JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Kritis


__ADS_3

Keesokan harinya Alice mendapatkan panggilan telepon dari anggota RJP.


Drrt drrt drrt.. Ponsel Alice berbunyi dan bergetar di atas nakas di samping tempat tidur Alice dan juga Anton.


"Ada apa?" Tanya Anton yang sedikit terganggu oleh getaran dan suara dari ponsel Alice.


"Emhh.. Entahlah.. Aku tidak mengerti siapa yang pagi buta seperti ini menelpon.." Gumam Alice dan mengerjap-ngerjapkan matanya menyesuaikan cahaya kamarnya yang baru saja di nyalakan terang oleh Anton dari samping tempat tidurnya.


Pasalnya kedua orang itu baru saja memejamkan mata mereka satu jam yang lalu akibat olah raga malam yang mereka lakukan untuk melepas rindu.


Alice mencoba bangkit dari tidurnya dan duduk di atas kasur kemudian menyandarkan punggungnya ke kepala ranjang kemudian mengambil ponselnya yang sudah tidak berbunyi lagi.


Alice membuka layar kunci ponselnya dan memperhatikan terdapat beberapa panggilan yang tidak terjawab. Dari sebuah nomor yang sama sebanyak 5 kali panggilan tidak terjawab.


"Siapa ini? Aku tidak mengenali nomornya.." Ujar Alice heran.


"Coba kau hubungi lagi saja." Saran Anton kepada Alice dan pria itupun melakukan hal yang sama dengan Alice. Menyandarkan punggungnya di kepala kasur.


"Ya.." Ucap Alice cepat.


Namun belum sempat gadis itu menggeser ikon panggil untuk menghubungi nomor itu kembali, tiba-tiba ponsel Alice kembali berbunyi dan bergetar dengan nomor yang sebelumnya mencoba menghubungi itu.


"Wahh belum juga akan di telepon.. Dia sudah menelepon lagi.. Sepertinya ada yang tidak beres.." Gumam Alice dan dengan cepat langsung menggeser ikon hijau untuk mengangkat panggilan itu.


📞 "Ini siapa?" Tanya Alice cepat.


📞 "Maaf Bu Alice.. Saya Wahyudi dari RJP.. Maaf mengganggu sepagi ini.." Ujar pria itu berbasa basi saat panggilan telepon itu sudah tersambung.


Alice menerutkan keningnya dalam, sepertinya benar ada yang tidak beres saat ini.


📞 "Tidak masalah.. Tidak perlu berbasa basi, langsung saja kepada inti laporannya." Ucap Alice lagi mempersilahkan pria itu agar menyampaikan laporannya sampai tidak bis menunggu esok hari.


📞 "Baik Bu.. Saya baru saja mendapatkan laporan pemberitahuan dari salah satu perawat petugas Rumah Sakit Kepolisi yang merupakan tempat Jhon Markus di rawat. Beberapa waktu yang lalau saat salah seorang perawat akan memberikan obat injeksi kepada Jhon Markus, dia menemukan kedua petugas penjaga tergeletak di depan pintu kamar ruang rawat pria itu. Kedua petugas dilumpuhkan dengan menggunakan obat tidur dosis tinggi." Jelas Wahyudi dari seberang telepon.


📞 "Lalu apa yang terjadi kepada para petugas itu? Bagaimana keadaan mereka? Apa tujuan membuat kedua petugas itu hilang kesadaran? Lalu bagaimana keadaan Jhon Markus? Apakah dia kabur?" Tanya Alice lagi bertubi-tubi karena dia shok dan kaget atas informasi yang baru saja dia terima.


📞 "Kedua petugas itu sedang menjalani pengobatan intensif dari dokter, namun masalahnya situasi Pak Jhon jauh dari bahaya. Pria itu saat ini sedang di ruang operasi untuk mencoba menolong Jhon yang sepertinya lebih banyak menerima obat dalam dosis lebih tinggi.." Jawab Wahyudi sedikit gugup.

__ADS_1


📞 "Apa? Jadi pria itu tidak melarikan diri tapi malah orang lain yang mencoba untuk membunuhnya begitu maksud mu?" Tanya Alice mengambil kesimpulan.


📞 "Benar Bu.. Sepertinya demikian." Jawab pria itu cepat.


