JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Tamu asing


__ADS_3

"Silahkan duduk dahulu.." Ucap Maya mempersilahkan ke tiga orang itu untuk duduk di sofa. Ketiga orang itu lalu duduk di sofa yang tidak terlalu jauh dari ranjang pasien.


"Maaf kalau boleh tahu ada keperluan apa ya?" Tanya Maya masih bingung dengan kedatangan ketiga orang itu.


"Saya di sini dimintai oleh den Juna, untuk membantu menemani non selama dia tidak ada." Jelas wanita paruh baya yang menggunakan dress panjang.


"Ohh iya saya sudah mendengar itu, maaf saya jadi merepotkan anda. Seharusnya Juna tidak perlu melakukan hal itu, saya bisa sendiri." Ucap Maya merasa tidak enak hati telah merepotkan atas permintaan Juna kepada wanita paruh baya itu.


"Tidak apa non.. Saya senang jika bisa membantu den Juna." Ucap wanita paruh baya itu sopan.


"Terima kasih sebelumnya.. Jika begitu mohon maaf jika saya akan merepotkan anda kedepannya." Ucap Maya sopan.


"Tentu non.. Tidak masalah.." Ucap wanita paruh baya itu.


"Emhh panggil saya Maya saja bu.." Ucap Maya lagi.


Setiap gerak gerik dan ucapan Maya tidak pernah luput dari pandangan seorang wanita yang sedari tadi hanya duduk diam memperhatikan interaksi mereka.


"Emhh lalu.." Ucap Alice menggantung yang melirik ke arah Yoga dan seorang wanita lainnya yang sedang menatapnya.


Wanita paruh baya itu memahami pandangannya kepada Nyonyanya dan anaknya. "Ahh iya saya lupa memperkenalkan.." Ucap wanita tua itu sedikit malu karena melupakan hal penting.


"Saya Maesaroh, pengasuh den Juna saat masih kecil, dan yang di samping saya nyonya Nesrine Tala ibu dari den Juna.. Dan pria yang di samping ini adalah Yoga putra saya." Jelas wanita tua itu dengan riang, namun Maya dan Yoga seperti mendengarkan petir yang menggelegar di siang hari yang cerah itu.


Yoga membelalakan matanya karena ibunya mengakui bahwa dirinya adalah putranya, mau tidak mau Maya pasti akan tahu bahwa kebohongannya mengenai unit apartemen yang dia tinggalinya itu bukanlah miliknya.


Sedangkan Maya membelalakan matanya saat mendengar pernyataan wanita tua itu, bahwa wanita yang ada di sampingnya adalah ibu dari Juna. Pria yang selama ini selalu membantunya.


"Ehemm.. Tidak perlu tegang begitu, saya kemari hanya ingin menjenguk teman anak saya." Ucap Nesrine ramah.


"Ehem.. Nak Maya sudah makan siang?" Tanya Nesrine yang menyadarkan Maya dan juga Yoga secara bersamaan dari lamunan mereka.


"Ahh terima kasih tante.. Emhh mungkin sebentar lagi pihak rumah sakit akan mengantarkan makan siang." Ucap Maya berusaha tenang padahal dia sedikit gugup dan merasa tidak nyaman.


Tok tok tok


"Masuk.."


Untunglah tidak lama kemudian muncul dua orang pramusaji satu membawa troli besar yang terlihat dari arah luar kamar, dan satu orang lagi mengambil makanan dari dalam troli dan masuk ke dalam kamar Maya.

__ADS_1


"Nona Maya.." Ucap pramusaji itu.


"Ya.." Ucap Maya singkat.


Wanita pramusaji itu meletakkan makannan diatas meja makan pasien yang di dorong di dekatkan ke arah Maya.


"Selamat menikmati." Ucap pramu saji itu sopan dan kemudian pergi meninggalkan ruangan itu bersamaan dengan datangnya seorang perawat ke dalam kamarnya.


"Saya periksa dahulu ya." Ucap perawat itu meminta izin dan Maya menganggukkan kepalanya.


Perawat mulai memeriksa tanda-tanda vital milik Maya dan setelah perawat selesai memeriksa kondisi Maya, perawat memberikan beberapa obat yang perlu di minum oleh Maya beserta mengganti cairan infus yang habis.


"Hasil pemeriksaannya semuanya normal.. Jika perlu apa-apa bisa menghubungi kami." Ucap perawat itu sopan dan kemudian pergi meninggalkan ruangan Maya.


"Mae, Yoga kalian makan siang saja dahulu." Ucap Nesrine memerintahkan kedua orang itu untuk pergi makan terlebih dahulu.


"Baik nyonya." Ucap Maesaroh dan Yoga bersamaan.


Maesaroh dan Yoga beranjak pergi dari ruangan itu dan meninggalkan Maya dan nyonya mereka.


