JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Bersama


__ADS_3

Alice membuka matanya saat seorang petugas medis mengetuk pintu kamar ruang rawatnya. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya dan melihat petugas medis itu berjalan dan berdiri tepat di samping kasurnya.


"Maaf mengganggu istirahat anda nona.. Saya akan melepaskan selang infusannya." Izin perawat itu sopan.


"Ya sus." Jawab Alice singkat.


Dengan cekatan perawat itu mematikan tetesan cairan infus dan kemudian beralih ke pergelangan tangan Alice dan melepaskan selang infus dan segera memberikan kapas dan plaster untuk bekas tusukan abbocath.


"Sudah selesai nona.. Saya permisi.." Pamit suster dan kemudian keluar dari ruang perawatan itu sendirian.


Alice melihat kesegala arah mencari dimana keberadaan pria yang menemaninya semalaman.


Crasttt! Suara keran air yang terdengar dari arah kamar mandi. Sepertinya pria itu sedang berada di sana. Tidak berapa lama pintu kamar mandi terbuka dan menampilkan sosok tinggi besar dengan wajah yang tampak segar dengan rambut yang basah.


"Emhh kau sudah bangun? Bukankah masih terlalu pagi? Kau boleh tidur lagi." Ucap pria itu saat melihat Alice sedang duduk di tepi kasurnya.


"Tidak aku sudah cukup istirahat. Aku akan membersihkan diri dan berangkat ke Rumah Sakit Polisi." Kata Alice dan turun dari ranjang dan berjalan kearah kamar mandi.


"Kau perlu bantuan ku?" Tanya Anton menggoda Alice.


"Tidak.. Aku bisa sendiri." Ucap Alice singkat dan langsung masuk kedalam kamar mandi.


Anton tersenyum melihat sekilas raut wajah Alice yang sedikit merona. Dengan cekatan pria itu mengambil ponselnya dan menanyakan keberadaan Paul.


✉"Dimana?" Isi pesan dari Anton.


Tok tok suara ketukan terdengar dari pintu kamar ruang perawatan Alice. Anton berjalan mendekati pintu dan menggeser pintu untuk membukanya dan menampakkan sosok Paul dari samping pintu.


"Tuan.. Ini pesanan anda.. Saya sudah menyiapkan mobil di bawah.. Saya akan menunggu di bawah." Ucap Paul hormat dan memberikan dua buah papperbag kelada Anton dan sedikit menganggukkan kepalanya.


"Terima kasih Paul." Ujar Anton dan Paul segera pergi dari sana dan kembali ke bawah menanti bosnya di dalam mobil.


Anton menutup kembali pintu itu dan membawa dua buah tas kertas di tangannya. Satu tas berisi pakaian Alice dan satu tas lagi berisi makanan untuk sarapan mereka. Anton meletakkan tas berisi makanan di atas meja sofa dan membawa tas berisi pakaian Alice, kemudian mendekati pintu kamar mandi itu dan mengetuk pintu itu.


Tok tok..


Terdengar suara keran air yang mengalir tiba-tiba berhenti, "Emhh.." Gumaman jawaban dari dalam kamar mandi. Sepertinya Alice mematikan air keran dari dalam agar bisa mendengar suara dari luar.


"Aku membawakan pakaian ganti untuk mu. Bukalah pintunya." Kata Anton.


Tidak ada sahutan dari dalam namun terdengar suara kunci pintu yang terbuka.


Ceklek.


Tidak berapa lama terlihat tangan yang menjulur keluar dari cel@h kamar mandi. Anton yang melihat itu tersenyum geli.


"Bukankah aku sudah biasa melihatnya mengapa hanya menunjukkan tangan mu saja?" Tanya Anton sambil mengerjai Alice.


"Anton jangan bercanda. Berikan baju ku." Ucap gadis itu dari balik pintu namun tangannya bergerak-gerak meminta sesuatu dari celah pintu.


Anton yang memiliki ide jahil tidak langsung memberikan tas karton itu dan malah memilih menggenggam tangan itu dan sedikit mendorong masuk tangan itu dan memasukkan tubuhnya di celah pintu kamar mandi.


"Anton!" Pekik Alice kaget saat pria itu dengan cepat sudah masuk ke dalam kamar mandinya.


