JiHan (Janji Dan Penghianatan)

JiHan (Janji Dan Penghianatan)
Siapkah dengan kenyataan3


__ADS_3

“Namira sedang di rumah sakit kota S, dia tidak apa-apa hanya sedikit syok dan mendapatkan perawatan di rumah sakit saat dia masih dalam pengaruh bius. Dan Jessy langsung datang tadi malam saat mengetahui keadaan Namira.” Jelas Maya.


“Ahh begitu, kalau begitu aku akan ketempat Namira dahulu. sekalian berpamitan padanya dan menanyakan sesuatu kepada Jessy.” Ucap Alice. Gadis itu langsung pergi meninggalkan ruangan itu.


***


“Kau tidak apa-apa?” Tanya Alice kepada Namira saat sampai di ruang perawatan gadis itu.


“Aku baik-baik saja La.” Ucap Namira masih mengira Alice sebagai Laila teman sekolahnya.


“Bagaimana keadaanmu Jessy?” Tanya Alice saat melihat Jessy duduk di samping ranjang Namira.


“Baik.. terima kasih telah menjaga dan melindungi adikku.” Ucap Jessy tulus.


“Tidak masalah itu sudah tugas ku.” Ucap Alice.


“Apa maksudnya? Aku tidak mengerti. Kalian sudah saling kenal?” Ucap Namira bingung dengan pembicaraan kakaknya dan Alice.


“Kau hanya perlu berterima kasih padanya. Selebihnya kau tidak perlu tau.” Ucap Jessy kepada adik kecilnya itu.


“Emhh.. baiklah meskipun aku tidak mengerti.. Terima kasih La.” Ucap Namira.


“Sama-sama.. aku kesini sekalian mau izin pamit. Aku akan kembai ke kota asalku setelah ini. Jadi aku khawatir jika nanti aku tidak sempat berpamitan dengan kalian berdua.” Ucap Alice.


“Apakah semuanya telah selesai?” Tanya Jessy khawatir mengenai kelanjutan hidupnya nanti.


“Hemm tentu.. semuanya telah selesai.. kalian bisa tenang dan menjalani kehidupan yang kalian inginkan.” Ucap Alice sambil memberikan senyumnya yang cerah.


“Baiklah kalau begitu.. sekali lagi terima kasih banyak.” Ucap Jessy.


“Iya sama-sama.. emhh sebelum itu bisakah aku berbicara berdua saja dengan mu Jess?” Tanya Alice.


“Tentu ayo keluar.” Ucap Jessy dan berjalan menjauhi ruang perawatan Namira.


“Ada apa?” Tanya Jessy saat berada di depan pintu ruang perawatan itu.

__ADS_1


“Sebelumnya bolehkah aku tahu kau dan Bintang ada di perusahaan agensi mana saja? Atau di perusahaan mana kau bertemu dengan Bintang?” Tanya Alice.


“Ahh itu, di perusahaan Agensi di pinggiran kota X di negara X. nama agensinya Little Starr” Ucap Jessy.


“Itu satu-satunya perusahaan agensi yang aku masuki begitu juga dengan Bintang.” Lanjut Jessy menjelaskan.


“Baiklah terimakasih infonya. Aku pamit pergi sekarang.” Ucap Alice dan berpamitan kepada Jessy kemudian berpamitan kepada Namira.


Alice datang ke rumah sakit di mana Anton di rawat saat malam hari tiba. Gadis itu meminta maaf kepada ayah dan ibu Anton karena dia datang terlambat.


“Bagaimana keadaan mu?” Tanya Alice kepada Anton setelah beberapa lama gadis itu hanya terdiam saja.


“Baik, sudah bisa makan dan bergerak. Dokter bahkan memperbolehkan ku pulang jika aku bosan.” Ucap Anton bercanda.


“Hemm syukurlah.” Ucap Alice dan kembali diam.


“Ada apa Al?” Tanya Anton khawatir melihat kekasihnya menjadi sangat pendiam.


“Sebaiknya kita selsaikan saja hubungan ini. Entah mengapa aku tidak yakin bisa untuk melanjutkannya.” Ucap Alice datar kepada Anton. Namun jelas di kedua mata Alice sudah menggenang cairan bening di kedua pelupuk matanya.


“Alice sayang mengapa kau membicarakan ini lagi?” Tanya Anton yang bingung dengan ucapan kekasihnya itu.


“Aku tidak mau mendengarkan hal ini lagi Alice. Aku tidak apa-apa. Itu hanya kecelakaan kecil. Dan dokter bilang aku sudah baik-baik saja. Jadi tidak perlu samapai seperti ini Alice.” Ucap Anton menolak keinginan Alice.


“Sayang.. kumohon jangan seperti ini..” Ucap Anton memohon agar kekasihnya itu tidak menyalahkan dirinya sendiri sambil menggenggam tangan Alice.


“Anton…  Aku tidak bisa.. Mari kita selesaikan semuanya sekarang.” Ucap Alice lagi teguh pada pendiriannya dan melepaskan genggaman tangan Anton.


“Alice.. aku berjanji akan lebih berhati-hati lain kali.. bahkan Aku juga tidak akan membiarkan siapapun menyakiti kamu atau bahkan diriku sendiri.” Ucap Anton lagi berjanji agar Alice mau merubah pikirannya.