"Emhh jika tante ingin makan siang, tidak apa-apa silahkan saja." Ucap Maya merasa tidak enak hati.


Nesrine duduk di kursi di samping ranjang Maya dan mendekatkan meja makan pasien kearah Maya. Wanita itu menyendok nasi dan memberikan lauhan di atasnya.


"Ehh.. Tidak perlu tante.. Saya bisa sendiri." Ucap Maya menolak pelan dan dia benar-benar merasa tidak enak.


"Bukalah mulutnya." Ucap Nesrine tidak menghiraukan ucapan Maya dan tetap mendekatkan sendok berisi makanan itu di depan mulut Maya.


Maya yang merasa tidak enak melihat tangan wanita itu masih tergantung memegang sendok di depan mulutnya, mau tidak mau membuka mulutnya dan memakan makanan itu.


"Maaf merepotkan tante.." Ucap Maya segan.


'Haihh.. Sepertinya pria itu mendapatkan sifat pemaksanya dari ibunya.' Batin Maya sambil terus mengunyah makanan di dalam mulutnya.


"Tidak masalah.. Tante tidak ada pekerjaan lain.." Ucap wanita itu santai.


Nesrie kembali mengambil nasi, lauhan dan sayur ke dalam sendok dan kembali mendekatkannya di depan bibir Maya.


"Kamu sudah mengenal Juna berapa lama?" Tanya Nesrine di sela-sela menyuapi Maya.

__ADS_1


"Hampir 6bulan tante.. Meski awalnya tidak di divisi saya sekarang." Ucap Maya menjelaskan.


"Bagaimana dia menurut mu?" Tanya Nesrine semakin penasaran.


"Emhh.. Maksud tante?" Tanya Maya bingung dengan pertanyaan wanita itu.


"Juna teman dan atasan yang baik. Saya sangat menghargai itu karena dia selalu membantu saya, dan saya bersyukur atas itu." Ucap Maya akhirnya.


"Bukankah dia sedang mendekati kamu? Kamu tidak mungkin tidak merasakannya bukan?" Selidik Nesrine dan memandang wajah Maya lekat.


Deg! Jantung Maya berdetak cepat.


'Bagaimana mungkin wanita ini tahu, apakah Juna memberitahukan semuanya kepada ibunya?' Batin Maya.


"Saya tahu dari sikap dia memperlakukan kamu, dia pasti sudah memperlihatkan keseriusannya bukan. Namun sepertinya jalan yang dia hadapi masih jauh ya." Ucap Nesrine sambil sedikit terkekeh dengan ucapannya sendiri.


Maya tidak tahu harus menanggapi seperti apa, wanita itu tidak menjawab dan hanya memakan makanannya yang tetap di suapi oleh Nesrine.


"Ibu tahu, mungkin kamu sebelumnya ragu saat melihat tingkah dia yang sebelumnya memang anak nakal. Namun setelah saya lihat perubahannya saat telah mengenal kamu, saya yakin dia benar-benar serius kepada mu. Lalu bagaimana dengan mu?" Ucap Nesrine lagi.


"Saya hanya anak yatim piatu dan tidak memiliki pendidikan tinggi, selain itu saya bukan wanita yang pantas untuk Juna." Ucap Maya jujur akhirnya kepada wanita itu.


"Bagaimana perasaan mu sendiri?" Tanya Nesrine mengabaikan pernyataan dari Maya tadi.


"Saya.. Saya tidak pantas untuknya." Ucap Maya lagi dengan ragu-ragu namun tidak menjawab apa yang di inginkan oleh Nesrine.


"Dengan ucapan mu saja saya sudah yakin bagaimana dengan perasaan mu." Ucap Nesrine dan tersenyum lega.


"Baiklah makannya sudah selesai, ini minum obatnya." Nesrine menyerahkan beberapa tablet di dalam mangkuk kecil untuk obat.


"Kami tidak pernah memandang apapun yang ada di dalam pikirkan kamu itu. Yang penting bagaimana perasaan mu terhadapnya dan bagaimana kalian menghadapinya nanti kedepannya. Hal yang lainnya masih bisa di urus dan di bicarakan. Dia juga sudah tidak muda lagi, dan bukan masanya lagi untuk bermain-main." Ucap Nesrine dan Maya hanya diam.


"Putuskan bagaimana dengan hati mu sendiri, jangan terbelenggu dengan hal-hal yang tidak perlu kamu pikirkan." Lanjut Nesrine lagi.


Setelah selesai mengatakan hal itu, Mae dan Yoga kemudian datang kembali kedalam ruangan Maya. Tidak lama kemudian Nesrine berpamitan kepada Maya dan Mae untuk pulang kerumahnya, di temani oleh Yoga yang membawa mobilnya.


Flashback Off.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2