
"Benarkah itu..." Ucap Anton menggantung.
"Mungkin jika Markus cuci tangan terhadap kasus lain yang akan aku ajukan, kau tidak akan pernah bisa bertemu lagi untuk yang terakhir kalinya dengan Marina dan bahkan putri mu Belinda." Anton berucap santai sambil menyandarkan tubuhnya di kursi kayu itu dan memainkan kedua tangannya membentuk sebuah segetiga dengan kedua tangannya.
Bagai petir di siang bolong, informasi yang di berikan Anton membuat pria tua itu benar-benar seperti ingin meloncatkan bola matanya dari sarangnya.
"Seumur hidup mu bahkan kau tidak tahu.. Marina benar-benar pintar menyembunyikannya." Ujar Anton lagi santai.
"Kau pasti berbohong! Jika Belinda bukan anaknya bagaimana mungkin Jhon masih mau megasuhnya!" Teriak Billy emosi.
"Jhon tidak akan pernah memiliki keturunan, saat dia tahu dia sudah memiliki Belinda dan tentu saja dia curiga Belinda anak siapa. Namun kau terlalu bodoh untuk di tipu oleh Markus, mengapa pria tua itu tidak pernah menyayangi Belinda dengan baik, kau pasti sudah tahu bagaimana perlakuan Jhon Markus terhadap Belinda. Dia hanya memanfaatkannya saja untuk keuntungannya. Dan kau pasti sudah tahu itu." Ejek Anton.
"Kau mencoba menipu siapa hah anak muda! Aku sudah tua seperti ini masih ingin di tipu oleh bocah ingusan seperti mu! Bermimpi kau!" Billy menggebrak meja itu dengan kesal.
"Kau yang paling tahu segalanya Billy.. Kau pernah curiga namun tidak pernah berani menanggapinya.. Kau yang paling tahu kenyataannya.. Kembali lagi aku ingatkan! Kau akan mengatakan semuanya beserta tragedi 20 tahun yang lalu atau kau akan bungkam selamanya! Kehidupan kedua wanita yang berharga bagimu tergantung ucapan mu!" Anton dengan santainya bangkit dari duduknya dan berjalan hendak keluar dari ruang introgasi itu.
Billy berdiri mematung dengan tangan yang gemetar di antara kedua tubuh tuanya. Tanpa terasa buliran-buliran air mata membasahi kedua wajah keriputnya dan mengalir menetesi meja introgasi itu. Tubuh rentanya gemetar hebat dan kemudian pria tua itu duduk kembali ke kursi introgasi dengan menyandarkan tubuh tuanya yang lelah.
***
Sedangkan di luar ruang introgasi..
"Bagaimana kau tahu tentang semua itu Anton?" Tanya Roy heran.
"Aku juga baru mengetahuinya dari email yang di kirimkan oleh anak buah ku sebelum kita bergerak kesini. Dia orang yang handal dan kebetulan kita memiliki koneksi. Bukankah itu menguntungkan untuk kita." Ujar Anton santai.
"Kau hebat.. Tidak heran kau bisa menjadi bos mafia di usia muda." Puji Roy sambil menepuk bahu Anton.
"Tapi jika kau melenceng dan merugikan negara, jangan harap aku tidak akan menagkap mu!" Ujar Roy serius kepada pria di sampingnya itu.
"Apakah kau mampu?" Ejek Anton dan dengan santainya berjalan lebih dulu daripada Roy.
__ADS_1
"Hei! Kau mau kemana? Aku masih belum selesai bicara!" Ucap Roy kesal saat dia di tinggalkan di belakang.
"Urusan ku di sini sudah selesai, aku akan merencanakan penangkapan Jhon Markus dan jerat hukum untuk Belinda lagi! Masalah di sini aku kembalikan pada mu!" Anton berucap sambil tetap berjalan santai sambil melambaikan tangannya ke atas.
"Aishh dia benar-benar menyebalkan." Keluh Roy saat melihat punggung Anton yang semakin menjauh dan tangan pria itu yang melambai ke atas berpamitan kepadanya.
Roy tersenyum sambil menggelengkan kepalanya.
"Apa yang kau lihat?" Tanya Nathan yang tiba-tiba muncul di sampingnya, "Kau berhutang kopi pada ku." Ujar pria itu lagi.
