyum mu memikat ku..” Ucap Galih bergurau sambil memegang dadanya dengan kedua tangannya. “Selamat untuk kalian ya, semoga kalian selalu berbahagia.” Lanjut Galih untuk merasakan sedikit sesak di dadanya.
“Terima kasih Galih.” Ucap Alice tulus, meski dia sedikit mengerti ini mungkin sedikit tidak nyaman untuk Galih.
“Bu Alice selamat ya.” Ucap Maya dan menjabat tangan Alice dan memberikan ciuman pipi kiri dan kanan serta rangkulan kepada gadis itu.
“Terima kasih Maya, kau sudah sempatkan hadir ke acara ini.” Ucap Alice tulus.
Maya hanya menganggukkan kepalanya. Kemudian menjabat tangan Anton, “Selamat untuk anda Pak. Semoga kalian berbahagia selalu.” Ucap Maya lagi.
Alice memperhatikan interaksi antara kedua orang itu, namun wajah Maya tampak seperti tidak mengenal Anton. Wajahnya tampak seperti baru saja bertemu dengan orang asing, dan Anton seperti biasa bersikap ramah kepada semua tamu undangan.
“Terima kasih kalian sudah sempatkan hadir di acara kami.” Ucap Anton menyambut hangat kedatangan mereka.
“Tidak masalah Alice sudah kami anggap sebagai keluarga kami.” Ucap Roy.
“Bagaimana jika kita berbicara di meja di sebelah sana?” Tawar Anton.
“Baiklah.” Jawab semua dan berjalan menuju meja bulat yang kosong dan duduk di sana.
“Hai apakah aku mengganggu jika bergabung? Aku sedikit bosan berbicara dengan pria yang jauh berumur dari ku. Tidak banyak tamu yang seumuran kita di sini.” Ucap sebuah suara yag tiba-tiba duduk bergabung di meja bulat itu.
__ADS_1
“Heemm tentu saja.” Ucap Roy menanggapi pria itu.
“Thanks broo.. Ohya selamat untuk mu ya Alice dan Anton. Aku berharap kau tidak menyesal telah memilih pria kaku sepertinya, namun jika kau mau memikirkannya lagi, aku bersedia menggantikannya jika kau sudah bosan dengan pria kaku itu.” Gurau pria itu.
“Widi, sepertinya jika kau tidak berbicara, tidak akan ada yang menganggap mu bisu disini.” Ucap Anton kesal. Ya ternyata pria yang baru saja bergabung dengan mereka adalah Widi si dokter tampan yang playboy itu.
“Maaf dia hanya bergurau. Kenalkan ini teman ku Widi.” Ucap Anton memperkenalkannya kepada semuanya. Dan semuanya memperkenalkan diri mereka masing-masing.
“Saya Maya.” Ucap Maya saat berjabat tangan dengan widi yang kebetulan duduk tepat di sampingnya. Widi tersenyum menggoda kepada wanita itu.
“Saya Widi.. Nama mu sangat cantik seperti wajah mu.” Ucap Widi mulai menggoda Maya.
“Hentikan senyuman bodoh mu itu.” Kesal Anton saat melihat Widi mulai memainkan aksinya.
“Wahh kenapa? Aku memang mempesona broo, tak perlu cemburu seperti itu. Kau kan sudah ada teman bicara, biarkan aku juga memiliki teman dong, jangan pelit begitu. Ah ya Maya, kau tidak keberatan kan jika aku mengobrol dengan mu?” Tanya Widi blak-blakan di depan semua orang. Juna yang melihat itu sedikit tidak nyaman.
“Tentu saja.” Ucap Maya sopan.
“Tentu.” Ucap Maya menyetujuinya. Juna yang mendengar itu mengerutkan keningnya tidak senang dengan keputusan Maya.
Maya dan Widi berdiri dan memisahkan diri. Mereka berjalan menuju counter cake yang ada di meja panjang itu.
Setelah kepergian Maya dan Widi, pembicaraan pun mengalir kemudian. Semuanya berbicara dengan nyaman, namun hanya Juna yang sedikit termenung dan kadang-kadang hanya menanggapi perbicaaran secara singkat. Entah mengapa sesuatu tampak tidak enak pada diri Juna.
“Kak Juna kau baik-baik saja? Kau tampak banyak melamun.” Tanya Alice khawatir. Semua yang duduk di meja itu melirik kearah Juna.
“Ahh aku baik-baik saja. Aku akan ke toilet dahulu.” Ucap Juna mengalihkan perhatian mereka dan segera pergi dari meja itu.
Pria itu memilih untuk pergi ke toilet. Saat masuk ke dalam toilet pria itu berdiri di hadapan wastafel dan menyalakan keran airnya kemudian membasuhnya ke wajahnya. Pria itu memandangi pantulan dirinya yang bercucuran air itu dengan wajah yang tidak enak di pandang. Entah mengapa perasaannya sangat tidak nyaman saat ini.
__ADS_1
“Huft.. sepertinya aku terlalu lama tidak mengambil cuti. “ Keluhnya sambil mencengkram kuat pinggiran wastafel itu dengan kedua tangannya kekesalannya masih belum bisa di redakan, bahkan dia bingung mengapa dia merasa sangat kesal.
***
“Kau mengajak ku kesini namun dari tadi kau tidak berbicara.” Tanya Maya bingung.
“Aku hanya merasa kau sedikit tidak nyaman di sana. Aku hanya mencoba mengeluarkan mu dari sana.” Ucap Widi jujur kepada Maya, bahwa pria itu melakukannya bukan karena ada motif lain.
“Aku tahu.. Terima kasih untuk itu. Aku hanya sedikit kurang nyaman terlalu lama bergabung dengan para atasan ku.” Ucap Maya jujur dengan apa yang dia rasakan.
“Lalu apa yang akan kau lakukan selanjutnya?” Tanya Widi basa-basi.
“Setelah ini, aku akan berpamitan pulang. Aku tidak ingin pulang bersama mereka nantinya, sedikit tidak nyaman.” Ucap Maya jujur.
“Baiklah aku akan mengantarkan mu kalau begitu.” Ucap Widi serius.
“Ahh apa? Tidak perlu terima kasih. Aku bisa memesan taksi online.” Ucap Maya menolak tawaran Widi.
“Jika kau berencana pulang sendiri, aku tidak akan melarang mu. Tapi di depan mereka aku akan bilang aku yang akan mengantar mu. Jika tidak, mereka pasti akan tetap mengajak mu pulang bersama mereka.” Ucap Widi lagi.
“Ahh kau benar baiklah. Lakukan apapun mau mu.” Ucap Maya.
“Bukankah kau seharusnya berterimakasih kepada ku? aku dua kali membantumu dalam satu malam saja loh.” Goda Widi kepada wanita itu.
“Baiklah sebagai balasan bagaimana jika aku akan memberikan mu satu bantuan, apapun itu jika aku bisa, aku pasti akan membatu mu.” Ucap Maya akhirnya.
“Baiklah aku akan senang hati menerima itu. Bagaimana jika kita bertukar kontak.” Ucap Widi lagi.
“Tentu saja.” Ucap Maya dan mengeluarkan ponselnya dari dalam clutchnya. Tampa mereka sadari, Juna melihat interaksi mereka yang sepertinya sangat akrab itu, bahkan gadis itu bertukar kontak telepon dengan pria yang baru saja di kenalnya. Juna sedikit mengepalkan tangannya kesal melihat keakraban mereka berdua.
__ADS_1
Bersambung....