
"Hoam.. Sepertinya penghuninya sudah tidur." Ucap salah satu pria bertubuh tegap dan kekar dari kelima pria itu. Mereka sedang duduk sambil berbincang di depan ruko yang mereka tempati. Ruko itu berada tepat di sebrang ruko milik Alice.
"Ya.. Aku sedikit mengantuk.. Aku akan membuat kopi kau mau?" Tanya salah seorang dari pria itu.
"Buatkan aku juga ya?" Ucap yang lainnya.
"Okey.. Aku buatkan." Ucap pria itu dan kemudian masuk ke dalam rumah.
"Aihh aku kebelet.. Aku ke toilet dahulu ya." Ucap pria lain yang duduk di atas meja kayu dan dia beranjak pergi masuk ke dalam rumah.
"Dasar kayak gadis saja. Kenapa tidak kau buang ke got saja." Seseorang menimpali dan kemudian ketiga orang itu tertawa terbahak-bahak.
"Aihh dinginnya.. Dingin-dingin begini nih yang bikin mules.. Masuk dinginnya sampai ke tulang." Ucap salah seorang pria.
"Haihh kau terlalu banyak mengeluh.. Cerewet kayak cewek." Ucap pria yang lainnya.
"Aku ke dalam dahulu mengambil jaket." Ucap pria itu dan bergegas masuk ke dalam ruko.
Tinggalah dua orang pria di luar masih berjaga dan memperhatikan ruko milik Alice. Tiba-tiba ketiga mobil Toyota beriringan berhenti tepat di depan ruko milik Alice. Kedua pria yang sedang duduk santai menjadi kaget saat melihat lima orang bertubuh tegap keluar dari sebuah mobil begitu juga dengan mobil yang lainnya.
"Sial!! Siapa mereka? Mereka teman nona Alice apa penjahat?" Ucap salah seorang yang sudah bangkit dari duduknya.
"Ayo kita cari tahu." Ucap pria yang satu pria lagi.
"Haihh.. Ketiga orang itu masih belum juga kembali lagi!" Keluh salah satu dari mereka.
"Biarkan saja. Lebih baik kita periksa dahulu mereka." Ucapnya dan mereka berdua berlari sambil bersembunyi. Bagaimanapun mereka sudah berminggu-minggu tinggal di daerah itu, sehingga mereka tahu di mana tempat yang bagus untuk bersembunyi dan mengintai.
"Ini buruk.." Ucap salah seorang berbisik pelan saat melihat rombongan pria itu dari dekat. Rombongan pria itu masih berdiri tidak jauh dari mobil mereka. Sepertinya mereka masih menunggu perintah.
"Aku akan masuk ke dalam rumah nona Alice untuk mengulur sedikit waktu agar mereka kabur! Kau sedikit kecoh mereka! Aku yakin ketiga teman kita akan segera ke sini aku sudah mengirimkan pesan darurat." Ucap salah satu pria dan dengan lihainya pergi menorobos masuk langsung ke belakang ruko milik Alice.
Pria yang di tinggal sendiri memperhatikan situasi lawan. Ini sedikit kacau. Dia melihat para rombongan itu berisi 20 orang bertubuh tegap dan berotot mereka sepertinya terlatih, yang lebih buruknya adalah masing-masing dari mereka membawa pistol di tangannya.
"Baiklah.. Aku akan sedikit mengecoh mereka." Ucap pria itu saat melihat rombongan pria itu akan bergerak masuk. Pria itu mengeluarkan pistol miliknya.
__ADS_1
"Haihh ini sedikit buruk 20 lawan 1.. Aku yakin aku akan segera naik kereta expres ke akhirat.." Gumamnya dan kemudian segera beraksi.
---
Sedangkan salah seorang pria yang berhasil masuk ke dalam ruko Alice dengan cepat pria itu mencari keberadaan Alice. Pria itu menaiki tangga yang ada di dalam ruko dan kemudian menendang pintu yang terhubung antara ruko dan rumah Alice.
Alice yang mendengar kegaduhan dari pintu langsung bangkit dari tidurnya. Gadis itu dengan cepat mengintip dari jendela, terlihat tiga mobil hitam terparkir tepat di depan rukonya, tidak hanya itu, yang membuatnya tercengang adalah kehadiran banyak pria bertubuh tegap yang berkumpul di bawah sana.