"Tidak ada.. Ayoo aku traktir kopi sekarang." Ucap Roy dan mengajak Nathan kepala keamanan di distrik kota itu.
***
Anton sudah sampai di depan ruang rawat Alice pria itu melihat ke dalam ruangan dari balik pintu kaca, istri yang dicintainya sedang duduk berbincang dengan ibunya. Wajah Alice jauh lebih tenang dan gadis itu tersenyum hangat, meski Anton tahu bahwa Alice berpura-pura kuat dan baik-baik saja.
Anton menghembuskan nafasnya panjang dan menguatkan dirinya sendiri kemudian menggeser pintu itu dan melangkah masuk kedalam ruangan dengan senyum hangatnya.
"Ya.. Sudah satu jam yang lalu.. Ibu bilang kau pulang kerumah mengambil pakaian dan istirahat, mengapa kau begitu cepat kesini?" Ucap Alice yang mendapatkan ciuman di kening oleh Anton.
"Merindukan istri ku tentu saja.. Aku tidak bisa tidur tampa mu." Jawab Anton sambil tersenyum menggoda Alice.
Lidia yang melihat itu hanya tersenyum dan beranjak berdiri dari duduknya, "Baiklah ibu tahu kalian membutuhkan waktu sendirian.. Baiklah kalau begitu, ayo Ayah kita pulang saja."
Ayah mengangguk dari sofa dan berjalan mendekati ranjang Alice diikuti oleh kedua kakak ipar dan dua abang iparnya.
"Istirahatlah Nak, nanti kami akan berkunjung lagi." Ucap Bram sambil mengusap lembut rambut Alice.
"Baik Ayah, Ibu.." Jawab Alice sambil mengangguk.
"Kami pulang juga ya De.. Jaga kesehatan mu, nanti kakak dan kakak ipar akan kesini lagi." Ucap Amanda dan mencium kedua pipi Alice.
__ADS_1
"Iya Kak.. Kakak dan Ayah, Ibu juga hati-hati di jalan ya." Ucap Alice dan mendapatkan pelukan serta ciuman hangat bergantian dari ketiga wanita itu.
"Anton! Jaga adik kami." Ucap Axel yang kini berbicara.
"Tentu.." Ucap Anton tegas kepada abang keduanya itu.
"Jika kau membutuhkan sesuatu segera beritahu kami." Ujar Alious abang tertuanya.
"Pasti.." Jawab Anton.
Lidia, Bram serta anak dan menantunya pergi meninggalkan Alice dan juga Anton berduaan di ruangan itu.
"Kau bisa menangis jika kau ingin.. Kau hanya boleh menangis di samping ku." Ujar Anton saat melihat raut wajah Alice yang datar saat melihat kearah pintu yang tertutup saat keluarganya telah pergi.
"Anton.. Hiks.. Hikss.." Alice langsung menangis dan dengan sigap Anton merengkuh tubuh Alice dan mengusap lembut rambut istri kecilnya itu.
"Aku di sini sayang.." Ujarnya sambil terus mengusap rambut Alice sambil menenangkan Alice.
"Aku terlalu bodoh hingga tidak bisa menjaganya.. Maafkan aku.." Gumam Alice di sela-sela tangisannya.
"Ini bukan salah mu sayang.. Ini cobaan kita untuk lebih berhati-hati kedepannya. Jangan menyalahkan diri mu sendiri." Anton meraup wajah Alice agar gadis itu mau memandang wajahnya.
"Kau dan aku pasti bisa melewati semua cobaan ini.. Kita berdua berjalan bersama menghadapi semuanya.. Kau mau kan?" Tanya Anton kedalam mata gadis di depannya yang sudah memerah itu, yang kini gadis itu sudah menjadi istrinya.
"Ya.." Alice mengangguk dengan pasti dengan butiran air mata yang membasahi pipinya.
"Menangislah sepuas mu.. Setelah ini kau harus berjuang untuk mendapatkan keadilan untuk anak kita." Ucap Anton tegas.
"Ya.." Ujar Alice sambil kembali menangis sepuasnya di dada bidang Anton yang setia duduk di samping ranjangnya sambil terus mengusap rambut Alice.
Bersambung....
__ADS_1