
Gedung berdebu dan berantakan dengan beberapa kayu yang tampak usang dan juga beberapa bagian gedung yang sudah sedikit runtuh dan tembok yang sudah ambruk.. sepertinya gedung ini sebuah perusahaan kayu sebelumnya.. Karena banyak kayu yang sudah lapuk di sana.
Paul dan Anton berjalan menyusuri setiap ruangan dengan posisi tangan yang siaga. Mereka menaiki lantai 2 dengan perlahan, dan di lantai itu juga tidak menemukan siapapun disana. Mereka melanjutkan ke lantai 3. Dan mendengarkan percakapan di lantai 4.
Anton memberikan gestur dengan telapak tangannya agar Paul berhenti dan mendekatkan jari telunjukknya di depan bibirnya agar Paul diam. Paul mengangguk mengerti dam memperhatikan keadaan sekitarnya.
Terdengar sebuah perbincangan pada sebuah ruangan yang ada di sana.. Anton dan juga Paul berjalan semakin menaiki anak tangga yang ada di lantai 4 dan berjalan mendekati ruangan itu.
Saat mereka sudah tiba di ambang pintu yang merupakan pusat suara yang terdengar itu, Anton dan juga Paul segera masuk kedalam dan menodongkan pistol mereka.
Namun Anton dan Juga Paul membelalakan matanya saat matanya tidak melihat seorang pun berada di sana, mereka hanya melihat sebuah ponsel yang menyala yang sedang memutarkan sebuah rekaman.
Tanpa mereka duga tiba-tiba kedua orang pria berada di belakang tubuh mereka dan hendak memukul belakang kepala mereka dengan cepat.
Anton dan juga Paul dengan refleks yang cepat menghindari pukulan itu dan malah melemparkan pistol yang berada di tangan mereka. Namun tubuh Anton dan juga Paul terpelanting saat kedua pria itu menendang dada Anton dan juga Paul dengan keras hingga terjerembab kebelakang menabrak kayu yang ada di dalam ruangan itu
Bruk!
"Ugh.." Rintih Anton dan juga Paul.. Keduanya merasa bodoh karena sudah masuk kedalam jebakan kedua orang itu dan bahkan kini karena tidak siap dengan serangan mereka, Anton dan Paul terjatuh dan membentur kayu-kayu itu.
"Wah wah wah.. Untung saja kau sangat pintar Viki.." Puji pria tua yang ternyata adalah Viki dan juga Jhon.
"Terima kasih atas pujian anda Bos.. Saya hanya memiliki firasat ada yang membuntuti kita. Dan ternyata prasangka saya benar, dan sebaiknya kita segera selesaikan mereka agar kita bisa segera pergi dari sini Bos.." Ucap Viki cepat.
"Kau tidak perlu cemas.. Lebih baik kita bermain-main saja dengan mereka." Ucap Jhon dan mulai menendang dada dan perut Anton dengan kakinya.
__ADS_1
Paul pun mendapatkan tindakan serupa dari Viki.
Anton dan Paul meringkuk untuk melindungi tubuh mereka, dan ketika Viki maupun Jhon lengah, dengan cepat Anton dan Paul bangkit dan menendang balik tubuh Jhon dan Viki.
Jhon yang tidak menyangka Anton akan bangkit dan menyerangnya terjatuh tersungkur ke lantai dan dengan cepat Anton melayangkan pukulannya keras tepat di tengkuk Jhon dan membuat pria tua itu pingsan seketika.
Paul dan Viki yang saling pukul dan tendang bertarung sengit, Anton yang sudah selesai dengan membuat Jhon pingsan, memilih membantu Paul menangani Viki dengan melayangkan tendangan tepat di belakang punggung Viki.
Viki yang tidak mengira akan mendapatkan serangan di belakang punggungnya membuat dia sedikit terhuyung kedepan dan dari depan dia mendapatkan pukulan tinjuan telak di wajahnya yang langsung mengeluarkan cairan segar berwarna merah di sela bibirnya oleh Paul.
Viki segera bangkit dan berdiri dan membiarkan posisinya agar tidak di serang dari dua arah. Pria itu bergeser membuat Anton dan juga Paul tepat berada di depannya.
Viki yang kini posisinya berada telat di hadapan kedua orang itu mencoba untuk mundur dan berfikir dia tidak akan sanggup melawan dua orang pria di depannya itu dengan bertarung dengan melayangkan pukulan dan tendangan ke udara karena baik Anton maupun Paul bisa menghindari semua serangannya.