"Kenapa? Aku hanya akan membantu mu berpakaian." Ucap Anton sambil tersenyum menggoda melihat tubuh Alice dengan handuk yang hanya menutupi bagian dadanya dan setengah pahanya.


"Ish.. Aku belum selesai." Keluh Alice kesal dan sedikit mendorong tubuh Anton agar pria itu kekuar dari kamar mandi.


"Tidak.. Aku akan membantu mu." Ucap Anton dan menyingkirkan busa di pipi Alice.


"Aishh terserah kau sajalah." Gerutu Alice dan mengabaikan Anton.


Gadis itu lebih memilih kembali ke depan wastafel dan kembali mengambil sikat gigi yang sebelumnya dia letakkan di dalam gelas dan mengambilnya lagi.


Ya sebelum Anton menggetuk pintunya, Alice baru saja menggosok giginya dan belum selesai, sehingga masih ada sisa buih pasta gigi di mulutnya.


Alice dengan santainya mengabaikan keberadaan Anton di dalam kamar mandi itu dan hanya melihat pantulan dirinya di depan cermin yang sedang menggosok gigi.


Anton yang merasa di abaikan meletakkan tas karton itu di tembok wastafel dan mendekatkan tubuhnya kepada tubuh Alice. Pria itu kemudian melingkarkan tangannya di perut Alice lembut.


"Aku merindukan mu." Gumam Anton sambil mendekatkan wajahnya keceruk leher Alice yang mengikat rambutnya tinggi.


"Hmmm.." Jawaban gumaman Alice dan melanjutkan menggosok giginya.

__ADS_1


"Jangan abaikan aku." Ucap pria itu sedikit merajuk dan mengecup pundak terbuka Alice, ada beberapa bagian memar kebiruan di sana.


Alice membersihkan sikat giginya di air mengalir dan mengisi gelas di sana dengan air kemudian berkumur-kumur dan membuangnya di wastafel.


Alice membereskan dan membersihkan sisa buih pasta gigi di mulutnya dari pantulan cermin kemudian seketika berbalik menghadap wajah Anton.


"Aku tidak mengabaikan mu.. Aku sedang membersihkan diri dan kau tahu itu." Ucap Alice dan mengusap lembut wajah Anton.


"Hmm.. Tapi aku merasa di abaikan." Ucap pria itu menunduk.


"Haish sejak kapan kau seperti bocah begini." Gumam Alice pelan namun masih bisa di dengar Anton.


"Sejak kau tidak bersama ku.." Jawab Anton asal.


"Baiklah apa mau mu agar tidak merajuk lagi?" Tanya Alice agar cepat menyelesaikan masalah.


Dengan cepat Anton mendekatkan bibirnya ke bibir Alice dan kemudian mengecup bibir gadis itu lembut.


Alice membalas ciuman itu dan lambat laun membuka mulutnya serta menarik tubuh Anton agar mendekapnya erat. Anton yang merasa Alice memberinya responpun mencium Alice dalam dan kemudian mengabsen semua yang ada di dalam mulut gadis itu. Lilitan dan pagutan lidah mereka tidak terhindari.


"Aku merindukan mu." Ucap Anton di sela ciuman panas mereka. Dan lambat laun Anton menghentikan ciumannya dan menjauhan wajahnya kemudian melihat wajah Alice lekat. Rona merah terbit di wajah Alice, meski ada sedikit memar dan warna keunguan samar terlihat pada wajah Alice, namun tidak menggurangi kecantikan Alice.


"Aku juga merindukan mu." Jawab Alice saat gadis itu sudah bisa mengatur nafas memburunya.


Sepertinya gadis itu tidak bisa membohongi tubuhnya sendiri yang sangat mendamba sentuhan dan belaian Anton. Apalagi hormon di dalam tubuhnya sedang tinggi.


"Ehemm.. Kita harus menghentikan ini, jika tidak kau akan terlambat pergi." Ucap Anton dan mengingatkan Alice.


"Hemm.. Kau pergilah keluar aku akan berganti pakaian." Ucap Alice lembut.


"Tidak.. Aku akan membantu mu berganti pakaian bukan." Ucal Anton lagi.