“Alice Aku akan…..” Belum selesai Anton akan mengatakan sesuatu, Alice sudah memotong ucapannya.


“Anton.. Aku mendengar percakapan kalian..” Ucap Alice sendu dan setetes air mata lolos dari pelupuk matanya. Anton hanya terdiam mematung mendengar penjelasan dari Alice.


“Aku akan pergi.” Ucap Alice hendak beranjak pergi.

__ADS_1


“Alice.. itu salah paham.. Alice kumohon maafkan aku.. dengarkan aku dahulu… Alice izinkan kita mencobanya, kumohon… Alicee..” Belum sempat Anton menyelesaikan ucapannya, Alice memotong ucapan Anton lagi.


“Aku tidak bisa.. ini sudah berakhir.. Aku pergi..” Ucap Alice dan beranjak untuk pergi dari sana dengan air mata yang mengalir deras di pipinya. Alice berjalan dengan pasti melewati pintu ruang perawatan Anton.


“Hemm yaa.. sepertinya kita memang harus berpisah.. kau pasti tidak akan memaafkan ku setelah semua yang telah ku lakukan kepada mu.” Ucap Anton monoton kepada dirinya sendiri karena Alice sudah pergi dari sana. Pria itu hanya bisa melihat kepergian Alice melewati pintu ruang perawatannya.


“Arghhh sial!!!!!!” Ucap Anton kesal dan menjatuhkan semua barang yang ada di samping nakas kasurnya.


“Kenapa harus seperti ini… bisakah kau memberikan ku kesempatan untuk menebus semuanya..” Ucap Anton sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya menyembunyikan tetes air mata kepiluan dari dalam hatinya .


Flashback On


Sesaat kedua orang tua Anton membalikkan badannya setelah mengantarkan kepergian Alice dengan menggunakan taksi, tanpa mereka ketahui gadis itu berbalik ke rumah sakit lagi dengan taksi yang di tumpanginya .


Alice meminta supir taksi untuk kembali ke rumah sakit itu. Pasalnya gadis itu tidak membawa uang pada dirinya. Alice berencana akan meminjam uang Anton terlebih dahulu. Gadis itu meminta sang supir taksi menunggunya dan membiarkan argonya tetap berjalan.


“Tunggu sebentar ya pak.” Ucap Alice kepada sang supir dan berlari pergi menaiki lift menuju ruang rawat Anton.


Saat tiba di depan ruang rawat Anton, gadis itu akan membuka pintu ruang rawat Anton namun tertahan oleh pembicaraan Ayah dan Ibu Anton yang sedang membicarakan dirinya. Gadis itu membatalkan membuka pintu itu, Alice mendengar ucapan ibu Anton yang menolak kebersamaan antara Alice dan Anton. Bahkan dia juga mendengar ucapan Anton yang mengatakan bahwa ibunya lah yang selama ini menjadi donator untuknya.


Mendengar hal itu Alice membelalakan matanya tidak percaya bahwa selama ini Lidia mengenal Alice, bahkan wanita itu selalu menjaga dan memantau perkembangannya. Alice yang beranggapan bahwa wanita yang bagaikan ibu peri saat dia kecil, yang selalu mengirimkan hadiah di setiap ulang tahunnya, memberikan hadiah jika dia bisa melakukan sesuatu dan selalu menyemangatinya dalam setiap surat-surat tanpa nama itu adalah perbuatan Lidia.


Mendengarkan penolakan Lidia terhadap hubungannya dengan Anton membuatnya berfikir dia akan benar-benar meninggalkan Anton. Karena bagi Alice ibu perinya saat masih kecil adalah segalanya baginya.


Alice langsung meninggalkan tempat itu dan pergi dengan berlinangan air mata yang membasahi pipi gadis itu. Tetesan air mata itu merembes melewati luka di wajahnya. Perih di pipinya tidak seperih luka di hatinya saat mengetahui dia harus mengambil keputusan untuk menjauhi dan meninggalkan Anton, kekasinya dan cinta pertamanya.


Alice kembali masuk ke dalam taksi dan berangkat menuju hotel Transilvenia dengan diam dan air mata yang terus mengalir.


***


Sedangkan di dalam ruang perawatan itu Anton, Bram dan Lidia duduk di sofa untuk mendengarkan penjelasan dari Lidia.


“Sebenarnya ibu tidak ingin mengungkapkan hal ini, namun mendengar kamu sudah mengetahui sebagian kebenarannya, ibu tidak bisa berbohong lagi. Hanya masalah waktu cepat atau lambat semua kebenaran ini pasti akan terungkap. Dan ibu tidak mau kamu sampai mendapatkan informasi yang salah dari siapapun itu.” Ucap Lidia.


“Sebenarnya bukan ibu tidak menyukai Alice karena gadis itu tinggal di panti asuhan. Malah kenyataannya sebaliknya. Ibu yang menaruh Alice saat kecil di panti asuhan itu.” Ucap Lidia cepat.

__ADS_1


“Apa? Jadi benar Alice adalah adik ku?” Potong Anton saat mendengarkan ucapan ibunya itu.


Bersambung....


__ADS_2