📞 "Baiklah segera periksa seluruh rekaman CCTV di rumah sakit itu. Cek seluruh orang yang keluar dan masuk di luar lift lantai ruang rawat Jhon. Jika kedua petugas itu sudah siuman, tanyakan keterangan kepada mereka. Sebentar lagi aku akan kesana segera." Ucap Alice mengakhiri pembicaraannya.


📞 "Siap Bu.." Jawab Wahyudi sebelum panggilan telepon itu benar-benar berakhir. Gadis itu segera menutup panggilan telepon kemudian bangkit dari kasur dan meletakkan ponselnya di atas nakas.


"Ada apa?" Tanya Anton yang sedikit banyak sudah mendengar percakapan antara Alice dengan seseorang di seberang telepon itu.


"Ada seseorang yang mencoba membunuh Jhon Markus, saat ini keadaannya dalam kondisi kritis. Aku harus kesana segera melihat situasinya dan mengungkap siapa yang telah melakukan ini semua." Jawab Alice yang kini gadis itu bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya akibat aktifitas panas sebelumnya.


"Aku akan ikut dengan mu.." Ujar Anton dan dengan sigap pria itu juga mengikuti Alice masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya tanpa melakukan aktifitas yang memperlambat mereka pergi.


Anton sudah keluar lebih dahulu dari kamar mandi dan mengenakan pakaiannya dan mengambil beberapa barang yang harus dia bawa. Tidak lupa pria itu juga mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


Beberapa saat kemudian panggilan telepon itu tersambung..


📞 "Ya Tuan.." Jawab Paul cepat saat panggilan telepon itu sudah tersambung.


📞 "Paul sesuatu terjadi.. Jhon Markus kritis.. Aku akan pergi ke rumah sakit kepolisian sekarang, bisakah kau di sana juga dan membantu ku mencari siapa yang mencoba pembunuhan terhadap Jhon di sekitar sana untuk menemukan suatu bukti." Ucap Anton lagi cepat.


📞 "Terima kasih Paul.." Ujar Anton kemudian mematikan panggilan ponselnya itu yang bertepatan dengan Alice yang sudah keluar dari kamar mandi yang hanya menggunakan bathrobe.


"Kau menghubungi siapa sayang?" Tanya Alice yang mengambil beberapa pakaian yang simpel yaitu celana bahan panjang dan juga baju sweter berlengan panjang. Bagaimanapun juga saat ini jam menunjukkan pukul 03.00 AM, pasti akan sangat dingin di luar sana nantinya.


"Aku menghubungi Paul, dia akan berada di sana juga untuk membantu kita nantinya." Jawab Anton jujur.


"Terima kasih sudah mencoba membantu ku.. Aku sedikit tidak mengerti mengapa seseorang benar-benar nekat untuk pergi ke rumah sakit kepolisian hanya untuk membuat pingsan para petugas dan bahkan mencoba melenyapkan Jhon di bawah pengawasan hukum." Ucap Alice sedikit tidak mengerti. Gadis itu sudah selesai berpakaian dan langsung mengikat rambut basahnya seadanya dengan menggunakan jepit rambutnya asal.


"Aku tidak mengerti mengapa.. Namun yang aku tahu kau harus mengeringkan rambut mu dengan benar Alice." Ujar Anton tegas dan menyuruh kembali Alice duduk di depan meja rias dan dengan cekatan mengambil hair drayer yang ada di dalam lemari meja rias itu dan menyambungkannya ke listrik.


"Anton, aku tidak punya waktu untuk ini.. Kita harus segera pergi." Tolak Alice dan ingin segera pergi dari ruangan kamarnya.


"Aku tahu kita sedang terburu-buru, namun kesehatan mu yang paling utama.. Jika kau keluar dari ruangan ini keluar yang mana udaranya yang masih dingin dengan rambut yang basah aku sangat yakin beberapa jam kemudian kau bahkan tidak akan bisa melanjutkan pekerjaan mu dan malah harus di rawat di rumah sakit itu." Ujar Anton tegas dan kembali mendudukkan Alice di meja riasnya.


Anton menyalakan alat itu dan mendekatkannya di rambut Alice, dan menggunakan sisir untuk membantunya merapihkan rambut istrinya itu.

