
Alice keluar dari kamarnya dan melihat keadaan di sekelilingnya, dia turun kebawah dan duduk di salah satu taman di perumahan susun itu, suasananya sangat sepi. Langitpun sepi, tidak ada bintang-bintang menghiasi di sana, bahkan bulanpun tidak ada di sana. Sungguh malam yang sepi yang hanya di terangi oleh lampu jalan dan lampu di taman ini.
Tanpa terasa Alice sudah menghabiskan waktu berjam-jam disana hanya untuk diam dan merenung. Dia akan pergi ke rumahnya saat dia melihat seorang wanita keluar dari rumah No 520 dan wanita itu sedang berbicara dengan pria yang menghalanginya masuk saat tadi siang itu, ya pemilik rumah no 520.
“Aku tau, itu tidak akan terjadi lagi. Kau tenanglah jangan terlalu banyak khawatir, lagi pula semuanya baik-baik saja selama ini. Aku akan hati-hati. Sudahlah aku pergi dulu ya.” Ucap wanita itu berpamitan di depan pintu dan segera pergi dari sana. Tidak berapa lama seorang pria menutup pintu dan menguncinya dari dalam sepeninggal wanita itu, dari gerak-geriknya sepertinya pria itu sedang kesal akan sesuatu.
‘Aku sangat yakin itu bukan suara wanita yang meminta tolong tadi siang itu. Jadi siapa wanita itu. Aku jadi mengkhawatirkan sesuatu.’ Batin Alice dan segera masuk kedalam rumahnya.
Dua hari dilewati dengan baik oleh Alice, namun rasa tidak enak di hatinya masih belum juga bisa hilang. Hari ketiga pada pagi hari Alice mendengar suara teriakan itu lagi.
“Tolong… siapapun tolong aku.. tolong.. aku tidak gila.. tolong.. aku di culik.. tolong.. lepaskan aku..” Ucap suara itu samar. Alice sangat yakin suara wanita ini dengan wanita yang berteriak dua hari yang lalu itu berbeda, apalagi dengan suara wanita yang tengah malam tidak sengaja berpapasan denganya itu. Suara mereka semua berbeda. Alice memang memiliki sensitifitas yang tinggi terhadap suara. Maka itu dia sangat yakin akan perbedaan ketiga suara itu.
Alice segera menghubungi Galih dan memberitahukan apa yang dia pikirkan dan apa yang gadis itu curigai. Gadis itu mencurigai ada sindikat jual beli orang, terutama gadis muda yang tinggal sendiri atau jauh dari keluarga. Galih yang sudah tau kelebihan Alice terhadap suara, memberitahukannya kepada Roy dan juga Juna. Mereka meminta Alice untuk lebih berhati-hati dan segera membuktikannya dengan menjebak mereka secara langsung. Alice mengerti dan berencana membuat dirinya sendiri terjebak dan memiliki bukti untuk menangkap mereka.
Sebelumnya Alice pernah mencuri dengar bahwa wanita yang berpapasan dengannya malam itu, dia suka pergi ke diskotek yang ada di kafe Wings. Alice segera bersiap mengenakan dress hitam panjang di atas lutut tanpa lengan dengan model kemben yang membuat tubuhnya terbentuk sempurna.
Gadis itu menggunakan kalung yang bisa merekam suara sekaligus video. Dan mengenakan high heels tinggi berwarna senada. Dia juga membawa tas tangannya yang berwarna silver dia memasukkan pistol lipstick dan hanan gun.
“Halo Angel, aku akan tiba di sana 20 menit lagi. Bebaskan jalan. Bantu aku untuk masuk ke lantai 5.” Ucap Alice dan mematiakan telponnya setelah berbicara.
Alice tiba tepat 20 menit dan dia bersembunyi di dekat pohon yang menghiasi ruangan itu. Maya segera mengalihkan kedua penjaga yang berada di depannya.
“Aduhh… tolong.. sepertinya kaki ku terkilir.” Ucap Maya dan mendapatkan perhatian dari kedua penjaga itu.
“Apa yang terjadi?” Ucap salah satu penjaga itu.
“Sepertinya kaki ku terkilir, bisa tolong bantu aku menuju ruang istirahat?” Ucap Maya memelas.
__ADS_1
“Baiklah, Boy kau bawa gadis itu ke dalam.” Ucap salah satu penjaga itu. Dan penjaga itu mulai menggendong Maya.
