
Setelah kepergian Fiktor, tiba-tiba pintu terbuka dan masuk lima orang wanita cantik dan mengenakan pakaian minim nan sexy masuk ke dalam ruangan itu dan duduk di sofa samping Bahar, bahkan ada dua wanita yang duduk di atas masing-masing paha pria itu.
"Tuan.. aku akan menuangkan minuman untuk mu.." Ucap salah seorang wanita yang duduk di samping Bahar dan mulai menuangkan sebuah botol minuman keras ke dalam gelas sloki dan memberikan es batu di dalamnya.
'Sahabatku.. apakah perbuatan ku ini benar? entah mengapa di sisi lain hati ku mengatakan ini tidak benar. Namun dia adalah saudara mu, dia pasti melakukan banyak hal baik sama seperti mu bukan. Hanya aku saja yang kurang memahami niat baiknya.' Bisikan batin kecil Bahar.
Wanita itu menyodorkan gelas itu di hadapan Bahar, namun Bahar masih diam tanpa respon apapun terhadap gelas di depan wajahnya itu. Seorang wanita lain yang duduk di pangkuan pria itu mengambil gelas itu dan mendekatkannya di depan bibir pria itu sambil menggoda pria di bawah bokongnya itu.
Bahar mulai merespon dan meminum minuman yang di berikan dari tangan wanita itu. Sepertinya dia benar-benar membutuhkan minuman itu untuk mengalihkan pikirannya sendiri.
Beberapa gelas sudah dia tenggak minuman itu, kepalanya sudah mulai ringan. Beberapa wanita makin gencar menggodanya, Bahar mulai kehilangan jati dirinya dan menikmati pesta kecilnya sendiri di ruangan yang akan dia nikmati 12jam kedepan itu dengan kelima wanita cantik dan sexy di sisinya.
***
Sedangkan di cabang markas RJP di kota X..
"Aku mendapatkan informasi semalam dari Alice. Malam ini mereka akan pergi ke sebuah acara pesta. Kita harus menaruh beberapa anggota kita dan memantau pergerakan Alice. Pastikan dia tidak akan mengalami bahaya dan aku akan meretas semua CCTV hotel itu agar aku bisa memantaunya langsung." Ucap Galih dan mendapatkan persetujuan dari Roy dan Juna.
"Aku sudah menaruh beberapa anak buah ku sebagai pelayan hotel dan beberapa waiters serta tamu di hotel itu." Ucap Juna memberikan laporannya.
"Bagus.. lakukan semuanya dalam pengawasan kita." Ucap Roy memerintah.
"Tugas ku sudah selesai.. aku akan keluar dahulu mencari udara segar." Ucap Juna dan segera pergi meninggalkan markas mereka di kota X itu.
"Hei kau tidak lihat dia sepertinya berbeda?" Tanya Roy kepada Galih.
"Ya aku juga berpikir demikian.. biarkan saja dia menyegarkan pikirannya. Nanti malam baru panggil dia lagi." Saran Galih dan di angguki Roy yang sebagai senior, bos dan sekaligus sahabatnya itu.
"Aishh.. aku masih saja belum bisa melupakan wanita jutek itu.. padaha beberapa malam di kota ini aku selalu saja bersama beberapa wanita baru di bar, namun entah mengapa malah selalu wajah dia yang muncul di hadapan ku." Gumam Juna monoton kepada dirinya sendiri.
"Aihhh sial!!" Kesal pria itu dan menendang udara di depannya itu.
Juna memilih masuk ke sebuah bar yang buka 24jam tidak jauh dari pusat kota. Pria itu duduk dan memesan minuman.
__ADS_1
"Mojito.." Ucapnya pada bartender dan sang bartender langsung membuatkan minuman yang di pesan Juna.
"Silahkan.." Ucap baretender itu menggeser gelas minumannya tepat di depan Juna.
Juna menyesap minumannya, rasa panas membakar tenggorokannya dan lambat laun membuat kepalanya melayang. Tanpa di sadari seorang wanita masuk dan duduk bar di samping Juna.
"Masih terlalu pagi bukan untuk mabuk." Ucap Wanita itu yang mengenakan pakaian casual dengan dress ketat setengah paha.
"Bukan urusan mu." Ucap Juna dingin.
"Woah.. aku suka gaya mu.." Ucap Wanita itu dan sedikit mengsap paha Juna. Kemudian wanita itu memesan minumannya kepada bartender itu.
