
Rombongan Alice dan yang lainnya masuk menuju gedung pusat stasiun media BBC yang kepanjangannya adalah Baskoro Broadcasting Company yang merupakan perusahaan media teratas di dunia mencakup penyiaran, televisi, taman hiburan, film, dan penerbitan. Ada juga yang mengkaji mengenai gaya hidup, ilmu pengetahuan, politik dan bisnis.
Alice, Galih, Juna, Roy dan Imanuel keluar dari mobil yang mengantarkan mereka di depan gedung BBC. Gadis itu melangkahkan kakinya pertama kali di depan pintu masuk BBC setelah sekian lama dia tidak pernah datang lagi ketempat ini.
Alice sedikit mengingat kembali saat terakhir kali gadis kecil itu menginjakkan kakinya di BBC adalah saat usianya 10 tahun dan itu adalah sebelum terjadinya kecelakaan hebat itu.
'Ibu.. Ayah.. Aku kembali menginjakkan kaki ku kesini.. Tempat kebanggaan kalian, kebanggaan keluarga besar baskoro.. Maafkan anak mu yang lalai selama ini.' Batin Alice terasa terirus, gadis itu merasakan rindu sekaligus rasa penyesalan di hatinya. Genangan air mata hampir memenuhi kelopak matanya.
"Kau harus kuat, jalan mu masih panjang.. Ayo.." Ucap Imanuel yang menyuruh Alice masuk ke dalam gedung luas dan besar itu. Beberapa karyawan memperhatikan Alice dan rombongan dengan wajah terkejut, bahkan ada beberapa dari mereka yang berbisik-bisik mengenai berita panas siang itu.
"Baik paman." Ucap Alice tegas dan menguatkan hatinya. Dia sedikit mengusap sudut matanya singkat dan cepat, lalu Alice menganggukkan kepalanya mengerti dan mengikuti paman Imanuel di belakangnya. Gadis itu berjalan anggun namun penuh dengan wibawa.
Rombongan Imanuel mengetahui akan adanya rapat darurat pemegang saham, karena memiliki salah satu mata-mata di dalam grup BBC. Akibat dari hebohnya pemberitaan mengenai hidup kembalinya anak pewaris tunggal Baskoro Grup, para pemegang saham yang sedikit khawatir mengenai kelanjutan pemimpin mereka, mereka dengan sigap mengadakan rapat darurat itu.
Beberapa penjaga membiarkan rombongan itu masuk karena Imanuel memang memiliki sedikit saham di dalam perusahaan, sedangkan Alice yang muncul di televisi sebagai Adeliana. Jadi para penjaga tidak berani untuk hanya sekedar menghentikan langkah mereka untuk menanyakan identitas rombongan itu.
"Apakah kau sudah siap? Kita akan langsung ke ruang rapat." Ujar Imanuel tegas.
"Siap!" Ucap Alice tidak kalah tegas.
Beberapa staf membuka pintu ruang pertemuan dengan lebar. Imanuel, Alice, Roy Galih dan Juna ikut masuk ke dalam ruangan itu.
"Hei! Siapa yang menyuruh kalian masuk!" Teriak Fiktor emosi saat melihat beberapa irang menerobos masuk kedalam ruang rapat yang sedang dia pimpin.
"Siang 'Paman'.. Bukankah jika ingin memimpin rapat harus menghadirkan seluruh pemegang saham?" Tanya Alice dengan nada dingin dan penekanan saat menyebutkan kata paman.
"Kau!!" Ucap Fiktor geram namun tidak melanjutkan ucapannya.
"Saya Adeliana Fransisca Baskoro.. Bukankah paman merindukan ku? Namun dari raut wajah paman, sepertinya paman tidak merindukan ku." Ujar Alice dingin dan sinis.
"Ehem! Kau belum bisa memastikan kau adalah keponakan ku!" Ucap Fiktor mencoba mengalihkan pembicaraan.
__ADS_1
"Jika wajah yang sangat mirip ini tidak bisa meyakinkan mu, bafaimana dengan berkas-berkas ini." Ujar Alice dan kemudian Galih dan Juna menyerahkan satu berkas kepada Fiktor dan berkas lainnya kepada pemegang saham lainnya.
"Uhuk.. Baiklah kau bwnar adalah Adeliana.. Namun saat ini kita sedang mengadakan rapat darurat. orang sembarangan tidak bisa mengikuti rapat ini." Ucap Fiktor sinis dan meletakkan berkas yang hanya bagian luarnya saja di bacanya namun bagian dalamnya tidak di baca oleh pria itu.
