
Dua jam sudah berlalu kini mereka akan memasuki pintu ruang pertemuan.
Tok tok tok kemudian mereka memasuki ruangan itu.
“Alice… Astaga Tuhan.. Aku bersyukur kau baik-baik saja. Apakah kau terluka?” Tanya Roy langsung menghambur memeluk Alice ketika gadis itu baru saja muncul ke dalam ruangan itu.
“Saya baik-baik saja Pak.” Alice memanggilnya ‘Pak’ karena di sana masih berkumpul semua para anggota elite lainnya duduk di kursi masing-masing.
“Laporkan.” Ucap Roy melepaskan pelukannya, duduk di kursinya dan kembali serius mendengarkan penjelasan Alice.
“Lapor.. Sesuai dengan data perekam Macel ketua Mafia Tiger Woods melakukan transaksi narkoba di dalam kapal pesiar dengan mafia dari negara lain dan menyimpan sisa barang buktinya di dalam kontener PT. Jiwa Jaya yang berada di dekat pelabuhan, kontener itu bernomor801. Sebelum penyergapan terjadi kekacawan yang mengakibatkan anggota kita tertangkap saat masih menjadi mata-mata, anggota mereka ternyata jauh lebih banyak dan menyamar sebagai tamu lainnya. Sehingga mereka menyelesaikan mata-mata yang tidak bisa di tangani di tempat dan kepala tim Zio memilih gugur dari pada harus membongkar penyamarannya. Namun dalam kekacauan itu Black Phanter membantu melumpuhkan semua anggota Tiger Woods dan menyekap mereka di dalam ruangan dan memerintahkan kapal peisar untuk segera menepi di dermaga terdekat. Saya menjadi tahanannya karena awalnya dia penasaran dengan alat yang saya gunakan, dia khawatir saya adalah mata-mata dari salah satu musuhnya. Namun ketika berita mulai live dia membebaskanku karena dia yakin aku bukan berasal dari musuhnya. Laporan selesai.” Ucap gadis itu lugas.
“Baiklah laporan mu diterima. Semuanya sudah mendengar, kita mendapatkan Macel dan barang bukti sedikit banyak ada bantuan dari Black Phanter. Kembali ke tugas semula, temukan semua bukti untuk memberatkan para petinggi dan macel. Siapkan penghargaan dan bela sungkawa kepada rekan kita yang telah gugur. Semua bubar.” Ucap Roy tegas. Mereka semua keluar ruangan untuk menyelesaikan tugas mereka masing-masing. Hanya tersisa Roy, Jun, Galih dan Alice.
“Al kamu benar tidak apa-apa?” Tanya Roy masih khawatir.
“Aku tidak apa-apa Kak, aku baik-baik saja.” Ucap Alice.
“Syukurlah kau benar-benar baik-baik saja.” Ucap Roy dan memeluk Alice kedalam pelukannya.
“Apa yang terjadi? Al” Tanya Juna penasaran.
“Aku di bius oleh Macel, namun untunglah ‘the K’datang pada saat yang tepat. Aku di bawa olehnya untuk mengintrogasi identitasku, namun saat berita Macel live membuatnya menjadi tak khawatir akan identitasku. Dia sudah menebak bahwa aku adalah salah satu angota RJP, dan membebaskanku.” Ucap Alice.
“Apa? Kau di bius. Astaga pria tua itu benar-benar berengse*k!! Tapi kau benar-benar tidak apa-apakan Alice?” Tanya Roy makain khawatir.
“Aku tidak apa-apa. K merendamku dalam air dingin semalaman hingga aku sadar.” Ucap gadis itu tidak sepenuhnya berbohong. Galih hanya diam saja sejak awal mereka tiba di sana.
“Baiklah jika demikian, aku sangat bersyukur kamu baik-baik saja. Kau istirahatlah selama 2 minggu ini. aku membebas tugaskan mu.” Ucap Roy.
__ADS_1
“Iya kak terimakasih.” Ucap Alice. Roy dan Juna pun pergi meninggalkan ruangan itu. Hanya tersisa Galih dan Alice di sana.
“Aku akan mengantarkan mu pulang.” Ucap pria itu setelah beberapa lama dia diam dan baru memulai percakapan.
“Tak perlu Gal, aku akan pergi sendiri.” Ucap Gadis itu dan pergi meninggalkan Galih dalam ruangan itu sendiri.
Galih mengeluarkan bungkusan sampah yang dia ambil tadi di dalam tempat sampah di vila dan melihatnya.
“Kau tidak baik-baik saja kan Al.” Ucap Galih monoton kepada dirinya sendiri sambil melihat bungkusan itu.