Juna menghempaskan tangan nakal wanita itu dari tubuhnya. Entah mengapa dia jadi jijik jika berhubungan dengan wanita lain. Beberapa malam di temani wanita yang berbeda-beda membuatnya benar-benar muak, meskipun tidak ada yang terjadi di antara mereka semua.
Lebih tepatnya semuanya tidak ada yang benar-benar tuntas. Entah apa yang menyebabkan pria itu selalu tidak bisa konsen dan malah meninggalkan para wanita itu dan malah balik ke kamar hotelnya sendiri dan menuntaskannya dengan tangannya sendiri.
"Astaga.. aku masih normal kok." Gumamnya pelan membayangkan beberapa malam-malam terakhir ini, kemudian menyeruput kembali minuman di gelasnya.
"Aihhh.." Juna menghembuskan nafasnya kesal. Entah apa yang di pikirkannya pria itu langsung mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada Maya.
💌"Tolong aku.. bawa uang ke Bar anggrek di pusat kota." Isi pesan itu beserta share lokasi yang pria itu berikan.
💌"Kau merepotkan." Isi pesan balasan dari Maya.
"Jauhkan tangan mu dari tubuh ku.. Kekasih ku akan tiba." Ucap Juna dan tersenyum melihat ponselnya.
Tak berapa lama Maya muncul dengan nafas ngos ngosan dengan pakaian kaus longgar berwarna putih dan celana jeans berwarna biru. Juna yang melihat itu tersenyum cerah.
"Apa yang kau tertawakan kau terlihat seperti orang bodoh." Ucap Maya saat berada di dekat Juna.
"Ahh.. maaf berapa biaya yang dia minum." Ucap Maya kepada bartender itu.
"Ahh.. ternyata ini wanita mu.. Ahh Nona kau tidak perlu membayar, anggap saja aku yang traktir dia. Kau bawa saja pria ini oeegi." Ucap Wanita yang sedari tadi duduk di samping Juna.
__ADS_1
"Ahh.. apa??.. emhh baiklah.. terima kasih kalau begitu.. aku permisi." Ucap Maya sopan.
"Bos Eliza.. Mengapa kau membayari orang yang tidak kau kenal?" Tanya bartender itu.
"Hemm entahlah.. hanya menarik saja ada seseorang yang berani menolak ku. Tidak banyak pria yang teguh pada hubungannya bukan." Ucap wanita itu lagi dan mulai meminum minumannya sambil memperhatikan Maya yang membantu Juna yang berjalan sedikit sempoyongan.
"Pria itu berpura-pura mabuk.. benar-benar deh.." Ucap Wanita itu lagi melihat kepergian sepasang tamunya itu.
"Aihh.. kau benar-benar sangat merepotkan.. di mana kau tinggal?" Keluh Maya saat mereka sudah keluar dari Barr itu.
"Aihhh orang mabuk di siang hari benar-benar luar biasa kau Juna!! mmembuat orang kerepotan saja!!" Cerocos Maya tidak henti-hentinya, membuat Juna menahan senyumnya.
"Ishh di mana kau tinggal!!" Ucap Maya lagi dengan ketus.
"Di hotel Royal kamar 508." Ucap pria itu dan kemudian pura-pura bersandar di bahu wanita itu.
Maya dengan kesal memberhentikan taksi dan menyebutkan kemana mereka akan pergi. Tak berapa lama Taksi menurunkan mereka tepat di depan lobby hotel itu.
"Ada yang bisa saya bantu Nyonya." Ucap seorang pria yang sepertinya petugas hotel itu.
"Tolong bantu saya bawakan pria ini ke lantai 508." Ucapnya dan mengekori di belakang bellboy itu.
Maya mencari kartu kunci yang ada di tubuh Juna masih dengan di bantu berdiri oleh bellboy itu saat mereka tepat berada di depan kamar nomor 508 dan menemukan kartunya di saku celana jeans pria itu.
Dan kemudian Maya membuka pintu kamar itu dan menyuruh bellboy itu masuk dan menurukan Juna di sofa yang berada di dalam kamar itu.
"Terima kasih." Ucap Maya dan memberikan tips untuk pria itu.
"Terima kasih Nyonya." Ucap bellboy itu dan keluar dari ruang kamar Juna.
"Apakah aku terlihat tua." Ucap Maya kesal. Tanpa sepengetahuannya, Juna tersenyum mendengar ucapan wanita dingin itu.
Bersambung....
__ADS_1