Viki dengan sigap mengambil sebuah balok kayu yang masih tampak kuat dan melemparkannya kedepan Anton maupun Paul, dan dengan cepat Viki melarikan diri dengan melompat dari sebuah jendela menuju teras dan dengan sigap pria itu lari dan melompati beberapa tembok dan tepat berada di atap.
(Foto by. Google)
(Foto by. Google)
Ya Anton maupun Paul bisa melakukan aksi Parkur dengan sangat baik dengan mengikuti langkah dan kecepatan Viki untuk mencoba menangkap Viki.
__ADS_1
Parkour/ Parkur adalah aktivitas yang bertujuan untuk melewati rintangan dengan efisien dan secepat-cepatnya, menggunakan prinsip kemampuan badan manusia.
"Paul coba kau ke seberang gedung itu agar kita bisa menangkapnya! Aku akan ke gedung ini!" Perintah Anton saat pria itu melompati sebuah gedung yng lebih tinggi.
Paul mengerti dan melakukan hal yang di minta tuannya. Paul berlari menyusuri kecilnya sebuah tembok yang sudah tidak memiliki atap dan kemudian melompat tinggi dan meraih sebuah besi yang ada pada gedung tinggi lainnya dan kemudian menggoyangkan tubuhnya agar kakinya sampai di gedung terbengkalai lainnya. Pria itu segera berlari lebih kencang lagi dan kemudian melihat Viki dan Anton yang tepat berada di gedung yang lebih rendah dari dirinya berada, dan dengan sigap Paul melompat dari gedung y lebih rendah itu dan kini pria itu tepat berada di depan Viki yang mencoba hendak kabur lagi.
Viki yang kini sudah terkepung di depannya oleh Paul dan di belakangnya oleh Anton tidak bisa melakuakan apapun. Viki memutuskan untuk melawan kedua orang itu saja dengan melayangkan kembali pukulan dan tendangannya dengan menggunakan sisa kekuatannya yang terakhir.
Namun dua lawan satu tetap saja tidak akan bisa menang. Viki akhirnya di buat jatuh oleh Paul dengan wajah yang mendarat langsung di lantai berdebu itu dengan tubuh yang terbaring di lantai dan kedua tangan yang terlipat kebelakang tubuhnya.
Paul melakukan kuncian agar pria itu tidak melarikan diri lagi, " Wow Boy.. Gerakan melarikan diri mu sangat bagus sayangnya kau mendapatkan tuan yang salah." Ucap Paul sambil kembali menekan wajah Viki kelantai.
"Tunggu tunggu tunggu.. Aku menyerah.. Aku hanya di suruh olehnya untuk mengendarai mobil.. Aku hanya sopirnya saja aku tidak terlibat apapun kejahatannya." Bantah Viki merasa kuncian itu terasa semakin menyakitkan di wajah dan tangannya.
"Kau banyak membantah!" Ucap Paul kesal dan semakin menekan wajah Viki ke lantai.
"Aku serius tuan.. Aku sopir panggilan.. Aku hanya di suruh untuk membeli beberapa makanan dua hari yang lalu dan hari ini dia menggunakan jasa ku mengendarai mobil.. Aku tidak tahu apapun tuan.. Ayolah tolong lepaskan aku ." Ucap pria muda itu mencoba meronta-ronta dari kuncian tubuh Paul.
"Kau sudah mencelakakan rekan kami kiddo.. Kau harus bertanggung jawab." Ucap Anton dingin dan menyerahkan sebuah cable ties.
Paul mengambil cable tiesnya dan mengikat kedua tangan Viki di belakang tubunya, lalu mengangkat tubuh anak muda itu dan kemudian mendorongnya agar berhadapan dengan Anton.
"Tuan.. Sungguh.. Aku hanya di suruh, dan saat itu aku melakukannya karena di bawah todongan senjata api." Bantah Viki cepat dan tidak ingin terlibat masalah itu.
"Kau bisa melakukan pembelaan mu saat sudah dikantor polisi Boy.." Ucap Paul santai dan mendorong tubuh Viki agar mengikutinya turun dari gedung itu melalui tangga yang ada di sana.
__ADS_1
"Haishh.. Kakek tua itu pembawa sial!" Gerutu Viki yang merasa dirinya kini sedang berada dalam masalah besar.
Bersambung....