“Aku tau kau sangat terluka saat ini, namun kau menutup semuanya dan menanggungnya sendiri. Dasar gadis bodoh.” Ucapnya lagi kepada dirinya sendiri dan meremas bungkusan itu.
“Ma’afkan aku.. Aku tidak bisa melindungimu Al.” Ucap Galih meluruh dan berjongkok di lantai sambil meremas rambutnya kesal.
Alice memilih pergi dari markas dan segera ke rumah sakit. Beberapa hari ini dia rindu dengan Tasya karena tidak bisa menemuinya akhir akhir ini.
“Kakakkkk….” Jerit gadis kecil itu sambil memeluk Alice saat dia baru saja tiba di ruangan gadis kecil itu.
“Baik kak Ara, aku sangat merindukan mu.” Ucap gadis kecil itu.
“Kaka juga merindukan Tasya, tapi karena kerjaan kak Ara sedang banyak akhir-akhir ini jadi belum sempat menjenguk Tasya.” Jelas Alice.
“Hemm tak masalah, yang penting ka Ara sama Tasya sekarang.” Ucap gadis kecil itu.
Mereka melepaskan rindu dengan bercanda dan bercengkrama di dalam kamar perawatan Tasya. Alice berpamitan pulang karena sudah hampir dua jam dia berada disana.
“Kak Ara pulang dulu ya, nanti kalau kakak ada waktu lagi, kakak akan sering menemui Tasya.” Ucap Alice.
“Iya kak Ara.” Ucap gadis gecil itu patuh. Ara pergi meninggalkan kamar rawat Tasya dan hendak masuk kedalam pintu lift.
__ADS_1
“Ara, tunggu.” Ucap suara baritone di belakangnya. Alice menoleh dan mendapati Anton berlari kecil menghampirinya.
“Oh hai Anton.” Ucap gadis itu tersipu, pasalnya dia selalu mengingat dan menyebut nama pria ini tanpa sadar saat dia tengah menikmati pelepas*annya.
“Apa yang terjadi? Wajahmu memerah? Apa kau demam?” Tanya Anton nampak khawatir.
“Ahh tidak, mungkin karena panas saja.” Ucap Alice dan mengkipas kipaskan tangannya ke wajahnya.
“Siang Dok Antonius, sudah lama tidak bertemu dengan mu. Bagaimana seminar di negara X?” Tanya seorang wanita mengenakan jas sneli juga menghampiri mereka keluar dali dalam lift.
“Oh ya siang juga Dok Maria, lancar dan menyenangkan. Acaranya terlalu padat aku jadi tidak sempat membawakan oleh-oleh untuk kalian semua. Namun aku membawakan pesananmu, kamu ambil saja sendiri di ruangan ku.” Ucap Anton menjelaskan.
“Ahh baiknya dirimu. Baiklah aku tidak mengganggu lagi. Aku pergi dulu. Selamat berkencan.” Ucap wanita itu menggoda dan segera pergi meninggalkan mereka.
“Kamu dari negara X?” Tanya Alice.
“Iya aku pergi ke negara itu beberapa hari yang lalu, ada seminar yang harus aku ikuti. Maka dari itu aku sangat merindukan mu sekarang. Makan siang dengan ku ya.” Ucap Anton lugas.
“Ya, aku juga ada sesuatu yang ingin aku katakana padamu.” Ucap Alice dan mulai mengikuti Anton dari belakang.
“Kemarilah.” Ucap Anton dan mensejajarkan jalan mereka, Anton menggenggam tangan gadis itu. Alice mencoba melepaskannya namun Anton menggenggamnya dengan sangat erat, dan Alice terpaksa membiarkannya.
“Kita akan kemana?” Tanya Alice penasaran saat melihat arah mereka tidak menuju mall yang biasanya mereka lewati.
“Kita makan siang di rumah ku. Aku membawakan oleh-oleh untukmu dan aku meninggalkannya di tempatku, jadi sekalian saja makan siang di sana.” Jelas pria itu.
“Tapi kamu kan bisa memberikannya lain waktu. Tidak perlu sekarang juga kan?” Tolak Alice.
“Hemm ya, tapi aku ingin segera memberikannya. Lagi pula jadwalku kosong saat ini, aku tidak tau kapan aku memiliki waktu kosong lagi. Kau tau kan karna aku pergi beberapa hari lalu, pasti nanti jadwalku agak padat dan tidak tau kapan bisa bertemu dengan mu lagi.” Jelas Anton. Alice hanya menghela nafas dan membiarkan pria itu mengemudi menuju apartemennya.
__ADS_1
Bersambung....