"Sial!" Ucap Alice dan segera kembali mendekati Maya. Dengan cepat Alice membangunkan Maya.
"Ada apa Al?" Ucap Maya kaget saat gadis itu terlihat sedikit pucat.
"Ada penyusup! Ikut aku!" Ucap Alice dan segera menyuruh Maya mengikutinya ke dalam kamar milik Alice.
Alice menggeser lemarinya dan kemudian membawa toolkit dan hanan gun. Gadis itu segera menyimpannya tersembunyi di dalam tubuhnya. Gadis itu juga menyerahkan pistol kepada Maya dan beberapa senjata lainnya.
"Pakai ini untuk melindungi mu!" Ucap Alice menyerahkan rompi anti peluru kepada Maya.
"Tidak! Kau yang seharusnya memakainya!" Tolak Maya tidak mau.
Bruk bruk.. Suara pelan yang masih berusaha membuka pintu penghubung itu masih terdengar. Sepertinya sedikit lagi pintu itu akan terbuka.
Alice mengambil pistol desert eagle kesayangannya dan mengambil pistol lipstik untuk di berikan kepada Maya.
"Lindungi diri mu! Ini perintah!" Ucap Alice lagi dan Maya mau tidak mau menerimanya.
Alice mengambil ponselnya dan segera menghubungi Galih.
📞"Ada penyusup dengan 3 mobil toyota di depan rumah ku." Ucap Alice saat panggilan telepon itu tersambung dan kemudian segera mematikannya.
Alice melihat sebuah cincin dari Anton di atas nakas miliknya. Gadis itu tersenyum kemudian mengambilnya.
'Jika ini akhir untukku, biarkan aku dekat dengan mu' Batinnya dan kemudian memakai cincin itu.
Brak! Pintu terhubung terbuka dan seorang pria mucul dia melihat berkeliling mencari keberadaan Alice menggunakan matanya.
__ADS_1
"Nona Alice.." Bisik pria itu pelan.
"Ha?" Alice bingung mengapa penculiknya berbisik pelan memanggil namanya. Namun gadis itu mengabaikannya dan memilih bersiap dengan pistol di tangannya.
Tangan lurus sejajar matanya dengan pistol Alice bergerak perlaham menuju keluar kamar dan kemudian tiba -tiba seorang pria muncul di depannya.
"Tunggu nona! Saya bukan penjahat! Saya Riki.. Saya kesini untuk melindungi anda!" Ucap pria itu dengan mengangkat kedua tangannya.
"Bagaimana saya bisa mempercayai ucapan mu?" Tanya Alice masih mencondongkan pistol ke arah pria itu.
"Jika saya berkomplot dengan pria di bawah, untuk apa saya pelan-pelan mencoba menyusup ke dalam untuk memperingati anda nona.. Ayo kita pergi sekarang juga! Kita tidak memiliki waktu!" Ucap pria itu sedikit terburu-buru namun karena pistol masih di arahkan kepadanya dia sedikit susah untuk bernegosiasi.
"Siapa yang memerintahkan mu!" Tanya Alice dingin. Pria itu hanya diam tidak menjawab Alice.
"Jawab!" Perintah Alice tegas.
"Tuan Paul atas perintah Tuan K.." Ucap pria itu akhirnya. Alice menurunkan pistolnya dan tangannya sedikit bergetar.
'Bagaimana kau selalu memerintahkan seseorang untuk menjaga ku dari jauh, padahal aku sudah menyakiti mu. Dan bahkan kau mau melakukan semuanya untuk ku.' Batin Alice mulai teriris.
"Nona.. Ini bukan saatnya tertegun.. Ayo segera kita pergi dari sini." Ucap pria itu.
"Saya sudah menghubungi Tuan K meminta bantuan, namun itu memerlukan waktu. Lebih baik kita pergi dari sini sebelum terlambat." Ucap pria itu lagi.
Dor!
Dor!
Dor!
Dor! Dor!
Kelima tembakan langsung di arahkan kepada kelima pria yang langsung mati di tempat.
"Sepertinya kita terlambat." Ucap pria itu mulai mengambil pistolnya dari balik bajunya.
__ADS_1
Bersambung