“Ku mohon tolong bawakan nampan itu juga. Aku bisa di marahi jika itu tidak segera di bawa ke dapur.” Ucap Maya khawatir.
“Tapi nanti yang menjaga ini siapa?” Tanya pria itu kepada rekannya.
“Sudahlah kita hanya sebentar, lagi pula belum waktu jam ramai kok. Cepat bawakan itu, lebih cepat lebih baik.” Ucap Boy yang sedang menggendong Maya.
“Baiklah.” Ucap pria itu dan membawa nampan berisi piring-piring kotor mengikuti di belakang Boy yang menggendong Maya.
Alice segera membuka kode akses dengan pass card dan masuk ke dalam lift kemudian dia segera menekan tombol untuk ke lantai 5. Kartu pass card itu di dapatkan dengan mencuri kartu pass card dari salah satu penjaga yang sedang istirahat makan dan mengcopy sebelumnya untuk berjaga-jaga dan sekarang pass card itu berguna untuknya.
Ting..
Lift yang di naiki Alice berbunyi tanda dia sudah tiba di lantai yang dia tuju.
Alice keluar dari lift itu dengan anggunnya dan memasuki sebuah pintu tak jauh dari lift. Alice membuka pintu itu, terlihat ruangan yang sangat luas namun dengan penerangan yang minim, terdapat berbagai sorotan lampu berwarna warni menjadi latar dalam ruangan itu, namun tetap pandangan disini masih remang.
Alice memilih duduk di salah satu meja dekat seorang bartender. Alice memesan cocktail dan duduk sambil minum dan sedikit berjoget menikmati irama music yang sedang menggema itu.
“Kau orang baru kah?” Tanya seorang bartender itu, di dadanya terpasang nickname Awan.
“Ahh ya aku baru pindah beberapa minggu yang lalu, dan baru tahu bahwa ada tempat yang menarik di kota ini.” Ucap Alice.
“Ahh baguslah kau segera tahu tempat ini, Nona. Tempat ini sangat menyenangkan bukan?” Tanya pria itu.
“Ya disini cukup hangat dan menarik.” Balas gadis itu.
__ADS_1
“Aku Awan, dan kau siapa Nona?” Tanya bartender itu.
“Aku Monic, senang berkenalan denganmu Awan.” Ucap Alice dan mengacungkan gelas cocktailnya.
“Ini gratis untukmu, sebagai ucapan selamat datang.” Awan memberikan Alice segelas cocktail yang lain.
“Terima kasih Awan, kau ramah sekali.” Ucap gadis itu menerima gelas dari pria itu.
“Ahh ya apakah kau kenal dengan orang-orang yang ada di sini Awan?” Tanya Alice mencoba mengorek informasi dari Awan.
“Ya kebanyakan aku mengenal mereka. Adakah yang sedang kau cari Monic?” Tanya Awan.
Seorang wanita masuk kedalam pandangan Alice, Alice mengingat jelas wanita itu adalah wanita yang sama dengan wanita yang tengah malam itu dia lihat.
“Ahh, apakah kau mengenl dia?” Tanya Alice kepada pria bartender itu.
“Ahh yang wanita berbaju merah itu? Dia adalah pendatang juga sama sepertimu. Sekitar 3bulanan kurasa. Dia adalah pengunjung setia di sini, hampir setiap malam dia kesini. Dia gadis yang baik dan mudah bergaul terutama dengan gadis-gadis seusianya.” Jelas pria itu terhadap seorang wanita berbaju berwarna merah cerah yang dikelilingi wanita yang seusianya segitar 22-28 tahunan.
“Ahh maksudmu dia memiliki banyak teman disini?” Tanya Alice.
‘Ahh petunjukkah ini.’ Batin Alice
“Ya sepertinya, dia selalu bersama dengan gadis yang berbeda-beda kurasa. Dia tidak pernah pergi berdua atau beramai-ramai saat masuk, namun dia selalu bergabung dengan banyak gadis lain disini, atau mungkin mereka janjian di sini aku tidak tahu.” Jelas pria itu.
“Kau mengetahuinya sangat jelas, sepertinya kau tertarik kepadanya.” Canda Alice.
“Ya, aku tertarik kepadanya karena dia sangat pandai bergaul dan cantik. Jadi kurasa itu wajar jika banyak pria yang memperhatikannya.” Ucap Awan.
__ADS_1
“Lalu siapa namanya?” Tanya Alice.
Bersambung....