Alice hanya memutar bola matanya dan kemudian mengambjl sesuatu dari dalam tas karton itu. Dress berwarna peach dan satu stel pakaian dalam.


"Mengapa dress?" Tanya Alice sedikit kesal. Dia memang jarang menggunakan dress dia lebis suka menggunakan celana.


"Kasihan dia mulai tumbuh jika kau memakai jeans atau celana." Ucap Anton mengingatkan sambil mengusap lembut perut Alice.


Pria itu bahkan membantunya mengaitkan pengait pakaian dalam yang tidak terjangkau oleh tangan Alice.


Pria itu berlutut di depan tubuh Alice dan mengusap lembut perut Alice yang tampak menonjol dan kemudian mencium perut Alice lembut


Alice merasa terharu refleks gadis itu mengusap lembut rambut Anton yang berada di perutnya.


Anton coba bangkit berdiri dan mengusap setiap memar kebiruan pada tubuh gadisnya. Apalagi warna unggu itu tampak jelas di bagian tulang iga gadis itu.


"Apakah masih sakit?" Tanya Anton sambil mengusap lembut bagian yang memar itu.


"Tidak.. Aku sudah baikan setelah beristirahat seharian kemarin." Ucap Alice menengkan Anton dan membantu pria itu agar bangkit berdiri.


Anton masih melihat beberapa bercak kebiruan pada bagian wajah Alice dan tangan gadis itu. Pria itu mengjembuskan nafasnya kasar dan kemudian memeluk Alice erat.


Anton mencium lembut puncak kepala Alice dan bergumam, "Aku tidak akan membiarkan siapapun melukai mu lagi." Ucapnya penuh dengan tekad yang masih bisa di dengar oleh Alice.


Perlahan Anton melepaskan pelukan tubuhnya dan membantu Alice mengenkan dressnya dan membantu memasangkan sleting di belakang punggung gadis itu.


"Ayo kita sarapan bersama." Ajak Anton dan menggenggam tangan Alice erat dan mengajak Alice keluar dari kamar mandi.


Anton mengajak Alice duduk di sofa dan pria itu duduk di samping Alice. Anton membuka isi dari tas karton itu dan mengeluarkan isinya.


Dua buah termos dan beberapa kotak makam ada di sana. Anton membuka salah satu termos itu dan berisi sup ayam hangat. Anton juga membuka kotak kotak itu dan ada yang berisi nasi dan buah-buahan serta lauk lainnya. Sedangkan di termos yang lain berisi teh jahe.


"Sepertinya ibu yang membuatkan ini." Ucap Anton sambil tersenyum saat dia mencicipi salah satu makanan itu.


"Ini makanlah." Ucap Anton dan menyodorkan sendok berisi nasi dan sup di dalamnya.


Alice membuka mulutnya dan makan perlahan bersama Anton.


Gadis itu sedikit terharu bahwa Lidialah yang membuatkan itu semua untuknya. Alice tahu bahwa selama ini Lidia selalu menjaganya dan memperhatikannya dari jauh. Kasih sayang Lidia kepadanya tidak jauh berbeda dari kasih sayang orang tua kandungnya.


"Sayang sampaikan terimakasih ku pada ibu." Ucap Alice di sela makannya.


"Kau bisa mengatakannya langsung nanti jika bertemu." Ucap Anton sambil kembali menyuapkan Alice makanan lagi.

__ADS_1


Alice dan Anton sarapan dengan lahap. Kebersamaan mereka membuat makan pagi itu terasa ceria dan menggunggah selera.


"Ayo kita pergi temui Fiktor." Ucap Alice saat makanan dan minumnya sudah selesai dan merapihkan semua peralatan makannya.


"Ayo.. Paul sudah menunggu di bawah." Ucap Anton dan membawa beberapa barang milik Alice yang sudah di rapihkan.


Alice membawa map di tangannya dan bergegas turun mengikuti Anton menuju parkiran mobil pria itu.


Paul sudah menanti mereka di dalam mobilnya. Saat terlihat Alice dan Anton mendekati mobil, Paul dengan cepat keluar dari mobil dan membantu tuannya membawa beberapa barang dan meletakkannya di dalam bagasi mobil.


"Terima kasih Paul." Ucap Anton.


"Sudah tugas saya tuan." Ucap Paul hormat.