"Ahh aku adalah orang luar dan tidak memiliki hak begitu?" Tanya Alice yang semakin dingin dan sinis.
"Ya.. Kita bisa reuni pertemuan keponakan dan pamannya nanti saja saat rapat ini sudah selesai." Ucap Fiktor yang merasa di atas angin atas kekalahan gadia kecil itu.
"Benarkah paman.. Namun saya juga merupakan pemilik saham 5% bukan.. Saya memiliki hak untuk tetap berada di dalam ruangan ini." Ucap Alice sinis.
"Apa? Bagaimana mungkin!" Ucap Fiktor emosi.
"Paman bisa membaca berkas di dalam sana. Aku memiliki saham atas nama ku sebanyak 5% diluar dari warisan dari kedua orang tua ku dan kakek ku." Ucap Alice dengan senyum liciknya.
Seketika Fiktor membelalakan matanya dan mengambil kembali kertas yang sebelumnya dia lempar ketas meja. Fiktoe memegang dan kemudian mermas kertas itu saat dia selesai membacanya.
"Sialan!" Umpat Fiktor sangat pelan seperti bisikan, namun Alice dapat mendengar hal itu.
"Baiklah kau duduk di manapun kau mau! Kau Imanuel! Kau boleh oergi dari sini!" Ucap Fiktor kasar melampiaskan kekesalannya kepada pria itu
"Maaf aku juga memiliki hak.. Aku memiliki saham 3%." Ujar Imanuel santai dan menduduki kursi di samping Alice.
"Breng$ek!!" Umpatan pelan lain keluar dari mulut Fiktor.
"Baiklah lakukan sesuka kalian." Ucap Fiktor akhirnya menyerah dan enggan untuk melanjutkan perdebatan itu.
Juna, Galih dan Roy duduj di kursi belakang dekat tembok bersamaan dengan beberapa notulen.
"Baiklah rapat kali ini sebenarnya adalah mengenai hidupnya kembali putri tunggal penerus Baskoro Grup yang adalah Adeliana. Dan kita sudah melihat langsung buktinya jadi sepertinya rapat ini tidak di perlukan lagi." Ucap Fiktor cepat untuk mengakhiri sesi rapat ini.
"Tunggu sebentar.. Bukankah rapat ini juga berarti berhubungan juga dengan penerus dan pemimpin BBC saat ini?" Sela Alice dengan cepat.
__ADS_1
"Apa maksud mu?" Ucap Fiktor semakin geram.
"Maksudku, aku adalah pewaris tunggal Baskoro.. Bukankah sudah sewajarnya jika aku menjadi pemimpin grup ini?" Ucap Alice santai dan angkuh.
"Apa?"
"Bagaiamana ini?"
"Apa yang akan terjadi jika dia adalah pemimpin kita!"
"Jangan bercanda! Bocah ingusan ingin memimpin perusahan terbesar di dunia!"
"Sungguh tidak tahu malu!"
Berbagai kecaman dan hinaan terlontar di atas meja itu. Alice mengabaikannya dan tetap duduk dengan santai dan dengan wajah dinginnya.
"Ehem!" Deheman Fiktor membuat ruangan kembali hening. Semua celaan juga berhenti dan semua kembali tenang dan menanti penjelasan dari Fiktor.
"Sepertinya kau belum mengetahunya Nak.. Ini adalah perusahaan besar. Sedangkan kau adalah seorang bocah ingusan. Tidak mungkin ratusan ribu karyawan bisa kau kendalikan. Jangan bercanda! Lebih baik kau diam saja dan nikmati hasil keuntungan dari para tetua di perusahaan." Ucap Fiktor dengan nada sinis dan merendahkan.
"Wah.. Sepertinya paman yang tidak paham." Ucap Alice santai dan kemudian menjentikkan jarinya. Sehingga Galih dan Juna kembali membagikan berkas yang lain kepada para pemegang saham itu, dan Roy yang memberikan berkas itu langsung di hadapan Fiktor.
"Berkas itu adalah penurunan hasil yang di berikan perusahaan selama 1 dasawarsa (Sepuluh tahun)" Ujar Alice dengan senyum liciknya.
"Bagaimana bisa kau mendapatkan berkas ini!" Ucap Fiktor dengan penuh emosi yang membuat wajahnya memerah. Pria itu meremas semua berkas itu dengan kesal.
"Aku adalah pemilik perusahaan ini, bukankah sewajarnya jika aku memiliki rincian itu paman." Ucap Alice sedikit mengejek kepada pria itu.
"Kau!" Bentak Fiktor menggelegar di dalam ruangan rapat itu.
Bersambung....
__ADS_1