__ADS_1


"Dan kau baru saja sembuh dan keluar dari rumah sakit, aku tidak ingin kau kembali menginap di rumah sakit lagi sayang.." Ucap Anton dan kembali menggerakkan kedua tangannya selaras untuk membantu mengeringkan rambut Alice.


"Ya.. Kau benar.. Aku akan sakit dan tidak akan bisa menyelesaikan tugas ini.. Padahal Kak Juna masih di rawat dan belum bisa melakukan pekerjaan ini. Aku harus mengambil alih tugasnya untuk sementara waktu.. Baiklah aku mengerti.. Terima kasih sudah mengingatkan ku kembali.." Ujar Alice dan menatap langsung mata suaminya dari pantulan cermin di depannya itu.


"Tentu saja sayang.." Ucap Anton dan meletakkan hair drayer itu di atas meja rias dan mencabut koneksi ke listrik.


"Baiklah sudah selesai.. Ayo kita bisa berangkat sekarang." Ujar Anton lagi dan Alice beranjak berdiri dari ruangan kamarnya itu.


"Ya.. Ayoo.." Ucap Alice dan merangkul lengan suaminya itu menuju mobil yang di parkirkan di garasi bawah mansion keluarga Baskoro.


Mansion mewah itu masih sangat sepi dan hanya diterangi oleh lampu di beberapa bagian saja.. Karena lampu utamanya di matikan saat malam hari. Seluruh pelayan juga pasti masih tertidur nyenyak dikasur mereka masing-masing yang ada di bagian belakang di lantai satu itu.


"Rumah ini jadi seperti rumah hantu jika kita keluar sepagi ini.." Gumam alice yang mengetatkan pelukkannya ke tubuh suaminya.


"Kau takut hal seperti itu juga?" Tanya Anton yang sedikit kaget saat mendengar ucapan Alice.


Anton hanya tidak pernah menyangka gadis seperti Alice yang bahkan bisa melakukan misi berbahaya masih bisa takut terhadap hal-hal yang berbau mistis.


"Tidak tidak, tidak seperti itu.. Emhh hanya jadi sedikit tidak nyaman saja.. Apalagi aku bisa mendengar jauh lebih baik dari orang biasa jadi aku sudah pasti mendengar apapun itu jika memang ada.. Dan menurutku lebih menyeramkan manusia dengan hati iblis ketimbang para makhluk astra itu sendiri." Ucap Alice santai.


Anton tersenyum dan mngusap-usap rambut Alice lembut.


"Kau benar.. Makhluk astra tidak bisa mendorong mu dari tebing, sedangkan manusia bisa mendorong mu jatuh dari tebing hingga berkeping-keping." Ujar Anton menambahkan.


"Baiklah silahkan masuk Nyonya.. Kita harus bergegas cepat.." Ujar Anton lagi sambil membukakan pintu mobil penumpang untuk Alice tepat di bagian samping kursi pengemudi.


Alice masuk ke dalam mobil dan duduk dengan baik kemudian mengenakan sabuk pengamannya selagi Anton menutup pintu milik Alice dan berjalan menuju pintu tempat duduknya.


Anton duduk di belakang kemudi dan menutup pintu mobil rapat dan mengkuncinya, setelah itu pria itu kembali menggunakan seat beltnya dan menginjak gasnya menuju rumah sakit kepolisian di kota X.


"Sayang kau bisa beristirahat dahulu jika kau masih lelah, perjalan ke sana lumayan menghabiskan waktu satu jam dan kau bisa istirahat dengan baik di dalam mobil." Saran Anton saat melihat Alice yang tampak sedikit kelelahan.


Bagaimanapun Alice sudah bercerita bahwa mereka baru saja tiba siang tadi dan langsung pergi menuju kota F dimana Juna dan Anton berada dan kemudian pergi ke kota G untuk menangkap Jhon Markus.. Dan gadis itu baru saja tidur beberapa jam dan itu memang membuat kepalanya sedikit pusing.


"Yaa.. Baiklah.. Maaf kau harus mengemudi sendiri." Ucap Alice yang kemudian sedikit menurunkan kursinya dan memejamkan matanya untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya.


"Istirahatlah sayang.. Jangan banyak berfikir.." Ucap Anton yang memegang kendali stir dan satu tangannya mengusap kepala Alice lembut untuk membiarkan istri tersayangnya itu beristirahat.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2