Anton membantu Alice membukakan pintu untuk gadis itu di bagian kursi belakang penumpang. Kemudian pria itu menutup pintu dan berjalan ke sisi lain pintu penumpang dan duduk di samping Alice.


"Mengapa tidak masuk saja tadi jika kau akan duduk di belakang ku bersama ku." Bisik Alice lirih.


"Agar kau tidak perlu bergeser pindah. Lebih baik aku memutar saja. Toh tidak jauh." Ucap Anton dan mengecup kening Alice.


"Dasar aneh." Keluh Alice namun rona merah di pipinya terbit meski sudah tertutup foundation dan Makeup untuk memudarkan warna kebiruan di wajahnya.


Anton yang melihat itu hanya tersenyum dan mengambil tangan Alice yang berada di atas pangkuan gadis itu dan membawanya keatas pangkuan pahanya untuk menggenggamnya erat.


"Tuan kita akan langsung ke rumah sakit?" Tanya Paul memastikan lagi keberangkatan mereka.


"Iya Paul." Jawab Anton dan dengan perlahan Paul mengemudikan mobilnya keluar dari area pelataran rumah sakit menuju area jalan raya.


45menit mereka tiba di sebuah Rumah Sakit Kepolisian. Paul memarkirkan mobilnyabtidak jauh dari pintu masuk rumah sakit itu.


Alice, Anton dan Paul turun dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk dan menanyakan dimana kamar Fiktor berada.


Seorang perawat menuntun mereka menuju ruang perawatan Fiktor. Beberapa petugas keamanan berdiri di luar ruang perawatan pria itu.


"Maaf anda tidak bisa masuk. Pria di dalam dalam pengamanan." Ucap penjaga itu sopan.


"Aku membawa surat untuk penangkapan tertulisnya." Ucap Alice sambil menunjukan surat itu kepada pria di depannya.


"Baiklah jika begitu silahkan masuk tapi hanya dua orang saja." Ucap pria penjaga keamanan itu.


"Terima kasih.. Tenru saja." Jawab Alice dan mengajak Anton kedalam dengan matanya.


Anton mengerti dan ikut masuk ke dalam ruangan itu. Meski tanpa perintah dari Alice, Anton sudah pasti akan menemani gadis itu untuk menemui pria di dalam ruang perawatan.


Ceklek.. Pintu ruangan perawatan di buka dari luar dan tidak lama menampilkan sosok Fiktor yang sedang terbaring lemah di atas kasur dengan pakaian pasien.


"Akhirnya kau datang juga." Ucap Fiktor pelan.


"Apakah kau menunggu ku?" Tanya Alice datar.


"Hanya firasatku mengatakan kau pasti akan menemuiku sebelum aku benar-benar akan di bawa ke penjara dan melakuan persidangan yang akan membuat mu sulit untuk bertemu dengan ku." Jawab Fiktor.


"Mengapa kau berfikir aku akan menemui mu?" Tanya Alice lagi penasaran.


"Bukankah kau memiliki pertanyaan untuk ku." Jawab Fiktor datar.


"Ya.. Dimana ibu ku di makamkan?" Tanya Alice tidak kalah datar.


"Tentu saja di samping makam ayah mu." Jawab Fiktor cepat.


"Belinda bilang disana makam kosong dan tidak ada makam ibu ku! Dia bilang dia memakamkannya di tempat lain." Jelas Alice kepada Fiktor.


"Aku melihat prosesi pemakaman itu dan Amanda maupun Fiktor memang berada di pemakaman bukit itu. Beberapa orang petugas kebersihan dan keamanan dapat memastikannya. Tidak akan ada yang berani menggusik ataupun mengganggu siapapun dipemakaman itu." Jelas Fiktor.


"Belinda hanya memanfaatkan ketidak tahuan mu untuk memancing mu keluar dari para pengawal mu." Jelas Fiktor lagi.


"Mengapa kau menjelaskan semua ini?"


Fiktor tidak menjawab pertanyaan Alice. Pria itu hanya menatap pada mata gadis di depannya itu dengan wajah yang tidak bisa di artikan.


"Ambilah.." Ujar Fiktor sambil melemparkan sesuatu kepada Anton yang berdiri di samping Alice.


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2